"Selamanya aku tidak akan sudi dinikahkan dengan bocah sepertimu. Kalaupun hal itu sampai terjadi, kau tidak akan pernah bahagia, aku akan membuatmu sengsara dan menyesal telah menikah denganku. Aku akan menjamin hal itu!"
"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"
Chandra menghempas tubuh Margareth. Entah kekuatan sebesar apa yang dia gunakan hingga membuat Margareth tersungkur dan sebuah luka tercipta di ibu jarinya.
broomm~
Tega hati Chandra meninggalkan Margareth begitu saja, melewati dirinya yang masih tersungkur dengan motornya. Margareth menatap sosok Chandra yang semakin menjauh dan menghilang.
"Jika motor bisa membuat ku lebih berani, aku akan mencoba berteman dengannya,"
"Aku akan belajar. Aku akan lebih hebat dari Kak Chan. Dan aku akan membalasnya. Kalau aku tidak bisa menginjak jempol kakinya dengan ban motorku, jangan sebut aku Margareth!"
"Tunggu sampai aku tumbuh besar dan bisa menginjak perseneling!" teriaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little turtle 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.22
"Kata-kata Kakak tadi lumayan keren.." ucap Margareth setelah beberapa menit terdiam.
Mereka berdua sudah duduk cukup lama di samping air mancur tanpa ada percakapan diantara keduanya. Hanya suara gemercik air yang mengisi keheningan malam itu.
"Aku mendapatkannya dari Gladis," gerutu Helmi sambil mendongak menatap bintang yang bertaburan di atas sana.
"Pfftt~"
Margareth menahan tawanya. Kemudian ikut mendongak menatap langit malam.
"Kau mau jalan-jalan atau pulang?" tanya Helmi.
"Aku mau disini saja menunggu sampai pestanya selesai," ujar Margareth.
"Hei, pesta ini digelar semalaman.." tutur Helmi yang membuat Margareth membelalakkan matanya.
Pesta selama dua jam saja sudah sangat membosankan, bagaimana bisa mereka mengadakan pesta hingga tengah malam. Margareth heran dibuatnya.
Dia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul setengah sebelas hampir tengah malam. Lalu berganti menatap Helmi yang sedang menyeringai itu.
"Pulang atau jalan-jalan?" tanya Helmi sekali lagi.
"Tidak dua-duanya. Apapun pilihannya aku tetap akan mendapat masalah," jawab Margareth dengan senyum tipisnya.
Helmi menatap Margareth dengan senyum masamnya. Kemudian mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambut Margareth.
"Ayo, aku akan bertanggung jawab," ucap Helmi sambil mengulurkan tangannya.
Helmi tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Dan, Margareth tahu hal itu. Dia mengenal Helmi cukup baik.
Tatapannya penuh dengan keyakinan. Membuat Margareth merasa aman dan percaya. Dia pun menyambut uluran tangan Helmi dan beranjak dari duduknya.
"Mau kemana kalian?"
Suara yang terdengar familiar itu membuat Margareth terkejut, dan sontak menoleh kebelakang untuk memastikan pemilik suara tersebut.
"Ju-Juan?" lirihnya.
Tatapan tak bersahabat terpancar dari mata Juan. Margareth mulai khawatir, luka di sudut bibir Helmi saja belum mengering, dan masalah baru datang lagi.
Margareth berbalik dan mendongak menatap Helmi yang berdiri di belakangnya. Sama seperti Juan, dia juga melayangkan tatapan tak bersahabat.
Margareth memejamkan matanya seraya mengacak-acak rambutnya gusar, dia dibuat frustasi oleh kedua pria tersebut. Saat membuka mata, Juan sudah berdiri tepat di hadapannya.
Kini dia berada di antara para manusia bertubuh tinggi itu. Tatapan keduanya masih tak terputus.
"Stoopp!" seru Margareth sambil mendorong Juan saat dia melangkah mendekat.
Juan menatap Margareth sekilas, kemudian kembali menatap Helmi dengan tatapan tak bersahabat nya. Lalu, sesuatu tak terduga terjadi.
plak~
Juan menoyor kepala Helmi, dan sontak membuat Margareth menutup mata dengan kedua telapak tangannya karena kaget.
"Makanya aku tidak bisa menghubungi mu, ternyata kau sedang bersenang-senang disini!" tegur Juan.
Mendengar hal itu Margareth membuka matanya dan menatap kedua pria itu dengan heran. Dia terlihat seperti orang kikuk.
"Dia orang ku, jangan mengganggu nya, karena dia sangat cengeng.." cetus Juan seraya menarik tubuh Margareth mendekat padanya.
"Cengeng?" Helmi memiringkan kepalanya heran.
"Ni bocah ceng- hmmp~" Margareth membungkam mulut Juan.
"Yang seharusnya bertanya-tanya itu aku! kalian saling mengenal?" ujar Margareth kemudian melepas tangannya yang membungkam Juan.
"Dia anak Bibiku,"
"Dia anak Bibiku,"
Mereka berdua menjawab secara bersamaan. Margareth sudah mendapat jawaban yang ingin dia ketahui, namun bukannya merasa lega dia malah semakin pusing.
"Tunggu sebentar," ucap Margareth sambil memijat kepalanya.
"Udah, jangan membuang waktu lagi," ucap Helmi lalu mengambil alih Margareth dari Juan.
"Kalian mau kemana?" teriak Juan di belakang sana.
"Jalan-jalan~" jawab Helmi.
"Ikut! kalian tidak bisa meninggalkan ku dengan menyedihkan seperti ini!" ujar Juan lalu berlari menyusul Helmi dan Margareth.
banyak hal indah d ujung sana, jangan putus asa
mending Juan
atauuu Helmi
asli aku benci bgt sm cowo banci yg bs dilakukan cuma nyakitin cewe..
please kk, buat Chandra nyesel senyesel⁵nya