REVISI
Cahaya adalah Seorang model terkenal yang berumur 30 tahun. dan dia sudah menikah dengan Aditya yang seorang pengusaha. Pernikahan mereka masuk 3 tahun namun sampai sekarang belum dikaruniai anak. Sehingga membuat Aditya berselingkuh dengan sahabat Cahaya yang bernama Keyla. hasil perselingkuhan itu membuat Keyla hamil anak Aditya.
Sampai akhirnya Cahaya pulang dari luar negeri tanpa memberitahu suaminya dia pulang untuk buat kejutan. Tapi bukan suaminya terkejut akan kedatangannya. tapi dirinya yang terkejut melihat suami dan sahabatnya berada didalam kamar sedang memaduh kasih.
"Apakah yang akan dilakukan oleh Cahaya?
Apakah Cahaya memaafkan suaminya atau lebih pilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 023
Dokter masuk ke ruang rawat Keyla dengan senyum ramah. “Selamat siang, saya periksa dulu ya,” ucapnya lembut. Ia mulai mengecek tekanan darah dan menempelkan alat fetal doppler di perut Keyla, mencari detak jantung kecil di sana.
“Bagaimana, Dok?” tanya Keyla cemas, matanya menatap dokter tak sabar.
“Tenang saja, Ibu Keyla sudah aman. Kondisinya stabil dan hari ini sudah boleh pulang,” jawab dokter itu meyakinkan.
Keyla menghela napas lega. “Terima kasih banyak, Dokter.”
Aditya segera bergerak mengurus segala administrasi dan surat-surat izin pulang. Setelah semuanya beres, mereka bersiap meninggalkan rumah sakit menuju apartemen.
Sementara itu, di ruang rawat VIP lain, Cahaya sedang setia mendampingi Kevin. Pemuda itu sudah sadar sekitar setengah jam yang lalu. Karena Arga harus pergi rapat mendadak menggantikan Cahaya, kini hanya Cahaya yang ada di sisi Kevin.
“Vin, makan dulu yuk?” bujuk Cahaya sambil menyuapkan sendok berisi bubur nasi ke mulut Kevin.
Dengan ketus, Kevin menepis tangan Cahaya pelan. “Mbak, aku nggak mau. Makanan rumah sakit ini rasanya nggak enak, hambar semua,” tolaknya cemberut.
“Kalau nggak makan, gimana kamu bisa cepat sembuh dan pulih total?” Cahaya tetap mencoba sabar, suaranya halus agar Kevin tidak ngambek.
“Aku benar-benar nggak sanggup telan, rasanya aneh,” rengek Kevin manja.
Cahaya menarik napas panjang. Menghadapi Kevin yang keras kepala ini memang butuh kesabaran ekstra. “Baiklah, terus kamu mau makan apa? Bilang saja, nanti aku usahakan,” tanyanya akhirnya.
Kevin terdiam sejenak, lalu matanya berbinar. Ia menjentikkan jari tiba-tiba, membuat Cahaya sedikit kaget. “Hahaha, maaf ya, Mbak, ngejutkan ya?” kata Kevin sambil nyengir kuda.
“Iya, nggak apa-apa. Jadi mau makan apa?” ulang Cahaya.
“Aku mau bubur ayam spesial langganan aku,” jawabnya cepat.
“Oke, tunggu sebentar, aku belikan di luar dulu ya,” Cahaya langsung berdiri hendak pergi.
“Mbak, tunggu!” seru Kevin, menghentikan langkahnya.
“Ada apa lagi, Vin?” tanya Cahaya bingung menoleh.
“Mau ke mana?” tanya Kevin polos.
Cahaya hampir kesal, tapi ia tahan. “Kan tadi kamu minta bubur? Aku mau belikan lah,” batinnya geram, tapi mulutnya tetap menjawab lembut, “Mau beli makanan kamu dong.”
“Nggak usah repot-repot, Mbak. Suruh temanku saja yang antar ke sini. Mbak di sini saja temani aku, jangan kemana-mana,” pinta Kevin memelas. Cahaya pun akhirnya menurut dan kembali duduk di sofa.
“Ambilin HP aku di tas dong, Mbak,” pinta Kevin lagi.
Cahaya menyerahkan ponsel itu. Kevin langsung menekan nomor temannya, Andre.
“Halo, Vin?” sapa suara dari seberang.
“Ndre, buruan belikan aku bubur ayam langganan, langsung bawa ke RS Medika sekarang!” perintah Kevin singkat.
“Ha? Siapa yang sakit? Kamu?” tanya Andre kaget langsung bangkit dari kasur.
“Aku dirawat di sini. Cepat, 15 menit harus sudah sampai!” titah Kevin, lalu telepon diputus sepihak.
“Dasar bos sombong! Untung dia bosku, kalau enggak sudah aku ajak berantem,” gerutu Andre sambil buru-buru bangun. Ia cuci muka, sisir rambut, dan meski belum mandi, ketampanannya tetap terpancar sempurna.
Di tempat lain, Aditya dan Keyla akhirnya sampai di apartemen mewah milik Aditya.
“Akhirnya sampai juga,” ucap Keyla sambil duduk lemas di sofa ruang tengah.
Aditya segera duduk di sampingnya, menatap lekat wajah wanita itu. “Key, mulai sekarang kamu harus sangat hati-hati. Jangan capek-capek, istirahat cukup, dan jaga kandunganmu baik-baik demi anak kita.”
Keyla menatap Aditya tajam namun penuh harap. “Aku akan jaga semuanya, Dit. Tapi ada satu syarat: kamu harus menikahiku secepatnya, aku nggak mau anakku lahir tanpa ayah yang sah.”
Aditya tersenyum hangat, mengelus rambut panjang Keyla. “Tenang saja sayang. Minggu depan kita akan menikah. Semua persiapan sudah aku atur diam-diam.”
“Beneran, Mas? Kita benar-benar akan menikah?” mata Keyla berbinar penuh bahagia.
“Iya sayang, kita akan segera jadi suami istri sah.”
Tanpa ragu, Keyla langsung memeluk pinggang Aditya erat, dan lelaki itu membalas pelukan itu penuh kasih. Aditya mengecup kening, turun ke hidung, lalu mendaratkan bibirnya di bibir merah Keyla, melumatnya dengan lembut namun penuh gairah. Keyla membalas ciuman itu dengan antusias. Namun, Aditya perlahan melepaskan tautan bibir mereka.
“Kenapa berhenti, Mas?” cemberut Keyla, napasnya sedikit terengah.
“Kamu baru keluar dari rumah sakit, masih lemah. Kita harus jaga diri, dan jaga si kecil di sini,” bisik Aditya sambil mengelus lembut perut rata Keyla. “Nanti kalau kamu sudah benar-benar pulih, aku nggak akan melepaskanmu lagi.”
...***Bersambung***...
"dibawah" ke rumah sakit.. (dibawa)
Selamat datang nona "mudah".. (muda)
"nika" ( inin yg harusnya pakai huruf "h")
aaaaaah.. gemes aku bacanya dgn banyak kosa kata yg kacauuuu...
berali = beralih