Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"...Lebih mudah belajar berbicara daripada belajar diam.. "
_Anonymous_
***
Raihan duduk dikursi, didepan kelasnya. Dia terkejut melihat Shica memasuki area sekolah bersama seorang bule tampan.
Raihan memegang dadanya yang sesak. Dia menoleh kearah Argaa yang juga terlihat kesal.
Shica dan Raymond memasuki ruang guru.
"Permisi,"
"Shica? Dan, ini siapa?" tanya bu Zihan.
"Ini Raymond bu, murid baru kelas IPA D," jawab Shica.
"Oh, kebetulan saya walikelas D." kata bu Zihan.
"Emm, saya mau bertemu pak Andra. Apa beliau sudah berada di ruangannya?" tanya Shica.
"Iya, silakan masuk saja" kata bu Zihan.
"Terimakasih, Bu." Shica berlalu ke ruang BP. Dia mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Masuk," mendengar instruksi itu, Shica memasuki ruangan.
"Ah? Nona Mahali, silakan duduk." kata pak Andra. Shica mengangguk, kemudian duduk berhadapan dengan Andra.
"Bagaimana Shica?" tanya pak Andra tanpa basa-basi.
"Menyebalkan sekali! Karenamu ciuman pertamaku direnggut orang gila itu!" batin Shica menjerit.
"Raihan sekolah seperti biasa. Dia tidak sekolah karena alasan biaya, Pak." jawab Shica.
"Hmm, begitu ya. Kasihan sekali, padahal dia murid yang berbakat." kata pak Andra.
"Tugas saya sudah selesai. Jadi saya rasa saya sudah tidak perlu lagi memantaunya, Pak." kata Shica.
"Kita lihat saja nanti." jawab pak Andra.
"Jika Raihan tidak masuk sekolah lagi, itu bukan tanggung jawab saya lagi, Pak." kata Shica kemudian bangkit dari tempatduduknya.
"Maaf, Pak. Permisi." kata Shica kemudian berlalu.
Shica memasuki kelasnya. Pelajaran berlangsung lama. Tidak ada kesempatan bagi Raihan untuk berbicara dengan Shica.
Jam pelajaran selesai,
Shica berjalan keluar dari kelas dan dia mendapati Raihan tengah duduk di motornya seraya menatap Shica.
"Kau menunggu seseorang?" tanya Shica.
"Iya," jawab Raihan.
Shica ber'oh ria, kemudian berlalu.
"Eh, eh, tunggu." kata Raihan.
Shica menghentikan langkahnya kemudian menoleh.
"Ada apa?" tanya Shica.
"Yang kutunggu adalah, kau." gerutu Raihan.
"Apa? Aku? Kenapa?" tanya Shica.
"Tentu saja mengajakmu pulang. Memangnya apalagi." gerutu Raihan.
"Tapi, aku mau pulang ke rumahku." kata Shica.
Raihan mengusap kasar wajahnya.
"Ya ampun, dia 'kan cerdas, aku benar-benar kesal dibuatnya. Untung kau cantik, Shica." batin Raihan.
"Siapa bilang aku akan membawamu pulang kerumahku? Aku akan mengantarmu pulang, ya ke rumahmu." gerutu Raihan.
Shica tersenyum.
"Mau mengantar pulang saja berbelit-belit bicaranya. Ah, dasar tuan gengsian," batin Shica.
Shica duduk dibonceng oleh Raihan yang sedang menyetir.
Mereka saling terdiam.
"Terimakasih," kata Raihan.
"Iya, sama-sama. Ngomong-ngomong untuk apa?" tanya Shica.
"Menyebalkan, kau mau membuat umurku cepat habis?" batin Raihan berteriak.
"Untuk semuanya, membantuku berjualan, memberikanku semangat, dan membelikan boneka untuk Lala." kata Raihan.
"Oh iya, sama-sama." jawab Shica.
"Siapa laki-laki bermotor sport merah tadi?" tanya Raihan.
"Dia Ray, teman kakakku. Dia juga murid baru di sekolah kita." jawab Shica.
"Pacarmu?" tanya Raihan.
"Yang benar saja, dia hanya temanku. Ray itu teman bicara yang menyenangkan," kata Shica menjawab pertanyaan Raihan.
"Oh iya, aku lupa. Pacarmu 'kan Argaa." kata Raihan.
Shica mendengus kesal. Dia tidak berniat merespon ucapan Raihan. Dia memilih diam.
Sebuah mobil mencegat motor Raihan.
Serta merta Raihan mengerem motornya. Sehingga kepala Shica berbenturan dengan kepala Raihan.
"Aaawww, kau ini apa-apaan?" gerutu Shica, kemudian melihat ke depan.
Shica terkejut. Regar keluar dari mobilnya dan berdiri dengan bertolak pinggang.
"Turun," kata Regar dingin. Shica terlihat takut.
"Jika orang gila itu memasang wajah seperti itu, artinya dia sedang marah," batin Shica yang dimaksud adalah kakaknya sendiri.
"Turun!" bentak Regar dengan nada yang sangat tinggi dan urat didahinya.
Shica terhenyak dan segera turun dari motor Raihan.
Raihan menautkan alisnya.
"Kemari," kata Regar dengan dingin.
Perlahan Shica berjalan menghampiri kakaknya. Dengan kasar, Regar menarik tangan Shica.
"Aww!" pekik Shica.
"Jangan sakiti dia, Regar!" kata Raihan.
"Apa? Raihan mengenal kakak?" batin Shica sambil menatap Regar dan Raihan bergantian.
"Jangan dekati adikku, atau kau mati!" geram Regar dengan seringaian menakutkan.
Shica terkejut mendengar ancaman yang bukan main-main dari Regar. Dia tidak mengira kakaknya bisa mengancam nyawa seseorang seperti itu.
"Kakak salah paham, dengar aku dulu." kata Shica pelan.
"Diam, kau!" bentak Regar. "Hhh," Shica terhenyak .
"Lebih baik, kau jangan berurusan denganku!" geram Regar dengan tatapan tertuju pada Raihan.
"Jika aku mau?" tantang Raihan sambil melipat kedua tangan didepan dada.
"Apa yang kau katakan! Kau tidak bisa menantang diriku!" bentak Regar sambil menunjuk wajah Raihan.
"Aku mencintai adikmu!" jawab Raihan lantang.
"What!" batin Regar dan Shica.
"Apa! Beraninya!" geram Regar seraya melepas cengkramannya pada Shica dan menghampiri Raihan.
"Katakan!" bentak Regar sambil menarik kerah Raihan.
"Aku mencintai Shica! Aku cinta padanya!" teriak Raihan sambil mendorong tubuh Regar yang lebih besar darinya.
"Kau akan mati!" Regar memukul Raihan, tapi ditahan Raihan.
"Cukup waktu itu kau memukulku, brengsek!" bentak Raihan.
"Sialan!" teriak Regar.
Regar memukul Raihan begitupun sebaliknya. Terjadi perkelahian.
"Kaliaann! Hentikan!" Shica berteriak histeris melihat pemandangan itu.
Regar dan Raihan tidak memperdulikan teriakan Shica, mereka terus berkelahi.
"Hentikan! Kalian berdua hentikan!" teriak Shica.
Regar dan Raihan menoleh, melihat Shica terduduk dijalan raya dengan air mata yang terus mengalir.
"Hiks, hiks, hiks," Shica menangis sesenggukan.
"Urusan kita belum selesai!" Regar mendorong dada Raihan hingga terpundur.
Dia berlalu dan menyeret Shica untuk masuk ke mobilnya.
"Jangan sakiti Shica!" bentak Raihan.
Tapi, mobil itu sudah melaju pergi meninggalkan Raihan dalam kekesalan.
Raihan memukul udara. "Shit!"
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya