NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Sugar Daddy

Tertawan Pesona Sugar Daddy

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:452.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Virzha

Abian Dirgantara, pria yang diselingkuhi sang istri karena alasan dirinya yang miskin.

Abian hancur dan terpuruk saat wanita yang dicintainya lebih memilih pria lain dan pergi meninggalkan luka yang teramat dalam.

Setelah beberapa tahun kemudian, Abian kembali dengan membawa seluruh luka dan dendam pada mantan istrinya. Ia menemukan celah untuk membalaskan dendamnya melalui putri mantan istrinya yang masih belia.

Lantas, apakah Abian akan berhasil membalaskan dendamnya kepada sang mantan istri? Atau ia justru akan terjebak dengan permainannya sendiri dan malah terjerumus dalam pesona anak mantan istrinya?

******

Ini Novel kolaborasi dari penulis Virzha dan Author Ayuza ya guys ...

Jangan lupa like, komen, vote dan subscribe ya guys !!!!

Semoga suka!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Power Of Money.

Ketika Ghea masuk kedalam rumah, wajah khawatir Regan dan Sukma langsung menyambutnya. Kedua orang tua itu sangat cemas sekali karena sejak kemarin Ghea belum pulang sama sekali.

"Ghea, akhirnya kau pulang juga, Nak? Kau baik-baik saja 'kan? Kenapa nomormu tidak aktif?" Sukma langsung memeluk putri kesayangannya, ia juga mencerca Ghea dengan segala pertanyaan dibenaknya.

"Ghea baik-baik saja Ma, semalam Ghea lembur makanya tidak bisa pulang," jawab Ghea mencoba tersenyum meski kikuk, jantungnya berdetak kencang karena baru pertama kali seumur hidupnya ia berbohong kepada Mamanya.

"Astaga, kau pasti capek sekali Sayang. Wajahmu sampai pucat begini," ucap Sukma menyentuh pipi anaknya yang sangat pucat itu.

"Ah iya Ma." Lagi-lagi Ghea tersenyum kikuk, padahal yang membuatnya lelah bukan bekerja, tapi Om galak yang sudah membolak-balikkan tubuhnya seperti gorengan sejak semalam.

"Ghea istirahat saja, besok tidak usah bekerja dulu kalau kau lelah." Regan yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.

Regan juga tidak tega melihat putrinya itu kerja sampai kelelahan. Padahal dulu Ghea tidak pernah sekalipun melakukan pekerjaan rumah, tapi sekarang wanita itu harus banting tulang untuk menghidupi keluarga mereka.

"Tidak usah bekerja mau makan apa? Apa kau mau mengantikan Ghea mencari uang?" sergah Sukma melirik suaminya begitu sinis.

"Tidak apa-apa Pa, Ma. Ghea cuma kelelahan, sekarang Ghea istirahat dulu supaya besok bisa bekerja lagi. Papa dan Mama jangan bertengkar ya, Ghea masih kuat kok untuk terus bekerja, yang penting keluarga kita tetap berkumpul sama-sama," ucap Ghea memandang kedua orangtuanya dengan penuh cinta. Sungguh ia tidak mau keluarganya jadi terpecah belah hanya karena masalah uang.

"Berkumpul kalau tidak punya uang buat apa? Lebih baik berpisah saja," ketus Sukma menghentakkan kakinya dengan kesal seraya meninggalkan ruangan itu.

Regan pun cukup kesal dengan sikap Sukma yang selalu menyalahkannya. Ia akhirnya pergi meninggalkan rumah untuk mencari udara segar.

"Ya Tuhan, kenapa Papa dan Mama jadi seperti ini? Apa uang begitu penting untuk mereka berdua?" Ghea menangis lirih saat melihat kedua orang tua yang dulunya sangat akur dan romantis tapi kini justru saling menyalahkan satu sama lain.

Ghea lalu teringat akan kartu yang diberikan oleh Abian tadi. Ghea memandang kartu itu dengan perasaan ragu.

"Apakah aku harus menggunakan kartu ini agar keharmonisan keluargaku kembali utuh?" gumam Ghea menimbang-nimbang apakah dia harus menggunakan kartu yang isinya pasti sangat banyak itu.

"Tidak, tidak, kalau aku memakainya, aku pasti akan semakin merepotkan Bian. Aku belum menjadi istrinya, aku tidak bisa semena-mena menggunakan uangnya." Ghea akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakan kartu itu, ia menyimpan kembali kartu itu di dalam dompetnya.

"Apa itu Ghea?" Terdengar teguran dari Sukma, wanita itu tidak sengaja lewat dan melihat kartu yang dibawa Ghea. "Black Card? Kau mendapatkannya darimana? Coba Mama lihat." Sukma yakin tidak salah lihat, ia segera mendatangi Ghea kembali untuk melihat apakah benar yang dibawa Ghea adalah black card platinum yang tidak sembarang orang punya itu.

"Bu-bukan apa-apa Ma," ucap Ghea terbata-bata, ia terkejut karena tiba-tiba Ibunya datang kesana lagi.

"Jangan bohong sama Mama, itu black card platinum siapa?" Sukma tidak percaya begitu saja, dan ia mengambil kartu yang belum sempat dimasukkan oleh Ghea kedalam dompetnya itu.

"Astaga, astaga, ini benar-benar black card platinum. Kau mendapatkan kartu ini darimana Sayang?" Sukma sampai mengedipkan matanya berkali-kali karena sangking kagetnya melihat kartu yang dipegangnya itu.

"Itu milik temanku Ma, Ghea harus mengembalikannya," kata Ghea mengambil kembali kartu itu tapi Sukma malah menjauhkannya.

"Teman? Teman siapa?" Lagi-lagi Sukma tidak percaya, ia menatap putrinya lekat-lekat dan ia menemukan sorot mata kebohongan didalam mata anaknya itu. "Jangan bilang kartu ini dari pria yang sering kau bawakan sarapan itu? Iyakah? Dia sekaya itu sampai memberimu kartu ini?" Tanya Sukma si mata duitan langsung saja konek jika menyangkut dengan pundi-pundi uang.

"Iya Ma, tapi Ghea harus mengembalikannya. Ini terlalu berlebihan," kata Ghea jujur saja, toh tidak ada gunanya dia menutupi apapun dari Mamanya sendiri.

"Astaga Ghea, jangan terlalu naif Sayang. Jika seorang pria sudah memberikanmu kartu seperti ini, artinya dia pria yang jangan sampai kau lepaskan. Ini sudah diberikan untukmu, jadi kau berhak memilikinya," ucap Sukma memegang kedua lengan putrinya, hatinya yang semula kesal karena suaminya yang miskin, kini terobati melihat kartu platinum yang dipastikan isinya bukan kaleng-kaleng itu.

"Ghea nggak enak Ma, Bia-"

"Tidak perlu merasa tidak enak, tugasmu sekarang hanya perlu mempertahankan pria itu agar terus bersamamu. Atau kau kenalkan saja pria itu pada Mama? Biar Mama sendiri yang mengatakan kalau Mama setuju dia menjadi menantu Mama?" Sukma lagi-lagi menyela ucapan Ghea sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya. Bak menemukan sebongkah berlian, Sukma tidak akan membiarkan putrinya melepaskan pria itu.

"Tapi Ma, bukankah ini terlalu cepat? Ghea baru mengenalnya beberapa bulan," ucap Ghea dengan wajahnya yang ragu.

"Lebih cepat lebih baik, kalau kau memang tidak mau menerima kartu ini, Mama saja yang akan memakainya. Mama sudah lama tidak belanja karena Papamu yang tidak becus itu," tukas Sukma sama sekali tidak menghiraukan putrinya, ia membawa kartu platinum yang baru Ghea dapatkan dari Abian itu ke kamarnya.

"Ma, jangan dipakai banyak-banyak," ujar Ghea, tapi Sukma tidak menggubrisnya sama sekali.

Ghea menghela nafas panjang, padahal ia benar-benar tidak mau menerima kartu itu. Tapi sekarang Mamanya justru akan menggunakannya untuk berbelanja.

*****

Abian menghisap rokoknya dalam-dalam sembari menatap pemandangan belakang rumahnya yang penuh bintang. Pandangannya memang kesana, tapi entah kenapa pikirannya malah melayang jauh pada sosok wanita yang tidak seharusnya ia pikirkan.

Siapa lagi kalau bukan Ghea? Sejak ia mendapatkan kesucian wanita itu, Abian malah terus terbayang-bayang dengan malam panas mereka. Bagaimana Ghea men de sah dan memanggil namanya dengan suaranya yang lembut medayu.

"Sialan! Aku tidak bisa terus seperti ini," umpat Abian mengingat tujuan awalnya mendekati Ghea, ia tidak boleh terjebak oleh permainan yang dibuatnya sendiri.

Saat Abian terus memikirkan Ghea, tiba-tiba benda pipih yang terletak dimeja sampingnya bergerak-gerak pertanda ada panggilan masuk. Abian melihat siapa yang menghubunginya, bibirnya sontak tersenyum tipis saat melihat nama sang penelepon.

"Halo Sayang, ada apa? Apa kau sudah merindukanku?" Abian seperti biasa, ia langsung melontarkan gombalan mautnya.

"Halo, ehm Sayang, apakah aku mengganggumu?" Ghea berbicara dengan begitu ragu, ia sedang menyusun kata-kata yang pas untuk mengatakan pada Abian kalau kartunya itu dipegang Ibunya.

"Tentu tidak Sayang, meskipun aku sibuk sekalipun, aku tidak pernah merasa terganggu olehmu," ucap Abian begitu lembut, padahal wajah pria itu sudah ingin muntah.

"Sebelumnya aku ingin minta maaf," ucap Ghea semakin gugup. "Aku minta maaf, karena kartu yang kau berikan diambil Mamaku, maaf kalau nanti ada pengeluaran yang mungkin-"

"Kenapa harus meminta maaf? Justru itu lebih bagus Sayang, berikan saya kartu itu pada Mamamu. Nanti aku akan memberikannya lagi padamu." Abian langsung menyela, wajahnya kian mengembangkan senyum sinisnya. Sesuai dugaannya, Sukma wanita mata duitan itu pasti tidak akan tahan jika melihat uang yang melambai-lambai didepan matanya.

Happy Reading.

TBC.

1
C2nunik987
hadir mudah mudahan ga gantung 🤣🤣🤣bibit pengkhianat udh di Sukma yuuk gasskan penderitaan utk pengkhianat 🤣🤣🤣
Rafly Rafly
satu persatu karma itu datang menghampiri..😁😁😁
Rafly Rafly
ada yg pusing..tapi nggak perlu Bodrex /Drool//Drool//Drool/
Rafly Rafly
ada yg pusing tapi nggak butuh Paramex /Drool//Drool//Drool/
tris tanto
lha othor amnesia ya,,
tris tanto
knp sll pake emosi kan peln dgn penekanan kn bisa mlh feelny lebih dpt,,gk nopel ini nopel ono bnyk emosi ketus sm kasar,,haduuh
tris tanto
kwkwkwkwkw
tris tanto
nah bersikap bodho amat kan mlh bagus
tris tanto
ketauan umurnya
tris tanto
knp nemu karakter cew nya pd ketus2 ato gk galak ya,,pdhl kalo bicaranya tegas itu bukan berrti galak n suka marah2 kan
tris tanto
kira2 abian umur brp ya,bls dendam aja nunggu 18 thn itu seumuran anaknya sukma 🤔🤔
Anonim
Terlalu kejam caramu menyiksa thor
Keana Cell
mati saja kau ghea
Keana Cell
kurang bermutu ceita novel ini
Keana Cell
lemah tokoh wanitanya
Keana Cell
kurang suka ceritanta, udah menderita cukup lama, ehh balik lagi
AYSHE
Luar biasa
Ing
terima nathan, jgn kembali pada Abian
Wiwik Murniati
kok abian jadi jahat ya ,,,,,,kenapa harus gea siih aku jadi ngak suka sama abian
Wiwik Murniati
aku tidak suka dengan abian ,,,,, kenapa dia harus balas dendam pada gea dasar ngak punya hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!