Calandra langit aizen adalah wanita manis dan cantik keturunan jepang-indonesia yang baru saja lulus kuliah, namun belum bekerja di luar. Untuk sementara waktu, pekerjaan yang di tekuni adalah menulis dengan suka-suka. Selalu menonton drama Korea setiap malam atau harinya, bercita-cita memiliki pasangan seperti orang Korea yang sering ia lihat, tapi bisakah dirinya memiliki pasangan seperti yang diinginkan? Sementara dirinya malas untuk merawat diri.
Mimpi yang ia inginkan menjadi kenyataan, ia berpindah ke tubuh artis Korea bernama song ha jin, hanya karena gelang yang di berikan oleh kakaknya. Wajah dan tubuh yang sangat mirip dengannya, namun dengan kulit yang lebih sehat karena terawat.
Apakah Calandra menyesal karena telah berpindah dan jauh dari keluarga? atau bahagia bisa bertemu dengan laki-laki yang selama ini ia impikan?
Baca ceritanya disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-sama menikmati
Rombongan Ha jin dan Hwan hee sudah kembali ke Korea, ia sekarang berada di rumahnya di temani keluarga dan juga Ha jin yang masih belum kembali ke rumah.
"Aku ingin kembali ke kamar, sudah cukup ceritanya hari ini untuk aku ingat semua."
"Kamu memang harus banyak istirahat."
"Biar aku yang temani, aku bantu kamu ke kamar." Ha jin membantu Hwan hee ke kamar nya, Hwan hee hanya diam saja menatap Ha jin yang mulai membantu nya, padahal dirinya juga tidak ada luka yang parah dan serius.
Sesampainya di kamar Hwan hee langsung duduk di ranjang di temani Ha jin.
"Kamu mau sesuatu atau langsung istirahat?" Tanya Ha jin tersenyum.
"Tidak, aku tidak ingin apapun." Ha jin hanya mengangguk mendengar jawaban tunangan nya.
"Aku besok kembali syuting dan tidak selalu ada disini menemani kamu, weekend nanti aku akan mengajakmu jalan-jalan diluar."
"Terserah kamu saja, lagipula aku tida ingat apapun tentang kehidupan sehari-hari ataupun pekerjaan ku."
Mata Ha jin berkaca-kaca, ia ingat dirinya saat Hwan hee menjaga dan selalu membuat nya nyaman agar cepat mengingat dirinya.
"Saat aku sakit dan tidak mengingat kamu, kamu selalu menjaga dan menemani ku. Saat aku ke apartemen kamu, kamu membuat aku nyaman dan sedikit-sedikit mengingat cerita kita dulu."
"Aku minta maaf, apa aku begitu menyayangi mu?" Tanya Hwan hee.
"Sangat, aku yang terlalu cuek karena aku juga tidak terlalu ingat dengan mu waktu itu. Sekarang malah kamu yang seperti ini tidak mengingatku sama sekali, padahal kamu berjanji akan kembali dengan selamat dan kita akan menikah." Ha jin merasa sesak menyampaikan ucapan nya pada Hwan hee.
Hwan hee mendekat dan memeluk Ha jin, ia juga merasakan jantung nya berdebar berdekatan dengan Ha jin.
"Kamu berjanji akan segera menikahi ku, karena ingin membuat ku tidak bisa berjalan." Ha jin tertawa mengingat ucapan Hwan hee sebelum berangkat ke Jepang.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Hwan hee.
"Karena lucu saja, ternyata kamu sekarang malah tidak bisa menikahi ku dengan alasan lupa dengan semua ingatan tentang kita. Kembali menunda setelah beberapa minggu kecelakaan terjadi, di tambah sekarang keadaan seperti ini."
"Apa aku mengatakan seperti itu? Jika misalnya kita menikah tanpa aku mengingatmu bagaimana?" Tanya Hwan hee membuat Ha jin melepas pelukannya dan menatap wajah Hwan hee.
"Aku tidak ingin seperti itu, aku ingin kita menikah dengan keadaan saling ingat dan sakral untuk mengucap janji suci pernikahan."
Hwan hee mengerti dengan ucapan Ha jin, ia mengangguk dan setuju jika mereka menikah harus dengan keadaan sadar bahwa itu mereka bukan dengan tidak ingat apapun.
"Apa kamu akan menginap disini?" Tanya Hwan hee.
"Kalau kamu ingat kamu sebenarnya, bukan bertanya tapi kamu akan memaksa untuk tetap tinggal disini."
"Berarti kamu akan tidur di kamar ku?" Tanya Hwan hee lagi.
"Bahaya sekali. Tapi mumpung kamu lagi gak ingat apa-apa aku mau saja tidur disini menemani kamu."
"Aku memang tidak ingat apa-apa, tapi aku tetap laki-laki."
"Benarkah?" Tanya Ha jin mengecup bibir Hwan hee membuat Hwan hee melototkan matanya.
Ha jin hanya tertawa dengan reaksi Hwan hee, jika dirinya ingat waktu di apartemen bisa-bisa Ha jin sudah tidak bisa kabur.
"Lucu sekali, kamu bahkan pernah membuat bibir ku bengkak karena selalu mencium ku, sekarang aku hanya bisa tertawa karena reaksi kamu."
Ha jin asik mengejek Hwan hee yang belum mengingat apapun karena merasa dirinya aman saat ini, Hwan hee langsung menarik Ha jin dan mencium nya. Bukan Hwan hee yang melototkan matanya saat ini melainkan Ha jin. Hwan hee memperdalam ciumannya karena Ha jin tidak membalas dan masih dalam keterkejutan nya.
Ha jin akhirnya membalas ciuman Hwan hee yang semakin brutal, agar bisa mengimbangi permainan nya yang memang ganas.
Menempelkan dahi mereka saling menatap saat sudah melepas pagutan bibir yang tadi memanas.
"Apa aku salah bercerita? Bukan, ini memang kamu saja yang suka mencium ku bukan karena ingatan nya yang sudah pulih." Ha jin masih dengan nafas tersengal seperti berlari setelah menerima ciuman Hwan hee.
"Apa aku memang selalu seperti ini? Tapi memang rasanya manis, aku juga tidak akan bosan dengan bibirmu." Ucapnya menyentuh bibir Ha jin lembut.
"Ya!!!" Ha jin berteriak mendorong Hwan hee.
"Jadi kamu hanya ingin mencium ku saja, tapi tidak ingat dan mencintai ku?"
"Sabar dulu! Tolong bantu aku untuk mengingat semuanya, dan kita akan segera menikah seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya." Hwan hee menenangkan Ha jin agar membantu nya untuk mengingat semuanya kembali.
"Aku akan selalu ada di samping kamu, bukan hanya keluarga dan teman-teman kamu, tapi aku juga yang akan membuat kamu kembali mengingat tentang kita."
Hwan hee kembali memeluk Ha jin, saat akan membaringkan tubuh tunangan nya, Ha jin ingat jika belum melakukan skincare routine.
"Kamu biasanya juga akan ikut, ayo kita cuci muka dulu sebelum skincare an." Ha jin mengajak Hwan hee ke kamar mandi dan setelah itu membantu nya memakai toner.
Hwan hee melihat bayangan yang terlintas di ingatan nya, sama seperti yang mereka lakukan saat ini.
"Kepalamu kenapa? Apa sakit?" Tanya Ha jin saat melihat Hwan hee memegang kepalanya.
"Aku hanya mengingat pernah melakukan ini sebelum nya."
"Saat di apartemen kita saling membantu memakai skincare, jadi mungkin kamu mengingat sedikit ingatan tentang kita."
Hwan hee membantu memakaikan skincare nya pada Ha jin, ia merasa begitu terpesona dengan Ha jin yang membuat jantung nya berdegup kencang.
"Kenapa kamu sangat cantik? Apa aku menyukai mu sampai mengajakmu bertunangan karena parasmu yang sangat mempesona ini?" Tanya Hwan hee membuat Ha jin merona malu dengan pernyataan Hwan hee yang memang seperti dari hatinya bukan gombalan.
"Bisa saja seperti itu, karena banyak laki-laki yang mencari pasangan dilihat dari kecantikan nya dulu baru hatinya."
"Aku memang harusnya tidak salah pilih dengan gaya dan tampilan yang bareface sudah sangat cantik, sepertinya aku di kehidupan sebelumnya berbuat baik hingga mendapatkan wanita sepertimu."
"Aku harusnya tidak mendengar rayuan mu, sekarang kita waktunya tidur."
Mereka sudah berada di atas ranjang, Ha jin yang memang sudah terbiasa dengan pakaian tidur seksi juga membuka bra yang ia pakai.
Hwan hee menelan ludah nya melihat Ha jin seperti menggoda nya.
"Jangan menggodaku jika aku belum bisa mengingat mu," ucap Hwan hee.
Ha jin menaikkan satu alisnya, ia bingung dengan ucapan Hwan hee.
"Aku hanya ingin tidur, tidak sedang menggoda mu."
"Tidak menggodaku tapi dengan sesuatu yang menonjol itu terlihat sangat menggoda iman ku, kamu begitu seksi."
"Dulu kamu memang sering memainkan nya, tapi aku tidak akan mengizinkan saat belum mengingat apapun seperti sekarang."
Hwan hee hanya bisa menelan ludah, walaupun tangannya mulai meraba tangan Ha jin.
"Sayang, apa aku dulu memanggil mu dengan sebutan sayang?" Tanyanya yang mulai menjalari lengan Ha jin.
"Iya, kamu memanggil ku sayang, dan merengek saat menginginkan sesuatu dariku."
"Sayang," rengekannya membuat Ha jin menatap Hwan hee yang menggigit bibirnya dan sadar ketika tangan Hwan hee sudah di leher Ha jin. Ha jin salah telah mengatakan nya pada laki-laki di depannya itu, sepertinya tidak akan aman dirinya disana.
"Hwan hee, sayang. Kita langsung tidur aja sekarang ya, kamu harus banyak istirahat." Bujuk Ha jin agar Hwan hee langsung istirahat.
Hwan hee menggelengkan kepalanya dan malah menarik Ha jin pelan lalu menghisap lehernya tiba-tiba.
Ha jin tentu saja menggelinjang keenakan dan geli dengan hisapan Hwan hee.
"Bukannya kamu menikmatinya? Aku hanya ingin menyicipi nya, sedikit dan hanya beberapa menit." Hwan hee juga merasa Dejavu dengan permintaan nya membuat sekelebat bayangan sedang menyusu sambil memainkan satu lagi.
"Hwan hee, kamu tidak pa-pa?" Tanya nya membuat Hwan hee kembali sadar.
"Aku hanya melihat pernah menghisap nya sambil memainkan yang satunya." Ingatan Hwan hee yang muncul membuat Ha jin tidak habis pikir, bisa-bisa nya yang di perlihatkan malah hal yang membuatnya juga keenakan.
"Aku mengizinkan asal dengan pelan, kamu selalu membuat nya lecet saat menghisap nya."
"Sambil tiduran ya, aku ingin kamu sambil istirahat." Ucapnya membuat Ha jin lagi-lagi hah? Bukannya terbalik yang harusnya banyak istirahat itu Hwan hee bukan Ha jin.
Hwan hee memulai aksinya saat membuka baju tidur Ha jin dan membuat nya menyembul sempurna dengan bentuk yang indah dan cantik di mata Hwan hee. Tidak ia sia-siakan kesempatan di depan mata, langsung ia hap pelan dengan tangan satunya lagi memainkan di sebelahnya.
Hwan hee bermain dengan kedua benda kenyal itu sambil tiduran memeluk Ha jin. Ha jin membiarkan itu supaya dengan itu juga membuat Hwan hee cepat mengingat nya kembali.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @iatimariellaahmad98
See you...