NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Anisa

Pilihan Hati Anisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Single Mom
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: pinkanmiliar

Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.

Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.

----------------------------

"Siapa ayah dari bayimu?"

"Itu bukan urusan Dokter."

"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."

Anisa hanya tersenyum getir.

"Maaf. Saya menolaknya."

-----------------------

Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Bagian

Bagian A. Keluarga Kramawijaya

Anisa melangkah keluar dari rumah sakit dengan perasaan lega. Ia tak menyangka jika dokter Ridha bersedia membantu agar tetap bisa bersama dengan bayinya.

Saat tiba di parkiran, terdengar kericuhan dari arah sana. Mata Anisa membulat saat melihat sosok yang dikenalnya sedang beradu argumen dengan salah satu staf rumah sakit. Itu adalah Reinhart.

Anisa berjalan mendekat dan ingin tahu apa yang terjadi. Saat ini ia mengenakan cadar, jadi kecil kemungkinan Reinhart akan mengenalinya.

"Kalian tahu apa tujuan rumah sakit ini dibangun? Agar masyarakat luas bisa berobat kesini saat sakit. Kenapa kalian melarang bapak ini untuk berobat?" Itu adalah suara Reinhart yang sedang marah.

"Maaf, Dokter Reinhart. Tapi, peraturan rumah sakit memang begitu. Sekarang kami tidak menerima pasien dengan asuransi dari pemerintah. Kami hanya menerima pasien umum atau asuransi swasta." Seorang staf menjelaskan pada Reinhart.

Tangan Reinhart terkepal mendengar jawaban si staf.

Sejak kapan rumah sakit yang didirikan kakeknya jadi komersil begini? Atau mungkin ini adalah ulah Rendra yang sekarang memegang jabatan tertinggi di rumah sakit?

"Cepat bawa bapak ini ke IGD," perintah Reinhart tegas.

"Tapi..."

"Saya yang akan bertanggungjawab!" tegas Reinhart lalu membantu si bapak yang sedang kesakitan itu menuju ke ruang IGD.

Beberapa orang yang tadi berkerumun seketika bubar saat satpam menegur.

Anisa tersenyum simpul dibalik cadarnya. Reinhart adalah orang baik, itulah yang ada dipikiran Anisa. Terlepas dari Reinhart yang kadang ikut campur urusannya, penilaian Anisa mulai berubah terhadap Reinhart.

"Harusnya yang jadi direktur rumah sakit itu Dokter Reinhart aja. Dia itu orangnya baik, sopan, ramah dan selalu membela yang lemah."

Anisa mendengar celetukan dari salah satu satpam.

"Yaa mau bagaimana lagi? Anak yang lebih tua kan Dokter Rendra. Jadi, pasti Pak Raka memilih cucu sulungnya buat jadi penerus."

"Tapi dokter Rendra gak sebaik dokter Reinhart. Sekarang yang dipikirkan rumah sakit ini hanya keuntungan saja dan gak melihat rasa manusiawi."

"Ya wajarlah. Karyawan di rumah sakit ini ada ratusan. Mau digaji dari mana kalau beliau gak money oriented?"

Obrolan dua satpam itu berakhir dan mereka kembali bekerja.

Anisa terdiam cukup lama. Mendengar nama Rendra membuat Anisa mengingat sesuatu. "Namanya kayak gak asing," gumamnya.

Malam harinya, Anisa duduk di depan laptop tanpa melakukan apapun. Sebenarnya ia ingin mengetikkan sesuatu di pencarian. Sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak sore tadi.

"Huft, bismillahirohmanirrohim." Anisa memantapkan hati lalu jemarinya mulai bergerak diatas keyboard.

Rumah sakit Harapan Anda. Itulah pencarian yang dilakukan Anisa. Beberapa artikel berita banyak memuat tentang profil rumah sakit dan juga para petingginya.

"Pemilik utama, Raka Kramawijaya."

Ada foto Raka disana. Kemudian Anisa mulai men-scroll mencari sesuatu yang mungkin jawaban dari pertanyaannya.

"Rendra Kramawijaya?" Anisa menutup mulutnya tak percaya. Rupanya Rendra yang dibicarakan dua satpam tadi adalah pria yang menikahinya secara siri. Pria yang adalah ayah dari bayi kembarnya.

Makin kebawah, Anisa mulai menemukan foto-foto anggota keluarga Kramawijaya.

Anisa menggeleng pelan. "Jadi, dokter Reinhart adalah adiknya Pak Rendra?"

Bahu Anisa bergerak turun setelah mengetahui fakta ini. "Kalau begitu, dokter Reinhart adalah adik iparku." Anisa memejamkan mata.

"Ya Allah, takdir apa lagi ini? Kenapa semuanya saling terhubung begini?"

*****

Bagian B. Jangan Ganggu Aku

Anisa memasuki kampus dengan langkah ragu. Tak pernah ia sangka jika jalan hidupnya akan penuh liku seperti ini. Harus jadi istri siri suami orang lain, lalu diperhatikan oleh pria yang adalah adik iparnya sendiri. Padahal di dalam hati, Anisa mulai mengagumi sosok Reinhart yang dinilainya baik hati.

"Kamu yang namanya Anisa?"

Suara seorang pria membuat Anisa menoleh.

"Iya, saya Anisa. Ada apa ya?"

"Kamu diminta datang ke ruang administrasi jurusan kedokteran."

"Hah? Ada masalah apa ya?" Anisa terlihat bingung. Pasalnya ruangan administrasi adalah ruang yang pernah jadi kenangan antara dirinya dan Reinhart. Mungkinkah kali ini Reinhart membuat ulah lagi?

"Cepetan sana!"

"Hmm, iya."

Meski sempat ragu, tapi Anisa masih berpikiran positif. Mungkin saja memang staf administrasi yang memanggilnya.

Tiba di depan ruang administrasi, Anisa mengetuk pintu.

"Masuk!" Terdengar sahutan dari dalam. Itu bukan suara Reinhart, pikir Anisa.

"Permisi, apa Bapak memanggil saya?" tanya Anisa sopan sambil menutup kembali pintu ruangan itu.

"Hmm, duduklah."

Pria yang adalah Riyan itu menatap Anisa tajam. Tatapan Riyan membuat Anisa risih.

"Maaf, ada apa ya Bapak panggil saya? Apa ada masalah dengan administrasi saya?"

Riyan menggeleng. "Tidak ada. Yang jadi masalah disini adalah kamu. Saya heran sama perempuan seperti kamu."

"Maksud Bapak apa? Kenapa membicarakan tentang saya?" Anisa memberanikan bicara lantang.

"Kamu ini ... berpura-pura lemah di depan Reinhart. Tapi sebenarnya kamu punya bisa yang mematikan untuk menjerat Reinhart."

Anisa tertegun sejenak. "Jadi ini tentang dokter Reinhart?"

"Kamu sengaja kan membuat Reinhart mendekati kamu agar bertanggungjawab dengan kondisi kamu!" Riyan menunjuk perut Anisa.

Sontak saja Anisa syok bukan main. Tak menyangka jika Reinhart akan membocorkan kehamilannya pada pria di depannya ini.

Anisa menggeleng pelan. Matanya sudah berkaca-kaca dituduh seperti itu oleh Riyan.

"Mengaku saja! Kamu hamil tanpa memiliki suami, makanya kamu ingin Reinhart jadi ayah dari bayimu."

"Itu tidak benar!" Anisa membela diri.

"Halah, jangan sok suci. Cewek yang pura-pura lugu dan pakai hijab kaya kamu tuh udah banyak. Mereka aslinya lebih liar dari kelihatannya."

"Cukup! Bapak boleh menghina saya, tapi jangan pernah menghina hijab saya! Karena hijab saya adalah bentuk ketaatan saya sama Allah, bukan karena alasan yang Bapak sebutkan tadi."

Riyan mengusap kasar wajahnya. Sebenarnya ia tak ingin ikut campur masalah Reinhart dengan gadis ini, tapi naluri sebagai sahabat hanya ingin yang terbaik untuk Reinhart.

"Sebaiknya jangan membuat Reinhart perhatian lagi sama kamu. Jangan menerima pemberian apapun dari Reinhart, termasuk jus yang selalu kamu minum setiap hari."

Duar! Hati Anisa sangat tertohok mendengar pernyataan Riyan. Jadi memang benar jika selama ini Reinhart lah yang mengirimkan jus untuknya.

Tak tahan dengan terus mendengar hinaan Riyan, Anisa memilih pergi dari ruangan pria itu. Tangannya terkepal sempurna menahan rasa kesal di hati. Ia akan menemui Reinhart saat ini juga. Ia harus memberi peringatan pada pria itu. Peduli apa dengan status Reinhart yang adalah adik iparnya. Ia tak terima jika dikatai sebagai wanita penggoda yang meminta tanggung jawab dari Reinhart.

"Dokter Reinhart!" Suara Anisa terdengar keras di ruangan klinik.

Reinhart yang mendengar itu langsung mendatangi Anisa.

"Anisa?" Sungguh tak ia duga jika Anisa akan datang ke klinik.

Plak! Satu tamparan Anisa layangkan ke pipi Reinhart.

"Mulai detik ini jangan pernah mengganggu kehidupan saya lagi. Saya tidak butuh perhatian dari dokter. Jangan pernah mengirim jus lagi untuk saya. Saya dan bayi ini akan baik-baik saja meski tanpa bantuan dokter."

Napas Anisa kembang kempis usai mengungkapkan semua kekesalan dihatinya.

Reinhart hanya diam dan tak mengelak. Ia tahu jika saat ini Anisa sedang dikuasai emosi. Jadi, percuma saja jika Reinhart membantah. Toh memang benar jika selama ini dirinyalah yang mengirim jus untuk Anisa.

"Saya kecewa sama dokter. Dokter gak bisa menjaga kepercayaan yang saya berikan." Air mata Anisa akhirnya luruh. Baru kemarin Anisa merasa mengagumi sosok Reinhart, tapi sekarang semuanya runtuh setelah mengetahui jika Reinhart tidak menepati janjinya.

Reinhart tak tega melihat Anisa yang menangis sesenggukan. Ia mendekati Anisa. Namun, gadis itu malah menghindar.

"Jangan pernah ganggu saya lagi dan jangan muncul di depan saya lagi. Sudah cukup teman Dokter menghina saya. Saya tidak ingin ada yang menghina bayi saya lagi." Setelah mengatakan itu, Anisa bergegas pergi meninggalkan klinik kampus.

Reinhart masih bingung dengan ucapan Anisa yang terakhir.

"Temanku? Siapa? Jangan-jangan...?"

Reinhart mengepalkan tangan dan berjalan keluar dari klinik.

"Awas lo, Riyan!"

1
falea sezi
oalah bodoh bgt anisa😒
Emak Femes: makasih udh mampir Kak 🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
Sunarti Narti
itu namanya jodoh
Dian
suka
Emak Femes: Makasih sudah mampir, Kak 😍
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Baru episode satu kamu udah bikin hidup orang rumit, Mak🤣

daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: ❤️❤️❤️
semangART, Emak!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!