Biyanca yang diadopsi oleh keluarga sederhana terpaksa harus menelan pil pahit karena dirinya akan di lelang dihadapan banyak orang kaya demi melunasi hutang ayah angkat dan keluarganya. Di hari pelelangan, seorang pria yang sedang terluka karena tertembak, datang dan nyelonong masuk ke dalam kamar Biyanca.
Tak disangka, pemenang lelang jatuh pada pria yang tadi sempat ditolong Biyanca. Pria tersebut membayar Biyanca dengan harga sangat mahal mengalahkan semua kaum borjuis yang ada di tempat pelelangan ini. Alhasil, Biyancapun harus dinikahkan dengan pria tersebut.
Siapakah Pria itu? Akankah pernikahan mereka bahagia, atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 FB 9 : Byon vs Leon
Leon masih tak percaya pada apa yang dikatakan Byon padanya. Selama ini, Byonlah yang digadang-gadang akan menggantikan posisi ayahnya sebagai bangsawan penguasa wilayah ini. Leon sendiri sangat mendukung kakaknya itu. Sebab menurutnya, Byon adalah orang yang hebat dimata Leon. Segala hal yang bermasalah selalu bisa diselesaikan dengan baik oleh Byon, karena dia memang memiliki otak cerdas diatas rata-rata dan juga memiliki kekuatan fisik yang luar biasa.
Namun, keputusan Byon saat mengatakan bahwa ia akan meninggalkan semua ini demi wanita yang ia cintai, sama sekali tak dapat diterima oleh Leon. Apalagi Byon memintanya menggantikan posisinya, tentu saja Leon tidak akan pernah mau melakukannya.
“Tidak, Kak? Kau ingin aku menggantikanmu dan terkurung selamanya ditempat ini? Sementara kau bebas melakukan apapun yang kau suka diluar sana? Tidak! Aku tidak mau!” tolak Leon mentah-mentah meskipun bukan itu alasannya ia menolak permintaan Byon.
Byon yang sudah tahu kalau adiknya ini tidak akan setuju dengan keputusannya, mencoba menjelaskan agar ia mengerti perasaan Byon.
“Leon, Ayah hanya memiliki dua putra … yaitu kau dan aku. Bukannya aku lepas tanggungjawab sebagai putra tertua keluarga kita, tapi aku tak bisa menuruti apa yang diinginkan ayah padaku. Hidupku, adalah Bii, Leon. Aku tak bisa menikahi wanita lain selain Bii. Dan kau tahu sendiri, sampai kapanpun, ayah takkan pernah menyetujui hubunganku dengan Bii.”
“Lalu aku? Bagaimana denganku? Apa kau menyuruhku mencintai wanita asing yang tidak kukenal dan hidup dengannya tanpa cinta? Itulah yang kau inginkan dariku?” nada suara Leon mulai meninggi sehingga suasana tiba-tiba saja menjadi tegang.
“Kau mengenalnya.” Byon santai menanggapi emosi adiknya. “Dia teman masa kecilmu dulu. Hanya saja, sejak kita beranjak remaja, peraturan ketat telah membuat kita tak bisa bebas lagi mengenal dunia luar. Aku pernah bertemu dengan putri dari keluarga bangsawan Adalrich saat berkunjung kesana dengan ayah. Dia sangat cantik dan punya perangai sama sepertimu. Aku yakin kalian berdua cocok. Percayalah padaku, kau akan mencintainya karena kalian berdua memiliki karakter yang sama.”
“Ayah juga berkata seperti itu. Tapi tetap saja … aku tidak bisa bertunangan malam ini sebelum aku bertemu dengan gadis itu. Aku sama sekali tidak ingat kalau punya teman masa kecil wanita. Dan kau! Aku tidak menyetujui keputusanmu! Jika kau tetap melakukannya, maka aku akan beritahu ayah sekarang juga!” ancam Leonard dan iapun beranjak pergi meninggalkan ruangan kakaknya. Namun, langkah Leon terhenti ketika kakaknya mengatakan hal yang membuatnya langsung terbujur kaku.
“Jika kau melakukannya, maka sama saja kau membunuhku dan juga Bii, Leon. Begitu kau keluar dari pintu ini, maka kupastikan kau takkan pernah melihatku lagi selamanya,” Byon balik mengancam adiknya.
“Kenapa kau lakukan itu, Kak? Tidakkah kau memikirkan aku? Atau ibu?” pekik Leon berbalik badan menghadap Byon.
“Kau tidak mengerti seperti apa itu cinta, Leon? Makanya kau suka bersikap seenaknya sendiri. Seandainya kau tahu … kau pasti bisa memahamiku dan keputusan yang kuambil ini.”
“Cinta?” Leon tertawa sinis sambil menatap wajah Byon. “Apa kau lupa, Kak? Ayah membunuh paman karena dialah satu-satunya orang yang menentang kedatangan madam Rose dan wanita yang kau cintai itu? Apa kau pernah berpikir kenapa ayah melakukannya? Dia tega membunuh anggota keluarganya sendiri karena paman tak setuju dengan keputusannya membawa mereka semua kemari dan tinggal di istana ini? Itukah yang kau sebut dengan cinta? Haruskah aku mengerti dan memahami perbuatan keji ayah kita? Karena dia jatuh cinta pada wanita lain selain ibu?” Leon berteriak.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Leonard hingga matanya berubah menjadi merah. Tamparan itu, tentu saja berasal dari tangan Byon.
“Atas dasar apa kau berani berkata tidak sopan seperti itu?” bentak Byon marah juga. “Kau tidak mengerti seperti apa hubungan mereka! Jadi jangan bicara sembarangan! Jika ayah sampai tahu kau berkata seperti ini tentang bibi Rose, maka kaupun akan bernasip sama seperti paman. Jadi, jaga bicaramu!” Byon balas berteriak.
Suasana tegang semakin tak terkendali. Baida yang merasa salah satu dari orang yang dimaksud Leon, juga ikut tegang. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa ketika kedua kakak dan adik ini berseteru. Apalagi ini menyangkut masalah pribadi keluarga mereka.
“Bagus! Kau sudah semakin mirip ayah sekarang. Kau mendukung wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga ibu dan ayah. Bahkan kau mencintai putrinya? Sungguh luar biasa kekuatan cinta kalian berdua!” Leon menahan rasa sakit yang amat sangat dan langsung berlari pergi dalam keadaan marah. Bukan karena ia habis digampar oleh kakaknya, tetapi karena ia tak bisa menerima Byon lebih menyayangi orang lain daripada anggota keluarganya sendiri.
“Biar saya yang mengejar tuan muda Leon, Tuan! Jangan sampai Tuan muda memberitahu Tuan besar tentang rencana Anda,” ujar Baida merasa tidak enak hati.
“Biarkan saja dia!” Byon beralih menatap Baida yang sejak tadi berdiri disampingnya. “Saat ini suasana hatinya sedang kacau. Maafkan dia jika kata-katanya tadi menyinggungmu, dia tak bermaksud begitu. Lagipula, aku sangat tahu seperti apa adikku. Dia takkan mengatakan apapun pada ayah,” ujar Byon lirih. Matanya terus terpaku pada kepergian Leon yang sudah tak terlihat lagi.
“Harusnya, anda tidak menamparnya. Bagaimanapun juga, yang dikatakan tuan muda Leon memang benar adanya. Kami bertiga hanyalah batu sandungan bagi keharmonisan keluarga ini.” Baida menundukkan kepalanya di depan Byon tanda menyesali apa yang terjadi.
“Awalnya, aku berpikiran sama seperi Leon saat kalian bertiga diboyong kemari.” Mendadak Byon mulai mengungkapkan isi hatinya yang selama ini sudah ia pendam dihadapan Baida. “Terlebih lagi, aku dan Leon mengetahui kejadian miris tentang kematian paman kami yang telah dibunuh ayah tepat di depan mata kepala kami tanpa sepengetahuannya. Saat itu, aku memang membenci kalian semua, bahkan aku berencana membuat kalian angkat kaki dari istana ini.
“Tapi … melihat betapa cantiknya Bii saat ia tersenyum, aku mengurungkan niatku. Diam-diam, aku selalu memerhatikannya. Sikap polos dan lugunya juga kebaikan hatinya, membuatku sadar bahwa tak ada wanita yang lebih mulia dari Biyanca dan bibi Rose. Sedikit banyak, aku mengetahui seperti apa hubungan ayahku dengan bibi Rose dan aku memahami perasaan mereka yang sama-sama mencintai, tapi tak bisa bersama karena perbedaan kasta keduanya.
“Bukan bibi Rose yang menjadi orang ketiga, tetapi ibukulah yang hadir ditengah-tengah cinta mereka berdua. Disaat yang sama, akupun jatuh cinta pada Bii. Dan situasi kami ini, sama seperti kisah ayah dan bibi Rose.”
Byon menghentikan kalimatnya yang panjang bagai kereta. Ia berjalan menuju balkon istananya dan merasakan hembusan angin merasuki tubuhnya seakan ia lega karena telah mencurahkan isi hatinya pada Baida. Sedangkan Baida sendiri, tetap setia mengekor dibelakangnya dan mendengarkan dengan khidmad setiap kata yang keluar dari tuan mudanya tanpa berani menyela.
“Ketahuilah, Baida. Aku … tidak mau menjadi seperti ayahku. Dia melepaskan cintanya dan memilih menikah dengan wanita pilihan kakek. Ayah dan ibu menikah tanpa cinta dan lahirlah kami berdua. Aku tidak mau hidup seperti itu. Dari luar, mereka terlihat bahagia, tapi di dalam, ayah dan ibu bukanlah siapa-siapa. Pernikahan mereka hanyalah simbol hitam diatas putih.
“Aku tidak akan melakukan apa yang ayahku lakukan, Baida. Aku akan mempertahankan cintaku sampai kapanpun. Bahkan jika aku harus kehilangan nyawaku sekalipun. Aku akan tetap membuat Bii bersamaku selamanya. Bagaimanapun caranya, dan aku … butuh bantuanmu untuk mewujudkan cintaku bersatu dengan Bii.” Byon menatap wajah serius Baida yang sepertinya, ia yakin bakal membantunya.
Tak sengaja, Byon melihat Leon yang ada di taman istana. Adiknya itu sedang melempari batu-batu kecil ke dalam danau yang terbentuk melingkari istana megah mereka seolah sedang meluapkan seluruh amarahnya disana.
***
harapan dan keinginan di masa sudah tercapai