Arini harus merelakan masa mudanya dengan menikah. Terpaksa dia menerima tawaran menjadi istri ke dua demi mendapatkan biaya untuk operasi neneknya. Namun pengorbanannya sia-sia. Neneknya meninggal pasca operasi. Namun pernikahan yang sudah terjadi tidak bisa di sudahi. Karena Arini masih harus mengandung benih dari lelaki yang sudah menjadi suaminya. Jika dia sudah melahirkan, baru boleh pergi dari kehidupan Alex dan Mila sang istri pertamanya. Karena itu syarat yang Mila berikan kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.23
Bu Nuri berniat untuk mengajak Arini berkunjung ke rumah Asila yang merupakan anak dari temannya yang bernama Bu Rosma.
Sean melihat ibunya yang baru keluar dari kamar dan penampilannya terlihat sudah rapi.
"Mah, mau kemana?"
"Mamah mau pergi ke rumah Bu Rosma. Kamu mau ikut?" tawarnya.
"Apa mamah pergi sama Arini?"
"Iya, mamah mau mempertemukan Arini sama Asila."
"Kalau begitu Sean ikut, Mah." Sean terlihat semangat sekali.
Bu Nuri melihat anaknya yang tampak bersemangat. Tidak biasanya Sean mau jika di ajak pergi.
"Tumben sekali kamu bersemangat. Apa karena pergi bareng Arini?"
Sean mengerutkan keningnya menatap ibunya, "Bisa-bisanya mamah mengira jika Sean ingin pergi bareng Arini. Sean itu ingin ikut karena mau ketemu Asila yang cantik dan sexy."
Plak
Bu Nuri menepuk bahu anaknya, karena anaknya terlihat sedang berkhayal.
"Kamu mikirnya yang sexy saja. Dasar anak nakal."
"Aduh, mamah sama anak sendiri main pukul saja sih."
"Bu," terdengar suara Arini memanggil Bu Nuri.
''Eh Nak Arin sudah siap. Ayo kita pergi!'' ajaknya.
Bu Nuri dan Arini melangkah berdampingan keluar dari rumah. Sedangkan Sean mengikuti mereka dari belakang.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di kediaman Bu Rosma. Mereka bertiga keluar dari mobil lalu mendekati rumah berlantai dua itu.
Tok tok
''Permisi, Jeng Rosma.'' Bu Nuri mengetuk pintu sambil memanggil nama pemilik rumah yang tak lain adalah sahabatnya.
Tak lama, seorang pembantu di rumah itu membukakan pintu dan mempersilakan mereka untuk masuk. Lalu pembantu itu memanggil majikannya.
Beberapa menit kemudian, terlihat Bu Rosma menghampiri mereka.
''Eh Jeng Nuri, tumben datang,'' lalu tatapan Bu Rosma beralih ke Arini. Bu Rosma tertegun melihat gadis cantik yang mirip sekali dengan anaknya.
Bu Nuri melihat perubahan ekspresi wajah Bu Rosma.
''Ini namanya Arini, teman anak saya.'' ucap Bu Nuri memperkenalkan.
''Saya Rosma,'' ucapnya sambil mengangkat satu tangannya mengajak Arini untuk bersalaman.
''Saya Arini,'' Arini menerima jabatan tangan itu.
''Wajah kamu mirip sekali dengan anak saya,'' sejak tadi Bu Rosma tak mengalihkan arah pandangnya dari Arini.
''Saya jadi penasaran dengan anaknya ibu,'' ucap Arini.
'''Jeng, saya ajak Arini kesini karena mau memperkenalkannya sama Jeng Rosma. Siapa tahu Jeng Rosma dan Arini itu ada ikatan darah,'' ujar Bu Nuri.
Bu Rosma mengingat masa lalunya. Dimana dia berpisah dengan suaminya yang ringan tangan itu. Dulu suaminya membawa paksa anaknya yang tak lain adalah kembaran dari Asila.
''Dulu saya memang mempunyai anak kembar, namun anak itu dibawa paksa oleh mantan suami saya,'' ucap Bu Rosma.
Bu Nuri menatap Arini yang duduk di sebelahnya.
''Nak Arini, apa sebelumnya Nak Arini tinggal sama ayahnya?'' tanya Bu Nuri.
''Saya tinggal sama nenek saya saja sejak kecil, Bu.'' jawabnya.
''Siapa nama nenek kamu?'' tanya Bu Rosma.
''Nenek Sukma. Tapi sekarang nenek sudah meninggal,'' jawabnya.
''Ya saya ingat, nenek Sukma adalah ibu dari mantan suami saya. Nak, jika tidak keberatan, bolehkah saya ajak kamu untuk tes DNA? Saya hanya ingin memastikan kamu anak saya atau bukan,'' ucap Bu Rosma.
Arini menatap Bu Nuri dan Sean secara bergantian. Mereka menganggukkan kepalanya seolah mendukung Arini.
''Baiklah, saya mau.'' jawabnya.
Bu Rosma memeluk Arini dengan erat. Rasanya begitu tenang sekali.
'Apa kamu ini memang anak mamah? Jika itu benar, mamah akan sangat senang,' gumam Bu Rosma dalam hati.
...
...
Sejak Arini pergi dari rumah itu, Randy jadi menangis terus. Bahkan Randy menolak untuk meminum ASI selain dari Arini. Mila pun pusing sendiri mengurus anak yang rewel terus. Baginya itu sangat menyusahkan.
''Brisik banget sih. Kamu kerjaannya nangis terus. Menyusahkan saja,'' ucap Mila yang sedang menggendong Randy.
Mila tak menyadari jika suaminya melihat sikapnya yang kasar terhadap anak mereka yang masih bayi.
''Mila, bisa-bisanya kamu bicara seperti itu kepada anak kita. Bagaimana tidak menangis? Dia pasti takut sama kamu,'' ucap Alex.
Mila gelagapan karena terpergok oleh suaminya. Dia merutuki dirinya sendiri.
''Mas aku bisa jelasin. Tadi aku hanya sedang kesal saja.''
''Kamu ini tidak mencerminkan seperti seorang ibu yang baik. Sini anak kita,'' Alex mengambil Randy yang ada di gendongan istrinya. Alex tak menyangka, ternyata istrinya seperti tak menganggap anaknya sendiri.
Mila mengejar suaminya dan terus meminta maaf, namun suaminya mendiaminya.
Bu Susan melihat anaknya yang sedang berdiri sambil memandangi pintu kamar Randy yang tertutup rapat.
''Nak, kamu lagi ngapain berdiri disitu?'' Bu Susan bertanya kepada anaknya.
Mila mengajak ibunya pergi dari sana. Barulah berbicara yang sebenarnya.
''Mah, tadi itu Mas Alex memergoki aku yang sedang memarahi Randy. Habisnya kesal sekali sama itu anak bayi bisanya nangis terus.''
''Astaga, kamu kok tidak lihat-lihat tempat? Jika begini, suamimu pasti akan curiga kalau kamu itu bukan ibu kandungnya,'' ucap Bu Susan.
Tak sengaja Linda mendengar percakapan antara Bu Susan dan Mila. Linda tak menyangka jika anak dan ibu itu licik sekali, sudah membohongi semua orang di rumah itu.
Linda yang akan pergi, tak sengaja menyenggol vas bunga sehingga jatuh ke lantai.
Pyar
Mila dan ibunya menoleh ke sumber suara saat mereka mendengar suara benda pecah. Ke dua mata mereka membulat saat melihat ada Linda disana. Sedangkan Linda terlihat ketakutan karena sudah ketahuan menguping pembicaraan mereka.
Bu Susan beranjak dari duduknya lalu menghampiri Linda.
''Awas kalau kamu berani bicara apa yang kamu dengar tadi. Saya tidak akan segan-segan untuk menyiksamu, seperti kami memperlakukan Arini,'' ancamnya.
''Jangan, Nyonya.'' Linda terlihat ketakutan.
Linda hendak membereskan pecahan vas bunga yang tercecer di atas lantai, namun Bu Susan malah menyuruhnya pergi. Lalu Bu Susan memanggil Bi Ijah dan menyuruhnya membereskan pecahan vas bunga itu.
Mila terlihat ketakutan, jika saja Linda mengadu kepada Alex. Namun Bu Susan meyakinkan jika Linda tak mungkin berani mengadu karena sudah di ancam.
Mila melihat suaminya yang baru keluar dari kamar anaknya.
''Mas, aku mau bicara sama kamu,'' ucap Mila.
''Apa lagi yang perlu di bicarakan, Mil. Semuanya sudah jelas kalau kamu tidak sayang sama anak kita.''
''Mas, aku minta maaf. Aku hanya terbawa emosi,'' Mila berlutut di kaki suaminya. Karena dia berpikir hanya itu yang bisa dia lakukan agar suaminya mau mempercayainya.
Entah mengapa hati Alex tersentuh melihat istrinya berlutut seperti itu. Perlahan Alex membungkukkan badannya dan membantu Mila untuk berdiri.
''Aku memaafkanmu, tapi kamu jangan lakukan itu lagi kepada anak kita. Dia itu masih bayi, jadi tidak sepantasnya kamu memperlakukannya seperti itu.''
''Terima kasih, Mas.'' Mila langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya.
''Sama-sama, sayang.'' walaupun Alex merasa ragu, namun dia meyakinkan hatinya kalau istrinya pasti bisa memperlakukan Randy dengan baik.