Setelah enam tahun berpisah, secara tidak sengaja Vicky dipertemukan lagi dengan Viviane yang dulu adalah pacarnya dan mereka terpaksa dipisahkan saat Viviane sedang hamil.
Bukannya ingin menyia-nyiakan, tapi Vicky yang saat itu masih terlalu muda sangat takut pada orang tuanya meski dia adalah anak yang pembangkang dan sedikit berandalan.
Ane, sapaan Viviane saat ini, telah memiliki seorang putri cantik dan cerdas yang bernama Angelia, tapi dia lebih suka dipanggil Lia.
Vicky yakin jika Lia adalah putrinya meski Ane bersikukuh untuk menyangkal. Karena wajah dan watak anak perempuan biasanya akan menurun dari ayahnya.
Sedangkan kondisi saat ini telah berbeda, Vicky telah berumahtangga dan memiliki seorang putra yang seusia Lia.
Bagaimana bisa putra Vicky seusia Lia?
Bisakah Vicky memperjuangkan haknya sebagai ayah dari Lia?
Dan bagaimana dengan Lia jika tahu bahwa ayahnya seorang yang kaya sedangkan ibunya hanya orang biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan awal
Kalut melanda! Entah mengapa perasaan Vicky menjadi tak nyaman. Dengan berat hati pria itu pergi ke luar negri sore ini.
"Kau tegang sekali, seperti penerbangan pertamamu saja" ejek Felix yang duduk di sebelahnya.
"Diam kau, brengsek. Seharusnya kita berangkat hari Minggu sore saja. Jadi kita tidak membuang banyak waktu disana" kesal Vicky.
"Kau tahu, bos. Besok adalah hari Jum'at, dan kita akan menyelidiki semua kejanggalan dalam satu hari itu saja. Dan di hari Sabtu, kita bisa bertemu dengan klien kita yang kebetulan juga sedang berada di negri ini" ujar Felix geram, kenapa bosnya ini jadi sedikit tidak fokus?
"Hari Minggu kita pastikan rencana untuk para koruptor di perusahaan kita. Dan hari Senin bisa langsung kita eksekusi. Lalu secepatnya di hari Selasa atau Rabu, kita sudah kembali ke negara kita tercinta" kata Felix berapi-api.
"Kalau kita tunda keberangkatan kita sampai hari Senin, maka kemungkinan besar kita akan kembali pulang di Minggu yang akan datang karena klien kita ini sangat gesit. Dia hanya ada di sini pada Sabtu dan Minggu saja. Sedangkan di hari Minggu adalah harinya bersama keluarga. Kau bilang ingin segera menyelesaikan semuanya disini. Dan ini adalah kesempatan kita" ujar Felix dengan sedikit kesal.
Dan mendengar penuturan Felix itu membuat Vicky paham. Karena diapun harus segera menyelesaikan urusan keluarga setelah urusan penting di perusahaannya ini selesai.
Dalam kegundahan tentang masa depan yang sedikit membuatnya tak nyaman, Vicky harus kuat dan bisa menyelesaikannya satu per satu.
Sama halnya dengan Vicky, di hari Jum'at ini Ane pun juga harus segera menyelesaikan semua urusannya di Bandung.
Saat atasannya sibuk dengan urusan kantor, Ane diberi kesempatan untuk menyelesaikan urusan administrasi sekolah Lia.
Bersama dengan seorang supir kantor yang sengaja disediakan oleh atasannya yang baik hati, Ane bisa pergi kemanapun dengan nyaman tanpa takut di tipu orang di tempat barunya.
Dan rencananya, sore hari setelah semua urusan Ane selesai, diapun akan diperkenalkan secara resmi pada seluruh karyawan kantor agar di Hari Senin dia bisa langsung bekerja.
Pilihan Ane jatuh pada sebuah sekolah yang menyediakan pembelajaran model full day. Selain bisa membuatnya nyaman tanpa kepikiran Lia yang sendirian dirumah saat dia bekerja, Ane juga bisa lebih fokus pada pekerjaannya.
"Kami juga menyediakan fasilitas antar jemput bagi siswa kami, Bu. Biayanya juga tidak mahal" ucap petugas TU saat Ane sudah selesai dengan semua transaksi administrasi sekolah Lia.
"Uwah, sangat membantu sekali kalau begitu. Saya setuju untuk ikut fasilitas itu, bu" ujar Ane yang merasa sangat terbantu karena tak harus mengantar jemput Lia nantinya.
Ane sudah mengurus semua administrasi sekolah Lia hingga nanti Lia masuk SD di tempat yang sama.
Dan sekarang tugasnya tinggal satu saja. Yaitu menjelaskan pada Lia tentang kepindahannya nanti.
"Sekarang tolong antarkan saya ke mess ya, pak. Saya mau bersih-bersih rumahnya dulu, biar besok bisa langsung ditempati" kata Ane setelah keluar dari gedung sekolah Lia.
"Siap bu" ujar mang Diman, supir kantor yang ditugaskan membantu Ane.
"Ehm, mamang sudah lama kerja di sini?" tanya Ane.
"Sudah bu. Hampir sepuluh tahun" jawabnya sopan.
"Nyaman kerjanya, mang?" selidik Ane.
"Alhamdulillah nyaman-nyaman saja, bu. Selama kita ikhlas dalam bekerja, saya rasa semuanya baik-baik saja. Kalau kendala sudah pasti ada, kan pemikiran orang berbeda, bu" ucap pria paruh baya itu dengan bijaksana.
"Benar, mang. Kita harus kerja ikhlas, ya" ujar Ane.
"Ngomong-ngomong, di mess nanti ibu akan bertemu beberapa petinggi perusahaan juga yang rumahnya satu komplek"ujar Mang Diman memberi bocoran.
"Mereka yang tinggal itu mulai dari jabatan apa, mang?" tanya Ane.
"Sebenarnya untuk semua pegawai diberi fasilitas mess, bu. Terutama yang berasal dari luar kota, tapi tempatnya disesuaikan dengan jabatannya".
"Kalau seperti para Salesman, itu satu mess diisi empat sampai lima orang. Untuk Team Leader biasanya dua orang, dan baru untuk lara manager seperti ibu Ane ini satu rumah sederhana untuk satu orang, jadi diperbolehkan kalau mau membawa serta keluarga untuk menempati mess yang tersedia" kata mang Diman.
"Oh, gitu ya mang" ucap Ane manggut-manggut, dia sedikit paham sekarang dan bersiap untuk berada dalam satu komplek perumahan khusus karyawan perusahaan.
"Sudah sampai, bu" kata Mang Diman yang melihat Ane sedikit melamun hingga tak sadar jika mobilnya sudah berhenti si sebuah rumah sederhana yang akan ditinggali oleh Ane.
"Eh, iya. Saya turun dulu ya, mang. Amu bersih-bersih sebentar" ujar Ane.
Mang Diman hanya mengangguk, sebenarnya rumah mess yang kosong selalu dibersihkan secara berkala. Tapi pria itu membiarkan Ane bersih-bersih agar dia beradaptasi dengan rumah itu dan nantinya sudah terbiasa.
Saat Ane memasuki rumah sederhana itu, senyumnya terukir cantik. Rumah kecil dengan ruang tamu yang diisi satu set sofa dan juga televisi.
Sedikit masuk disuguhi dua buah kamar kecil berukuran 3x4 di sisi kanan dan kiri dengan lorong yang menuju bagian belakang rumah yang diisi oleh kamar mandi di bagian kanan, dapur di bagian kiri, dan ruang makan di bagian tengah dengan sebuah jendela dan pintu yang mengarah pada bagian belakang rumah yang bisa ditempati untuk menjemur pakaian.
Ruang makannya pun sudah dilengkapi dengan meja kecil dan empat kursi kayu yang mengitarinya.
Dapurnya juga terlihat cukup nyaman, meski belum terisi oleh satupun perabotan. Beruntung Ane memiliki kompor sendiri di kontrakannya. Jadi dia tidak harus membelinya lagi.
"Rumahnya cukup nyaman. Aku yakin Lia pasti senang kalau punya kamar sendiri" gumamnya.
Karena pernah suatu hari, Lia meminta untuk dibuatkan kamar sendiri. Padahal di rumah kontrakannya, hanya ada satu kamar yang tersedia.
"Aku sudah tidak sabar untuk bisa segera pindah" gumam Ane sambil memegang gagang sapu.
Saat masuki kamar, sambil menyapu Ane memperhatikan isinya.
"Uwah, beruntung sekali kamar ini sudah ada ranjang dan kasurnya. Aku hanya tinggal membawa lemari saja" gumamnya sambil membuka jendela agar udara segar bisa masuk.
Komplek kawasan perumahan ini berada tak jauh dari kantornya. Berada di dekat persawahan juga membuat suasananya sangat nyaman menurut Ane.
Karena biasanya dia disuguhi hiruk-pikuk gang sempit tempat kontrakannya berada. Bahkan teras rumahnya dengan teras rumah Lisa tergabung dalam satu atap.
Tapi di tempat ini, ada jarak dari satu rumah ke rumah lainnya.buat Ane merasa lebih leluasa saat ingin melakukan sesuatu.
Puas dengan kegiatannya, Ane keluar dari rumah itu dan mendapati Mang Diman sedang duduk di teras sambil menyesapi batang rokok di tangannya.
"Sudah selesai, bu?" tanyanya sopan saat melihat Ane keluar dan mengunci pintu rumahnya.
"Sudah mang, kita bisa kembali ke kantor sekarang" ujar Ane yabg disetujui oleh sang supir.
"Jalanan disini tidak terlalu membingungkan seperti di Jakarta, bu. Pasti bu Ane bisa segera hafal" kata mang Diman saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya mang" jawab Ane singkat sambil memandangi pemandangan di Liar jendela.
Angin sepoi yang menerpa wajahnya membuat perasaan Ane sedikit membaik. Sengaja dia membuka jendela mobil agar bisa menikmati tiupan angin sore.
Tiba di kantor berlantai enam yang sebentar lagi akan ditempati olehnya, Ane disambut oleh atasannya yang sudah bersiap untuk memperkenalkan Ane sebagai manager Penjualan yang baru.
"Ayo An, aku kenalkan pada pegawai yang lain sebelum mereka pulang" kata Bima mengarahkan Ane ke aula yang ternyata sudah dipenuhi para pegawai.
Suara keributan yang tadi terdengar olehnya seketika hilang saat Bima memasuki ruangan.
Para pegawai berjejer rapi, bahkan para salesman rela duduk di lantai karena tak kebagian tempat duduk. Mereka duduk sambil mengipasi badannya.
"Selamat sore semuanya" sapa Bima sopan, dengan kewibawaan seorang bos.
"Sore pak" jawab mereka kompak.
"Seperti kabar yang kita dengar sebelumnya, bahwa hari ini ada serah terima jabatan untuk manager penjualan kita yang baru. Sementara Pak Dimas, manager lama kita akan dipindahtugaskan ke Jawa Timur" kata Bima mengawali perkenalannya.
"Disini sudah hadir Bu Viviane Elen yang akan mulai bertugas di hari Senin yang akan datang" perkataan Bima mengundang tepuk tangan dan suitan senang dari para pegawai, terutama pegawai pria.
"Uwah, bisa tambah semangat nih" kata mereka.
"Silahkan memperkenalkan diri, bu" kata Bima.
"Baiklah, terimakasih atas waktunya, pak" kata Ane yang dijawab dengan anggukan dari Bima.
"Salam kenal semuanya. Nama saya Viviane Elen, kalian bisa memanggil saya dengan sebutan Ane untuk menambah keakraban diantara kita" awal perkenalan yang disambut gembira.
"Kita akan mulai bekerja sama di hari Senin yang akan datang, jadi sebelum saya memulai tugas ini, saya mohon agar kita bisa saling bekerjasama. Tolong ingatkan saya saat berbuat salah, dan jangan ragu untuk memberi saran jika apa yang nanti saya lakukan adalah sebuah kesalahan menurut kalian" kata Ane dengan serius.
"Saya kira cukup perkenalan kita hari ini. Terimakasih telah menerima saya dengan baik. Sampai bertemu di hari Senin dengan penuh semangat" akhir perkenalannya diiringi sambutan yang menyenangkan.
Dan ternyata sudah disiapkan sebuah tumpeng kecil untuk menyambutnya. Ane jadi terharu.
Dan tak lupa nasi kotak untuk semua pegawai yang membuat rasa kebersamaan diantara mereka terpupuk kuat.
Ane baru bisa kembali ke Jakarta esok hari, karena masih ada meeting yang harus atasannya lakukan di Sabtu pagi.
Bahkan Bima bersedia mengajak serta Ane dalam meetingnya dengan alasan untuk belajar berbicara dengan orang penting.
Tentu Ane menyetujuinya, banyak pelajaran yang dia dapatkan di kunjungan singkatnya ini. Membuat hatinya semakin mantap untuk meninggalkan Jakarta yang sudah dirasa tidak aman untuknya dan juga Lia.
Tujuan utamanya adalah pergi dari kejaran keluar Alexander.
.
.
.
oh siapa jodoh lia saat dewasa nanti? johan / bayu?