Hidup bahagia menjadi ratu dalam sebuah keluarga. Memiliki suami dan anak yang begitu mencintainya. Husna namanya. Seorang ibu rumah tangga yang begitu dicintai suaminya dan keluarganya.
Namun, dia mendapatkan sebuah pesan rahasia yang membuat hidupnya berubah begitu drastis.
Apakah pesan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen's Suga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Ini bukan pertama kalinya Arini menyambangi rumah Fadel. Hanya saja bedanya adalah Arini datang bukan sebagai teman Fadel atau bukan sebagai seorang anak yang disayangi direktur rumah sakit.
Hari ini Fadel membawa Arini dan Lean ke rumahnya untuk diperkenalkan kepada keluarganya sebagai calon istri Fadel.
Keluarga besar sudah berkumpul. Ada ayah Fadel tentunya, ada bibi, paman, dan Meysa. Serta beberapa sodara jauh. Nenek Fadel yang sudah sangat sepuh pun ada, duduk di atas kursi roda.
"Hari ini aku datang ke rumah, untuk pertama kalinya membawa seorang wanita yang akan aku perkenalkan secara resmi pada kalian. Dia adalah calon istriku. Kalian pasti tahu siapa dia dan siapa Lean."
"Tentu saja kami tahu. Sejak dulu hanya dia yang diterima keluarga kita bukan? Syukurlah jika sekarang dia datang sebagai calon istri kamu, Fadel. Bukan sebagai anak yang kerjaannya ngambilin makanan di meja," ucap Bibi Fadel.
"Bibi, jangan buat aku malu, sih. Aku sekarang datang dengan elegan kok. Gak akan ngambil makanan terus dikejar sama bibi lagi."
Mereka tertawa.
"Aku senang dan sangat bahagia karena akhirnya kamu menerima Fadel sebagai seorang pria. Arini, kenapa kamu membuatku menunggu begitu lama? Untung saja aku masih hidup. Jadi, aku bisa tenang karena telah menunaikan janji pada orang tuamu."
"Om, aku minta maaf. Mungkin karena takdirnya harus begini."
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Arini sudah datang. Dia akan menjadi menantu ayah. Harusnya kita bahagia dan jangan sedih-sedih lagi."
"Ayah justru merasa sangat bahagia. Jika nanti ayah mati, ayah tidak akan ditagih janji oleh Adam dan Sinta. Janji untuk menjadikan Arini sebagai menantu."
Suasana menjadi sendu saat ayah Fadel menceritakan janjinya dan sahabat nya yang tidak lain adalah ayah Arini.
"Kami membangun rumah sakit bersama. Aku dan Adam berkeinginan agar suatu saat entah itu Arini atau Fadel bisa menjalankan rumah sakit ini. Dan ternyata Arini yang sekarang bekerja di sana. Siapa sangka, Adam dan istrinya pergi meninggalkan aku terlebih dahulu. Aku sendirian mengembangkan rumah sakit hingga besar seperti sekarang. Duka kembali melanda saat ibumu pun ikut pergi. Aku benar-benar sendiri."
Arini mendekati ayah Fadel. Memeluknya dengan erat sambil meminta maaf.
"Arini minta maaf, Om. Jika saja saat itu tidak ada kesalahpahaman antara aku dan Fadel, mungkin Arini sudah menjadi menantu Om sejak lama."
Ayah Fadel mengangguk pelan, memahami situasi Arini dan Fadel di masa lalu.
"Sekarang, sebaiknya jangan mengungkit masa lalu. Kita harus merencanakan pernikahan Fadel dan Arini terlebih dahulu," ujar paman Fadel.
Arini dan Fadel saling menatap.
"Ada yang ingin aku katakan sebelumnya pada kalian. Ini semua tentang Arini."
Semua mata tertuju pada Fadel.
"Sebenarnya saat ini Arini sedang mengandung."
Tidak ada orang yang tidak terkejut mendengar ucapan Fadel tentang Arini. Mereka semua tahu jika Arini seorang janda. Lalu bagaimana dia bisa hamil. Dugaan mereka hanya satu. Jangan-jangan ....
"Apa kalian ...."
"Bukan ayah." Fadel segera memotong ucapan ayahnya.
"Saat Arini cerai, dia tidak tahu kalau dia sedang hamil anak Farhan. Itu anak Farhan saat mereka masih menjadi suami istri. Bukan aku ayah janin itu. Kalian jangan salah faham. Aku tidak mungkin melakukan itu." Fadel menjelaskan agar keluarganya tidak tidak menuduh dia dan Arini yang macam-macam.
"Tunggu bayi itu lahir baru kalian bisa menikah," ucap seseorang yang baru saja tida. Dia adalah Marina, ibu Meysa. Adik bungsu ayah Fadel.
"Kenapa? Maksudnya apa yang salah jika mereka menikah sekarang?" tanya Paman Fadel.
"Paman, Arini juga menginginkan hal itu. Kami akan menikah setelah bayi Arini lahir."
"Baguslah. Lagi pula kamu dan suami kamu belum lama bercerai. Apa kata orang kalau menikah secepat ini? Apalagi tidak lama setelah kalian menikah Arin melahirkan. Mereka akan mengira kalian berhubungan saat Arini masih menjadi istri orang."
Mereka akhirnya memahami situasinya. Arini pun tidak ingin menikah dengan Fadel saat kondisinya sedang hamil. Dia tidak ingin ada rumor buruk tentang dia dan Fadel.
"Apa aku akan memiliki adik, Ma?" tanya Lean yang sejak tadi terdiam berusaha mencerna ucapan orang dewasa di sekitarnya.
Fadel menggendong Lean dan mendudukkannya di pangkuanku.
"Benar, jagoan. Kamu akan memiliki seorang adik yang sangat lucu. Kamu suka?"
Lean tersenyum bahagia.
"Terimakasih karena kalian mau menerimaku dan anak-anakku," ucap Arini sambil meneteskan air mata bahagia.
"Kami berhutang banyak pada orang tua kamu. Jika bukan karena orang tua kamu, aku tidak akan bisa shopping, holiday, dan membeli apa saja yang aku inginkan. Jadi, kamu tenang saja Arini. Kami akan menjadi orang yang ada buat kamu. Terimakasih juga, ya, karena telah memberikan kami kenyamanan."
"Marinaaaa ...."
"Gak apa-apa, Om. Tante hanya berusaha jujur, aku gak apa-apa dan malah suka dengan kejujuran dan keterbukaan Tante. Tapi ...."
Arini menatap Fadel.
"Ada apa?" tanya Fadel.
"Kenapa aku tidak mengenali Meysa. Aku bahkan sempat salah sangka sama dia."
"Oh, ini. Dia anak angkat aku, Rin. Tentu saja kamu tidak akan kenal. Maklum, aku ini mandul tidak bisa punya anak, jadi aku mengambil dia. Meski begitu, perlakuan dia seperti anakku sendiri, ya."
"Oh, iya. Tentu saja, Tante." Arini merasa bersalah karena telah mempertanyakan Meysa di hadapan Marina.
Pertemuan itu diakhiri dengan jamuan makan malam. Setelah semaunya selesai, Arini pamit pulang dan Fadel mengantarnya.
"Lean tidur kah? Kok gak ada suaranya?" tanya Fadel saat di dalam perjalanan. Arini menoleh ke jok belakang, dan mendapati anaknya tertidur pulas.
"Iya, Fad. Dia tidur," ucap Arini sambil tertawa kecil.
Fadel meraih tangan Arini, menggenggam erat jemarinya lalu mengecup punggung tangan wanita itu. Ada kehangatan yang menjalar ke dalam dada Arini. Dia merasa bahagia diperlakukan seperti itu oleh Fadel.
"Sayang, kehamilan kamu akan semakin besar. Apa sebaiknya kamu cuti saja dari rumah sakit? Apa kata orang nantinya?"
"Aku juga memikirkan hal itu. Mungkin orang akan menggunjing karena aku hamil dengan status janda. Mungkin juga kamu akan terbawa karena dekat denganku selama ini."
"Cuti aja, ya. Lagian kamu gak boleh capek-capek. Harus banyak istirahat biar kamu dan janinnya sehat."
Arini menoleh pada Fadel yang sedang fokus ke depan. Sementara tangannya masih menggenggam tangan Arini.
cup!
Arini mengecup pipi Fadel. Pria itu terkejut tapi juga tersenyum karena bahagia.
"Makasih, ya, karena kamu selalu ada buat aku. Menerim kondisiku yang seperti sekarang ini."
"I love you, Honey."
"Love you too."
Arini menyandarkan kepalanya di bahu Fadel dengan penuh kebahagiaan.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bener ini 🤣🤣🤣novel isinya g harus perempuan merebut milik orla tp memang lakinya yg g benar🤭🤣🤣
lestari alamku lestari desaku....