NovelToon NovelToon
LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Diam-Diam Cinta / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: TaeIlss__

UPDATE TIAP HARI, ya ...

[Cerita ini murni milik saya, segala situasi dan kondisi terkait hanya fiksi belaka.]

Dirgantara Mulia Radjasa merasa galau, karena sang Mama begitu menginginkan seorang menantu dari dirinya-yang hingga kini belum juga terwujudkan-disamping soal ketakutan beliau dengan orientasinya yang dikhawatirkan menyimpang.

Tanpa ia tahu, Elsa-sang Mama, tiba-tiba dengan sepihak melamar seorang perempuan muda bernama Nina Fakhira, mahasiswi semester akhir yang baru bekerja selama dua hari sebagai babysitter dirumah teman arisannya.

Mama bahagia, Nina kaget, apalagi Dirga. Tapi ... bagaimana ia menolaknya? Mama sudah terlanjur cocok dengan pilihan beliau.

Mampukah Dirga dan Nina menjalani pernikahan berkat lamaran dadakan Mama ini? Bagaimana keduanya menumbuhkan cinta dan menyelesaikan segala masalah masing-masing, ketika masa lalu mereka datang dan memberikan banyak kejutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TaeIlss__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

[23] Khawatir Walau Nama Nina Belum Terukir Dihatinya

Dirga tengah mengatur tata letak beberapa barang yang datang satu per satu kerumahnya. Barang-barang itu terlapis kotak akrilik yang telah disusun sedemikian rupa.

Ini pasti seserahan yang belum sempat mereka bawa ketika melamar Nina, dan akan dibawa saat hari pernikahan nanti. Pikirnya.

Dirga baru kembali dari shift bekerjanya setelah meninggalkan rumah dua hari lalu-selepas fitting baju hari itu. Belum sempat istirahat dengan baik, ia sudah mendengar bel berbunyi. Membuka pintu, ternyata salah satu vendor seserahan mendatanginya dan meminta izin untuk memasukkan seserahan yang telah selesai ditata. Mama belum kembali dari pasar jam sembilan pagi ini, entah kemana rimbanya perempuan paling Dirga sayang itu.

“… Mas, tolong tanda tangan disini ya, untuk info kami pada pusat kalau seserahan atas nama Elsa sudah tiba.” Ujar salah seorang laki-laki yang sejak awal meminta izin padanya terkait barang yang datang.

Dirga menurut, mengisi tanda tangannya pada kolom penerima.

“Baik, terima kasih ya, Mas. Kami permisi dulu.”

“Iya, sama-sama, Mas.”

Sepeninggal beberapa pengantar barang itu, Dirga kemudian duduk disofa seraya bertanya-tanya kemana perginya sang Mama.

Apa Dirga harus menelponnya?

*

“… Maaf ya, Ma. Nina nggak tahu Mama mau datang, kamar Nina masih seperti kapal pecah karena pagi ini harus mengejar bimbingan online dan siang nanti harus kerumah Bu Lilis.” Terang Nina seraya merapihkan beberapa kertas yang berserakan disekitar ranjangnya.

Kerpergian Mama ke pasar tadi, salah satunya ternyata untuk menemui Nina. Mama ingin mengajak Nina kerumah selepas pekerjaannya di Bu Lilis untuk melihat beberapa seserahan yang infonya datang hari ini.

Nina pribadi tak pernah meminta jenis seserahan tertentu. Mama mengusulkan beberapa hal standar yang biasanya ada dalam seserahan, dan Nina menyerahkan semuanya seperti apa yang Mama katakan.

“Nggak apa-apa Nin. Mama juga sekalian mampir kok ini. Kebetulan dapat kabar dari vendor seserahannya kemarin malam, ya sudah Mama kesini saja. Supaya Nina bisa lihat juga seserahannya. Jadi sama-sama enak, ya, Nin.” Terang Mama.

Nina mengangguk.

“Iya Ma, nggak apa-apa. Terima kasih banyak ya Ma sudah mengurus ini-itu untuk pernikahan Nina, sementara Nina sendiri nggak bisa bantu apa-apa.” Ujar Nina merasa tak enak hati.

Semua hal terkait pernikahan ini diurus sendiri oleh Mama, bahkan semua dana datang dari keluarga pihak laki-laki. Mama dan Dirga.

Karena itu Nina merasa sangsi jika harus banyak menuntut, walau dia bersyukur untuk hal ini karena tak pernah terbayangkan memiliki calon mertua yang sangat ikhlas. Selain itu, Nina hanya harus memutuskan untuk mahar yang memang kewajiban laki-laki untuk memberikan hadiah.

“Sekarang sudah selesai urusan skripsinya? Kalau Mama ajak Nina kerumah, sudah bisa? Nggak akan lama kok, jadi sekalian kerumah Bu Lilis.”

“Iya, Ma sudah … Bisa kok, Nina siap-siap dulu, ya.”

Beberapa menit Mama menunggu dikamar, sementara Nina bersiap dikamar mandi dengan setelannya yang pantas. Tiba-tiba saja jantungnya seolah berdegup kencang. Kenapa ia merasa khawatir dan takut?

Bukannya ia tak ingin bertemu Dirga. Justru itu akan sangat mustahil karena Nina memang harus menemui laki-laki itu. Tapi … tiba-tiba ia merasa ragu jika Dirga akan bersikap sama dengan sebelumnya?

Ingatannya juga melayang pada semalam. Dirga tak membalas pesannya, dan hal itu membuat Nina semakin khawatir jika Dirga mungkin saja benar-benar marah—atau dia cemburu?

Nina tertawa dalam hati.

Bagaimana bisa Dirga cemburu ketika perasaan apapun belum ada diantara keduanya?

Masa iya Dirga cemburu?

*

Nina menapakkan kakinya dirumah bertingkat dua yang belakangan ini menjadi destinasinya, selain rumah Bu Lilis dan kampusnya sendiri. Bangunan ini besar, dan berdiri kokoh dikomplek perumahan yang menurut Nina tak semua orang bisa membelinya. Perbedaan kondisi ekonomi keluarga ini sangat berkebalikan dengannya. Nina memang bukan orang yang sangat sulit hingga melarat, tapi dia tetap merasa insecure tiap kali menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah ini. Besar halamannya saja sudah membuat Nina merasa kecil, apalagi ketika melihat interior didalamnya. Rumah ini sudah pasti tak akan ditolak siapapun ketika ditawarkan untuk menempatinya.

Nyaman dan rapi.

“Eh … ternyata sudah datang seserahannya. Kamu duduk saja dulu, Nin. Mama cari Aa’ dulu sebentar ya. Supaya kalian bisa lihat bersama. Dia baru pulang semalam.”

Nina mengangguk seraya duduk disofa ruang tamu.

Tak berapa lama, Mama dan laki-laki itu terlihat. Berjalan mendekatinya yang duduk dengan beberapa seserahan diatas sofa.

“… iya, A’. Mama setelah ke pasar, langsung menemui Nina.”

“Pantas lama.”

Sekarang Mama punya kebiasaan baru selain ke pasar pagi-pagi, apalagi kalau bukan menemui calon menantu. Pikir Dirga terkekeh dalam hatinya.

Setelah melihat Nina duduk disofa dengan beberapa seserahan yang tadi ia terima, Dirga menyimpulkan bahwa Mama menghabiskan waktunya disana setelah tidak pulang-pulang selama beberapa jam.

Perempuan itu—Nina—tersenyum menatapnya, tapi Dirga merasakan perasaan yang aneh. Entah mengapa pikirannya terus melanglang buana pada ingatan soal Nina yang kemungkinan mengenal lebih Muhadi, suami Novia.

Dirga juga ingat, dua hari lalu Nina mengiriminya pesan permintaan maaf karena keterlambatannya yang membuat Dirga diam-diam menyesal, karena terkesan memarahi perempuan itu dan memberikan imej yang jelek padanya. Ya … Dirga menyesal telah memarahi Nina waktu itu.

Bagaimana Nina bisa tahu apa yang sebenarnya ia permasalahkan jika Dirga tak mengatakannya, kan?

Apa ia harus menanyakan ada kaitan apa Nina dengan Muhadi?

Hal itu terus berputar dalam pikirannya. Dirga bukannya marah, hanya saja ia tak ingin jika Nina nantinya jadi korban Muhadi selanjutnya.

Sebisa mungkin Dirga membalas senyum perempuan itu. Nina orang yang lugu, dia juga masih muda dan tak memiliki pengalaman tentang hubungan asmara. Hal itu membuat Dirga semakin memfokuskan pikirannya untuk mereka berdua. Seharusnya ia tak memarahi Nina karena terbawa perasaannya sendiri tentang Muhadi dan kenyataan soal Novia.

“Sehat, Nin?” Sapa Dirga ketika dirinya tiba tepat disamping Nina.

“Sehat, Kak.” Jawab Nina singkat.

“Masih panggil Kakak, Nin? Aa’ saja nggak apa-apa, loh. Supaya akrab.”

“Nina belum terbiasa, Ma. Biarkan saja. Ya, Nin?” Tegur Dirga seraya tersenyum simpul.

Nina tak menjawabnya lagi. Mama menunjukkan beberapa barang untuk Nina lihat. Sedari tadi ia tak fokus setelah Dirga masuk dan menyapa. Walau terus menjawab pertanyaan Mama, soal barang yang telah disimpan didalam kotak akrilik di depannya, Nina masih saja tak bisa melepaskan lirikan dari Dirga yang ikut duduk tak jauh darinya. Sesekali laki-laki itu ikut tertangkap basah meliriknya, yang membuat Nina berkali-kali melempar senyum.

Apa Dirga sudah tidak marah?

“… ya sudah sih, kayaknya ini saja sudah cukup. Oh ya, mengingat waktu itu Nina minta mahar untuk pernikahan sejumlah tanggal lahir Nina, Mama mau tawarkan untuk penambahan. Bagaimana, Nin?” Tawar Mama.

Nina yang sedari tadi tidak terlalu fokus, seolah hanya mendengar angin lalu ketika pertanyaan Mama melewati pendengarannya. Tanpa sadar ia sudah memperhatikan Dirga yang duduk diarah depan, tak jauh darinya.

Ternyata laki-laki itu menyadari padangannya yang jatuh kearahnya.

“Nin?” Panggil Mama lagi.

“Nina sedang ada pikiran? Nin?” Panggil Dirga juga, ikut menyadarkan Nina.

Dengan cepat perempuan itu menggeleng, berusaha menyempurnakan kembali kesadarannya.

Aduh … bisa-bisanya Nina terlalu terpikirkan ketakutannya, hingga begitu fokus dengan Dirga.

“Ma—maaf, Ma, kenapa?” Ulangnya.

“Mama tanya, Nina nggak keberatan dengan nominal sebanyak tanggal lahir Nina untuk mahar? Bagaiman kalau kita tambahkan yang lain?” Ulang Mama lagi.

Dia mengangguk.

“Oh itu … Nina rasa nggak perlu, Ma. Sudah cukup sebanyak tanggal lahir Nina saja.”

“Ya sudah kalau begitu.” Putus Mama seraya mencatat beberapa hal diatas notes kecilnya.

Dirga yang sadar jika Nina sejak tadi terus melirik dan menatap kearahnya, meminta izin pada Mama untuk mengajak Nina berbicara berdua. Sepertinya perempuan ini mengkhawatirkan sesuatu.

“… mau pinjam Nina? Ya sudah, tanya orangnya dong.”

“Nin, sebentar ke taman belakang, bisa? Aku mau bicara sama kamu.”

Nina mengangguk. Pikirannya sudah kemana-mana, Nina sangat tidak fokus memikirkan soal Dirga yang nyatanya tak seperti hari itu. Laki-laki itu sudah terlihat baik-baik saja.

“Boleh, kak.”

Keduanya melipir kehalaman belakang, tempat terbuka dimana biasanya para keluarga mengadakan acara outdoor. Taman kecil yang disana tertanam air terjun kecil berbahan batu dan semen, serta saung kecil yang membuatnya semakin terlihat nyaman.

Dirga mengajak Nina duduk disaung itu. Saung yang beberapa waktu lalu kerap Nina lihat, walau tak berani meminta izin untuk masuk kesana.

“Ada yang mau Kak Dirga bicarakan sama Nina?” Tanya Nina membuka pembicaraan setelah mereka sama-sama mengambil posisi duduk.

Dirga mengangguk.

“Aku mau minta maaf sama kamu tentang hari itu. Maaf karena aku terkesan galak sama kamu hanya karena kamu terlambat datang. Maaf ya, Nin.” Terang Dirga jujur. Dia tak bisa memendam rasa bersalah ini terlalu lama. Nina tak bersalah hanya karena ia datang terlambat, ini soal sepele.

“Nggak apa-apa Kak. Nina memang salah kok, Nina juga minta maaf sampai Kak Dirga dan Mama harus menunggu.”

“Nggak apa-apa. Mama nggak pernah permasalahkan, akunya saja yang terlalu berlebihan. Tapi kalau aku boleh tahu, siapa teman kamu yang tiba-tiba datang itu, Nin?” Tanya Dirga pada akhirnya.

Ya … dia memutuskan untuk menanyakannya pada Nina. Dirga tak ingin jika ia terlalu banyak berspekulasi, dan takut jika nantinya Muhadi akan menyebabkan masalah dalam hubungannya dengan Nina.

“Ah … Soal itu, sebetulnya Nina juga agak khawatir tentang hal itu. Saat Kak Dirga tiba-tiba agak marah sama Nina karena Nina datang terlambat, Nina pikir Kakak nggak marah hanya karena itu,” Nina menjeda katanya.

Menatap mata Dirga yang memandangnya serius.

“Dia teman Nina—lebih tepatnya teman baru. Kalau Nina ceritakan jelasnya, pasti terdengar aneh. Intinya, dia dan Nina seperti stockholme sindrom, Kak. Kak Dirga paham kan? Hubungan pertemanan kita terbangun karena hal konyol. Singkatnya, Mas itu sempat seperti menculik Nina—”

“Menculik? Kapan dia menculik kamu?” Tanya Dirga kaget.

“Bukan! Dia nggak menculik Nina Kak. Secara harfiah dia seperti menculik Nina, tapi kebenarannya justru seperti kita bertemu teman baru tanpa sengaja. Kami baru saling kenal, dengan sedemikian masalah yang ada dalam hidupnya, dia merasa jika saat itu hanya Nina yang mau mendengarkan ceritanya. Jadi kami seperti story mate, bukan teman seperti orang kebanyakan. Saat itu dia datang ke Nina tiba-tiba untuk meminta beberapa saran.” Jelas Nina.

Dirga mengernyitkan dahinya tak paham. Apa yang dimaksudkan Nina sedikit banyak membuat dirinya mengerti, tapi mendengar istilah stockholme sindrom, Dirga jadi terkekeh lucu dalam hatinya.

Jadi maksudnya, Nina berteman dengan penculiknya? Membangun situasi positif, terlepas apa yang sudah terjadi?

Konyol sekali.

“Oke, kalau begitu kalian berteman, dan kamu tahu cerita dia? Namanya Rifai Muhadi, kan?” Tebak Dirga membuat Nina memasang wajah kaget seraya menutup mulutnya.

“Bagaimana Kak Dirga tahu? Nina bahkan belum menyebutkan namanya …”

“Sejujurnya aku melihat kalian disana hari itu. Salah satu yang membuatku agak sedikit emosi, karena kamu disana bersama dia. Muhadi adalah suami dari temanku, Nin. Dia melakukan kesalahan dengan berselingkuh dari temanku. Mangkanya saat aku melihat kalian akrab berdua disana, aku sangsi jika nantinya kamu yang akan menjadi selingkuhan Muhadi lainnya.” Terang Dirga meyakinkan Nina.

Nina menggeleng gamang.

“Nggak, Kak! Mas Rifai nggak seperti itu. Dia menjelaskan semuanya ke Nina terkait masalahnya. Nina prihatin dengan dia, kenyataannya Mas Rifai sakit dan salah seorang pramugari yang menyukai dan ingin mengambil kesempatan darinya membuat ia tak sengaja tertangkap basah sedang berduaan. Itu faktanya. Bahkan Mas Rifai bercerita hingga hampir menangis.” Terang Nina serius.

Dirga mengangguk. Walau dia belum begitu percaya, melihat bagaimana Novia dengan kondisinya, bahkan dua hari lalu perempuan itu masih dalam keadaan yang sama, Dirga tak bisa tenang. Muhadi masih harus dihindari.

“Oke kalau memang begitu keterangan yang ia jelaskan. Tapi aku minta sama kamu, untuk saat ini tolong jangan dekati Muhadi dulu ya, Nin? Aku khawatir kalau nyatanya dia nggak benar-benar jujur mencari seseorang untuk mendengarkannya cerita, alih-alih begitu, ditakutkan dia justru mengambil kesempatan lain ke kamu. Bukannya berburuk sangka, kita hanya mengantisipasi.” Minta Dirga seraya tersenyum. Nina tak tahu jika Dirga marah hari itu salah satunya karena ia mengkhawatirkan Nina yang mengenal Muhadi.

Perempuan itu menunduk, tak memandang Dirga. Entah perasaan apa yang tiba-tiba menghangat didalam dadanya. Nina seolah diberikan sebuah emas murni dengan harga termahal. Rasanya mendadak berbunga-bunga.

Apa jangan-jangan …

“Tolong hati-hati ya, Nin.”

“Terima kasih Kak Dirga.”

Dirga tak bisa membaca mengapa dirinya seolah sangat ingin agar Nina tak lagi mendekati Muhadi. Kemarahannya bermuara pada perasaa tenang setelah tahu bahwa Nina masih baik-baik saja hari ini. Senyumnya seolah melunturkan semua kekhawatiran yang tak bisa lagi Dirga bendung.

Diam-diam Dirga berdoa agar Nina selalu baik-baik saja, dan tidak lagi meninggalkannya dengan bekas rasa sakit akibat tertolak.

Walau nama Nina belum terukir dihatinya dalam bentuk cinta yang baru.

1
Fanvie
aku GK ngerti kenapa perasaaan seseorang terlalu rumit, banyakan mikir,cemas yg TDK perlu... astaghfirullah
Fanvie
sabar ya thoor..ITS..ok..entar juga banyak yg baca💪💪💪💪
Rass: Nggak apa-apa kok, Kak, aku memang santai nulis disini. Semoga dapat menjadi pelajaran ya dari segala isi cerita ini.
total 1 replies
Astri Astuti
yah kok udah tamat aja
Astri Astuti
1
Astri Astuti
nggatung
Astri Astuti
best
Astri Astuti
perlu pillowtalk
Astri Astuti
ini gimana ini
Astri Astuti
weekend laagi
Astri Astuti
udah maU senin aja ini
Astri Astuti
ğood
Astri Astuti
happy weekend
Astri Astuti
baca doa dulu sebelum tidur atuh A
Astri Astuti
apa itu jin
Astri Astuti
the best
Astri Astuti
acieee
Astri Astuti
like ke 2
Astri Astuti
Amazing
Astri Astuti
tahan dulu y mas
Astri Astuti
fìrst
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!