Namaku Yuta Mayasaki, aku mempunyai seorang pacar bernama Giza, gadis cantik yang merupakan madona sekolah SMA Jayakarta.
Suatu hari saat aku pulang sekolah, Ayahku yang seorang duda membawa pacarnya dan juga seorang gadis yang merupakan anak dari pacarnya.
Namun saat aku melihat penampilannya... ya, benar sekali, anak dari pacar ayahku itu adalah Giza.
Bagaimana hubunganku dengan Giza seterusnya? Apakah masih boleh kita berpacaran walaupun kita kakak adik? Bukankah ini cinta terlarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noya Clarissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 21 Masalah Cinta
Gawat. Tidak, ini benar-benar gawat!
Suara itu ... aku sangat familiar dengan suara itu.
"Eh, s-siapa?" Sakura menoleh ke arah datangnya suara.
Jujur aku sudah tahu siapa yang memanggil namaku itu.
Tetapi untuk memastikan, aku akan melihatnya juga ....
Yap, dugaanku benar.
"Yuta! A-a-apa yang kamu lakukan! Siapa dia! Kenapa kamu ada di sini! Dan juga--"
"S-sebentar, sebentar! Kau salah paham!"
Aku sengaja memotong kalimat Giza, karena kalau tidak kuhentikan, pertanyaan-pertanyaan itu akan terus menyerangku layaknya badai.
"B-benar, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Sakura menimpali argumenku.
"Y-yuta ...."
"Giza!"
Tidak, aku tidak bisa menahannya kalau aku sudah mendengar suara itu. Aku ... tidak kuat mendengar Giza menangis.
Dengan perlahan, aku menjauhi tubuh Sakura yang ada di hadapanku itu. Untungnya, Sakura paham dengan apa yang aku maksud.
Dengan cepat aku berlari ke arah pintu mendekati Giza yang ternyata sudah duduk lemas di depan pintu.
"Giza!" aku langsung memeluknya dengan erat.
Aku bisa merasakan tubuh Giza berdetak karena tangisannya. Aku tetap memeluknya, walaupun bahuku mulai terasa basah, mungkin saja itu karena air matanya.
"Giza, maafin aku .... Itu tidak seperti yang kau kira ...."
Suara Isak tangis Giza masih terdengar, itu bahkan terdengar lebih keras karena sekarang dia menangis di sandaranku.
Itu membuat hatiku ... terasa seperti disayat oleh sebuah pisau yang sangat tajam.
Apa yang harus aku lakukan kalau sudah begini?
Aku tahu aku tidak salah, tapi kalau aku jadi Giza, tentu aku akan bereaksi seperti ini juga.
"Y-yuta ... kenapa ...."
"G-giza aku--"
"Itu salahku."
Aku melihat sakura berjalan perlahan ke arah kami. Dan secara mengejutkan, suara tangis Giza tidak sekeras sebelumnya. Kurasa dia ingin memperhatikan apa yang Sakura akan katakan.
"Kakiku terkilir saat aku berdiri dari sofa. Dan saat aku sudah tak sanggup menahan tubuhku, aku sengaja menjatuhkan diriku ke arah sofa karena kupikir itu akan lebih baik daripada aku terjatuh ke lantai."
Sakura menundukkan dirinya dan mulai mengelus kepala Giza dan melanjutkan perkataannya.
"Jadi itu salahku, maafkan aku, ya?"
Suara tangis Giza perlahan-lahan mengecil dan menghilang, tubuhnya juga sudah berdetak seperti sebelumnya.
"Apa dia akan percaya?" pikirku.
"Mhm ...." Giza menganggukkan kepalanya.
"Mari kita bicarakan ini dengan jelas di dalam."
Aku segera mengangkat tubuh Giza yang masih terasa lemas. Aku merasa bahwa ini akan menjadi masalah yang cukup serius.
...----------------...
"Jadi begitu ...."
Aku melihat Giza menghela nafasnya dengan lega.
"Maafkan aku ya, Giza."
"Tidak, tidak. Yuta tidak salah ... Seharusnya aku tidak langsung mengambil kesimpulan saat melihat itu." Dia tersenyum dengan lembut.
Uwah, untung saja Giza mengerti.
"Lalu ... Siapa sebenarnya kamu?" Giza menunjuk ke arah gadis yang ada di sebelahku.
"Eh, aku?" Orang itu menunjuk dirinya sendiri.
"Namaku Sakura, mungkin kamu akan merasa tenang jika aku bilang kalau aku adalah adik dari kak Ayane," lanjutnya menjelaskan dengan lembut kepada Giza.
"Adiknya Ayane-senpai?!" Giza menutupi mulutnya.
Yah, sudah kuduga dia bakal terkejut sih.
"Tapi, Ayane-senpai tidak pernah menceritakan sesuatu tentang adiknya kepadaku. Apa kamu tahu tentang itu, Yuta?" Giza menoleh ke arahku.
"Tidak, aku juga tidak tahu apa-apa," jawabku sambil menghela nafas.
Jujur, aku belum sepenuhnya percaya kalau dia adiknya Ayane-senpai. Semua itu akan menjadi jelas seandainya--
"Halo."
Aku reflek menoleh ke arah sumber suara itu.
Ternyata itu orang yang aku maksud tadi.
"Ah, Ayane-senpai, selamat datang," Giza menyambutnya dengan hangat.
"Geh--"
Tiba-tiba raut wajahnya Ayane-senpai berubah seakan dia sedang melihat sesuatu yang menjijikan. Apa dia meledekku?
"Ada apa Aya--"
"Kakak!"
Oi, aku belum sempat bertanya! Tiba-tiba saja orang yang ada di sebelahku itu berlari ke arah Ayane-senpai.
Dan dia langsung memeluk kakaknya itu. Baiklah, tidak usah diragukan lagi, dia memanglah adik dari Ayane-senpai.
"Sakura, kenapa kamu ada di sini?" tanyanya sambil menjauhkan adiknya itu dari tubuhnya.
"Kakak! Aku merindukan kamu kakak!"
Sakura membenamkan wajah imutnya itu ke dalam tubuh ramping Ayane. Tunggu, aku tidak seharusnya melihat kejadian ini karena itu cukup berbahaya.
Baru saja aku memikirkan itu, sesaat setelah pandanganku bertemu dengan Giza, dia mengerutkan ujung bibirnya.
"Maafkan aku, Giza," kata hatiku.
"Jadi, apa ada sesuatu? Sepertinya aku mengacaukan kalian bertiga."
Nah loh, aku harus menjawab apa kalau sudah begini. Ekspresiku, ayolah.
"Eh~ Tidak, tidak. Hanya masalah kecil, kok."
"Hum ...."
Sepertinya aku gagal.
...----------------...
"Kalau begitu, sampai jumpa, kakak!"
"Iya, sampai jumpa juga, Sakura."
Adik dari ketua OSIS itu melambaikan tangannya dan pergi menghilang dari pandanganku.
"Ngomong-ngomong, Ayane. Kau tidak bersama si cewe dingin itu?"
"Cewe dingin?"
"Oh, bukan. Maksudku, Zea."
"Oh ...."
Hum? Ada apa?
Kenapa tiba-tiba suasananya berubah begini?
Ayane-senpai duduk di kursinya dengan posisi tegap dan ekspresinya yang serius.
Setelah beberapa saat, Ayane-senpai akhirnya buka suara.
"Sebenarnya, aku ingin membahas hal itu dengan kalian," katanya dengan pelan.
"Hah? Apa maksud kamu, Ayane-senpai?" Giza sepertinya kebingungan dengan perkataan Ayane-senpai.
Jujur aku juga sih.
"Memangnya ada apa?" timpaku.
"Zea, sedang berada dalam masalah."
"Masalah?"
"Iya, ada siswa yang melapork kepadaku kalau dia mempermainkan lelaki yang disukainya."
"H-hah? Maksudnya?"
"Simpelnya, dia merebut pacar orang."
Apa? Tidak salah dengar, nih? Merebut pacar orang? Si cewe dingin itu?
"Apakah itu benar, Ayane-senpai?" Giza bertanya saat aku masih tenggelam dalam pikiranku.
"Jujur, aku tidak mempercayainya, aku sudah mencoba untuk menghubungi Zea melalui telepon, tapi dia tidak mengangkatnya," Ayane-senpai memegangi kepalanya.
Ada-ada saja ya ... Oh iya.
"Kalau boleh tahu, siapa yang melaporkan masalah itu?"
Aku penasaran, siapa lagi sih yang bikin masalah seperti ini.
"Huft ... Apa kalian masih ingat dengan gadis kelas 10 yang bernama Yoshida Shizu?"
"Iya, aku ingat," jawabku.
"Oh, teman sekelasku, kan?" tambah Giza.
"Benar, dialah yang melaporkannya."
"H-hah?!"
Itu gadis yang pernah bermasalah juga, bukan? Maksudku, dia pernah diperebutkan oleh 2 cowok dari klub yang berbeda yang ternyata hanyalah sebuah kesalahpahaman.
Tapi kenapa sekarang dia malah membuat kesalahpahaman itu sendiri?
Eh, tunggu. Tidak, tidak. Ini belum tentu salah. Karena bisa jadi si cewe dingin itu benar-benar merebut pacar Yoshida.
"Tidak mungkin ...."
"Giza?"
"Tidak mungkin Zea berbuat seperti itu! Dan juga, Shizu tidak mungkin berbohong!"
"Tapi begitulah kenyataannya, Giza," Ayane menyangkal kata-kata Giza.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?"
"Tentu saja mencari tahu penyebabnya dan solusinya, dan kamu harus membantuku, Yuta."
"Eh~? Tapi aku 'kan bukan anggota OSIS--"
"Ada masalah?"
"Eh, emm. Baiklah aku akan membantumu, Ayane."
Jangan mengancam seperti itu dong, aku jadi takut.
Tapi ini benar-benar aneh. Apa sih yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua?
...----------------...
diriku adalah masa depanku
setetes air diujung ranting
terjebak dalam masa lalu
happy Reading ❤️
kn kasian pacarin adik sendiri🥹