Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Menenangkan Diri
Setelah bicara dengan Salman, Salma kembali ke rumah keluarga Pramudya di malam hari. Salma menyiapkan makan malam untuk Evita.
Salma bertekad jika malam ini adalah malam terakhir dirinya memasak di rumah itu. Ya mungkin setelahnya ia akan meminta bantuan lagi pada Marko jika diperlukan.
"Bagaimana acara makan siang tadi dengan adikmu? Apa berjalan lancar?" tanya Evita di sela-sela makan malam.
"Tidak, Mih. Acaranya batal." Salma menjawab datar.
"Eh? Batal? Ada apa?" tanya Evita heran.
"Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit insiden saja."
Usai makan malam, Salma kembali ke kamar. Ia bermaksud menunggu Aidil kembali ke rumah dan berpamitan.
Pukul sembilan malam, Aidil baru tiba di rumah. Aidil cukup terkejut dengan keberadaan Salma yang ada di rumahnya.
"Sayang, kau disini?" sapa Aidil yang tak menyangka Salma ada di rumahnya.
"Iya. Aku harus berpamitan denganmu, bukan?" jawab Salma datar terkesan dingin.
Aidil mengerutkan dahi. "Berpamitan? Apa maksudmu?"
Salma menatap Aidil. Semua rasa yang pernah tersimpan di hati Salma kini telah hilang.
Semua kenangan yang mereka rajut bersama seakan lebur bak menjadi abu.
"Dulu aku sangat mencintaimu, Mas. Meski kau tidak pernah mengatakan apapun padaku."
Aidil balik menatap Salma.
"Setiap kali aku mengatakan cinta padamu, kau tidak pernah membalasnya. Sekarang aku tahu, sejak dulu sampai sekarang ... Kau memang tidak pernah mencintaiku. Kau hanya menjadikanku ibu dari anak-anakmu. Karena itulah yang dibutuhkan keluarga ini."
"Salma..." lirih Aidil.
Salma memilih untuk beranjak. Tapi Aidil menahannya.
"Baiklah. Jika kau ingin menenangkan diri sejenak, maka silakan. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu."
Salma menghela napas. "Terima kasih. Aku pergi sekarang!" Salma mengambil kunci mobil dan tas tangannya.
Salma meninggalkan Aidil yang mematung menatap kepergiannya. Aidil memejamkan mata dan berpikir jika ini mungkin yang terbaik.
...***...
Pagi harinya, Evita bangun dari tidur dan mendengar suara berisik dari arah dapur. Ia berpikir tidak biasanya Salma membuat keributan saat sedang memasak.
Namun apa yang didapati Evita berbeda dengan apa yang ada dalam bayangannya.
"Aidil? Apa yang sedang kau lakukan?"
Evita mendatangi Aidil yang sedang memasak. Entah apa yang ia masak hingga membuat keributan.
"Eh? Mamih sudah bangun?" Aidil tidak menjawab dan malah balik bertanya.
"Kemana Salma? Kenapa kamu yang memasak?" tanya Evita geram.
"Salma sedang libur, Mih. Sekarang mamih duduk saja. Sebentar lagi supnya matang."
"Libur? Kenapa dia harus libur?" tanya Evita sedikit kesal.
"Biarkan Salma menenangkan diri. Dia juga sudah mengabdi pada keluarga ini selama 20 tahun. Kurasa libur selama beberapa hari tidak masalah kan? Bahkan profesor saja mendapat libur tiap tahun."
"Tapi dia bukan profesor! Pokoknya bawa Salma kembali!" dengus Evita.
Aidil tidak menjawab dan tetap melanjutkan memasak makanan sehat untuk ibunya yang ia lihat dari internet.
Evita memegangi kepalanya yang mulai pening. Ia kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Tentu saja ia harus menghubungi Salma.
Telepon tersambung tapi Salma tidak menjawabnya. Beberapa kali Evita menghubungi Salma. Tetap saja tidak dijawab oleh menantunya itu.
Sementara itu, Salma yang masih meringkuk diatas ranjang mendengar dering ponselnya yang berbunyi nyaring. Namun bukannya mengangkat panggilan itu, Salma justru makin merapatkan selimutnya dan melanjutkan tidur.
Kembali kepada Evita yang masih sibuk menghubungi nomor ponsel Salma.
"Sialan! Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya? Awas saja kau, Salma! Akan kuberitahu pada kedua putramu!"
Evita segera men-dial nomor cucu sulungnya yaitu Adiyaksa. Atau lebih akrab dipanggil Diyas.
Sebelum telepon tersambung, Evita segera mengakhirinya. Ia berpikir keras agar bisa membawa Salma ke rumah ini.
"Tidak! Aku tidak bisa menyakiti cucuku." Evita mengurungkan niatnya.
Namun tiba-tiba seringai licik terbit di wajahnya. "Sebaiknya aku menghubungi dia saja. Aku yakin dia bisa membujuk Salma untuk kembali ke rumah ini."
Dengan percaya diri Evita menghubungi satu nomor yang juga berada di luar negeri sama seperti kedua cucunya. Siapa lagi kalau bukan Salsa, adik bungsu Salma.
Kembali Evita kesal karena Salsa tidak menjawab telepon. "Hah! Semuanya menyebalkan! Tidak kakak, tidak adik!" gerutu Evita berkali-kali.
Tok tok tok
Pintu kamar Evita diketuk dan muncullah Aidil dari balik pintu.
"Mih, sarapan sudah siap! Ayo kita makan!" ucap Aidil.
Evita menyimpan ponselnya dan menatap Aidil dengan mengulas senyum.
"Mamih menghubungi siapa?" tanya Aidil.
"Ah, bukan siapa-siapa. Ayo kita sarapan!" Evita menggandeng lengan putranya dan menuju ke meja makan.
...***...
Salma terbangun dari tidur panjangnya di saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Salma mengerjap pelan. Baru kali ini Salma tidur dalam durasi yang cukup lama.
Salma segera bergegas membersihkan diri lalu memasak makanan untuknya sendiri. Salma makan sendiri dalam diam.
Ini adalah keputusan yang sudah dia ambil. Dan ia sudah tidak bisa mundur lagi.
Salma meraih ponselnya dan melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari sang ibu mertua. Salma menghela napas.
"Apa hari ini aku harus menghubungi Marko lagi?" gumam Salma ragu.
Di tempat berbeda, Johan dan Lidia merasa heran dengan sikap Salman yang terus mengurung dirinya di kamar. Sejak kata pisah diucapkan Jihan, Salman sama sekali tidak menghubungi wanita itu untuk meminta penjelasan.
Bahkan ketika Salman tahu jika Jihan adalah wanita yang sudah membuat kakaknya menderita, Salman menumbuhkan rasa dendam pada wanita itu.
Tapi Salma memintanya untuk tidak membalas dendam. Salma sudah ikhlas dengan semua takdir yang dijalaninya.
"Apa sebaiknya kita hubungi Salma saja?" usul Lidia.
Johan menarik napas dalam. Putranya itu tidak pernah begini sebelumnya. Kemarin-kemarin Salman sangat bahagia karena ingin membuka praktek sendiri di ruko pemberian Aidil.
Johan tidak setuju dengan usul Lidia untuk menghubungi Salma. Menurutnya Salma sudah cukup direpotkan oleh mereka semua.
Namun bukan Lidia jika tidak membantah. Lidia tetap menghubungi Salma dan memberitahu kondisi adiknya.
Di sisi Salma, ia merasa bersalah karena harus membuat adiknya patah hati dengan cara tragis. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Salman bersama dengan wanita yang membuatnya terluka.
"Apa yang terjadi dengan Salman?" Aidil mendatangi apartemen Salma setelah Salma menghubunginya.
Salma menatap jengah Aidil. "Ini adalah salahmu, Mas!"
Aidil tertegun dengan tuduhan Salma.
"Jika saja kamu tidak bermain hati dengan wanita itu. Jika saja kamu tidak menghancurkan pernikahan kita, mungkin saja Salman akan bahagia. Sejak dulu, aku ingin memberikan sebuah keluarga untuk Salman. Aku ingin melihat dia meraih kebahagiaan dan membentuk sebuah keluarga. Tapi semuanya sirna ketika kamu malah..." Salma tak berani melanjutkan kalimatnya. Sudah terlalu sakit hatinya memikirkan kondisi Salman.
"Maafkan aku! Aku akan menebus kesalahanku pada Salman. Aku akan menemuinya!"
Aidil segera berlalu dari hadapan Salma. Ia harus menyelesaikan masalah yang sudah dia timbulkan. Sebenarnya antara Aidil dan Jihan sama-sama bersalah.
Tapi Salma sangat menekan Aidil yang sudah memulai semuanya. Aidil yang sudah meruntuhkan kepercayaan Salma.
Di rumah Johan, Lidia terus menggerutu karena putra sambungnya masih saja merajuk seperti anak kecil.
"Aku sudah menghubungi Salma!" ucap Lidia.
"Apa? Kenapa kau memberitahu Salma? Kau tahu kan kita sudah banyak merepotkan Salma. Kita sudah sering menyusahkan Salma. Kenapa kau lakukan itu?" Johan benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.
Lidia yang tak pernah mau mengalah tetap menekan egonya.
"Salman bukan lagi anak kecil! Jika dia jatuh cinta lalu putus, itu hal yang biasa dalam sebuah hubungan. Anakmu itu hanya bisa mendengarkan Salma, makanya aku menelponnya." Lidia tetap tidak mau disalahkan.
Tanpa mereka duga, Salman keluar dari kamar karena mendengar perdebatan ayah dan ibunya. Salman tahu dirinya terlalu lemah dalam urusan cinta. Salman tahu sudah banyak menyusahkan kakaknya dalam segala hal.
Salman merasa bersalah pada Salma yang harus menelan pil pahit karena perbuatannya. Tidak seharusnya ia kini malah membuat kedua orang tuanya bertengkar.
"Akulah yang bersalah!" Sebuah suara membuat ketiga orang menoleh ke sumbernya.
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat