Seorang Pendekar Wanita/Lihiap muda yang sedang naik daun, kuat, dan terkenal. Rela meninggalkan semua kesuksesan yang telah ia raih di usia muda, hanya untuk keluar dari kungkungan latar belakang keluarganya sebagai Keluarga Bangsawan.
Berbagai konflik dan pemberontakan yang terjadi di Dunia Bela Diri, membuatnya kembali ke Dunia Bela Diri dengan menyembunyikan identitas asli.
Pertarungan, intrik, dan romansa tidak bisa dihindari.
Di situlah Legenda itu ditulis kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KidOO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 23
Tok Ong Nan Kui terkekeh senang. “Koai Lo-Jin, kenapa masih bersembunyi. Lihatlah, mereka semua menjauhiku. Kau harus menemaniku di sini.”
“Racun Tua, dengan kelakuan dan mainan unik milikmu itu, jangankan seniman bela diri, setan saja tidak akan berani mendekatimu.” Koai Lo-Jin masih tidak mau menampakkan wujud aslinya. Dia bahkan tetap menggunakan teknik menahan nafas memindahkan suara seperti sebelumnya.
Tok Ong Nan Kui tidak terlihat kesal, ia tertawa senang. “Bagus, bagus! Bahkan kawan lama seperti dirimu ikut meninggalkanku.”
Tiba-tiba saja, siluet bayangan dari Tok Ong Nan Kui telah menghilang dari sisi telaga.
Di tengah malam terang bulan itu, suara Tok Ong Nan Kui terdengar, dia ikut memancarkan tenaga dalam kuat dengan suara yang memekakkan telinga semua orang. “Koai Lo-Jin, dengan orang lain kau boleh saja bermain petak umpet. Tapi, Raja Racun ini juga sangat ahli dalam ilmu bela diri. Posisi mu sudah pasti aku tahu sejak tadi, apalagi tulang dan otot-otot tuaku sudah sangat lama tidak pernah merasakan sensasi pertarungan.”
“Ha ha ha! ...” Suara tawa Tok Ong Nan Kui kembali terdengar saat ia menjeda kata sejenak, kemudian ia melanjutkan ucapannya. “Kau tidak mau keluar, aku akan memaksamu.”
Begitu perkataan itu berakhir, siluet dua bayangan terlihat saling membalas pukulan, bunyi pukulan dan kepakan lengan hanfu terdengar di telinga semua hadirin di telaga pelangi tersebut.
Tian Li-Jiang, setelah mengetahui orang yang mengejek mereka semua sejak tadi adalah salah dari lima eksistensi terhebat zaman itu menjadi sangat antusias. Dia tidak merasa takut sama sekali, sekarang orang ini kembali buka suara. “Rupanya hanya dedengkot tua yang sudah berbau tanah. Tidak heran, sehingga ia sejak awal tidak berani menunjukkan wajah.”
Namun, ucapan Tian Li-Jiang tidak menanggapi, semua hadirin di sana, sedang terfokus pada pertarungan hebat yang terjadi antara Koai Lo-Jin dengan Tok Ong Nan Kui.
Sangat aneh, padahal semua orang tidak ada yang berani bertarung atau bahkan mendekati si Raja Racun walau hanya satu langkah saja. Tapi, Koai Lo-Jin bisa dengan mudah bertarung dengan orang tersebut, bahkan ia tidak terlihat takut sama sekali pada Tok Ong Nan Kui.
Meskipun secara sama, sekarang semua seniman bela diri di sekitar telaga pelangi telah melihat sosok dari Koai Lo-Jin. Dia adalah seorang tua dengan rambut sudah memutih seluruhnya. Jenggot panjang menjuntai sampai ke dada, hanya wajah tidak terlihat karena ditutupi dengan topeng kulit pohon.
Orang tua itu, seakan-akan ingin membuktikan bahwa di sana benar-benar tidak ada seorang pun yang pantas untuk melihat raut wajahnya.
Pertarungan keduanya memang sangat dahsyat. Ular hidup yang ada di dalam genggaman Tok Ong Nan Kui sangat lihai. Binatang itu, seperti sudah sehati dengan pemiliknya. Melakukan patukan berbahaya secara tidak terduga.
Jurus gerakan ilmu bela diri yang dimainkan Tok Ong Nan Kui, sangat terlihat bahwa ia benar-benar orang dari golongan hitam. Serangannya kejam, padahal sebelumnya ia berkata Koai Lo-Jin merupakan sahabat lama. Tapi, melihat dari cara ia menyerang orang lain akan pangling terhadap perkataannya.
Keduanya memang sudah sampai pada puncak ilmu bela diri dan tenaga dalam. Tiap kali adu pukulan di antara keduanya, kesiur angin keras merebak.
Sekilas pandang pertarungan mereka seperti Tok Ong Nan Kui yang akan menang. Tapi, penglihatan semua orang benar-benar telah menipu diri mereka sendiri. Ular merah hidup di lengan Tok Ong Nan Kui terlihat sangat berbahaya.
Namun, binatang melata itu sebenarnya saat ini sangat frustasi. Bagaimana tidak?! Itu tidak lain karena jenggot panjang menjuntai milik Koai Lo-Jin sangat menyiksa hewan tersebut. Setiap pergerakan menyerang dari ular merah dipukul mundur dengan sabetan jenggot panjang milik Koai Lo-Jin.
Jenggot tersebut memanglah tipis dan halus, tapi jenggot yang tubuh pada seniman puncak tenaga dalam dan ilmu bela diri akan menjadi sangat berbeda. Bulu-bulu halus panjang itu dengan mudah digerakkan sesuai kehendak si pemilik bulu.
Setelah dilapisi dan dialiri dengan puncak tenaga dalam, bulu-bulu halus keperakan menjadi sangat alut dan kuat, menjadi layaknya cambuk saja.
Sekarang, semua orang menjadi takjub pada pertarungan dua puncak eksistensi kuat itu. Tian Li-Jiang, mau tidak mau harus mengakui di dalam relung hati terdalamnya. “Keparat tua itu memang sangat hebat. Jika aku bertarung satu melawan satu dengannya, kemungkinan besar aku akan kalah. Namun, Jika para suheng membantu ikut mengeroyok, aku yakin akan sangat mudah mengalahkan keparat tua itu.”
Di gelanggang pertempuran. Pertarungan yang berlangsung antara Koai Lo-jin dengan Tong Ong Nan kui telah berlalu sebanyak seratus gerakan.
Pada saat itu, tendangan keras Koai Lo-jin merangsak naik, coba menendang keras dagu dari Tok Ong Nan Kui. Walaupun begitu, si Raja Racun terlihat menyeringai dan mencemooh. Dia membiarkan saja tendangan itu, tidak berusaha mengelak sama sekali. Kemudian Tok Ong Nan Kui berusaha mencengkeram dan menangkap kaki dari Koai Lo-Jin.
Tapi, Tok Ong Nan Kui telah salah dalam memprediksi. Dia kecele, terlebih dahulu berpikir orang tua yang dilawannya telah sedikit menumpul karena dimakan usia tua.
“Bukkk!” Bunyi pukulan keras terdengar.
Kepalan tinju keras dari Koai Lo-Jin dengan telak mengenai perut Tok Ong Nan Kui. Tendangan yang tadi diarahkan ke dagu berhenti di tengah jalan, gerakan itu hanya lah tipuan yang sangat lihai. Dari sini terbukti, pengalaman bertarung yang dimiliki Koai Lo-Jin lebih matang dan luas jika dibandingkan dengan Tok Ong Nan Kui.
Begitu pukulan keras dan telak itu masuk, tubuh Tok Ong Nan Kui terhempas sejauh dua tombak. Dia dapat berdiri dengan indah tanpa bergoyang atau gontai sedikit pun.
Dengan memperlihatkan seringai kesal. Tulus, Tok Ong Nan Kui memuji. “Jurus tipuan yang sangat lihat dan hebat. Aku akui, kali ini aku tertipu oleh mu, Lo-Jin.”
Di sisi lain, kerutan di sudut bibir Koai Lo-jin juga terlihat, jelas sekali orang tua aneh itu juga sedang menyeringai. Tulus dia memuji, “Tenaga dalam yang sangat sempurna. Racun Tua! Engkau dengan mudah dapat menahan pukulan ku itu dengan tenaga dalam maka ini patut engkau banggakan.”
Pujian-pujian singkat itu, sudah lebih dari cukup bagi keduanya untuk mengambil nafas, dan menentramkan hawa murni yang bergejolak setelah bertahun-tahun jarang bertarung.
Raut wajah Tok Ong Nan Kui menjadi serius. Raja Racun itu berkata, “Lo-Jin! Engkau patut berbangga diri, ini adalah jurus pukulan baru yang aku ciptakan setelah bertahun-tahun meditasi berharap seberkah pencerahan aku dapatkan. Kehormatan ini hanya orang-orang yang masuk ke dalam lima terhebat dunia persilatan boleh merasakannya.”
Sorot mata Tok Ong Nan Kui semakin tajam dan menusuk. Dia mulai memadatkan tenaga dalam sebesar delapan puluh persen.
“....”
mohon bantuannya kak
Aku hiatus novel ini, soalnya ... hanya dikasih level 3 oleh yang mulia NT/MT ...
Jangan baca! Jangan baca! Biar kagak menyesal. 🙏🙏🙏🙏 😂😂😂