Di malam kelulusan sekolahnya, Yaressa mendapat perlakuan buruk dari Arsaka -kekasihnya- yang mabuk. Kesuciannya direnggut paksa, menjadikannya seorang korban pemerk*sa'an.
Namun Arsaka tak bersedia bertanggung jawab dengan menikahi Yaressa, ia justru pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Dan Bara, kakak Arsaka, terpaksa menikahi Yaressa, kekasih sekaligus korban pemerkosaan adiknya, menggantikan Arsaka yang telah pergi, sedangkan Bara sendiri memiliki Kanaya, wanita yang ia cintai jauh di kota lain sana.
Kisah yang rumit, tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, akan melengkapi cerita cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
#LMP. 23
Yaressa dan Bara sempat saling pandang dalam cukup lama, dengan debaran jantung dan rasa gugupnya masing-masing yang membuncah, sebelum akhirnya Bara memalingkan muka, berdehem, lalu ia melangkah menuju pintu. Melirik sesaat pada pot kecil dalam genggaman tangan Yaressa, bunga sukulen echeveria yang terlebih dulu ada di meja waktu itu, yang Bara kira dari Arshaka, bukan pemberiannya sebagai salah satu mas kawin.
"Kau, mandi atau istirahatlah dulu, aku akan ke bawah kumpul bersama yang lain." ujar Bara tanpa melihat Yaressa, menatap lurus ke depan dan Yaressa pun sama, memalingkan muka melihat daun pintu tanpa ukiran itu.
"He em," balas Yaressa sambil mengangguk.
Bara lekas melangkah, pergi dari kamar meninggalkan Yaressa yang masih termangu merasakan debaran jantungnya yang berdegup kencang.
Ini memang bukan pertama kalinya mereka bertemu, tapi ini adalah pertama kalinya mereka saling bertatap muka, jelas sesuatu yang aneh mereka rasakan, berstatus sebagai pasangan suami istri namun tak saling mencintai.
"Suamiku om om." lirih Yaressa pelan saat ia melangkahkan kaki memasuki kamar. Yah, usia Bara memang sudah cukup matang untuknya, pria dewasa berusia 33 tahun. Terpaut jarak sangat jauh, 15 tahun.
Sebuah kamar yang cukup luas berdesigne simple, dominan dengan warna dark grey, hampir semua berwarna abu-abu, berpadu dengan warna hitam pekat pada satu dua benda.
Sebuah ranjang berukuran besar warna abu-abu, bantal dan guling berwarna hitam, dan ada sebuah foto besar di dinding atas dipan ranjang, foto Bara sendiri yang nampak berdiri gagah dengan seragam TNI AD.
"Dia tampan, tapi sedikit menyeramkan, dan tetap saja om om," dumel Yaressa yang meletakkan pot bunganya di atas nakas dekat ranjang. Melihat pada foto besar Bara di dinding atas dipan ranjang yang tanpa berekspresi senyum. Terkesan garang.
***
Yaressa sudah mandi, ia pun sudah memakai baju ganti, sebuah setelan celana training berwarna hitam dan kaos yang over size membalut badannya yang mungil, ia mengikat rambutnya sembarangan cepol ke atas. Kebetulan pintu diketuk dari luar.
"Ibu," sapa Yaressa saat membuka pintu, mendapati Bu Ayumi yang datang.
"Habis mandi, Sa?"
"Iya, Bu."
"Ayo turun, kita lagi pesta barbeque di halaman belakang, kamu juga pasti belum makan malam kan?"
Yaressa tersenyum, kaku. Tapi ia mengangguk mengiyakan ajakan ibu mertuanya.
"Bu,"
"Hem?"
"Sebenarnya ada acara apa? Aku kira, Kak Bara pulang sendiri, bukan bersama teman-temannya dari anggota TNI." tanya Yaressa pada Bu Ayumi saat mereka berjalan bersisian menuruni anak tangga menuju lantai bawah, tepatnya halaman belakang tempat mereka tengah melakukan pesta Barbeque.
"Hari ini ulang tahun Bara, mereka sedang bebas tugas, jadi mereka mampir untuk merayakan bersama, dan besok mereka juga akan berlibur bersama."
'Ulang tahun?' Yaressa bahkan tidak tahu jika ini adalah hari ulang tahun suaminya, dia merasa sungkan sekarang, tak ada hadiah yang ia siapkan. Bahkan mungkin untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun saja akan sangat sulit untuk Yaressa.
***
Yaressa bergabung dengan rasa canggung, awalnya ia nampak sangat tidak nyaman, namun setelah ia ngobrol dengan pria yang bernama Fiki, perlahan Yaressa mulai cair dan menikmati acara.
"Jadi, kau baru masuk kuliah? Dan baru berusia 18 tahun?" seru Fiki mengulang kalimat yang tadi Yaressa katakan saat Semar menanyakan kesibukannya.
Yaressa mengangguk sambil tersenyum, menyuapkan sepotong daging ke dalam mulut.
Yaressa duduk bersama Fiki, Semar, dan Wiro Sableng di atas tikar yang digelar di atas tanah berumput belakang rumah besar Hardhana.
"Waaah,,,, Kapten Garuda beruntung sekali, dapat daun muda yang masih fresh, ibarat kata kelopak bunga, lagi mekar-mekarnya," gurau Fiki yang membuat hati Yaressa nyeri.
Bunga, jika diibaratkan bunga, bukankah ia adalah bunga tanpa mahkota? Gadis yang telah terenggut kesuciannya.
"Tidak juga, wanita yang dewasa justru bisa lebih mengerti kita," sahut Semar membuyarkan Yaressa yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Seperti Dokter Kanaya, itu sebabnya Kapten,"
"Plak!"
"Aahh,,,,"
Bara tiba-tiba datang dan ikut bergabung, menggeplak kepala Wiro Sableng -menggunakan kipas- yang hampir saja kelepasan menyebut tentang dirinya dan Kanaya di hadapan Yaressa, biar bagaimana pun status dan hubungan mereka saat ini, menjaga perasaan tetaplah menjadi pilihan yang terbaik untuk tidak saling menyakiti.
Yaressa menunduk. Ia tetap menyunggingkan seutas senyum samar, menutupi perasaannya yang kembali kurang nyaman.
"He he,,,, Kapten Garuda!" cengir Wiro Sableng kegep.
"Hahh,,,, dasar Sableng!" dengkus Fiki sambil melempar sesuatu pada Wiro Sableng.
Ponsel Bara berbunyi, ia melihat siapa si pemanggil, setelah itu Bara berdiri dan menjauh dari mereka.
Hati Yaressa merasakan sesuatu yang benar-benar tidak nyaman, entah mengapa ia menjadi ingin menangis begitu saja saat ini.
"Aku, permisi ya! Aku sudah ngantuk, kalian lanjutkan saja." pamit Yaressa berdiri, ia lantas menghampiri Bu Ayumi dan Pak Hardhana untuk ijin ke kamar. Dan setelah ijin didapatkan, Yaressa melangkah pergi, tanpa melirik sedikitpun Bara yang sempat melihatnya sekilas saat masuk ke dalam rumah. Meninggalkan acara.
***
Di kamar, Yaressa menyibukkan diri dengan mempelajari anatomi manusia, duduk di sebuah kursi yang ia seret ke tepi jendela. Belajar lebih baik dari pada galau tidak jelas.
Yaressa berkeinginan menjadi Dokter ahli bedah, jadi dia harus bersungguh-sungguh dalam belajar, ia tak bisa main-main dan sembarangan, karena itu menyangkut nyawa seseorang.
'Klek.' pintu dibuka, kemudian ditutup dan dikunci.
Yaressa terlonjak kaget, menegakkan punggungnya, menutup cepat buku dan laptopnya. Hawa kamar luas ini tiba-tiba seperti mengalami perubahan atmosfer, pasokan oksigen serasa berkurang, untuk menghirup napas saja Yaressa harus mengeluarkan tenaga.
"Kau belum tidur?" tanya Bara melepas jam tangan yang ia pakai di atas meja rias.
"He em," jawab Yaressa menggunakan kata terhandalnya.
"Kau sedang belajar?" Bara mulai melepas seragam tentaranya. Menyisakan sebuah singlet dalaman berwarna putih yang membalut tubuh kekarnya yang kini nampak terlihat jelas.
Bahu dan dada bidang berotot, serta lengan besar kekar yang berurat.
"He em," jawab Yaressa lagi.
"Mengerjakan tugas?" Bara menaruh ponsel di atas nakas, dekat pot kecil bunga sukulen echeveria yang ia lirik, entah mengapa Bara mulai kurang menyukai bunga itu.
"He em, ah,,,, tidak!" jawab Yaressa yang tadinya mengangguk lalu menyadari jawabannya salah lekas menggeleng.
Bara tersenyum tipis. Melangkah menuju kamar mandi.
"Tidurlah, jangan terlalu belajar keras, itu juga tidak baik." ucap Bara masuk ke dalam kamar mandi. Menutup pintunya rapat kemudian terdengar suara shower yang menyala.
"Huuftt,,," Yaressa menghembuskan napas lega, ia serasa berada di dalam sebuah ruang sempit yang menekan paru-parunya.
"Jika aku berada di situasi seperti ini terus menerus, lama-lama aku bisa terkena stroke. Jantungku berdegup melebihi detak normal," kesal Yaressa memegang dadanya sendiri.
Ia tak mengartikan hal itu sebagai sebuah rasa cinta, hanya saja canggung dan gugup karena harus bersama orang asing yang berstatuskan suaminya. Itu adalah suatu hal yang aneh dirasakan.
Yaressa menyimpan kembali buku dan laptopnya ke dalam tas ransel, ia melihat ponsel, membalas beberapa pesan dari Mak Eva dan Bagas, juga DM dari teman kampusnya yang sekiranya perlu untuk ia balas, setelah itu Yaressa mengambil satu bantal, membawanya menuju sofa panjang di depan ranjang.
Namun langkah Yaressa terhenti kala ponsel Bara yang diletakkan di atas nakas berdering, sebuah foto profil Dokter wanita cantik menjadi penanda si penelepon, dengan nama kontak tersimpan, My Love. Mata Yaressa mengerjap, itu adalah kekasih suaminya. Wanita dewasa yang Semar maksud, Dokter Kanaya yang Wiro Sableng sebut.
Yaressa membiarkannya dan memilih berlalu menuju sofa, ia sudah bersiap merebahkan diri.
"Kau akan tidur di sana?"
"Aahh,,,," Yaressa terlonjak kaget, Bara tiba-tiba sudah berada di belakangnya, menyurai rambut basahnya dengan tangan.
Bara hanya mengenakan celana bokser tanpa atasan, menampakkan perut sixpacknya yang sempurna, Yaressa lekas berbalik. Menjaga pandangannya yang sempat menangkap pemandangan liar seumur hidupnya itu.
Tubuh Bara nyaris sempurna sebagai seorang pria dewasa yang gagah perkasa, ditambah buliran bening sisa air mandi yang menetes mengaliri kulitnya yang berwarna Tan, sangat seksi.
Hatinya kembali berdebar kencang, ia tahu tekanan jantungnya saat ini tinggi, namun ia tidak tahu bagaimana cara mengendalikannya. Teknik tarik nafas dan hembuskan perlahan tidak bisa ia praktekkan, atau Bara akan mempertanyakan apa yang sedang ia lakukan.
"Kau tak menjawab, apa aku akan tidur di sana?" tanya Bara sekali lagi.
"Iya, aku akan tidur di sini." Yaressa menjatuhkan diri di sofa.
"Okay," jawab Bara yang sudah merebahkan diri di atas ranjang setelah selesai memakai kaos oblong.
"Kak Bara," lirih Yaressa memanggil.
"Hem,,,," jawab Bara malas, sepertinya ia mulai mengantuk dan bersiap untuk tidur.
"S-se se," ucap Yaressa tergagap, membuat Bara mengernyit, apa yang sebenarnya ingin Yaressa katakan?
"S-se selamat malam." ucap Yaressa cepat, memejamkan kedua matanya erat, sebenarnya, Yaressa ingin mengucapkan selamat ulang tahun, tapi entah mengapa lidahnya terasa begitu keluh dan Yaressa akhirnya memilih untuk mengucapkan kalimat sederhana, selamat malam.
Bara menatap bunga sukulen echeveria Yaressa yang ada di atas meja, ingin hati ia menanyakan perihal bunga itu, siapa pemberinya, apa sebegitu penting sehingga kemanapun Yaressa pergi selalu membawanya.
"Yaressa," panggil Bara.
"Hem?" sontak kedua mata Yaressa terbuka lebar.
Bara nampak berpikir. Haruskah ia menanyakannya?
"Selamat malam." ucap Bara menarik selimut.
Sama halnya dengan yang Yaressa lakukan, Bara pun mengurungkan niatnya untuk menanyakan perihal bunga itu, dan malah menggantinya dengan ucapan selamat malam sederhana memutus obrolan mereka.
"He em, selamat malam."
***
Semoga author cepat nulis lagi dn buat Bara menyesali sikap dn kata2nya pada Yaressa
jgn karena apa"..khawatir jg karena gda kabar Lg dri novel nya
atau gmna, gaa ada kejelasan novel ini
padahal udah ditunggu tiap hari kelanjutan nya
klo thor nya sakit, semoga lekas sehat yaa thor, qta semua menunggu karya mu
semangat 💪💪💪
padahal ceritanya sangat bagus,,,
konflik nya lain daripada yang lain,,,