NovelToon NovelToon
Bulan Di Langit

Bulan Di Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahmuda / Duda
Popularitas:210.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Heni Heni

Menjadi kaya sejak lahir, tak lantas membuat hidup seorang Langit Biru begitu sempurna. Nyatanya di usia yang ketiga puluh lima tahun, pria itu sudah harus merasakan menjadi orangtua tunggal bagi putrinya.

Apapun akan Langit lakukan demi kebahagiaan juga keselamatan sang putri. Termasuk di dalamnya ketika Langit harus memaksa seorang gadis ambisius juga keras kepala agar mau menjadi istrinya. Siapa lagi jika bukan Bulan Purnama. Wanita yang memang memiliki ambisi demi kemajuan bisnisnya.

Sebuah kisah kehebatan seorang Ayah tunggal yang mencintai putrinya dengan cara yang luar biasa.

Juga bagaimana seorang wanita tangguh dan mandiri yang harus terpaksa hidup bersama seorang duda dengan putrinya.

Ikuti kisah selengkapnya hanya di story Bulan di Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Tiga

Kecewanya Cahaya hanya ditunjukkan dengan kebungkaman. Sejak dari kantor papanya sampai mereka berdua tiba di rumah, Cahaya tak berkata sepatah kata pun pada Langit. Tak bisa dimengerti oleh Cahaya, kenapa sang papa tega sekali berbohong kepadanya. Hati Cahaya amat senang pada saat papanya mengatakan bahwa Bulan lah yang akan menempati posisi sebagai mama barunya. Namun, ternyata semua hanyalah bualan semata.

Sekarang, gadis kecil itu tak hanya memikirkan dirinya sendiri tapi juga hati dan perasaan Bulan. Apa kira-kira yang Bulan rasakan ketika dibohongi juga oleh papanya?

Ingin rasanya Cahaya menelepon Bulan. Dan meminta maaf atas apa yang terjadi barusan. Tapi Cahaya tidak ada nyali. Selain itu, keinginan Cahaya untuk menjadikan Bulan sebagai mamanya juga benar adanya. Dia tahu jika Kak Bulan adalah wanita yang baik.

"Aya! Makan dulu setelah mengganti bajumu!" titah Langit ketika mendapati sang putri menapakkan kakinya pada undakan pertama tangga rumah mereka.

Tak menjawab, tapi Cahaya hanya menganggukkan kepala. Lalu kembali melanjutkan lagi dengan langkah cepat sedikit berlari. Langit yang melihat hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu jika Cahaya tengah marah dan merajuk. Namun, Langit biarkan karena dia pikir kemarahan Cahaya juga tidak akan berlangsung lama. Paling tiga hari anaknya itu sudah mau berbaikan lagi dengannya. Kebiasaan yang seringkali Cahaya lakukan acapkali apa yang diinginkan tidak mampu Langit wujudkan. Hanya saja Langit lupa jika kemarahan Cahaya akan hilang ketika apa yang diinginkan oleh gadis kecilnya sudah terkabulkan.

Hingga untuk kasus sekarang memang beda dan tak ada niat Cahaya untuk berbaikan dengan Langit sampai papanya itu mengabulkan apa yang pernah diutarakan.

Langit sendiri tentu paham akan kelakuan Cahaya. Hingga di setiap harinya selama satu minggu ini, pria itu sudah berusaha berbaik hati pada sang putri. Namun, nihil hasilnya.

"Aya! Papa minta maaf. Papa telah mengecewakanmu."

Ucapan permintaan maaf dari Langit untuk kesekian kali ketika mereka tengah menikmati sarapan pagi. Namun, jangankan menjawab bahkan menoleh dan memandang papanya saja Cahaya tidak melakukannya.

Mengetahui putrinya hanya diam, Langit kembali berucap. "Aya! Sampai kapan kamu mau mendiamkan papa. Ini sudah satu minggu dan papa sudah meminta maaf padamu. Bukankah setiap orang yang meminta maaf harus kita maafkan."

"Tapi tidak untuk kebohongan papa kali ini. Aku kecewa sama papa."

Selalu itu jawaban yang diberikan Cahaya ketika Langit mencoba berdamai. Pria itu meraup kasar wajahnya. Dia sudah sangat frustasi. Bagaimana caranya agar Cahaya kembali menjadi putrinya yang ceria agar rumah ini tak lagi sepi dan sunyi karena tak terdengar celotehan Cahaya di telinga Langit. Padahal suara Cahaya meskipun melengking dan memekakkan telinga, itu adalah hal yang selalu Langit harapkan ketika dirinya menginjakkan kaki pulang ke rumah setelah seharian berkutat dengan aktifitas dan padatnya pekerjaan di kantor. Semua cerita Cahaya mengenai apa saja yang tadi terjadi di sekolah juga menjadi dongeng di setiap malam Langit.

Kini tak lagi ada celoteh riang gembira dari putrinya. Jujur Langit sedih. Langit juga tak mampu menyalahkan putrinya karena ini semua adalah salahnya. Menyesal karena Langit harus berbohong dan mengatakan hal yang tidak benar atau bahkan harus bersandiwara jika pada akhirnya hanya akan menyakiti hati putrinya saja.

"Katakan pada papa, Aya. Apa yang harus papa lakukan agar kamu mau memaafkan Papa?" Kali ini Langit sudah mengaku kalah. Dia menyerah.

"Wujudkan apa yang papa pernah katakan."

"Maksudmu apa, Aya?"

"Aku ingin Kak Bulan benar-benar jadi mama baruku!"

"Apa? Papa tidak mungkin ...."

Belum juga Langit melanjutkan perkataannya, Cahaya sudah menyela. "Aku selalu diajarkan oleh Papa akan kejujuran. Kali ini aku hanya ingin Papa bertanggung jawab atas apa yang sudah papa janjikan. Aku ingin Kak Bulan sebagai mamaku ... atau jika Papa tidak bisa melakukannya ... dengan berat hati aku harus katakan pada Papa jika aku akan ikut bersama Mama."

"Aya! Jangan aneh-aneh!"

"Apanya yang aneh, Pa! Aku hanya ingin punya Mama. Jika papa tak sanggup memberikan mama baru untukku ... maka mama yang lama pun tak apa. Yang penting aku punya Mama."

"Aya! Kamu tahu sendiri bagaimana mama Vivian. Kamu sendiri yang tidak ingin diperalat olehnya. Lantas ... kenapa sekarang kamu mengatakan akan ikut dengan Mama? Ini tidak mungkin, Aya! Kamu tidak mungkin membuat Papa bingung sendiri dengan sikapmu."

Perdebatan keduanya, memaksa Cahaya beranjak berdiri meninggalkan Langit. Gadis kecil itu berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Langit tak bisa tinggal diam. Pria itu pun memilih menyusul Cahaya, namun apalah daya karena Cahaya tak mau membuka pintu untuknya. Suara isak tangis yang menyayat hati, hingga Langit merasakan sesak dan juga nyeri. Tak tahu lagi bagaimana menghadapi Cahaya. Karena semakin Cahaya besar anak itu semakin pintar dan membuat Langit bungkam kehabisan kata-kata.

"Ya, Tuhan! Aya, kenapa kamu memusingkan Papa."

Langit kembali ke ruang keluarga. Kepalanya serasa hampir pecah saat ini. Bahkan nyerinya masih terasa sampai keesokan hari. Langit datang ke kantor dengan wajah kusut dan sayu. Tampak sekali jika pria itu sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.

"Lang! Tunggu!"

Langkah lunglai kaki Langit terpaksa terhenti karena panggilan dari sepupunya, Jupiter. Kepala Langit memutar pada arah suara itu berasal. Pemuda tampan dengan balutan seragam kerja yang tengah berlari kecil berhasil juga menghampiri Langit. Namun, detik selanjutnya kening Jupiter mengernyit sampai kedua alis pria itu saling bertaut.

"Kamu sakit?" Pertanyaan pertama yang Jupiter layangkan.

Kepala Langit menggeleng. Jupiter masih belum puas akan jawaban yang Langit berikan. "Yakin kamu baik-baik saja."

"Tidak. Siapa bilang aku baik-baik saja."

"Kamu ini! Tadi katanya tidak sakit sekarang mengatakan sedang tidak baik-baik saja. Yang benar mana?"

Langit tak menggubris lalu memilih melanjutkan langkah menuju di mana letak ruangannya berada. Jupiter masih juga mengikuti sepupunya dari belakang hingga keduanya memasuki ruang kerja milik Langit.

Jika Langit langsung duduk di kursi kebesarannya, lain halnya dengan Jupiter yang memilih menjatuhkan tubuh di atas sofa.

"Katakan padaku, Lang! Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Vivian lagi-lagi berulah?"

Jupiter pernah mendapat cerita dari Langit jika telah terjadi perdebatan sengit di kantornya satu minggu yang lalu yang dilakukan oleh Vivian bersama putrinya.

"Sampai detik ini Cahaya masih juga bungkam tak mau bicara denganku."

Jupiter lagi-lagi mengernyit. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi antara kamu dengan Cahaya? Rasanya sangat mustahil jika Cahaya semarah itu padamu hanya karena kamu menolak rujuk dengan Vivian."

Sial! Langit lupa jika dia tidak pernah bercerita perihal marahnya Cahaya karena menginginkan Bulan menjadi mamanya.

1
Trisni Trisni
suka bangat
Kh2103💙
Lanjut lg dong thor...🙏🙏
penasaran sm kehidupan rumah tangga bulan langit...
Kh2103💙
Ya ampun...aku baru baca lg, setelah sekian lama menunggu, sampe bolak-Balik ngintipin udah ada lanjutannya apa blm... akhirnya nongol jg.....
terimaksih kak, lanjut terus donk....🙏🙏
Nunung Sutiah
Thor, are you ok?
RAGIL RUKIATI
thor jangan lama2 dong up datex
Leeonyy Dewa
iseng2 buka ini kok ya d up akhirnya... semoga bisa benar2 tamat ya kak😍
Sumi Nar
Alhamdulillah Stlh sekian abad hehehe akhirnya up juga ... Terimakasih otor ku yg baik.semoga ada up slnjtnya ya
Sri Komalasari
Y ampun author kemana aja, aq sampe bulak balik liat lapak ini karna ingin trus baca lanjutan kisahnya, ka author semangat nulos trjs y ka, jangan PHP lagi soalnya serrruuuuu 🥰🥰sehat trus k author
Siti Rahmadhani
lanjut
Heni Heni
dilanjut sampai tamat setelah Bertahun-tahun bertapa cari inspirasi. do'akan ya saya betah balik ke sini. Terima kasih yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita ini
Yayoek Rahayu: harus tetap semangat...
total 3 replies
Reni Otta
ya ampun Thor,setelah sekian purnama diriku menanti dirimu baru muncul lagi.
petaba dimana thor?😁✌️
terima kasih ya Thor🙏
Anindita Azzahra
setelah skian lma crita ini gantung,,skrng ada notif..smngat kak lnjtkn critanya smpai slsai
Nunung Sutiah
Stlh vacum bbrp thn, akhirnya muncul lg.
Kirain g d lanjut...
ikeds
oh MG apakah aq mimpi,,, bulan kau kembali 😍😍
ikeds
berharap banget bulan ini up lagi,,, masih blm move on. author semoga semangat lagi nerusin bulan-nya,,😍
Reni Otta
aku sampe sekarang masih nunggu thor,up lagi donk 🙏
Reni Otta
kenapa nggak update lagi ce thor
Nurul Qomariyah
lho.....kok brenti ....tanggung lah....
Hanny Ticaya
ceritanya gimana nie,,,lanjut dong thour,
Sumar Sutinah
duh kasian ucle jupi, kalah cepat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!