Tak sengaja Rena melihat suami nya sedang bersama dengan seorang wanita, padahal dia sedang dalam kondisi hamil 3 bulan, dari awal sebelum menikah dia sudah mengatakan bahwa dia paling tidak suka di bohongi, dan suami nya mengiyakan permintaan nya.
Namun setelah melihat apa yang di lakukan suaminya Rena pergi dan berniat untuk menuntut cerai. Rena adalah gadis bercadar yang kecantikan nya hanya di perlihatkan kepada suaminya, dia tidak pernah membenci seseorang, tapi dia paling benci di bohongi apa lagi itu suami yang di cintai nya.
suaminya sudah berusaha untuk membuat Rena kembali dan percaya, namun semua sia - sia. tiba - tiba datang seorang gadis berjilbab yang Rena lihat waktu itu bersama suami nya. gadis itu melemparkan sebuah kunci kepada Rena, sambil menangis dia mengatakan.
"jika kamu ingin mencari kebenaran ambil kunci ini, jika tidak buang lah, namun jangan pernah membenci nya, karena Malaikat pun akan membencimu walaupun kau berbakti kepada orang tua mu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frangki s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Hafalan Surah Pendek
"Kamu tadi kemana?"
"Maaf Kak' Tadi waktu saya lagi tunggu Kakak di depan, Ada Ibu - ibu minta tolong."
"Minta tolong apa?"
"Buat bantu angkat barang belanjaannya Kak! Makanya pesan Kakak' Tidak sempat saya buka."
"Oh... Pantas dari tadi Kakak cariin kamu tidak ada."
"Jadi Kakak cariin saya di dalam?"
"Iya."
Mereka berdua pun terus bicara sampai akhirnya Awan berhenti di Rumah Makan miliknya.
"Kok' Kita berhenti nya di sini Kak? Bukannya kita mau belajar di Rumah saya?" Tanya Dawa penasaran.
"Kita tetap ke Rumah kamu Kok' Tapi kita mampir dulu sebentar, Buat beli oleh-oleh untuk keluarga kamu."
Kata Awan yang langsung keluar dari Mobilnya. Sedangkan Dawa hanya menurut saja.
"Kamu duduk dulu di sini. Kakak mau pesan makanan nya dulu."
"Baik Kak."
"Eh.... Ada Kak Awan."
Kata Afya menyapa mereka.
"Itu siapa Kak?" Tanya Afya karena baru melihat Dawa bersama Awan.
"Teman Kakak. Dia mau ajarin Kakak mengaji."
"Oh.... "
"Af' Kamu buatkan makanan 6 Kotak ya... Soalnya Kakak mau kasih oleh - oleh buat keluarga nya Dawa di Rumah."
"Jadi nama Cowok itu Dawa."
"Memangnya kenapa? Kamu suka ya.. Sama Dawa."
"Kata Awan bertanya dengan nada menggoda.
"Kak Awan bisa saja. Tunggu ya Kak."
Kata Afya yang langsung masuk kedalam dapur. Dia tidak mau melayani godaan dari Awan. Bisa - bisa dia sendiri yang jadi malu kalau Dawa tahu.
***
Afya kembali dengan membawa makanan yang sudah di bungkus rapi.
"Ini Kak' Makanan nya."
"Terima kasih ya Afya... Eh kalian kan belum kenal, Ayo kenalan dulu."
Afya terlebih dahulu mengulurkan tangan nya dan berkata.
"Salam kenal Aku Afya."
Sedangkan Dawa membalasnya tanpa menyambut tangan Afya, Dia hanya mengangkat kedua tangannya di dada sambil berkata.
"Maaf Mba' Saya Dawa." Kata Dawa memperkenalkan diri.
Wajah Afya tiba-tiba langsung berubah Merah menahan malu. Karena Dawa tidak menyambut tangannya.
Dalam Hati nya berkata.
'Memangnya aku setua itu apa. Sampai - sampai dia panggil aku Mba."
Awan hanya tertawa melihat wajah Afya yang sekarang.
"Ya sudah Kakak berangkat dulu. Jangan lupa Sabtu depan kamu Kakak jemput. Bapak sama Ibu kamu sudah rindu."
"Iya Kak' Hati-hati di jalan." Kata Afya yang hanya memandang mereka dari dalam. Dia masih tidak terima Dawa memanggilnya dengan sebutan Mba.
***
Santriwati yang di mintai tolong oleh Awan tadi datang menghampiri Rena.
"Assalamu'alaikum Kak Rena."
"Waalaikum'salam."
"Kak' Ini ada titipan buat Kak Rena." Kata Santriwati itu sambil menyerah titipan dari Awan tadi.
Rena pun mengambilnya dan bertanya.
"Ini apa?"
"Kayaknya makanan Kak."
"Terus mana Orang nya. Kok' Dia tidak mengantar nya langsung ke Kakak?" Tanya Rena penasaran.
"Orang nya sudah pergi Kak. Kayaknya dia takut kalau Kak Rena tahu dia yang kasih. Makanya tadi dia langsung buru - buru pergi."
"Namanya kamu tahu tidak?" Tanya Rena lagi.
"Kalau namanya saya tidak tahu Kak." Cuma tadi waktu saya tanya namanya. Dia hanya bilang Sang Pahlawan." Kata Santriwati itu sambil tertawa.
Rena bertanya - tanya dalam hatinya.
"Siapa yang sudah memberikan aku makanan ya... "
Kemudian Rena bertanya lagi.
"Kamu tahu kan Mas Arkam? Apa dia yang kasih ini ke Kakak?"
"Kalau Mas Arkam saya tahu Kakak. Siapa juga yang tidak kenal dengan Orang seperti dia. Kalau seandainya dia yang kasih, Saya mana mau Kak.''
Kata Santriwati itu dengan penuh emosi. Memang tidak bisa di pungkiri kalau apa yang terjadi dengan Rena saat itu, Di ketahui Oleh semua penghuni Pesantren. Secara hubungan Rena dengan Arkam di ketahui mereka semua. Termasuk Santriwati ini.
Rena bertanya kembali.
"Kalau yang datang pakai Mobil Ferrari Kuning waktu itu kamu tahu tidak?" Rena berusaha bertanya karena dia begitu penasaran.
"Bukan Mas itu Kak' Memang sih Mas yang datang pakai Mobil Ferrari itu ganteng. Tapi Kalau yang tadi kasih titipan ini lebih ganteng lagi Kak."
Kata Santriwati itu sambil tersenyum.
"Ya sudah kamu masuk saja Kakak mau bawa dulu ini kedalam. Makasih ya... "
"Sama-sama Kak' Saya permisi dulu.
Rena pun masuk kedalam Rumahnya. Dia kemudian mulai membuka makanan yang di berikan Awan padanya. Ketika di buka perut Rena langsung merasakan lapar, Karena melihat beberapa menu Ikan di dalam Kotak itu.
***
Awan dan Dawa sudah sampai di Rumahnya Dawa.
Rumahnya kecil hanya terbuat dari Dinding Bambu. Namun kelihatan begitu Asri karena di sekitarnya ada berbagai macam Buah yang tumbuh.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum'salam salam." Jawab Ayah dan Ibu angkat nya Dawa.
Dawa segera mencium tangan kedua Orang tua angkat nya itu. Orang tua yang sudah membesarkan nya seperti Anak mereka sendiri.
"Mari masuk Mas Awan. Maaf Rumahnya masih berantakan. Soalnya Bapak tadi sedang membuat tikar untuk di jual di pasar besok."
"Tidak apa - apa Bu. Ini ada sedikit oleh - oleh dari Dawa buat Ibu dan Bapak."
Dawa kaget dengan apa yang barusan di katakan Awan. Padahal setahu dia Awan lah yang membeli makanan itu. Ketika Dawa akan berterus terang, Awan segera berbicara terlebih dahulu.
"Kami permisi dulu, Mau lanjutkan belajar mengaji nya."
"Iya Mas' Nanti Ibu bikin kan Kopi nya. Biar nyaman mengajinya.
Awan pun langsung menarik tangan Dawa sambil menuju pondok Bambu di samping Rumah. Sesampainya di pondok Dawa langsung berkata.
"Kenapa Kakak tadi bilang kalau itu saya yang beli."
"Tidak apa - apa. Biar Orang tua kamu senang. Kan kamu nanti dapat gaji. Anggap saja itu bonus dari Kakak."
Awan berusaha menjelaskan sama Dawa agar dia mau mengerti. Sebelum mereka berdua memulai belajar, Terlebih dahulu mereka melakukan Sholat Ashar. Dawa yang memimpin Sholat, sedangkan Awan yang Azan.
Bacaan Surah dari Dawa begitu merdu terdengar di telinga Awan. Sehingga membuat Hati Awan tersentuh tiap kali dia melakukan Sholat bersama Dawa.
***
"Alhamdulillah Kakak sekarang sudah lancar baca Iqra sekarang."
"Iya' Kakak juga tidak sangka sudah lancar baca Iqra nya. Mungkin ini karena kamu yang ajarin Kakak."
"Saya hanya mengajar kan dasar-dasar dan cara baca nya saja Kak' Selebihnya itu karena kemauan Kakak yang begitu besar. Makanya Kakak bisa cepat belajar nya."
"Kamu bisa saja." Kata Awan yang merasa malu di puji Dawa.
"Benar Kak' Saya tidak bohong. Kakak tahu tidak di Pesantren itu ada Adik kelas saya yang sampai sekarang masih di Iqra."
"Yang benar kamu. Bukannya semua Santri di Pesantren sudah bisa baca Al-quran semua?"
"Tidak semua Kak' Saya saja waktu di baru masuk di Pesantren belum bisa baca Iqra."
"Berarti Kakak hebat dong." Kata Awan memuji dirinya sambil tertawa."
Dawa hanya tersenyum mendengarkan apa yang di katakan Awan. Dia juga tidak menyangka Awan secepat ini bisa belajar membaca Al-Quran.
"Kalau boleh Kakak tahu. Surah yang selalu kamu baca itu surah apa. Kayaknya cuma Surah pendek. Soalnya Kakak mau coba hafal nya dari situ.
"Oh... Surah yang saya baca itu ada tiga Kak. Pertama Surah Al - Ikhlas, An - nas dan terakhir Surah Al - Falaq. Saya sengaja baca Surah itu, Agar Kakak bisa mengingat nya."
"Kalau kamu sudah berapa Surah yang di Hafal?"
"Kalau saya sudah Hafal 30 Juzz Kak."
"Wah kamu hebat juga. Yang di Pesantren siapa saja yang sudah Hafal 30 Juzz seperti kamu." Tanya Awan lagi. Dia berharap Rena belum sampai di situ Hafalan nya.
"Baru saya Kak." Kata Dawa malu - malu.
"Berarti Kak Rena belum sampai di situ Hafalan nya." Tanya Awan penasaran.
"Memangnya kenapa Kakak tanyakan Hafalan nya Kak Rena."
"Ya.....Kak malu dong. Kalau Kak Rena sudah bisa Hafal 30 Juzz kayak kamu. Kata Awan sambil menggaruk Kepala nya.
" Tidak usah malu Kak' Yang penting niatnya saja. Insha Allah Kakak cepat bisa menghafalnya."
"Ok' Kalau begitu kita mulai saja belajar cara menghafalnya."
Dawa pun mulai mengajar kan Awan menghafal Surah - surah dari yang pendek.
tapi kalau pemeran utama pria harus mengemis dan menderita baru dimaafkan
kalau sudah begini dimana keadilan yang harus ditegakkan
kok g pernah dgr,
boleh kasih penjelasan lbh akurat, atau vid ulama y membahas@?
gk rela kayaknya nya klo ud end😔😢
blm tau ke benaran yg pasti sikapnya begitu ke suami dr segi mn solehanya thor...sorry...