Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.
Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.
Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?
Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
💔
💔
💔
💔
💔
Gibran mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Livia, tapi setelah menemukannya Gibran malah ragu-ragu untuk menghubungi Livia.
Gibran pun menyimpan kembali ponselnya tapi tatapan Gibran tertuju kepada Gilsya yang saat ini masih tertidur. Hingga akhirnya Gibran pun dengan cepat mengirimkan pesan kepada Livia untuk mengajaknya bertemu.
Livia yang saat ini sedang tiduran, mendengar ponselnya bergetar dan Livia pun dengan cepat mengambilnya.
📩"Nanti malam aku jemput kamu, ada yang perlu aku bicarakan sama kamu."
Livia menghembuskan napasnya dengan kasar, sudah dipastikan Gibran akan menanyakan masalah sikapnya yang berubah terhadap Gilsya.
"Aku harus bicara apa? tidak mungkin aku mengadu kalau kembaran istrinya yang melarang aku, aku ga mau sampai ada masalah dalam keluarga mereka," gumamnya.
Malam pun tiba...
Livia sudah siap, tapi Livia terlihat mondar-mandir dia merasa deg-degan entah apa yang akan dia bicarakan dengan Gibran.
"Aduh, bagaimana ini?" gumamnya.
Tin..tin..
Suara klakson mobil Gibran sudah terdengar, Livia pun langsung keluar dan segera masuk ke dalam mobil Gibran dengan ragu-ragu. Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali mereka diam seribu bahasa.
Tidak ada yang tahu jantung keduanya sudah berdetak tidak karuan, Gibran sebenarnya merasa canggung setelah Livia keluar dari rumah kontrakannya, Gibran tidak berkedip melihat penampilan Livia.
Walaupun terlihat sederhana dengan dress dan tas kecil yang dibawanya tapi entah kenapa Livia terlihat cantik apalagi saat ini Livia menggunakan heels yang dibelikan Gibran waktu itu.
Tidak lama kemudian, mobil Gibran pun sampai di sebuah restoran. Keduanya turun, Gibran berjalan duluan dan Livia mengikutinya dari belakang.
Mereka pun segera duduk. "Kita pesan makanan dulu, habis itu baru bicara," seru Gibran.
"Iya Mas," lirih Livia.
Setelah makanan datang, keduanya pun makan dengan tenang. Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya selesai makan Livia hanya bisa menundukan kepalanya.
"Ehmm...aku mengajak kamu bertemu karena ingin membicarakan sesuatu, Gilsya dari pulang sekolah selalu murung dan nangis katanya kamu mengacuhkan dia, apa alasannya kamu sampai mengacuhkan puteriku?"
"Maaf Mas," lirih Livia.
"Aku tidak butuh maaf, yang aku butuhkan penjelasan dari kamu."
Livia menundukan kepalanya, dia bingung harus jawab apa dia tidak mau jadi tukang adu dan akhirnya membuat masalah di keluarga Gibran.
"Apa kamu tidak mau menjawab? apa itu sikap kamu sebagai seorang pengajar? membeda-bedakan perlakuan kamu terhadap semua anak? berarti selama ini sikap kamu kepada Gilsya hanya pura-pura saja, apa tujuan kamu sebenarnya?"
Livia mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap mata Gibran. Mata Livia terlihat memerah menahan tangisannya.
"Maaf Mas, dari dulu aku sangat menyayangi anak-anak dan aku sama sekali tidak berpura-pura saat menyayangi Gilsya. Aku tidak punya tujuan apa-apa saat aku menyayangi Gilsya, tapi untuk masalah ini maaf aku tidak bisa mengatakannya karena aku tidak mau membuat masalah dalam keluarga Mas."
Livia pun bangkit dari duduknya. "Terima kasih Mas atas makan malamnya, kalau begitu aku pamit."
Livia langsung berlari meninggalkan Gibran, Gibran mengepalkan tangannya bahkan rahangnya pun sudah mengeras.
"Nasya kamu sudah keterlaluan," batin Gibran.
Sebenarnya Gibran sudah tahu semuanya disaat Livia meninggalkannya di restoran, Gibran merasa ada sesuatu yang aneh maka dari itu Gibran meminta pihak restoran untuk mengecek cctv selama dia berada di toilet soalnya Gibran merasa ada sesuatu yang sudah terjadi kepada Livia.
Dan ternyata benar saja, ada Nasya disitu menghampiri Livia dan Gibran bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Nasya.
Livia memang wanita yang baik, Gibran mengajak Livia bertemu hanya untuk mengetes dia saja apa Livia akan jujur atau dia malah justru menutupi kebusukan Nasya dan ternyata dugaan Gibran benar, Livia memilih menutupi kebusukannya Nasya.
Livia sampai di kontrakannya, Livia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan airmatanya pun akhirnya menetes.
"Kenapa semua orang berpikiran kalau aku sayang sama Gilsya karena aku punya tujuan tertentu, padahal aku tulus menyayangi Gilsya bahkan bukan kepada Gilsya saja kepada semua anak-anak pun aku menyayangi mereka," gumamnya.
***
Keesokan harinya....
Gibran mengirim pesan kepada Nasya dan mengajaknya bertemu, tentu saja Nasya sangat bahagia karena tidak biasanya Gibran mengajaknya bertemu.
Nasya sudah dandan dengan sangat cantik karena Nasya yakin kalau Gibran saat ini sudah berubah pikiran dan membenci Guru Gilsya karena sudah membuat Gilsya menangis pasalnya Gibran tidak akan memaafkan orang yang sudah membuatnya menangis.
Nasya memasuki sebuah restoran dengan raut wajah yang bahagia, terlihat di dalam restoran Gibran sudah menunggunya. Seperti biasa Nasya selalu terpesona akan ketampanan duda anak satu itu.
"Pagi Kak, maaf aku terlambat," seru Nasya dengan senyumannya yang mengembang.
Gibran mengangkat wajahnya dan menatap Nasya dengan tajam.
"Tumben Kakak mengajakku bertemu? ada apa? apa Kakak sudah berubah pikiran dan menyadari kalau wanita yang pantas menjadi Ibu sambung Gilsya adalah aku," seru Nasya dengan percaya dirinya.
Gibran melempar ponselnya ke arah Nasya membuat Nasya terkejut, kemudian Nasya melihat video yang saat ini sedang berputar di ponsel Gibran itu. Nasya membelalakan matanya saat melihat video itu bahkan tangannya sudah terlihat bergetar.
"Ke--kenapa ini ada di ponsel Kakak?" tanya Nasya gugup.
"Jelaskan apa maksud dari semua itu?"
"Aku....aku...."
"Jelaskan Nasya!" bentak Gibran.
Nasya tersentak kaget bahkan saat ini airmatanya sudah menetes saking takutnya melihat wajah Gibran yang sudah memerah karena emosi.
"Dari dulu aku menyukai Kakak, tapi Kakak tidak pernah memperdulikanku padahal aku sangat menyayangi Gilsya seperti anakku sendiri. Tapi kenapa, Kakak begitu dengan mudahnya menyukai Guru Gilsya yang jelas-jelas baru bertemu dan dia punya niat mencari perhatian Kakak dengan berpura-pura menyayangi Gilsya," seru Nasya dengan deraian airmata.
"Tahu apa kamu soal Livia? aku memang baru bertemu dengannya tapi dia tidak pernah mencari perhatianku dengan berpura-pura sayang kepada Gilsya, rasa sayangnya tulus bahkan dia tidak mau mengatakan kalau kamu mengancamnya hanya karena dia takut keluargaku bermasalah. Sebaik itu Livia menutupi kebusukan kamu, sekarang aku sudah tahu siapa yang tulus dan siapa yang hanya berpura-pura jadi stop mengganggu kehidupanku, lebih baik kamu pergi dan kembali ke Jerman karena aku sudah muak melihat wajah sok polos kamu tapi mempunyai hati yang jahat."
Gibran bangkit dari duduknya, mengambil paksa ponselnya dari tangan Nasya kemudian pergi meninggalkan Nasya. Nasya hanya bisa menangis, hatinya begitu sakit dengan ucapan Gibran.
💔
💔
💔
💔
💔
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila