Kami dikandung di rahim yang sama dan dalam waktu yang sama. Namun, kenapa aku tak seberuntung Kak Keyla?
Please beri dukungan yang banyak sama author biar semangat lanjutkan karyanya. 🙏🙏🙏🙏
Beri vote, like, dan komentar ya!!!
😊😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-sama Romantis
Karena tidak mendapatkan jawaban dari istrinya, David segera membalikkan tubuh Kayra agar menghadap ke arahnya. Dua ibu jarinya mengusap lembut jejak-jejak air mata Kayra.
Tatapan penuh penyesalan tergambar jelas dari sorot matanya yang sendu.
"Kamu mau kan memaafkan aku?" David mendekatkan wajahnya dengan wajah Kayra.
Kini jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja. Sungguh posisi seperti ini membuat jantung Kayra berdebar-debar.
Terakhir, dia merasakan hembusan napas suaminya sebelum dia melahirkan Kaysa.
"Mulai detik ini dan seterusnya, aku berjanji akan berubah menjadi suami dan ayah yang baik untuk Kaysa." David mengecup kening Kayra cukup lama.
Hati Kayra langsung menghangat diperlakukan seromantis ini. Tanpa disadari, dia mengangguk setuju. Bibirnya melengkung ke atas.
"Terima kasih, istriku." David dengan penuh semangat menghujani seluruh area wajah Kayra dengan bibirnya karena terlalu senang. Mulai dari kening, pipi kanan dan kiri, hidung, kedua mata, dan terakhir bibir Kayra.
Pipi Kayra langsung memerah. Dia tersipu malu. Namun, tiba-tiba dia mengingat kembali soal ide aneh saudarinya tadi. Senyumannya langsung pudar. Dia tidak mengerti dengan alur hidupnya.
"Oh Tuhan, kenapa di saat suamiku sadar, aku harus berpisah dan bahkan berkhianat darinya? Sepedih inikah jalan takdirku," batin Kayra menatap suaminya sendu.
"Sudah, jangan memasang wajah sedih lagi." David menghapus jejak-jejak air mata Kayra lagi. Terlukis senyuman indah dari bibirnya.
"Em, sebaiknya, kita makan siang dulu. Pasti istriku ini belum makan kan?" tanya David tersenyum geli.
Kayra tersenyum sambil mengangguk.
"Kamu mau makan apa?" tanya David tersenyum.
"Terserah Mas saja! Apapun yang Mas belikan, pasti aku terima dengan baik," jawab Kayra tersenyum.
"Ih, kamu ini dari dulu memang paling bisa menerima kekurangan dan kebodohanku." David kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Kayra gemas.
Hal itu kembali membuat hati Kayra menghangat. Namun, di balik itu ada kesedihan yang mendalam.
"Ya sudah. Aku pergi sebentar." David mengusap lembut pipi istrinya sebelum beranjak pergi.
Kayra tersenyum sedih menatap kepergian suaminya.
"Oh Tuhan, mampukah aku menjalani semua ini dengan ikhlas." Setetes air kembali mengalir dari matanya.
Kini Kayla dengan penuh semangatnya mengunjungi perusahaan milik Damar. Bibirnya tak henti-henti tersungging ke atas. Bayangan akan hadirnya sosok penyempurna dalam rumah tangganya selalu menghiasi hatinya.
"Semoga saja apa yang sedang aku rencanakan berhasil dengan baik. Aku yakin bahwa Engkau Maha Pengasih lagi Maha Mengabulkan," gumam Kayla lirih. Kaki jenjangnya terus menapaki lantai di dalam perusahaan. Sebentar lagi dia sampai di ruangan suaminya.
Langkahnya terhenti saat membaca papan plang bertuliskan ruangan direktur utama. Dengan segera tangan mungilnya mengetuk pintu ruangan suaminya.
"Masuklah! Tidak dikunci!" teriak suaminya dari dalam.
Tanpa menunggu lama, Kayla segera membuka pintunya. Terlihat sang suami tengah sibuk menatap benda persegi empat tipis seukuran layar televisi 14 inci.
"Mas," sapa Kayla menyunggingkan bibirnya.
"Hey kemari, Sayang!" panggil Damar tersenyum senang.
Kayla segera mendekati suaminya. Begitu jarak mereka sudah dekat, Damar segera menarik tangan istrinya agar duduk di pangkuannya.
"Eh, Mas!" Mata Kayra langsung melotot karena terkejut
"Tumben nggak ada angin, nggak ada hujan istriku ini menghampiri suaminya di kantor?" Damar memeluk erat istrinya. Mengecup pipinya berulang kali.
"Hehe, sebenarnya, aku ingin berbicara penting sama Mas," jelas Kayla menatap suaminya senang.
"Oh, bicaralah!" Damar kembali mengecupi pipi istrinya dengan gemas.
"Em, Mas masih ingat sama rencana terapi kehamilan waktu itu?" Kayla memulai rencananya dengan cara mengingatkan suaminya.
"Masih dong. Memangnya, kamu mau?" Damar meletakkan dagunya di bahu Kayla. Ketika berduaan dengan istrinya, Damar memang selalu manja seperti ini.
"Aku mau, Mas. Setelah dipikir-pikir, sepertinya aku memang harus menjalaninya agar kita segera diberikan momongan," jelas Kayla pura-pura sendu.
"Good. Kira-kira kapan mau memulainya?" tanya Damar masih terus bermanja-manjaan dengan istrinya.
"Niatnya sih, hari ini. Menurut Mas bagaimana?" tanya Kayra meminta persetujuan.
"Tentu Mas setuju. Semakin cepatkan semakin baik." Damar kembali mendaratkan bibirnya ke leher istrinya.
"Ih, apaan sih, Mas!" Kayla menyingkirkan kepala suaminya lembut.
"Ingat ini kantor! Jangan macam-macam deh! Nanti saja di rumah!" Kayla menasihati suaminya.
"Hehe, iya deh. Aku mana berani menentang nasihat terbaik istriku ini." Damar terkekeh.
"Masa sih?" goda Kayla tersenyum geli.
"Iya, dong. Selama istriku ini memberikan arahan yang baik. Tentu, aku akan menurutinya," jelas Damar terkekeh.
"Syukurlah, aku bahagia sekali memiliki suami seperti kamu, Mas." Kayla mengecup pipi suaminya sekilas.
"Aku pun sama. Aku sangat beruntung memiliki istri pintar dan seaktif kamu sayang. Sungguh, kehadiranmu memberikan warna yang cerah dalam hidupku." Damar semakin mengeratkan pelukannya.
Dipeluk sangat erat membuat Kayla sesak.
"Mas, meluknya jangan erat-erat dong! Bisa-bisa istrimu ini kehabisan napas nanti," jelas Kayla kesulitan bernapas.
"Ups, maaf! Aku terlalu bersemangat!" Damar mengendurkan rangkulannya.
Di tempat lain, sepasang suami istri tak kalah romantisnya menikmati kebersamaan mereka. Dengan telaten, David menyuapi istrinya. Dia benar-benar ingin berubah menjadi suami yang baik, penyayang, dan penuh perhatian terhadap istrinya.
"Mas, aku sudah kenyang sekali. Sekarang gantian aku yang akan menyuapimu," ucap Kayra tersenyum.
"Hisk, mana ada kamu sudah kenyang. Baru saja aku menyuapimu sebanyak lima kali." David kembali menyodorkan sesuap makanan ke bibir istrinya sambil tersenyum.
"Ih, serius, Mas. Aku sudah kenyang sekali," tolak Kayra karena benar-benar merasa sudah kenyang.
"Coba deh kamu lihat! Makanan ini belum kurang separuhnya. Jadi, mana mungkin kamu sudah kenyang. Ayo pokoknya kamu harus makan lagi biar gemuk!" David memaksa istrinya sambil tersenyum.
"Serius, Mas. Sungguh, aku sudah kenyang. Aku tidak terbiasa makan banyak," tolak Kayra meyakinkan suaminya.
"Ups, baiklah." David menyerah. Wajahnya langsung sedih kembali. Dia yakin kalau istrinya ini sudah terbiasa menahan lapar dan hanya mengganjal perutnya dengan sedikit makanan.
"Loh, kok, Mas malah sedih sih?" tanya Kayra bingung.
"Mas, sedih melihat makanmu terlalu sedikit. Ini pasti karena ketidakpedulian Mas sama kamu. Sehingga, kamu memporsir kebutuhanmu untuk menjamin kebutuhan Mas," jelas David sendu.
"Sudahlah, Mas. Tidak usah mengungkit masa lalu lagi. Yang terpenting sekarang Mas sudah berubah menjadi sosok suami impianku," jelas Kayra tersenyum.
"Terima kasih, Ra. Kamu memang hadiah terindah yang Allah berikan kepadaku." David tersenyum sambil mengusap wajah istrinya lembut.
"Iya, Mas." Kayra meraih tangan suaminya. Lalu, mengecupnya lembut.
Sungguh hal itu membuat David sangat bahagia dan dipenuhi rasa syukur. Ternyata, pilihan kedua orangtuanya tidak pernah salah. Kayra memang sosok istri tersempurna untuknya.
"Ya sudah. Sekarang gantian aku yang akan menyuapi Mas." Kayra tersenyum sambil membuka kotak nasi yang masih baru.