Di Indonesia mendadak muncul sebuah gerbang yang ternyata di dalamnya terdapat banyak monster khayalan orang-orang, namun kini mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan seorang remaja bernama Satriaji menjadi salah satu seorang yang mendapatkan kekuatan untuk melawan para monster yang ada, di sisi lain ia mendapatkan kenyataan yang pahit tentang sahabat masa kecilnya yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung.. apa itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Bayangan Menyerang
"kita akan mela--"
"Ya bagaimana kabar kalian ?!" Seseorang membanting pintu sebelum Satriaji menyelesaikan perkataannya. Refleks lelaki ini melemparkan pisau padanya sehingga hampir saja bilah itu mengenai wajahnya Reay, jika Vlad tidak menggunakan tangannya untuk menangkap apa yang dilempar olehnya barusan.
Melihat raut wajah ketakutan ketiganya Satriaji keheranan. Tetapi, ia menyadari penyebab dari itu semua segera mencabut pedangnya dan melesat keluar dari pintu keluar penginapan menusuk Shadow memakai bilah api, meskipun begitu mahkluk atau monster tingkat atas ini hanya menatapnya.
"Cih! Teleport!" Kata Satriaji mengaktifkan sihir perpindahan. Keduanya lenyap ditelan partikel biru, berpindah tempat ke langit dia menendangnya jauh-jauh menyingkirkannya dari depan mata dan melakukan serangan melepaskan kilatan petir hitam dari ujung pedang. Setelah menerima luka cukup dalam, mahkluk ini hanya diam.
Keduanya jatuh ke tanah. Menghasilkan tanah hancur, seolah-olah ada benda jatuh yang amat besar. Tanpa menunggu. Satriaji keluar dari gumpalan debu, menebas leher Shadow sehingga kepalanya terpisah dengan tubuh tetapi tangannya terangkat dan memukul lawan melemparnya cukup jauh ke belakang.
Dalam sekejap Satriaji menghilang. Mendadak ia berada di belakang Shadow hendak menebas, hanya saja lawannya selangkah lebih maju darinya dan menggunakan sihir angin melemparnya lagi jauh ke belakang. Merasa cukup kesal. Sesudah bangun Satriaji membentangkan kedua tangannya, keluar banyak bola api di sekitarnya bersiap untuk lepas.
Sekumpulan bola api itu terpelesat, mengenai Shadow terkena serangan beruntun bagai menerima puluhan rudal sekaligus mahkluk itupun tetap bisa berdiri walaupun tubuhnya hampir hancur. Mengambil kesempatan Satriaji menarik batu sihir, mengisinya dengan energi sihir dan melemparkannya dalam jumlah banyak. Ledakan bisa berderet-deret terdengar.
Namun itu percuma saja sebab Shadow keluar dari api yang membakar, setelah dia melihat lawannya ia segera berlari menuju arahnya dengan cepat bagai panah lepas dari busur. Sebelum terkena pukulan Satriaji duluan memotong kedua tangan musuhnya. Meskipun begitu.. lagi dan lagi, lengannya tubuh kembali selepas itu mendaratkan pukulan.
Satriaji muntah darah. Kali ini lawannya tidak melemparkannya, melainkan memukulnya di tempat tidak membiarkannya pergi.
"Heh.. jangan sombong!" Teriaknya dari belakang Shadow. Sontak Shadow kaget dan menoleh ke belakang, menerima sebuah tendangan melayang mengenai wajahnya lalu melanjutkannya dengan cabikkan pedang yang terus menerus tanpa memberikannya celah untuk membela diri.
"Roarr!"
"Ugh!" Tangannya berhenti menyerang sehingga Shadow tak melepaskan kesempatan dan menggunakan sihir kegelapan. Menusuknya dengan tombak hitam. Remaja laki-laki ini membuka matanya lebar, dia tiba-tiba menghilang dan muncul di atas lawan membelahnya jadi dua.
"Regenerasi lagi.. ini merepotkan!"
"Manusia!" Teriaknya membuka mulut mengeluarkan pancaran cahaya serupa laser melelehkan pelindung bahu Satriaji. Karena telah meleleh dan hancur, Satriaji melepaskannya segera lari menjaga jarak dari musuhnya memutuskan melemparkan pedangnya ke langit dan menghentakkan kaki ke tanah.
Sejumlah duri raksasa dikeluarkan tanah menjepit Shadow mengapitnya diantara dua duri itu dan terkatup menutupnya rapat-rapat, sebelum pedangnya mencapai awan. Dia mengangkat sebelah tangan kiri, petir hitam keluar dari telapak tangannya membentuk belasan tombak petir melayang di sekitarnya.
Mendadak Shadow menghancurkan tanah yang menjepitnya, sesaat setelahnya Satriaji meraih pedangnya bergerak cepat muncul depan wajahnya dan memotong kedua tangan musuhnya. Sama seperti bagaimana ia bergerak, saat pergi juga penglihatan musuhnya tak sanggup mengimbangi gerakannya.
Para tombak terlepas, hampir mengenai seluruh tubuhnya malah ditangkis oleh kedua tangan yang usai beregenerasi kembali.
"Inilah alasan aku membencimu," ujarnya seraya melemparkan pedangnya ke langit. Bukan sekadar melemparkan senjata tanpa maksud, ia mengharapkan kalau Vlad atau rekannya tidak jauh dari sini dan berharap setelah melihat pedangnya akan datang ke tempatnya. Sudah berulang kali saat Satriaji melemparkan pedangnya semacam itu, mereka pasti datang.
"Seenggaknya akan ku ladeni kau.."
"Manusia.. manusia.."
"Kalian sebegitunya benci pada kami ? Ya kupikir perwujudan kebencian sepertimu wajar saja," kata Satriaji melemparkan senyum. Senyuman itu memancing Shadow untuk menyerang, tangannya berubah bentuk menjadi pedang hendak menusuk kepala Satriaji tapi lawannya bukan seorang pemula.
Banyak sekali tebasan yang dihindari. Tetapi meskipun serangannya mudah ditebak, kecepatannya yang dianggap sangat berbahaya apalagi mahkluk yang ditenagai oleh kebencian pasti takkan mudah dikalahkan.
Shadow ialah sebuah mahkluk yang tercipta karena kebencian suatu mahkluk, mereka akan muncul atau semakin kuat jikalau berada di mana kebencian itu terkumpul contohnya negara atau tempat dimana rakyat membenci pemimpin yang buruk. Bukan pertama kalinya Satriaji berhadapan dengan mahkluk semacam ini.
"Bolide!" Teriak seseorang dari jauh. Meteor besar muncul dari langit, ukiran sebesar rumah membuat Satriaji tak habis pikir dan berpindah tempat menggunakan teleport lagi. Dia berpindah tempat ke sisi orang yang melakukan serangan tersebut, seorang gadis elf yang jadi budaknya.
"Kalian lama.." keluh Satriaji menemukan sekumpulan orang membawa senjata serta perlengkapan mereka. Tak heran lagi. Mahkluk seperti Shadow memiliki kecerdasan setara dengan manusia, terlebih lagi kekuatan sihir dan kapasitas energi yang begitu besar membuatnya sangat sulit dikalahkan.
"Untung kau melemparkan pedangmu seperti biasa, syukurlah.."
"Ya Vlad, tidak ada waktu untuk bicara karena serangan semacam itu takkan mampu membuatnya mati.."
"Aku paham Reay, jadi.. apa kau punya rencana ?
"Tidak.. tapi mungkin Satriaji punya ? Walaupun kami sangat membenci caramu membunuh, untuk mahkluk yang sulit dihabisi sebaiknya kita menurutimu saja."
"Jadi bagaimana ?" Toleh Avily pada tuannya. Tidak merespon apapun, Satriaji malah melemparkan sebuah batu kecil ke atas langit dan selepas jatuh ke tanah para penyihir di barisan belakang membuat tombak petir, mereka melemparkannya bersamaan pada musuh.
"Heh ?"
"Telepati.. mahkluk itu bisa paham apa yang kita ucapkan!" Satriaji berkata sambil berlari mendekati monster itu bersama beberapa orang. Pemburu tingkat tinggi berada di sekitarnya, merasa lega akan hak itu Satriaji tak perlu takut kalah untuk menghadapinya sekarang.
"Tunggu sampai hujan tombak itu berhenti dan kita akan menggunakan BilahAngin untuk mencabik-cabiknya, setelah itu.. sebaiknya kalian menggunakan teknik terbaik kalian untuk mengakhirinya!" Instruksi Satriaji pada mereka yang menerima telepati darinya. Seluruh orang yang mendengar mengangguk.
Beberapa detik kemudian, hujan TombakPetir berhenti lalu semua yang memakai pedang menggunakan BilahAngin membuat Shadow terdorong dari tempatnya berdiri, ada juga yang merobek kulitnya sampai ia tidak bisa menggerakkan jarinya sedikitpun.
"Semuanya! Gunakan serangan jarak jauh terbaik kepunyaan kalian!" Teriak Avily dari belakang. Semua orang melakukan apa yang dikatakannya, dari semua serangan yang ada malah dirinya menggunakan sesuatu hal mengerikan. Sebuah api kecil sebesar kepalan tangan muncul.
Serentak mereka tercengang melihat api putih melayang di atas telapak tangannya, setelah mengucapkan beberapa kata Avily melempar bola api itu dan mengenai Shadow sampai membuatnya menjerit kesakitan. Dan disusul serangan lainnya, mahkluk itu semakin mengeraskan teriakannya akibat semua rasa sakit serta luka yang diterima olehnya secara bersamaan.
tapi, yang aku tahu disini sepertinya monster di dalam gerbang tidak bersalah kan? mungkin hanya zombie yang menyerang saja
yang mulai menyerang duluan juga manusia dari bumi, apakah ada kesalahan dalam mengartikan TULISAN DI PINTU itu?
lalu, kata "Sebaiknya jangan terlalu memikirkan mengapa aku tak mau satu kelompok denganmu"
apakah ia akan meminum darah dari hewan yang ia buru?