NovelToon NovelToon
Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ammi Pooja

Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.

Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.

Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.

Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wawancara Eksklusif

Pagi ini rintik gerimis air dari langit membasahi bumi. Awan kelabu bergelayut manja di langit. Kusibak tirai, manik netra ini mulai mengintip ke arah ufuk timur melalui jendela kaca yang berada di kamar tidur.

"Ah, masih saja mendung," dengusku.

Padahal hari ini aku ada janji temu dengan para tokoh di 'Penggoda Dalam Rumah'. Kulirik penunjuk waktu yang berbentuk bulat menggantung di dinding. Dua jam lagi acara itu akan dimulai, itu artinya aku masih punya waktu satu setengah jam untuk bersiap menuju ke sebuah kafe yang telah menjadi tempat janji temu.

Baiklah, aku harus segera mandi dan bersiap-siap. Dari semalam sudah aku siapkan baju khusus yang akan aku pakai hari ini. Sebagai author, aku tidak mau kalah cantik dengan Bu Hera. Dia yang sudah berkepala empat saja masih cantik semlohai, jadi aku tak boleh kalah.

Kupandangi bayangan dalam cermin. Sudah lima belas menit diriku mematut di depan kaca rias, kemudian bertanya, "Wahai cermin ajaib, siapakah wanita yang paling cantik?"

Aku berharap tuh cermin menjawab, "Jelas Author Ammi Poo ratu dari Punjab yang paling cantik."

Tapi aku tunggu-tunggu, kok, tuh cermin diam saja, ya? Sepertinya aku butuh halusinasi tingkat dewa, nih!

Ya, sudahlah. Waktu di pergelangan tangan sudah memintaku segera bergegas. Kali ini aku kenakan salwar kameez berwarna tosca dan dupatta berwarna krem dengan hiasan bordir bunga di setiap ujungnya.

Eh, ada yang paham dengan nama pakaian yang aku kenakan nggak? Salwar kameez itu gamis dengan setelan celana, sedangkan dupatta itu selendang panjang yang dipakai untuk kerudung. Jadi, sudah tahu, kan, sekarang?

Baiklah, aku harus cepat-cepat pergi. Kupacu bebek besi berwarna ungu, melaju dengan kecepatan sedang. Meski terburu-buru, keselamatan adalah nomor satu.

Dengan semangat empat lima yang menggebu, kuayun kaki memasuki kafe. Hampir saja aku bersorak ketika netra ini melihat sosok Mas Danu. Ternyata ... ternyata ... ternyata dia guanteng buanget ....

Tiba di hadapan Mas Danu dan Arini, aku menjadi terpegun. Terpesona dengan ketampanan dia. Wajahnya bersih, kulit dia beneran putih. Aku saja kalah. Apalagi hidungnya yang bangir, duuh ... bikin ngiri aja. Aku raba hidungku yang minimalis. Ah, seandainya ....

Kibasan tangan Arini membuyarkan lamunanku. Sepertinya ia tahu kalau aku mengagumi suaminya.

"Eh, maaf, Mbak Arini. Aku baru lihat wajah Mas Danu, jadi rada kaget. Ternyata beneran ganteng, ya?"

"Kamu ini gimana, thor? Dengan tokoh sendiri saja sampai segitunya."

"Ya, maaf, Mbak. Author, kan, juga punya rasa."

"Rasa apa?"

"Rasa ingin makan Mas Danu, ups!" Kututup mulutku yang keceplosan. Wah, bakalan dikira aku kayak Bu Hera, nih!

"Awas saja kalau kamu berani!" ancam Arini dengan wajah bersungut-sungut.

"Hahaha ... bercanda, Mbak."

Netraku kembali menatap Mas Danu yang tetiba wajahnya pias. "Kenalin Mas, aku ...."

"Udah tahu! Kamu author yang katanya ratu punjab itu, kan?"

"Iih ... Mas Danu, kok, tempe?"

"Tahu!" seru Mas Danu dan Arini serempak.

"Kalian kenapa, sih, kok sewot? Nggak ada hormatnya dengan pencipta takdir kalian," gerutuku sembari menghempas tulang duduk di kursi.

"Habisnya, kamu jadi author nyebelin! Nggak nyadar apa kalau kamu itu sudah bikin emosi banyak orang. Sampai disumpahin sama seseakun agar rumah tangga author dimasukin orang macam Bu Hera, biar authornya tahu rasa!"

"Hahaha ... iya, bener, Mbak. Katanya saking kasihannya Mas Danu dengan Mbak Arini yang nasibnya dibuat seperti itu. Sungguh terlalu aku ini, hiks .... hiks ... hiks ...."

"Eh, aku terlambat, ya?" Tiba-tiba ada suara seksi terdengar dari belakangku. Segera kuputar kepala untuk melihat siapa dia.

Oho! Ternyata dia si nenek semlohai. Ya, Tuhan ... dia beneran montok dan cantik. Mirip penyanyi dangdut Pamela Safitri. Beda banget dengan Arini, anaknya.

Pandanganku kini silih berganti menatap dua wanita berbeda generasi dan juga body. Wajah Arini hampir mirip dengan artis Titi Kamal, istri dari Christian Sugiyono. Wajah yang anggun dan bersahaja. Bentuk tubuh yang tinggi semampai dan proporsional.

Pancaran aura yang berbeda juga begitu kentara. Bu Hera dengan pancaran wajah sensual dan bibir yang berisi, sedangkan Arini begitu tenang dan tak banyak bicara.

"Bu Hera datang sendirian?" tanyaku sembari mengedarkan pandangan ke luar menembus kaca kafe.

"Iya, Bobby nanti nyusul katanya."

"Ooh ... ya, sudah. Kalau begitu kita mulai wawancara eksklusif ini, ya?"

Tanpa menunggu jawaban, aku langsung memasang kamera. Bukan kamera milik Bu Hera yang dipakai untuk menjebak Danu, ya ....

"Baiklah, pertama mau tanya ke Mas Danu dulu. Sebagai tokoh utama kenapa Mas Danu terkesan lemah dan  ...." Tak aku teruskan ucapanku, sepertinya harus aku ganti dengan kata-kata lain.

"Dan apa? Kalau tanya yang jelas."

"Itu, Mas ... kenapa Mas Danu kesannya lemah dan kurang ...."

Ah, gimana bilangnya, ya? Kalau aku bilang lemot mikir, salah. Kalau aku bilang kurang pinter, makin salah.

"Kamu itu sebenarnya bisa nggak wawancara, Thor?" Mas Danu rupanya mulai naik pitam.

"Itu, Mas. Kata para komentator, Mas Danu itu cakep tapi lemot mikirnya. Benar itu, Mas?"

"Nggak benar itu, aku bukan lemot mikir. Hanya saja, aku perlu mempertimbangkan banyak hal. Nggak mau terburu-buru memutuskan sesuatu."

"Kalau suka ember, bener, Mas?" kejarku.

"Salah juga. Aku bukan ember, hanya keceplosan." Sepertinya Mas Danu mencoba membela diri.

"Haish! Keceplosan kamu bilang," gerutu Arini dengan wajah sebal.

"Iya, Dek. Mas itu serius keceplosan."

"Oke, baiklah. Masalah keceplosan atau tidak hanya author yang tahu." Aku mencoba menghentikan perselisihan yang sepertinya akan tercipta.

"Kalau sudah tahu kenapa tanya?" Lagi-lagi Arini dengan Mas Danu kompakan.

"Tenang, kalian nggak usah ngegas. Baik kita lanjutkan lagi. Sekarang aku mau tanya ke Bu Hera aja, ah!"

"Kenapa nggak aku dulu?" protes Arini.

"Mbak Arini sabar dulu. Aku lebih penasaran dengan Bu Hera yang cantik ini." Kualihkan pandanganku ke arah Bu Hera. Ia menyambut senyumku dengan netra berbinar.

"Jelas donk ... meski usia makin tua, tapi tetap harus tampil cantik dan menawan. Apalagi di depan suami, betul tak?" Netra genit Bu Hera mulai bermain mengerling nakal.

"Iya, bener banget itu, Bu Hera. Apalagi laki-laki sekarang lebih suka yang montok."

"Eh, Thor. Kok, kamu jadi memihak ibuku, sih?" Lagi-lagi Arini komplain, sepertinya ia iri dengan body bohay milik ibunya.

"Bukan gitu, Mbak. Kalau Mbak Arini protes terus, kapan kita wawancaranya, nih?"

"Iya, Sayang. Biarkan Author wawancara Ibu dulu." Mas Danu mencoba menenangkan Arini yang entah kenapa hari ini ia sewot sekali.

"Baiklah, Bu Hera. Pertanyaanku kali ini mewakili para readers yang bertanya-tanya, kenapa Bu Hera suka dengan menantu sendiri?"

"Sebenarnya aku tidak ingin merusak rumah tangga anakku. Tapi kamu bisa lihat, pesona ketampanan Danu susah untuk ditolak."

Aku menatap kembali wajah Mas Danu. "Iya, sih. Dia memang ganteng ... bibirnya Mas Danu juga seksi ... dan ...."

"Cukup, Thor! Nggak ada wawancara saja kalau seperti ini!" Teriak Arini sembari berdiri dan menyeret Mas Danu. Aku tersentak dari rasa kagumku.

"Eh, kalian mau kemana? Sudah selesai acaranya?" Tetiba suara berat itu menghalangi kepergian Arini yang menyeret paksa Mas Danu.

"Bang Bobby, ya?" tanyaku memastikan.

"Iya, ini Author yang nulis Penggoda Dalam Gudang, ya?"

"Hish! Kau ini, Bang."

"Hahaha ... becanda aku, Neng Author." Tangan Bang Bobby mencubit hidungku yang mungil, membuat aku malu-malu.

"Neng Author nggak balik ke Lahore?"

"Nggaklah, Bang. Enakan di sini, nulis cerita tentang kalian. Tiap hari bisa baca komentar lucu-lucu, bisa ketawa dan juga sedih kalau pas nemu ada yang nyumpahin aku."

"Disumpahin jadi nenek semlohai mau?" tanya Bobby meledekku.

"Bobby! Jangan pernah kamu bilang aku nenek semlohai! Dulu waktu kamu nikahi aku, aku belum jadi nenek-nenek!" sahut Bu Hera penuh emosi.

"Itu kan, dulu. Sekarang udah jadi nenek-nenek. Nanti kalau Arini hamil terus punya anak, kamu bakalan dipanggil nenek juga. Hahaha ...."

"Apaan, sih, kamu!" sungut Bu Hera dengan mencebik.

"Memangnya dulu usia berapa waktu menikah dengan Bang Bobby?" tanyaku penasaran.

"Waktu itu usiaku tiga puluh dua dan dia masih dua puluh satu tahun," jelas Bu Hera sembari tangannya mengibaskan kipas kayu cendana.

"Wah, dapat berondong, ya, ceritanya?" Pantas saja Bang Bobby mau, saat itu kan Bu Hera masih dalam kategori belum tua, baru juga kepala tiga.

Tapi ... sekarang dia masih mau nggak, ya, dengan Bu Hera? Secara, Bu Hera sekarang sudah lebih dari empat puluh tahun. Kalau dihitung, Bang Bobby usianya sekitar tiga puluh lima tahun, masih kelihatan muda dan terawat. Maklum, orang tajir.

"Yang bikin Bang Bobby suka dari Bu Hera apa?"

"Geolannya asoy geboy mantap ...." seru Bang Bobby dengan tawa terbahak-bahak, apalagi ketika Bu Hera memukulinya dengan kipas.

"Iish ... Ayah mertua ini tak ada malunya," sindir Danu yang sedari tadi mengunci bibir.

"Satu lagi, nih. Aku masih penasaran bagaimana Niko bisa ada dalam asuhan Bang Bobby? Terus, ketemu Niko pas usia berapa, Bang?"

"Sebenarnya aku ketemu Niko waktu dia masih usia lima belas tahun, hanya saja Hera menyembunyikan dari aku. Baru aku ambil dari panti asuhan setelah usia tujuh belas tahun, saat Hera ninggalin aku. Sengaja, biar dia sekalian ngerasa kehilangan anak." Ada kecewa tersirat di sudut netranya.

"Tapi Bang Bobby baik, mau ngerawat Niko yang bukan anak sendiri."

"Aku hanya kasihan dengan anak itu, dia korban keegoisan dari ibunya."

"Lagi! Terus saja nyalahin aku!" Kembali Bu Hera meninggikan suara.

"Aku hanya bicara fakta. Kita menikah hampir enam tahun dan kamu pergi begitu saja. Bayangkan, sudah berapa lama aku berusaha menghubungimu, memintamu untuk kembali? Hampir tujuh tahun aku bersabar menanti kamu kembali."

"Kalau kamu masih miskin, ogah aku balik!" ketus Bu Hera.

"Eh, emangnya Bang Bobby masih mau balikan dengan Bu Hera? Kan, dia sekarang udah jadi nenek semlohai?" sahutku penasaran.

"Thor! Jangan pernah bilang aku nenek semlohai!" Bu Hera dengan nada keras komplain.

Ups, kayaknya aku salah ngomong, deh! Keceplosan!

"Halah, sekarang sudah jadi nenek-nenek saja masih kegatelan ngerayu menantu sendiri!" serang Arini yang ternyata tidak jadi pergi.

"Bukan aku yang kegatelan, tapi mata suami kamu tuh yang jelalatan!" seru Bu Hera tak mau kalah.

"Siapa yang jelalatan? Coba kalau ibu pakai bajunya bener, pasti mataku nggak akan tercemar!" timpal Danu.

"Memangnya aku ini polutan!"

"Bukan, tapi kamu multan!" Arini dengan emosi masih saja menyerang dengan ucapan sadisnya.

Adu mulut tak terelakkan. Mereka bertiga saling serang dengan ucapan yang membabi buta. **** nggak buta aja kalau jalan kadang nabrak, apalagi ini **** buta. Entahlah ....

Kunikmati adegan mereka sembari minum kopi late dengan genggaman tangan dari seorang Bang Bobby, pemuda tampan nan tajir.

Tak apa gagal wawancara. Dibalik kegagalan ada Bang Bobby yang bersedia meminjamkan bahu untuk aku bersandar dan bergelayut manja.

1
Surati
bagus
Cis Siu
yey
Sri Wahyuni
👍👍👍👍🌹🌹🌹💪💪💪😘😘😘
Soraya
kmu hrus jujur sm istri danu klo km gak mau rumah tangga kmu berantakan
Soraya
mampir thor
Ibuk Kumaiyah
Luar biasa
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor
Kistinnisa nisa
Danu kapan terbukanya sama arini kl disimpen sendiri terbuka dong kan jadi bikin sakit hati sendiri kl bener arini selingkuh kl ga bener waduh ngamuk ga tuh arini
Kistinnisa nisa
ngakak aku thor kenapa ga dari kemaren2 aja tuh ibu mertua nyium danu wkwkwkwkwk tersadar karena bibir ibu mertua
Atmita Gajiwi
😁😆😍
linay
ngakak aku. 😂😂🤣
linay
si danu mulut sm otaknya perlu di servis... 😅
rika mayanti
auto sadar lngsung ya nu,,takut disosor...Oalah nek2,,,msh z nyari kesempatan..punya mertua gitu lngsung kena sawan mantu cucu ny..
rika mayanti
Arini kok Yo goblok men to Yo. Danu ayo tegas....
MACA
semoga iman dan iminnya mas danu kuaattt💪
MACA
astogeh...ini ibu kandung rasa pelakor
Halis Imuh
jgn sampai Danu tergoda aplg sielingkah sm wNit aular itu thor aku ga relaaa
Ra_ca
Baru datang, ingin ku baca terus, mak
Ra_ca
Karya kak Ammi. otw maraton baca 😍😍
Vanny Kaunang
lucunya Danu hahahahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!