Ini adalah kisahku dalam menunggu cinta pemuda yang kata peramal keluarga adalah keturunan ksatria.
Pemuda yang katanya menguasai ilmu-ilmu Jawa yang sudah tua umurnya.
Pemuda yang membuatku takut akan terkena mantra peletnya saat berjumpa pertama kali dengannya.
Pemuda yang banyak pacarnya, yang untuk mendapatkannya aku harus antri dan berebut dengan wanita lainya.
Namaku Selia, wanita yang terjebak cinta paranormal muda tapi tidak diceritakan dalam petualangan asmaranya.
Kan kam*pret namanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 23
Ara meninggalkanku di tempat Al akan menjemputku, aku berdiri dekat dengan Wulan yang juga menunggu jemputannya datang.
"Nunggu siapa, Sel?" Tanya Wulan acuh tak acuh.
Dia memang tak ramah, juga tak punya banyak teman wanita di kampus. Tidak bersosialisasi, jadi jika bertegur sapa pun hanya seperlunya saja. Walaupun kami sering mengambil mata kuliah yang sama, tapi aku tidak pernah dekat dengannya.
"Tumben kamu ingin tau urusan orang. Anggep saja apa yang sedang kulakukan nggak jauh beda dengan kamu," jawabku santai.
Sedikit ganjil sih, Wulan bukan orang yang peduli dengan lingkungan. Hidupnya di kampus hanya soal pendidikan, setelah selesai langsung menghilang.
Dia tidak sedikitpun memberi kesempatan cowok di kampus ini untuk mendekatinya, dia tidak tersentuh. Dan hal itulah yang membuat daftar panjang orang bodoh yang mau bertaruh untuk mendapatkannya. Ya selain mereka penasaran, tentu saja karena dia cantik, ramping dan punya mata indah.
Berarti aku menganggap Al orang bodoh juga karena ikut penasaran dengan Wulan? Whatever.
"Akhir-akhir ini aku lihat kamu dekat sekali dengan Ara, apa itu karena kakaknya?"
Nah kan, sejak kapan juga dia mengamatiku? Apa dia juga pemuja rahasia kakak Ara? Dia kan udah punya pacar, tapi mendadak tanya hubungan antara aku dan kakak Ara. Dia jelas menyimpan sesuatu dalam kepalanya.
"Begitulah…" jawabku singkat, tak mengelak tapi juga tidak ingin bicara panjang memberikan penjelasan.
"Dia brengsek, Selia. Aku merasa ada yang aneh dengannya. Tiba-tiba aku merasa seperti di… aku duluan, jemputanku sudah datang. Bye." Wulan memutus kalimatnya dan tergesa menghampiri mobil yang menjemputnya, seolah takut kalau drivernya menunggu terlalu lama.
'Di... apa Wulan?' Aku tertegun memikirkan perkataan Wulan. Di pelet kah? Tiba-tiba saja kata itu terbesit di kepalaku. Tentu saja pradugaku didasari karena Al ada hati dengan Wulan. Meski naluriku mengatakan Al tidak mungkin memantrai Wulan.
Aku melihat kepergian Wulan dengan penuh tanya, beradu pandang sekilas dengan penjemputnya saat Wulan membuka pintu mobil. Orang yang sama setiap harinya, pria yang tergolong tampan. Mapan.
Tak lama Al juga datang, tapi dia tidak seperti pacar Wulan yang selalu memasang wajah dingin seperti orang sedang bosan. Al sebaliknya, dia ramah meskipun terlihat pendiam.
Dia menyambutku dengan senyum menawannya yang selalu menyenangkan, "Ara udah pulang duluan?"
"Ada janji sama Yudha katanya."
"Anak itu… susah dibilangin, bikin khawatir!"
"Ara sudah besar, Al. Lagian dia juga bisa jaga diri kok dari keganasan Yudha."
"Darimana kamu tau?"
"Dia kan cerita detail pacarannya ngapain aja."
"Ngapain aja?"
Hah? Ini kakak over protective banget sama adik perempuannya. Sampai gaya pacaran Ara dia ingin tau. Berlebihan. Keterlaluan.
"Eeeee… ya nggak jauh beda sama kita."
"Oh…" Datar saja ternyata tanggapannya.
"Kamu takut banget Ara kenapa-kenapa."
"Dia kan perempuan."
"Aku juga perempuan."
"Tapi aku nggak over protective sama kamu, iyakan?"
"..." Aku kan jadi bingung harus bilang apa kalau begini. Dia sudah mendahului apa yang ingin aku tanyakan.
"Kamu sama Ara itu beda posisi, Beb. Ara itu pacaran dengan orang lain, dengan teman yang aku kenal kurang baik pergaulannya. Wajar kalau aku khawatir.
Aku bukan sok suci, tapi aku kalau mau nakal sama cewek itu mikir dulu. Aku punya adik perempuan, aku nggak mau lah Ara buat mainan atau menerima karma dari kelakuan bejatku. Aku memang tak pernah serius, tapi dengan begitu mereka aman dari jangkauanku.
Hubungan kamu keluar kan cuma teman, ngapain aku harus protect berlebihan. Kan aku udah bilang kalau aku percaya sama kamu," ungkapnya panjang yang diakhiri dengan kedipan sebelah mata.
"Apa artinya kamu juga sayang sama aku seperti kamu sayang sama Ara?"
"Iyalah."
"Sama Risa juga sayang?"
"Iya."
"Lucia?"
"Iya."
"Wulan?"
"Nggak… itu beda. Itu bukan sayang."
"Cinta?"
"..." Al nggak mau jawab. Sial.
"Kamu cuma sayang sama aku? Nggak cinta?"
"..." Diem lagi dia. Brengsek.
Ok, bocoran dari Ara sepertinya tidak salah. Cintanya terbagi dua, ngaku nggak lo..!!??
Dari wajahnya yang datar dia ingin segera menghindari percakapan ini, jadi akupun menyudahinya. Dia tidak harus menjawab, apalagi karena terpaksa. Dari awal kan memang aku yang mengejarnya.
Kalau jodoh nggak akan kemana…!
"Kayaknya aku ingin pulang mandi dulu deh, Al! Gerah, bau asem juga. Nanti bikin kamu malu," kataku jujur.
Nggak lucu dong makan malam romantis aku masih pakai setelan kuliah yang udah kusut plus kena keringat. Lagian ini baru jam empat sore.
"Iya, aku anter kamu pulang trus nanti abis magrib aku jemput lagi ya! Aku juga mau ada perlu sebentar."
"Ok, kamu nggak marah kan? Maaf ya kalau pertanyaanku tadi nggak logis."
"Iya, lagian mana bisa aku marah sama kamu!"
Ehh… ini pujian apa hinaan?
"Al… please! Siapapun berhak marah jika ada yang menyinggungnya."
Dia menepi di depan rumah dan membantu melepaskan safety belt seperti biasanya. "Salam buat Ibunda, nanti malam aja aku mampir dan aku memang nggak marah, ok?"
Aku turun dan melambaikan tangan padanya, berjalan cepat ke rumah setelah melirik jam tangan yang menunjukkan pukul setengah lima.
Ibunda memperhatikanku dengan seksama sejak aku pulang dan aku memang hanya menyapanya sebentar. Aku langsung mempersiapkan rempah mandi favoritku, aku ingin seluruh kulitku berbau wangi.
Aku sedang memulas make up tipis saat Ibunda masuk ke kamarku dengan heran. Beliau tidak langsung bertanya, tapi membantuku menata rambut panjangku. Aku ingin tampil cantik natural untuk Al.
"Diajeng mau ada acara sama Kangmas?"
"..." Aku menunduk malu, Ibunda mendukung hubunganku dengan kakak Ara itu. Beliau sangat menyukai Al lebih dari siapapun yang pernah coba-coba mendekatiku.
Yakin… Ibunda sudah pasti kena pelet juga, pikirku iseng.
"Kenapa nggak pakai yang warna magenta, Diajeng?" Aku memilih warna biru muda untuk keluar malam ini.
"Terlalu seksi, Bu. Selia malu kalau terlihat menggoda," keluhku. "Lagian ini cuma makan malam biasa."
Sebenarnya aku menyukai pilihan ibunda, tapi masalahnya itu tidak menyembunyikan lekuk tubuhku bagian atas. Aku tidak mau Al melihat dadaku dengan mata lapar.
Ibunda mengangguk memahami alasanku, Beliau keluar kamar setelah memastikan kalau semua dandananku sudah benar.
Tak lama Al datang menjemput, dan seperti biasa dia selalu pandai mengambil hati Ibunda dengan membawakan makanan kesukaannya.
Kami berpamitan dan langsung berangkat.
"Kamu wangi sekali, Beb!" Pujinya seraya mengambil tanganku dan memberikan kecupan singkatnya. "Bikin gimana gitu…"
Al, ketawamu terdengar mesum sekali…!
"Ketumpahan parfum tadi."
"Baunya enak banget, merusak konsentrasi. Beneran ini, Beb!"
"Maksudnya?"
"Jangan pakai parfum ini lagi, Beb!"
"Ini bukan parfum, Al. Ini rempah mandi, dan menempel di kulit dalam beberapa jam wanginya. Aku sangat menyukai baunya, menenangkan." Protesku lembut. "Aku tidak akan memakainya untuk acara dating berikutnya kalau kamu kurang nyaman dengan baunya."
Dia menepi di pinggir jalan dan memandangi wajahku lekat-lekat. "Pakai setiap hari untukku, tapi di masa depan… just forget that!"
"Kamu bikin aku bingung, lagian inikan cuma masalah bau-bauan."
Tuh kan, dia ini bukan orang yang pandai menjelaskan sesuatu dengan kata-kata. Dia mendekat dan membuat dahi kami bersentuhan, dan matanya itu sudah tidak mau lepas dari bibirku.
"Aku nggak mau terlihat berantakan saat makan malam, Al!" Ucapku lirih sebelum dia merusak dandanan dan membuat lispstikku pudar.
Dia hanya mengangguk dengan berat, mengecup singkat dengan ekspresi tak puas dan kembali mengemudi sambil bernyanyi mengikuti lagu slow rock kesukaannya.
Kapok…!!!
***