Hidup sebagai single parent tidaklah mudah, banyak tantangan dan ujian di dalamnya. Namun, semua itu harus dilalui Riana Aisyah Humairah, yang membesarkan anak seorang anak diri, Kaila Humairah, sepenih jiwa raga untuk kebahagiaannya.
Riana adalah korban kekerasan rumah tangga dan keegoisan sang suami, Arsyid. Hingga ia tidak peduli lagi akan cinta seolah kata itu hilang dalam kamus hidupnya.
Riana pun memutuskan membawa sang buah hati ke Negara Ginseng, Korea Selatan. Di sana ia berhasil menjadi seorang arsitek dan bertemu CEO muda sekaligus pelukis ternama, Kim YeonJin.
Kim YeonJin hadir di antara banyak perbedaan, salah satunya kepercayaan. Ia yang juga menjadi korban broken home memahami kepelikkan dan kesusahan Riana, sampai rasa kagum itu hadir.
Mampukah kisah mereka berkembang ke hal lebih baik di balik perbedaan melingkupi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23
...Allah selalu punya cara memberikan kebahagiaan selepas perginya kesedihan....
.......
Satu minggu berlalu begitu cepat. Hubungan Riana dan YeonJin berangsur-angsur membaik. Meskipun begitu, terkadang mereka masih canggung satu sama lain.
Perkataan sang atasan terus saja terngiang dalam telinga. Namun, Riana berpikir jika ungkapannya waktu itu tidak benar dan mungkin emosi sesaat yang terbawa suasana.
Mungkinkah Kim YeonJin hanya kasihan saja? Bisa jadi seperti itu. Pikir Riana.
Selama itu pula ia tidak mengizinkan YeonJin bertemu Kaila. Ia tidak mau kedekatan mereka membuat orang-orang terdekatnya salah paham.
Apalagi ia tahu jika sebentar lagi rekan kerjanya akan melangsungkan pernikahan. Ia tidak mau merusak hari bahagianya. Riana tidak ingin dicap sebagai perusak hubungan orang.
Ia pun berusaha keras untuk acuh terhadap atasannya itu.
Hari ini ia kembali bekerja seperti biasa. Sudah hampir satu tahun ia bekerja sama dengan perusahaan art collection. Banyak kenangan yang terus berdatangan hingga kejadian malam itu terjadi.
Bahkan Riana sering menghindarinya dengan berbagai alasan. YeonJin pun menyadari hal itu.
Jam sudah menunjukan waktu makan siang. Selesai melaksanakan kewajibannya, Riana bergegas mengisi perut yang kosong. Sama seperti yang lain, sekarang ia tengah mengantri untuk mendapatkan makanan halal.
Beberapa saat kemudian, setelah mendapatkan makanan ia pun duduk di salah satu bangku kosong. Ia makan dalam diam seorang diri tanpa adanya teman yang menemani. Tanpa ia sadari seorang pria berjas abu duduk di depannya begitu saja tidak mempedulikan tatapan orang di sekitar.
“Akhir-akhir ini aku merasa... kamu menghindariku, Riana," ucapnya menyadarkan.
Mendengar suara itu Riana pun langsung mendongak dan tepat menatap bola mata yang tengah menyipit lalu menyunggingkan senyum menawan.
“Ki-Kim YeonJin-ssi?” Panggilnya gugup.
“Jadi?” tanya balik sang lawan bicara.
Lama Riana tidak menjawab memikirkan perkataan YeonJin tadi.
“Saya hanya tidak ingin ada rumor yang tidak-tidak," balas Riana kemudian kembali menikmati makan siang.
YeonJin pun sadar akan hal itu. “Oh yah, bagaimana keadaan Kaila? Sudah lama aku tidak melihatnya. Kenapa kamu juga tidak mengizinkanku untuk bertemu dengannya?”
“Lebih baik seperti ini. Saya tidak mau Kaila merusak pernikahan kalian. Kalau begitu saya duluan.”
Riana pun beranjak dari sana. Tiba-tiba saja keheningan menyapanya perlahan. Kim YeonJin tahu sudah menyakiti perasaan wanita itu.
...***...
Senja kembali datang, setelah menemui orang yang mau membeli lukisan, YeonJin bergegas menuju ruangannya berada. Ia berjalan gontai jika pekerjaannya hari ini begitu melelahkan.
Sangking semangatnya mendengar nominal yang diberikan oleh investor YeonJin tidak bisa mengontrol diri sendiri.
"Lelahnya," keluh ia menghela napas berat.
Di saat ia melewati ruangan sang arsitek langkahnya terhenti seketika. Ia terdiam melihat wanita itu tengah melakukan gerakan-gerakan yang tidak dimengerti. YeonJin terperangah dan terus memerhatikan.
Tidak lama berselang, Riana pun selesai beribadah. Ia tidak tahu jika ada seseorang yang tengah mengawasinya sedari tadi. Sepasang mata kecokelatan itu tidak pernah sedikit pun berpaling.
“Jadi seperti itu cara Riana beribadah? Entah kenapa membuatku tenang tanpa sebab," gumamnya lalu kembali melangkah.
Setibanya di ruangan, YeonJin langsung mendudukkan diri di kursi. Ia terus diam menatap kosong dinding di depan. Ia tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya sekarang. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.
“Ini pertama kali aku merasakannya. Ada apa denganku?” racau nya seraya memegang dada sebelah kiri pelan.
Selesai dengan pekerjaannya, Riana pun bergegas untuk menjemput Kaila di tempat Sarah. Selama ini ia sering merepotkan wanita yang lebih tua tiga tahun darinya. Mau bagaimana lagi Riana tidak mempunyai sanak saudara di negara orang.
Ia hidup sebatang kara. Tidak ada keluarga yang bisa dimintai tolong. Bahkan mereka sudah membuangnya begitu saja.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit dari tempatnya bekerja, Riana tiba di kediaman Sarah. Rumah sederhana bercat putih itu selalu ia kunjungi.
Tidak lama berselang pintu terbuka lebar memperlihatkan Kaila dan Sarah. Mereka tersenyum senang melihatnya.
“Assala’mualaikum, bidadarinya Mamah. Hari ini kamu tidak nakal kan?” tanyanya seraya mensejajarkan diri dengan Kaila.
Gadis kecil itu tersenyum lebar, “Wa’alaikumsalam, tentu tidak Mah.”
Riana kembali bangkit lalu menatap bola mata besar di hadapannya.
“Maaf yah Mbak, aku selalu merepotkan," ucapnya tidak enak.
“Kamu bicara apa? Mbak senang dititipi Kaila. Kalau terus merasa seperti itu makanya cepat menikah lagi supaya kamu diam di rumah dan mengurusi Kaila,” jawab Sarah menggoda.
Riana mengerucutkan bibir ranumnya singkat. “Mbak ini. Kalau begitu aku langsung pulang yah. Assala’mualaikum.” Ia pun melarikan diri dari sana seraya menggandeng Kaila.
“Selalu saja seperti itu. Sampai kapan kamu mau menutup hati terus, Riana?” gumam Sarah melihat kepergian mereka.
Beberapa menit kemudian Riana dan Kaila tiba di lingkungan apartemen. Mereka tengah berjalan di trotoar untuk membeli makanan ringan sebelum pulang.
Baru saja ia keluar dari supermarket langkahnya kembali terhenti dengan netra jelaganya membola sempurna. Ia menoleh ke belakang melihat Kaila yang tengah berusaha membuka plastik es krim.
Ia kelimpungan saat melihat pria itu berjalan mendekati mereka. Sontak saja Riana langsung menggendong Kaila yang langsung terkejut tidak mengerti.
“Tunggu Riana!” teriaknya.
Namun, Riana tidak mengindahkannya sama sekali dan terus berjalan cepat, hingga berlari, sedangkan Kaila mengerutkan dahi heran.
“Aku seperti mendengar suara YeonJin Appa,” bisik nya pemasaran.
“A-ah mungkin hanya perasaan Kaila saja,” balas Riana berbohong.
Namun, gadis kecil itu tidak memercayainya. Ia menoleh ke belakang punggung sang ibu lalu melihat pria yang sudah dianggap ayah olehnya itu tengah berusaha mencapai mereka.
“Mah, itu beneran Appa. Kenapa Mamah lari?”
Tanpa menjawab pertanyaan sang buah hati, Riana langsung masuk ke dalam gedung apartemen dan buru-buru mencapai tempat tinggalnya berada.
YeonJin tidak lagi mengejar dan tak mengerti dengan sikap Riana kali ini. Ia benar-benar telah menghindarinya.
“Aku semakin merasa bersalah. Kenapa?” celotehnya seorang diri.
Setibanya di unit apartemen, Riana mendudukkan Kaila di sofa lalu membelakanginya tidak sanggup melihat raut wajah penasaran sang malaikat kecil.
Ia tahu saat ini banyak pertanyaan mengendap dalam benak gadis manisnya.
“Mah... Mamah belum menjawab pertanyaan Kaila tadi. Seminggu ini Mamah juga melarang aku bertemu Appa. Kenapa Mah?” tanya Kaila beruntun, penasaran.
Riana pun mengepalkan tangan erat tidak bisa menjawab. Ia tahu keberadaan YeonJin sangat penting bagi kehidupan Kaila. Namun, hubungan mereka tidak bisa diteruskan. Ia tidak ingin menyakiti orang lain, terutama hatinya sendiri.
Sudah cukup penderitaan yang selama ini ia kecap. Riana tidak mau merasakannya lagi.
“Mah jawab Kaila. Kenapa?”
Nada bicara sang anak meninggi. Riana tahu Kaila tengah menahan kesedihan dan benar saja ketika ia berbalik, Kaila menangis sejadi-jadinya. Ia meraung-raung dengan air mata terus mengalir deras.
Riana tidak percaya. Ini pertama kali sang anak bersikap seperti itu. Manja dan juga cengeng. Ia pun berjalan mendekat lalu mendekapnya hangat.
“Maafkan Mamah, Sayang. Mamah tidak bisa menjelaskan alasannya,” bisik Riana pelan.
“Kenapa? Kaila sayang sama YeonJin Appa,” ungkap Kaila seraya sesenggukan.
Di balik punggung kecilnya Riana juga tidak bisa menahan kesedihan. Setetes air mata mengalir di pipi putihnya. Sebegitu dalam perasaan Kaila terhadap YeonJin. Jika sudah seperti ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ya Allah berikanlah yang terbaik untuk hamba dan juga Kaila," benak Riana penuh harap.
Visual Tokoh
...Riana Aisyah Humaira (Arsitek)...
...Kaila Humaira...
...Kim NamJoon as Kim YeonJin (CEO art collection)...
...Park Jimin as Choi Jimin (Sekertaris Choi)...
...Park Hyerin (Pelukis/ tunangan Kim YeonJin)...
...Mbak Sarah...
...Mas Arsyid...
Keren kamu Thor...
Karyamu sungguh luar biasa...
Semoga sukses selalu untuk author...
Sama2 bandot tua bau tanah nan serakah menyebalkan..
narasi2nya bener2 nyesek...
Rasa mau ngulek jntungnya
Bener2 ngehempas mental anak kecil, ga ad hati😡😡😡
Walau fiksi...Mak merinding bacanya ..
Terharu..
Walau sekedar membaca narasi..
Luar biasa authornya
Pandai ngacak2 perasaan reader
Ga usah ditutupi
Agar BS sama2 menghadapi si tua bangka itu
Mbo ya eliiiing kamu tuuuh...
Hhhh tak sentil jantungmu Syiiiid
Geram rasanya..
Dr bab awal sj, ni air mata rasanya ngalir tanpa diminta
Rasanya sakit banget Thor..