Gadis bernama Shanum tidak pernah menyangka bahwa dia akan terlibat hubungan cinta terlarang (cinta se-jenis).
Setelah lepas dari cinta terlarangnya, dia dipertemukan dengan laki-laki yang malah merenggut mahkotanya secara paksa karena dendam.
Tapi Tuhan Maha Adil, pada akhirnya dia dipertemukan dengan laki-laki yang bisa menerima dia apa adanya, mencintai dengan tulus dan mendapatkan kebahagiannya hingga akhir hayatnya.
Hi reader, kalau sekiranya Novel ini kurang nyaman dibaca, silakan memilih bacaan yang sesuai umur dan tipe Novel yang disukai 🥰❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Merona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan
"Ma, aku pulang," seru shanum sambil menarik tangan sang ibu dan mencium punggung tangannya.
"Kemana dulu Kak, kok jam segini baru pulang?" tanya Emily.
"Hehehe... ke taman kota Ma," jawab Shanum. "Maaf ya Ma... nggak ngabarin," tambah Shanum.
"Sama Abna?" Emily kembali bertanya.
"Nggak Ma, sendirian saja," jawab Shanum disertai perubahan raut muka yang begitu jelas.
"Tumben! Ya udah mandi gih, terus makan," sahut sang ibu kepada anak perempuannya. "Biar gemukan lagi, sekarang kamu kurusan Kak," ucapnya lagi.
"Siap, Ma!" seru Shanum. Lantas meninggalkan ibunya dan berjalan ke arah kamar. Dia meraih bingkai foto berisikan foto dirinya dengan Abna lalu merebahkan tubuh ke atas tempat tidur.
Shanum membelai foto itu lalu mengecupnya. Dia membayangkan ciuman pertama dengan Abna di hari ulang tahunnya, begitu manis dan lembut. Ciuman Abna masih terasa di bibirnya, menjadi memory terindah sekaligus menyakitkan baginya.
...~~~...
"Kak, bangun sudah mau maghrib ini. Mana masih pake seragam lagi! Duuuh... ini anak," omel ibunya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Shanum.
"Em... iya, Ma. Shanum bangun."
"Anak gadis jam segini malah tidur, bukannya bantuin Mama di dapur!" omel Emiliy lagi.
"Maaf, Ma. Tadi Shanum kecapean...."
"Makanya kalau pulang sekolah itu, ya langsung pulang. Bukannya malah keluyuran!!" ketus Emily pada putrinya.
Ibunya masih menggerutu, Shanum beranjak dari ranjang lalu mengambil handuk di depan pintu kamar mandinya. Dia meninggalkan ibunya tanpa permisi.
"Ini anak, kaya nggak diajarin sopan santun saja, orangtua lagi ngomong malah melengos!" gerutu Emily kesal.
"Kalau bukan anak sendiri, sudah dijadiin perkedel dibenyek-benyek kaya gini nih!" gerutu Ibu Shanum sambil tangan mempraktekan seperti sedang mengulek sesuatu.
...~~~...
at 05.30 a.m.
"Kak, bangun sudah siang ini."
"Kak, ayo bangun, nanti kesiangan sekolah."
"Shanum Melodia... bangun atau mama guyur pakai air seember!" sentak ibunya kesal dengan suara yang naik beberapa oktaf.
Seketika Shanum bangkit dari tidurnya (bukan dari kubur ya guys). Dia langsung ambil langkah seribu, menjangkau handuk dan menuju kamar mandinya.
"Ya, ampun anak satu ini," gerutu ibunya sambil memijit keningnya yang tiba-tiba pening.
Dengan secepat kilat Shanum menyelesaikan 'ritualnya' sebelum berangkat sekolah. Mandi pagi, mengenakan seragam dan menyisir rambut yang ia biarkan tergerai. Tidak lupa ia memoleskan lip balm tanpa warna ke bibir merah jambunya.
Dia menatap dirinya di cermin beberapa saat, seperti biasa mengagumi pemberian Tuhan yang ada pada dirinya. Terakhir pandangannya berakhir pada dua buah gundukan yang terlihat semakin menyesak di balik kemejanya .
"Hm.. seragamku sudah sempit," gumamnya.
Shanum berpikir untuk memecahkan celengannya karena dia tahu akan sia-sia rasanya kalau meminta dibelikan seragam baru pada ibunya.
Pranggggg...!!!
Shanum benar-benar memecahkan celengan ayamnya. Dia menghitung satu per satu uang yang sekarang berserakan di atas lantai.
"Wow, 900ribu," pekiknya senang.
"Sisanya masih banyak banget, beli apaan ya?"
...~~~...
"Om, aku turun di gerbang yang cat hitam itu ya," pinta Shanum pada driver ojek yang ditumpanginya. Dia sengaja naik ojek untuk menghindari kemacetan.
"Iya, Neng."
"Ini, Om ongkosnya."
"Terimakasih ya, Neng."
"Iya Om, sama-sama."
Shanum dengan sedikit berlari ia melewati gerbang sekolah yang hampir tertutup rapat. Tanpa sengaja telinganya mendengar suara orang yang dia kenal sedang cekikikan di belakang.
Dia spontan menoleh ke arah dari mana suara itu berasal,
"Shopia sama Abna, lagi?" Gumamnya.
"Apa kecurigaanku benar selama ini soal mereka?"
"Hm.. aku harus menyelidiki mereka."
Raut wajah Shanum mendadak sendu, ada kabut yang kini bersarang di matanya Dia menguatkan hati saat ini karena tidak mau ada seorang pun yang melihatnya menitikkan airmata. Hal yang paling Shanum benci adalah terlihat lemah di depan orang lain. Dia paling tidak suka akan tatapan iba terhadapnya. Karena itu dengan sekuat tenaga dia menahan airmata yang mendesak ingin keluar dari sudut matanya.
Pengkhianatan terbesar dalam hidup adalah ketika sahabat yang selama ini kamu percaya, menjadi duri dalam daging.
...***...
MESKI ALUR CERITA LAMBAT...TAPI NGGAK BIKIN BOSAN.