[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Masa Lalu
Bima mebolak-balikkan surat itu. Surat Bagas. Ia buru-buru memasukkannya ke laci saat didengarnya suara klakson dari halaman depan. Itu pasti mobil Papa Mayang.
Sabtu pagi. Mama mengetuk kamarnya. Meminta Bima bergegas.
Bima membawa ransel kemah berisi beberapa lembar baju ganti dan kameranya. Gitar ia tenteng di depan. Mama membantunya membawa tas tenda lipat.
"Titip Bima ya, Ris."
Papa Mayang mengangguk. Dibantunya Bima menaruh barang-barangnya di bagasi. Mayang keluar dari dalam mobil, ia melambai pada Tante Asti. Ia memakai jaket abu-abu. Bima menunjuk bajunya. Mayang tertawa. Mereka memakai warna yang sama. Padahal tidak ada janji sebelumnya.
"Mas Bima di depan ya," Mayang bergegas pindah ke kursi belakang.
Bima duduk di samping kemudi. Mamanya melambaikan tangan sekali lagi. Senyumnya tak pernah lepas semenjak pagi. Mama bilang sekarang Bima kayak anak-anak normal. Bima menanggapinya dengan tawa-tawa kecil. Mama saja yang tak tahu, ia masih punya satu musuh lagi di sekolah. Ah, anak itu. Bagas. Pikirannya terganggu kembali.
"Mama masih sibuk?" Papa Mayang membuka pembicaraan. Dikemudikannya mobil itu meninggalkan villa.
"Masih, Oom. Akhir-akhir ini bahkan sering ketiduran di depan komputer. Padahal kakinya baru pulih."
Mama Bima memang sedang sibuk-sibuknya. Perusahaan yang mempekerjakannya melakukan audit besar-besaran. Tiap Bima menengoknya di ruang kerja, ia pasti sedang khusyuk menerima telepon, atau sedang memegangi kepalanya sembari menghadap dokumen besar yang ia print. Kertas-kertas berhamburan di meja kerjanya. Ia lelah, namun ia menyukai pekerjaannya. Saat hari-hari berat ia lalui, ia bersyukur banyak-banyak. Ada Haris untuknya, ada Mayang yang kehadirannya saja sudah membuat hari-harinya ceria kembali, anak manis itu. Dan ada Bima yang telah berubah banyak. Ia bersyukur, Mayang tanpa ia sadari telah mengubah Bima menjadi lebih baik.
Itulah sebabnya juga Tante Asti membiarkan Bima menyetir sendiri ke sekolah bersama Mayang. Lagipula ia sudah percaya. Anak itu tak mungkin kabur membolos, ia bersama Mayang.
"Ah, iya lupa," Papa Mayang berseru. "Ini Om bawakan kopi gayo buat Mama kamu."
"Udah agak jauh ya kalau putar balik. Ah, nanti aja Om balik lagi sehabis ngantar kalian."
Bima melirik bungkusan itu. Om Haris tahu apa yang disukai Mamanya. "Kopi Aceh" Bima membaca tulisan di paperbag berisi kopi yang tergeletak di dashboard kemudi.
Ia teringat pertanyaan Om Wira. "Itu pacar Mama kamu?" Ia terhanyut kembali dalam lamunan.
***
Sebelum ada Om Haris, dulu sempat ada laki-laki lain saat Bima SMP. Dulu saat ia dan Mamanya masih tinggal di Sentul. Om Adam namanya. Begitulah ia ingin dipanggil.
Bima tak menyukainya. Ia duda, berumur 6 tahun di atas Mamanya. Anaknya 3. Bima dikenalkan dengan mereka tiba-tiba, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ia hendak marah. Tapi mereka di resto yang cukup ramai waktu itu. Mamanya panik, ia sendiripun tak tahu menahu. Ia juga menganggapnya terlalu cepat.
Om Adam ini memang berperangai keras. Ia minta pendapatnya selalu didengarkan. Bima masih terlalu muda, tapi ia tahu, ia bisa melindungi Mamanya. Ia memukul rahang laki-laki itu seperti orang kesetanan. Mamanya ditampar, ia naik darah. Bima mendengar pertengkaran mereka dari kamar. Bima tak tahan lagi.
Mereka hampir menikah. Om Adam ini suka mengatur. Bahkan ia sudah berani-beraninya melarang Mamanya bekerja. Dia juga ingin mereka pindah rumah. Ia bahkan memilihkan SMA yang Bima tak suka. Itu terlalu jauh, itu terlalu lancang. Bima pada akhirnya mengumpulkan keberaniannya.
Malam itu Om Adam menatapnya sengit. Mata Bima menyala-nyala. Ingin ia terkam laki-laki itu sekali lagi. Tangannya mengepal. Mamanya terduduk di kursi, pipi kanannya merah. Ia menangis, rambutnya acak-acakan sana-sini.
Bima pikir, apapun yang membuat Mama bahagia, akan ia lalui. Termasuk menahan dirinya dengan segala perlakuan Om Adam.
Malam itu semua isi hatinya ia keluarkan sampai parau suaranya. Tentang kebenciannya. Tentang takutnya kejadian pada Papanya akan terulang pada Mamanya. Tentang rasa khawatirnya melihat Mamanya sering menangis. Bima membenci semua orang. Setahun itu semua ia pendam sendiri.
Mama memeluknya. Om Adam pergi tanpa kata-kata. Mamanya sadar, selama ini ia terlalu buta, rupanya tak mempertimbangkan perasaan Bima. Ia salah, ia menyesal.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹