Nindi seorang gadis belia yang masih duduk kelas akhir bangku menengah atas. terpaksa harus menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husnel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kagum
Semuanya berkumpul di ruang keluarga. pak Nugraha membuka pembicaraan.
" Gimana kerjaannya Angga, mana yang enak di sini dari pada di Jakarta.". tanya pak Nugraha.
" Lain enaknya pak bos" jawab Angga.
" Oh ya Ardian. sudah cari tempat. kira kira dimana lokasi buat cafe nya". tanya pak Nugraha.
" Belum pasti betul pi, atau kita datangi aja pak RT. kebetulan rumahnya di depan tu pi. karena aku disini belum sempat kerumahnya, aku telpon dulu ya pi". jawab Ardian panjang lebar.
Ardian pun menghubungi pak RT. tak lama terdengar suara dari pak RT.
"" Halo nak Ardian, ada apa ya, ada yang bisa saya bantu". pak RT menawarkan diri.
" Ini lo, apa saya tidak mengganggu, rencana saya mau ke rumah bapak besok sore". kata Ardian.
"Oh. boleh boleh, saya tunggu ya nak Ardian".
kata pak RT lagi..
Ardian pun menutup pembicaraannya.
" Udah pi, besok sore, pulang saya kerja,
dulu, kita ke sana, atau papi ke warung aja main, sambil pesan lontong pagi, ajak mami dan Nindi pi".usul Ardian.
" oh bagus juga ide nya besok pagi tidak usah buat sarapan banyak ya Nindi ". kata mami.
" Ya mi". kata Nindi sambil mengangguk kepala nya tanda mengerti.
" Ya udah, sekarang istirahat lah lagi, hari sudah larut". kata papi mengingatkan.
Semuanya masuk kamar masing masing untuk istirahat.
Paginya.. Nindi dan Bik Ina sudah di dapur, mereka buat sarapan. untuk beberapa orang saja, karena sebagian mau ke warung pak RT. untuk sarapan. mereka berdua menyiapkan nya di atas meja. Setelah selesai Nindi pun ke kamarnya. melihat suaminya apakah sudah selesai.
" Kok belum siap sayang, nanti telat lo". ucap ninda. Ardian mendekati istri kecilnya.
" Sengaja menunggumu sayang, kakak mau tanya. apakah kamu tidak keberatan atau merasa terpaksa dengan usul papi".
" Tidak kok kak, yang penting aku tidak sendirian mengurus nya. " jelas Nindi.
Ardian memeluk istrinya dan mencium keningnya. " tidak mungkin istri kecilku dibiarkan sendiri, sekarang kita kebawah yok, nanti papi menunggumu". ajakan Ardian.
Sampai dibawah, mereka sudah melihat papi dan mami sudah berada di ruang keluarganya.
Angga pun juga ada di sana dengan sudah rapi menunggu bosnya. Sedangkan Nindi menyiapkan sarapan buat suaminya dan Angga sebelum berangkat. dan bergabung dengan mertuanya.
" Ardian, Angga, kami tidak menemani kalian sarapan ya, karena kami langsung ke tempat pak RT". ucap papi.
" Iya pi, hati hati". ucap Ardian.
" Maaf ya kak, aku pergi ya sama mami papi. semuanya sudah aku siapkan, atau aku tunggu dulu sampai kakak selesai, setelah itu baru aku susul mami". ungkap Nindi ragu
" Nggak udah sayang, nanti papi marah lo, kalau lama nunggu, sana berangkat, hati hati ya sayang, kabarin nanti ya". ucap Ardian tersenyum.
Nindi pun merasa lega, mendengar ucapan suaminya, diapun menyusul mertuanya yang sudah menunggu di luar.
Sepanjang perjalanan mami terus cerita, tak terasa kami pun sampai. dari kejauhan pak RT menunggu kami di pintu.
" Silahkan masuk Buk, pak nak Nindi ". ucap pak RT ramah.
Papi merasa kagum dengan sikap pak RT yang ramah. kamipun duduk ditempat yang sudah disediakan.
" Mari, silahkan pesan apa ya pak buk, nak Nindi, disini sarapannya ada lontong sayur, mie goreng, mie rebus,". ucap pak RT menawarkan.
" Oh.. kami mu pesan lontong sayur aja pak, terus pakai mie goreng nya ya pak". ucap mami.
tidak lama kemudian, pesanan kami pun datang. kami menikmati sarapan dengan tenang.
"