Luciana hanya mampu terbelenggu mengikuti aturan tak kasat mata dari kedua orang tuanya. Terlalu banyaknya aturan yang tercipta membuat luciana merasa dunianya seketika menjadi mati. Hingga luciana bertemu dengan pria yang memilih kehidupan bebas tanpa memikirkan apa itu aturan yang membuat hidup seperti dipenjarah. Setidaknya Luciana sedikit bernapas lega bisa bertemu dengan pria yang berkehidupan bebas. Apakah mampu Luciana menghancurkan pagar tak kasat mata yang membuat hidupnya selalu terkekang, atau mungkin mungkin Luciana akan terbendam dalam ikatan yang akan membuatnya terbunuh secara perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echa Wathy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
♥️♥️♥️
Baru saja mereka sampai di depan pintu keluar, Luciana langsung menepis tangan Vano.
"Ada apa "
"Aku tak nyaman " Luciana pun berjalan meninggalkan Vano.
"Hei tunggu kau mau kemana" teriak Vano yang mengejar Luciana.
"Makan aku lapar" Luciana mempercepat langkahnya untuk sampai di cafe depan, tapi sayangnya langkahnya tak mampu menjaga jarak jauh dari Vano.
Sampai akhirnya mereka sampai dicafe yang dekat dengan tempat kontes itu.
"Hai maafkan aku membuatmu tak nyaman" Vano menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Luciana.
Tapi rasanya Luciana masih tak ingin membahas hal itu dan lebih memilih untuk langsung memesan makanan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.
"Ana dengarkan aku" bentak Vano yang membuat seketika Luciana terdiam dan menutup buku menu.
"Maafkan aku membuatmu merasa tak nyaman tapi aku—" belum juga Vano selesai bicara ponsel Luciana tiba-tiba berbunyi membuat Vano menghentikan perkataan.
"Maaf ayah meneleponku aku permisi sebentar untuk menerima telpon" hanya anggukan dan senyuman terpaksa yang mampu Vano berikan, karna tak mungkin Vano melarang Luciana mengangkat telpon dari ayahnya.
@@@
"Sayang kau ada dimana tadi ayah menelpon kerumah Alina kata kau pergi terburu-buru tadi pagi" kata Harry setelah Luciana menggeser tombol hijau diponselnya.
"Maaf yah tadi Luciana terburu-buru hingga lupa memberi tahukan pada ayah hari ini Ana pergi sebentar bersama Alexsa" jawab Luciana berbohong.
Iya Luciana terpaksa berbohong pada ayahnya karna tak mungkin dia berkata jujur kalau dia pergi bersama teman prianya, jika Harry tau pasti Harry akan marah besar pada Luciana karna selama ini Harry tak mengijinkan Luciana dekat dengan pria mana pun apa lagi sampai keluar bersama pria.
"Ada apa Ayah telpon apa ada hal yang penting ingin Ayah bicarakan" Luciana mencoba mengalihkan pembicaraan agar ayahnya tak lebih banyak bertanya kemana dia dan Alexsa pergi dengan siapa saja.
"Oh...ya ayah sudah mendaftarkan dirimu di universitas bisnis ternama dikota London"
"Apa Ana tidak salah denger yah, New York di London juga banyak universitas ternama dan bagus yah kenapa harus di New York"
Luciana mencoba membantah apa kata Harry tapi apa daya Luciana tak mampu berkata apa lagi jika Harry sudah memutuskan karena keputusan Harry sama sekali tak boleh dibantah.
"Sayang ayah hanya ingin memberimu yang terbaik " Harry terus menekan Luciana agar mau mengikuti maunya.
"Sudahlah yah nanti kita bicarakan dirumah saja"Luciana langsung mematikan line telpon secara sepihak padahal Harry belum selesai bicara. Karena Luciana tahu sekali bagaimana sikap Harry jika dibantah.
Luciana hanya mampu menarik nafas panjang untuk menahan tangisannya. Tapi tanpa Luciana sadari butiran kristal bening telah mengambil alih peranannya membasahi pipi,bagaimana tidak rasa kesal ingin marah ingin memberontak semua bercampur jadi satu dan tak mampu lagi ditahannya. Tekanan Harry terus saja terbayang bayang dipikiran Luciana memaksakan kehendaknya tanpa mau mendengarkan pendapat Luciana lebih dulu,padahal sudah berkali-kali Luciana mentang dan tak mau masuk ke universitas Bisnis dan lebih nyaman dengan mata kuliah yang sedang dijalaninya saat ini. Tapi Harry sama sekali tak menghiraukan apa kemauan Luciana dan terus menekan Luciana untuk masuk ke universitas bisnis.
@@@
"Maaf ayah meneleponku aku permisi sebentar" hanya anggukan dan senyuman terpaksa yang mampu Vano berikan, karna tak mungkin Vano melarang Luciana mengangkat telpon dari ayahnya.
Vano pun ngaruk rambutnya yang tak gatal saat Luciana pergi meninggalkannya. tapi rasa bersalah masih menghantui diri Vano karena belum juga menjelaskan pada Luciana dia malah pergi.
Vano mencoba memainkan ponselnya sembari menunggu Luciana selesai menerima telpon. tapi entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa sakit .
"Aduh kenapa dengan perut ini tiba-tiba sakit" kata Vano sembari mengelus perutnya.
"Kurasa Luciana masih lama aku tinggal kekamar mandi sebentar" Vano melihat kesekitar lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Akhirnya lega juga" .
Baru saja Vano melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi,dia melihat Luciana juga keluar dari kamar mandi tapi dengan mengusap wajah.
"Ada apa kau menangis" kata Vano yang menghampiri Luciana.
"Tidak aku tak apa hanya sedikit perih di bagian mata"
"Kau yakin kau baik baik saja" Vano yang masih merasa ragu terus mengajukan pertanyaan.
"Aku tak apa aku lapar bisa kita makan sekrang" Luciana mencoba mengalihkan pembicaraan agar Vano tak terus bertanya.
"Ok" jawab Vano singkat.
"Mungkin dia perlu privasi" guman Vano dalam hati. dan membiarkan Luciana berjalan lebih dulu baru Vano berjalan dibelakangnya.
"Ayo makan "
Tapi tak sedikit pun Luciana memakan makanannya melainkan malah hanya mengaduk-aduk makanan itu.
"Hai apa kau hanya akan memainkan makananmu" tapi rupanya tak sedikit pun Luciana mendengar perkataan Luciana.
Pandangan Luciana tetap kosong nampak seperti orang yang banyak pikiran dan memiliki banyak beban.
"Jika kau tak mau makan sini biar aku saja yang makan" Vano pun menarik makanan yang tak sama sekali dimakan Luciana.
"Ayo makan" karena tau Luciana belum makan sedari pagi Vano pun mencoba menyuapinya.
"Apa ini" Luciana yang bingung dengan sikap Vano menolak suapan Vano
"Kamu bilang tadi lapar dan belum sarapan dari pagi jadi ayo buka bibirmu dan makan" karena Vano terus memaksa Luciana pun menerima suapan makan itu.
"Kenapa ini kenapa jantungku berdetak dengan cepat saat dekat dengannya" guman Vano yang merasa ada yang aneh pada dirinya.
"Kurasa cukup"
"Tapi kau baru makan tiga suap kau bilang cukup makan yang banyak aku tak mau aku yang mengajakmu keluar dan kau tiba tiba sakit apa kata orang tuamu jika aku membuatmu sakit karna tak memberimu makan".
Karena tak mau mendengar ocehan Vano yang panjang lebar Luciana meraih kembali makannya dan memilih untuk makan sendiri.
"Kenapa"
"Aku bisa makan sendiri"
"Kau yakin"
"Iya aku yakin" Luciana dan Vano pun meneruskan makan siang mereka.
@@@@
"Sial Berung kutub itu pergi semaunya saja" ucap Richard yang melihat Vano pergi begitu saja.
"Sudahlah toh dia sudah memilih lalu apa lagi biarkan dia berkembang" kata Alvin yang sembari mengecek ponselnya untuk melihat pesan dari Vano.
berkembang kau pikir donat yang akan digoreng lalu mengembang boy.
"Sudahlah ayo masuk kita sebentar lagi kontes akan selesai" Alvin pun memilih masuk lebih dulu karna Richard masih setia melihat Vano dan Luciana yang berjalan menuju cafe.
"Kalau sedang jatuh cinta ya begitu serasa dunia milik berdua" ucap Richard pada Alvin tapi tanpa Richard sadari ternyata Alvin sudah lebih dulu masuk kedalam.
"Sial untung tak ada yang melihat kalau ada pasti mereka berpikir aku gila bicara sendirian" Richard pun dengan cepat langsung masuk lagi ke tempat kontes sebelum dan memastikan disekitar tak ada yang melihatnya bicara sendiri barusan.
♥️♥️♥️
ditunggu kunjungannya ke karyaku TERJEBAK DALAM DERITA
Mampir juga yuks thorr ke " Bersemi Kembali " Dan jangan lupa untuk menngggalkan jejak
Salam Hangat
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan" dan
"Siren or Human"
Semangat🥰
jgn lupa mampir jg ke karya ku 👐
jangan lupa beri vote di lapakku saat mampir nanti yaa😉terima kasih
like mendarat untuk episodemu❤️
semangat selalu😊
dan mampir juga ya ke cerita aku
🌸Stole Audrey's Heart🌸
🌸Hate His Touch🌸
cemungut ya... 🤭🤭