Sequel dari OH MY JENY
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
" Kau selalu bilang padaku, apa yang harus kau lakukan untuk membalas semuanya Dean?"
" Aku akan melakukan apapun untukmu Tuan!"
" Kalau begitu menikahlah dengan putriku!"
Deg
Tubuh Dean menegang seketika
Kebohongan yang dilakukan Bulan membuat sang ayah murka. Hingga Ken memaksa putrinya untuk menikah bersama pria pilihannya yaitu Dean sebastian. Seorang pengusaha sukses yang sangat cerdas dari Paris
"Aku sungguh tidak menyukainya, dia terlalu pendiam dia bukan tipeku sama sekali Dad"
Baca selanjutnya ➡➡➡
Selalu tinggalkan Jejak, Like dan Vote 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa iri?
-
-
Dean menarik nafasnya dalam sebelum masuk kedalam Apartementnya. Ia berjalan masuk dan menutup pintu. Maniknya mengedar mencari Joe, namun sepertinya pria itu sudah pergi
Lalu Dean masuk kedalam kamar, seketika ia terkesiap menutup mulutnya. Kamarnya kini telah disulap jadi nuansa merah muda, Dean memijat pelipisnya, ini benar-benar tak seperti yang Dean bayangkan. Lihatlah! sprei putihnya telah berganti menjadi warna pink dan Dean benar-benar kesal rak bukunya kini terpenuhi boneka hello kity milik Bulan. Dean tergesa mendekat pada Bulan yang kini sedang berada di walk in closet
" Bulan apa yang kau lakukan?" tanya Dean berkacak pinggang. Sementara Bulan hanya mengedikan bahunya acuh tanpa melihat Dean, tangannya sibuk memasukan pakaian kedalam lemari di walk in closet
" Aku sedang berbicara padamu!" bentak Dean menarik lengan Bulan hingga gadis itu menghadapnya
" Salah siapa Apartement sebesar ini hanya punya satu kamar. " saut Bulan tak mau menatap Dean
" Dengar Bulan, ini kamarku. "
" Ini juga kamarku bukankah aku istrimu!" tukas Bulan memotong ucapan Dean dengan nada membentak
Dean hanya bisa menarik nafasnya dalam, kedua tangan Dean terkepal. Perasaannya sedang kacau karena Rivana di tambah Bulan yang mengesalkan. Dean lalu pergi, ia berjalan tergesa keluar dari kamar, Dean menuju dapur dan membuka lemari pendingin, ia ambil air putih dalam botol dan langsung meneguknya hingga tandas
Dean benar-benar pusing saat ini hingga kepalanya terasa mau pecah. Ia merasa bersalah dan melihat Rivana menangis membuatnya sedih. Namun Dean juga tak bisa berbuat apapun, tidak mungkin ia menjalin hubungan dengan Rivana sementara dirinya sudah menikah dan Dean juga tidak bisa mengecewakan Ken karena itu sangat tidak mungkin
Setelah lama berpikir Dean kembali ke kamarnya. Ia kembali menghela nafas melihat boneka-boneka itu dirak dingding dan beberapa diatas kasurnya. Tapi Dean juga tiba-tiba melunak saat melihat Bulan sedang kesusahan membereskan koper-kopernya, ia merasa menyesal telah membentak gadis itu tadi
Dean meraih koper ditangan Bulan dan membantu menyimpannya ke atas lemari
" Jangan bilang semua koper ini isinya barang-barang tidak berguna semua. " ucap Dean
" Tentu saja! menurutmu dari mana boneka-boneka itu kalau bukan dari koperku. "
Dean menatap lekat Bulan dengan pandangan geram
" Kita bisa membelinya disini kenapa harus repot membawanya. " Dean menggerutu dan itu terdengar lucu untuk Bulan. Gadis itu mengulum senyumnya menatap Dean
" Itu boneka-boneka kesayanganku jangan berani menyentuhnya. " ancam Bulan menaikan jari telunjuknya tepat didepan wajah Dean
Dean menatap wajah dan telunjuk itu bergantian, ia memegang telunjuk itu dan secepat kilat memasukan kedalam mulut lalu menggigitnya pelan
" Awww. Kau jorok sekali. " teriak Bulan menarik paksa tangannya dan langsung mengusapkan ludah Dean ke baju pria itu membuat Dean tersenyum begitu lebar
" Kau mau makan apa? aku akan memesannya. "
" Tidak! aku tidak makan malam. "
" Kenapa?"
" Aku tidak mau gemuk!"
" Makan malam tidak akan membuatmu gemuk. "
" Tidak, aku tidak mau makan. Kau saja!" saut Bulan mengambil handuk dilemari dan meninggalkan Dean
Bulan merendam tubuhnya dalam air hangat dan busa sabun dengan kedua mata terpejam menikmati air hangat merilekskan tubuhnya yang terasa menegang karena hampir seharian ia duduk didalam pesawat
" Aku pikir dia seorang homose*sual. " gumam Bulan memikirkan kejadian yang dilihatnya tadi saat seorang wanita mencium Dean
" Wanita itu sangat cantik dan terlihat dewasa. Pantas saja dia selalu mengataiku bocah ingusan. " Bulan terus bergumam dengan nada tidak suka
" Ah, apa yang kupikirkan, kenapa aku harus memikirkan pria gila itu. " gerutunya membuka mata. Nyatanya ia kesal dan marah melihat kejadian tadi, Dean terlihat lembut pada wanita itu membuat Bulan iri. Iri? kenapa Bulan harus iri? . Begitulah pikiran Bulan saat ini
Bulan segera membersihkan tubuhnya dibawah guyuran shower. Setelah selesai ia langsung membalutkan handuk ditubuhnya. Ia keluar dan terhenti diambang pintu saat melihat Dean sedang duduk di sisi ranjang memainkan ponselnya. Suasana ini benar-benar membuat Bulan canggung pasalnya ia hanya menggunakan handuk saja untuk menutupi tubuhnya
" Dean, bisakah kamu keluar sebentar. " ucap Bulan ragu dan gugup
Dean hanya mengangguk, tanpa melihatnya sedikitpun. Pria itu keluar begitu saja dan menutup pintu kembali dengan rapat. Ternyata yang selama ini dpikirkan Bulan salah, nyatanya Dean bukan pria mesum seperti yang ia pikirkan. Pria itu menghargai bahwa pernikahan mereka bukan seperti pernikahan pasangan lainnya. Atau Dean memang tidak memiliki nafsu sedikitpun padanya? dan Dean hanya bernafsu pada wanita dewasa itu?. Lagi-lagi Bulan memikirkan Dean
Bulan menarik nafasnya dalam, ada rasa tidak suka bila mengingat wanita dewasa yang mencium Dean tadi. Tapi Bulan segera menepis rasa cemburu itu, kini ia akan kembali pada tujuannya yaitu menyelesaikan study dan kebebasan dirinya selama tinggal di Paris
" James, ya aku mencintai James. " gumam Bulan lalu memakai pakaian tidurnya yang berwarna pink
Bulan segera keluar dari kamar, ia masih penasaran dengan tempat singgah Dean itu, ia belum melihat keseluruhan tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang
Bulan berkeliling mengelilingi seluruh ruangan untuk melihat-lihat. Lalu ia berhenti sesaat untuk memperhatikan Dean, pria itu sedang menonton televisi sambil menikmati makan malamnya. Tiba-tiba Bulan memegangi perutnya yang berbunyi saat hidungnya menghirup aroma lezat dari makanan diatas meja didekat Dean
Bulan duduk disamping Dean yang tak bergeming sama sekali dengan kehadirannya
" Apa tidak ada drakor disini?" tanya Bulan
" Chanel apa itu?" tanya Dean mengerutkan dahinya lalu beralih melihat pada Bulan
Bulan tertawa cekikikan mendengar pertanyaan Dean yang ia rasa sangat lucu. Dean terkesima menatap betapa cantiknya gadis didepannya ini saat sedang tertawa, Dean ingin sekali menghentikan tawa itu dengan membungkam mulutnya dengan ciuman. Bagaimana pun dia seorang pria dewasa yang normal bukan? tapi sedetik kemudian Dean segera menepis pikiran kotornya pada Bulan
" Dia memang istrimu tapi dia hanya bocah ingusan Dean, ingat!" batin Dean
" Astaga! kau ini tinggal di bumi apa di Mars. Masa kau tidak tahu drama korea?"
" Aku tidak pernah menonton drama. " saut Dean datar sambil memalingkan wajahnya, ia menarik nafasnya pelan dengan godaan disampingnya ini. Bahkan selama ini ia bisa menahannya pada Rivana, ya Dean sangat kuat, ia bisa menahan semuanya termasuk saat ini. Dean terus menyemangati dirinya sendiri dalam hati
" Semua orang didunia ini sangat tahu apa itu drakor. Ternyata kau sangat kampungan. " tutur Bulan tak henti mentertawakan Dean
Dean kembali pada makanannya, ia mengabaikan Bulan. Semakin diladeni Bulan akan semakin membuat sesuatu dibawah sana menegang. Dean tidak tahu bisa menahannya atau tidak jika sudah benar-benar bangun. Dan Dean tidak ingin memaksa gadis yang ia anggap ingusan ini untuk meladeni nafsunya meski pada kenyataanya ia berhak mendapatkan itu semua
-
-