Gaza Munarga adalah seorang ahli waris yang memegang kendali atas perusahaan Tirtama Group selama lima tahun semenjak kematian sang ayah.
Ia dikenal sebagai pria es yang mampu membekukan mental seseorang saat bertatapan dengannya.
Zara Maharani, seorang wanita yang hanya tinggal bersama kedua adiknya. Sebagai anak sulung, ia mesti rela berkorban membanting tulang mencari pundi-pundi nafkah demi kelangsungan hidup bersama kedua adiknya itu.
Kepribadian Zara yang polos. Namun, memiliki sifat di mana ia senang memarahi orang lain di saat ia sedang kesal.
Hingga dua insan ini dipertemukan dalam sebuah kecelakaan tanpa sengaja. Kekesalan yang berujung karma bagi Zara, hingga pada akhirnya Gaza menikahi Zara hanya bertujuan untuk membuat wanita ini bertekuk lutut padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Clarisa
"Ada apa?" tanya Gaza dengan ketus.
[Ya, jangan terlalu galak, ingat, aku ini pamanmu, kau harus bicara sedikit lembut padaku, aku ingin mengajakmu makan malam di rumah, bukankah kau sudah menikah? Ajak istrimu ke sini. Dan tentunya kau jangan lupa untuk membawa buku nikahmu agar aku percaya.] Suara Rangga dari seberang telepon.
"Ck." Gaza berdecak kesal lalu memutus sambungan telepon.
"Lee, suruh wanita itu untuk membeli sebuah pakaian, aku tidak ingin dia memakai pakaian lusuhnya itu." Sembari menyodorkan kembali ponselnya pada Sekertaris Lee.
Sekertaris Lee pun segera menghubungi Zara. "Nona muda, Tuan muda berpesan pada Anda agar membeli sebuah gaun, ia akan membawa Anda pergi ke sebuah acara malam ini."
"Baiklah."
"Dan jangan lupa untuk berdandan secantik mungkin, malam nanti Tuan muda akan menjemput Anda setelah ia selesai bekerja," lanjut Sekertaris Lee.
"Iya, oke. Baiklah." Zara menjawab dengan malas.
"Apa itu termasuk perintahku?" Gaza menatap Sekertaris Lee meminta penjelasan.
Sekertaris Lee malah tersenyum malu. "Maaf, Tuan. Saya mengira Anda akan menyukainya jika Nona Zara berdandan dengan cantik."
"Cih." Gaza berdecih dengan sinis.
"Apa menurutmu wanita itu bisa berubah menjadi cantik setelah berdandan?" tanya Gaza tiba-tiba.
Ternyata Anda juga peduli akan hal itu. Sekertaris Lee tersenyum kecil.
"Saya yakin pasti Nona Zara sangat cantik setelah berdandan."
"Apa menurutmu dia benar-benar akan berdandan?" tanya Gaza lagi.
"Tentu saja, Tuan. Nona Zara selalu menurut dengan apa yang dikatakan oleh Anda," jawab Sekertaris Lee.
"Apa menurutmu dia tidak akan berdandan seperti badut?" Gaza mulai tersenyum.
"Soal itu, saya tidak tahu, Tuan."
"Aku tidak sabar ingin melihat penampilannya, mungkinkah dia berubah menjadi bidadari malam, ataukah badut malam?" Sembari terkekeh dengan geli.
Sebahagia itukah Tuan muda setelah menikah dengan Nona Zara? akhir-akhir ini tampaknya ia sering memperlihatkan senyumnya, sejak kapan seorang Tuan Gaza mau menampakkan giginya kala tersenyum? Seperti sedang menanti ayam jantan bertelur. Tak akan terjadi, tapi sekarang? Tanpa kusangka ia bisa tersenyum dan tertawa dengan memperlihatkan giginya. Sekertaris Lee tersenyum samar memperhatikan Gaza dari kaca spion.
Tak lama kemudian, ponsel Gaza kembali berdering. "Nomor yang tak dikenal, Tuan," ujar Sekertaris Lee.
"Tak perlu diangkat."
Beberapa saat kemudian, deringan itu kembali terdengar untuk yang kedua kalinya. "Biar saya yang jawab, Tuan."
"Hmm." Gaza mengiyakan tanpa membuka mulutnya.
"Selamat pagi, dengan Sekertaris Lee. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan profesional.
[Aku Clarisa, bisa bicara pada majikanmu?] Terdengar suara wanita dari seberang telepon yang namanya baru saja dibahas oleh sekertaris Lee.
Sekertaris Lee seketika membeku dan memarkir mobil di pinggir jalan. "Tuan muda, Nona Clarisa," bisiknya dengan menutup lubang speaker pada ponsel Gaza.
Gaza membuka mata yang dari awal ia tutup untuk menenangkan diri. "Ingin bicara pada Anda," bisiknya lagi.
Gaza berdehem. "Berikan padaku." Sekertaris Lee pun memberikan ponsel tersebut.
Gaza hanya meletakkan ponselnya di telinga tanpa mengatakan apa pun. [Hallo? Gaza? Apa kamu di sana?] tanya Clarisa yang heran karena tak mendengar suara apa pun.
"Sudah kembali?" Gaza tiba-tiba bertanya.
[Mm, iya. Baru tiba pagi ini,] ujarnya yang merasa kikuk karena mendengar Gaza begitu ketus padanya.
"Kamu ... di mana? Apa bisa bertemu?"
"Di cafe biasa," jawab Gaza singkat padat. Namun, tak jelas.
[Kamu ada di cafe? Atau ... kamu mengajakku bertemu di cafe?] tanya Clarisa dengan ragu.
"Lima menit, jika tidak datang jangan cari aku lagi." Gaza pun menutup telepon dan memberikannya pada Sekertaris Lee.
"Kita ke mana, Tuan?"
"Ke mana saja." Sembari menatap Sekertaris Lee dengan tatapan yang mematikan.
Gawat, sepertinya suasana hati Tuan muda berubah menjadi buruk, ini pasti karena Nona Clarisa, sekarang dia baru mencari Tuan muda setelah ia pergi tanpa memberitahukan apa pun.
"Lima menit? Yang benar saja, aku tidak mungkin tiba di sana hanya dengan membutuhkan waktu lima menit. Sudahlah, dia pasti akan tetap menungguku walau aku terlambat sedikit." Clarisa pun berjalan dengan anggunnya keluar dari bandara dengan menarik satu koper dan satu tas tangan yang mewah. Tentu saja ia juga dikawal oleh empat orang berbaju hitam, sebagai artis luar negeri yang saat ini namanya sedang melambung karena kecantikan dan keanggunannya, tinggi badan Clarisa bahkan menjadi perbincangan publik saat ini. Sebab tinggi badan yang ia miliki adalah impian para wanita.
"Cafe Ranum," ujarnya saat tiba di mobil, lengkap dengan supir yang memang sudah disediakan oleh pihak agensi.
Clarisa membuka jendela kaca mobil dan menaikkan kacamatanya di atas kepala, menatap pemandangan kota yang sedikit ada perubahan semenjak lima tahun lamanya ia pergi tanpa kembali. "I'm coming, semoga kau menyambutku dengan rasa bahagia." Sembari tersenyum lebar mengingat wajah Gaza.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, aku harap perasaanmu padaku tidak berubah. Dan masih sama seperti dulu, aku sangat merindukanmu, ingin memelukmu untuk yang pertama kalinya selama lima tahun." Clarisa menengadahkan telapak tangannya keluar dari mobil, merasakan rintik hujan yang jatuh.
"Apa tidak bisa lebih cepat sedikit, aku tidak memiliki banyak waktu," ujarnya pada supir mobil.
"Baik, Nona."
Mobil pun melaju kencang sesuai dengan permintaan Clarisa.
Tiba di Cafe Ranum, ia menengadahkan kepala menatap bangunan tersebut, masih seperti dulu, desain clasik tradisional khas pada zamannya.
Untuk lima tahun berjalan, kini aku kembali ke sini, cafe di mana tempat aku dan kamu bertemu pertama kalinya, aku masih ingat kala itu kamu memberiku sebuah jaket dan payungmu untukku, saat itu aku masih belum menjadi seperti sekarang ini, pertemuan itu membuat kita semakin dekat hingga saling memiliki. Aku benar-benar merindukannya." Clarisa mulai berkaca-kaca, berdiri mematung merasa tak percaya bahwa dia benar-benar kembali pada ingatan masa lalu yang begitu berwarna.
"Nona, saya tunggu Anda di sini," ujar supir mobil yang mebawanya.
"Tidak perlu, Anda bisa kembali ke perusahaan, saya masih memiliki urusan pribadi, lagian kontraknya akan ditanda tangan besok pagi, jadi saat ini saya memiliki waktu pribadi, bukan?"
Supir tersebut tercenung sebentar, lalu ia mengangguk pelan. "Baiklah, jika Anda memerlukan sesuatu, silahkan hubungi saya." Clarisa mengangguk pelan lalu supir itu pun berlalu pergi dengan mobilnya.
Clarisa masuk dengan perasaan yang berdebar, ia juga tidak sabar ingin bertemu dengan Gaza.
Saat melihat Gaza yang duduk di meja paling pojok, ia pun segera melangkah ke sana tanpa mengurangi keanggunannya sebagai artis. Semua mata tertuju padanya, para lelaki bahkan tampak begitu terpesona oleh kecantikan Clarisa. Sementara para wanita, semua memandang Clarisa dengan tatapan iri.
Clarisa melihat jam di tangannya, lalu memandang ke arah Gaza. "Kukira kamu tidak akan menungguku karena aku terlambat lima menit." Ia pun tersenyum secerah mungkin begitu senang karena akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan lelaki yang paling bersejarah dalam hidupnya.
mereka akan melaknat lekaki kayak ferdi yang sok baik pada istri orang dan membuat rumah tangga orang hancur
pola pikir wanita jablay
Ferdy adalah lelaki baik, jadi boleh peluk sana ini
pola pikir wanita setia
suami pelukan dengan wanita lain itu salah begitu juga istri pelukan dengan lelaki lain itu salah
pola pikir wanita egois
suami pelukan dengan wanita itu salah tapi istri pelukan dengan lelaki lain itu bukan kesalahan karena hanya sahabat
fakta
sebuah novel adalah hasil pola pikir novelisnya yang artinya sebuah novel menggambarkan karakter novelisnya