Follow Ige author : Shalsyala
Zahrani Alya Putri.
Bukan siapa siapa yang bersalah dalam kisah ini
Daun yang jatuh pun tak pernah menyalahkan laju angin
Seperti aku,
Seperti kisahku,
Bukan aku, kamu ataupun dia
Tak ada siapapun yang harus tersudut dengan kata "Salah"
Hanya takdir yang membawa kita sampai pada titik ini.
Reno Akbar Pratama. "Selamanya tak akan ada wanita lain selain Alya dihatiku."
Romansa penuh cinta antara dua anak manusia yang harus diuji oleh berbedaan kasta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Direktur
Karin mempercepat langkahnya menuju ruangan Monic, Ia terlihat panik dengan sesekali terus sibuk dengan ponselnya.
Tok.. tok.. tok
Karin membuka pintu setelah mendengar perintah untuk masuk.
"Bu Monic, Maaf, Pak Akbar masih belum datang bu", ucap Karin.
Monic meletakkan bolpoint yang semula bertengger di jarinya, ia melihat ke arah jam di tangannya.
"Dia akan bikin ulah apa lagi sekarang" gumamnya pelan namun masih terdengar oleh Karin.
Tidak ada tanggapan apapun dari Karin, karena sebagai seketaris yang sudah lama bekerja di perusahaan ini ia sedikit paham tentang alur cerita tidak akurnya Akbar dan Monic.
"Terus hubungi dia, pastikan meeting kali ini jangan sampai berantakan, dan pastikan dia datang! ", titah Monic dengan suara yang sudah agak meninggi.
Karin tidak punya pilihan selain mengangguk. Ia tidak mungkin membantah perintah Monic.
Ia pun undur diri meninggalkan ruangan Monic dan kembali berlari larian menuju ruangan Akbar. Ingin memastikan kembali kedatangan Akbar.
Jika Akbar sedang tidak mood dalam bekerja dan selalu berbuat seenaknya sendiri seperti sekarang, Karin lah yang paling menderita. Ia selalu menerima semprotan dari Monic yang kesal terhadap kinerja Akbar.
Dan kali ini ia harus berlarian kesana kemari memastikan keberadaan Akbar.
Tibalah di depan pintu ruangan Akbar. Ia merapikan rambut dan kemejanya yang sedikit berantakan karena sedari tadi berlarian. Ia menghembuskan nafas kasar kemudian mengetuk pintu.
Tidak ada tanggapan dari dalam ruangan, akhirnya ia membuka pintu ruangan itu, dan betapa terkejutnya ternyata Akbar sedang tiduran dan bermain Hp di sofa di sudut ruangan kerjanya. Rasa jengkel seketika menyeruak di dirinya. Ia telah empat kali mendatangi ruang kerja Akbar untuk mengecek keberadaanya. Namun tidak ada tanda tanda ia datang. Ia menelfon Akbar sampai tidak bisa dihitung jari namun tak ada jawaban. Dan kali ini yang dicari sedang bermalas malasan bermain Hp.
"ooh Tuhaaan,,, berilah hambamu kesabaran menghadapi tuan muda satu ini"
Karin memasang senyum termanisnya, menghilangkan seluruh kejengkelan yang ada pada hatinya. Dan dengan sopan mendekati Akbar yang masih berada di posisi semula.
"Ehemmm,,, maaf pak, kehadiran Bapak sudah ditunggu dalam meeting yang sebentar lagi dimulai!?", ucap Karin dengan nada tenang.
Akbar merubah posisinya dengan duduk. Namun tetap fokus pada layar Hp nya, seakan tidak perduli dengan omongan Karin.
"Aaah....sial**n kurang satu lagi berhasil"
Akbar tiba tiba berteriak. Karin sedikit terlonjak mendengar Akbar tiba tiba saja berteriak, Ia memperhatikan anak bos nya itu ternyata sedang bermain game di ponselnya.
Akbar melempar ponselnya sembarangan. Kemudian menatap Karin,
"Keluarlah, aku akan hadir", ucapnya seraya berdiri.
Karin mengangguk pelan. Dengan sopan ia berjalan keluar ruangan Akbar.
****
******
"Shin, gue ketoilet dulu yah bentar, masih lama mungkin anak pak direkturnya dateng", ucap Alya lirih.
"Udah tahan dulu, bentar lagi dateng Al".
"Perut gue mual Shin?". Alya kembali berucap lirih dengan satu tangan memegang i perut satunya lagi membungkam mulutnya.
"Nih lo minum aja dulu", Shinta menyerahkan botol air meneral ke tangan Alya.
"Tahan bentar, tuuh udah pada dateng Al", ucap Shinta yang bersemangat dengan pandangan tertuju ke arah pintu masuk. Terlihat para petinggi kantor sudah memasuki ruangan, dan mulai membuka meeting.
Alya hanya menunduk sesekali memejamkan matanya merasakan perutnya sudah tidak bersahabat. Ia sudah tidak lagi fokus pada sambutan sambutan dari petinggi kantornya yang tengah berpidato di atas podium. Keringat dingin sudah mulai membanjiri tubuhnya.
Shinta yang masih dengan semangat berapi api terus memperhatikan lurus kedepan. Kali ini sesi penyambutan dari orang yang bertanggung jawab penuh dalam proyek yang dibahas kali ini, yang ditunggu tunggu, tak lain adalah anak dari direktur perusahaan.
"Bapak Reno Akbar Pratama"
Gemuruh suara tepuk tangan menggema memenuhi seluruh ruangan menyambut kedatangannya. Laki laki itu melangkah bak model sedang berjalan dengan tubuh tegapnya, meskipun dengan wajah dingin tanpa seulas senyum pun, tetap mencarkan pesonanya.
Shinta bertepuk tangan sesekali menyenggol tangan Alya yang masih menunduk.
"Al, namanya Reno Al, gila ganteng banget Al", Shinta berbisik gemas melihat laki laki yang tengah memulai sambutannya.
Tak lama Shinta mengerutkan dahinya, menajamkan pandangannya. Ia seperti mengenal laki laki itu. Dan setelah menemukan ingatannya tentang siapa laki laki itu, ia segera menutup mulutnya saking kagetnya.
"Al, itu Pak Reno Akbar, mas Akbar mantan lo?", pekik Shinta.
Alya yang semula menunduk lemas seketika langsung menatap Shinta yang tengah membelalakkan mata menatap arah depan. Ia kemudian mengikuti arah pandang Shinta.
Betapa terkejutnya Alya ketika melihat laki laki yang ia rindukan beberapa hari ini dengan gagahnya berpidato membuka meeting kali ini adalah Akbar.
"Mas Akbar?!,, gumamnya pelan. Ia begitu rindu dengan Akbar, setelah kejadian putus beberapa waktu lalu, ia sama sekali tidak pernah menatap wajah Akbar lagi, sungguh ia tersiksa dengan rasa rindu pada Akbar.
Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya, ia rindu sekali dengan Akbar. Akhirnya bisa melihat dia kembali walau bukan dari jarak dekat. Alya tertegun melihat Akbar yang tengah berpidato.
Shinta menatap ke arah Alya, melihat Alya menangis. Ia sedikit berfikir, kenapa temannya menangis, apa tangisan menyesal karena gagal mendapatkan anak bos, tapi tidak mungkin, Shinta tau jika temannya ini trauma dengan orang kaya. Shinta menyimpulkan pikirannya sendiri. Mungklin Alya kecewa karena Akbar tidak pernah jujur dengan statusnya yang merupakan anak pemilik pabrik ini.
"Sabar ya Al, emang sakit kalau dibohongi sama orang yang kita sayang", kata Shinta prihatin.
Alya menoleh pada Shinta, wajahnya menunjukkan ketidak pahaman kalimat Shinta.
"Maksud lo"
"laaah,, lo enggak sakit hati atau kecewa gitu dibohongi Akbar, maksud gue pak Reno soal statusnya. Lo dulu cerita dia ngakunya cuma staff bantu bantu kayak OB, nyatanya dia anak pemilik pabrik ini Al",
Kalimat Shinta membuatnya kembali tersadar dari lamunannya. Rasa rindunya melupakan siapa sebenarnya Akbar di atas podium sana.
Alya mengingat kembali saat Akbar mengenalkan dirinya hanya seorang staff yang membantu dalam segala bidang, dan ternyata Akbar adalah pemilik pabrik ini.
Hatinya yang berselimut kerinduan berubah menjadi sakit hati atas kebohongan Akbar.
"Kenapa harus berbohong?? "
Akbar sudah mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai formalitas dalam meeting kali ini. Sebelum turun dari podium ia sedikit mengedarkan pandanganya ke peserta meeting kali ini yang cukup melibatkan banyak orang. Dan ia cukup kaget saat matanya bertemu dengan mata Alya yang juga tengah menatapnya. Akbar tidak menyangka jika Alya turut serta dalam meeting kali ini.
Terdengar suara Karin mempersilahkan Akbar untuk kembali ke tempat duduknya. Akbar tak bergeming, pandangannya tertuju dimana Alya berada. Karin dan para staff lain ikut mengarahkan pandangannya ke arah Akbar menatap. Kursi barisan depan yang diisi oleh para supervisor menoleh ke belakang mengikuti arah pandang Akbar.
Menyadari itu Alya segera menundukkan kepalanya. Mengusap air matanya. Menghindari semua mata akan tertuju padannya.
********------********
Jangan lupaa likeee dan coment yaaa 😘😘😘😘