Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.
Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. I'm sorry for my honestly
Keyza dan Bagas telah selesai membeli perlengkapan bayi yang diperintahkan oleh Gara. Keyza pun meminta Bagas untuk segera membawanya menuju rumah Hila. Sepanjang perjalanan, Keyza berpikir keras, ada apa gerangan penyebab adiknya meminta Bagas membelikan semua perlengkapan bayi untuk Hila, bahwa Keyza tahu, Gara dan Hila tak saling mengenal.
"Bagas?" tanya Keyza saat mereka didalam mobil.
"Iya, Bu?"
"Selama saya di USA, apa Hila menunjukkan sifat aneh? Kamu kan selalu memantau dia, bukan begitu?" tanya Keyza.
"Enggak, Bu. Gak ada yang aneh. Dia biasa-biasa saja. Hanya, menurut saya Hila ini pinter sekali loh, Bu. Dulu, pernah ada staff accounting yang masuk ke pantry, dia malu, abis dimarahin sama managernya, karena ada salah data. Eh, si Hila lihat deh tu laporannya, tanpa basa-basi, dia jelasin ke staff itu, dia benerin sampai semua datanya balance. Otomatis kita semua takjub, gak nyangka aja, dia memang cerdas." Puji Bagas.
"Serius, kamu? Aku jadi merasa curiga, sebenarnya Hila ini siapa? Dan kenapa Gara begitu memperhatikannya? Sampai-sampai Gara membelikannya perlengkapan bayi? Apa ada yang kamu ketahui dari mereka berdua?" selidik Keyza.
"Saya sempat heran, dan sepertinya mereka memang saling mengenal, Bu." Ujar Bagas sambil mengemudikan mobilnya.
"Apa yang kamu tahu?"
Bagas mengerlingkan matanya, "Seminggu yang lalu, saat Tuan Gara duduk di ruang Direktur, saya sempat menyuruh Hila mengantarkan minuman ke ruangannya. Waktu itu, Hila lama sekali tak kembali, saya jadi khawatir, takutnya dia kenapa-napa, pas saya lihat, karena pintu Tuan Gara tak dikunci, saya menengok sebentar, saya begitu kaget, Bu ...."
"Kaget? Kenapa? Ada apa? Katakan padaku,"
"Nampan yang Hila bawa berceceran di lantai, gelasnya pecah, kue nya pun berhamburan. Saya kaget, entah apa yang terjadi, tapi saya lihat Tuan Gara seperti menenangkan Hila, karena ia mengajaknya untuk duduk di sofa. Saya sempat mengira, apa mereka saling mengenal?" tanya Bagas.
"Hanya Hila yang bisa menjawab. Aku jadi tak sabar, ingin segera sampai di rumahnya," tambah Keyza.
"Iya, Bu. Saya pun penasaran."
Setengah jam kemudian, Keyza dan Bagas telah sampai di rumah Hila. Keyza pun mengetuk pintu, dan betapa terkejutnya Hila, ketika melihat Keyza sudah berdiri didepan pintu rumahnya. Tanpa berpikir panjang, Hila mempersilahkan Keyza masuk. Bagas pun membawa semua belanjaan yang tadi ia beli bersama Keyza.
"Ya ampun, Bu Keyza ... i-ibu, ada apa kesini? Aduh, maaf sekali, rumah saya terlalu kecil, mungkin Ibu tak akan nyaman disini," ujar Hila.
"Gak apa-apa, saya sudah lama gak ketemu sama kamu, Hila. Jadi, saya memutuskan untuk datang kesini." Keyza tersenyum.
"Bu, tunggu sebentar ya, saya sediakan minum dan cemilan dulu," ucap Hila.
"Tak perlu Hil, tak perlu repot-repot. Kamu lagi hamil besar, duduk saja. Saya hanya ingin memberi tahu sesuatu padamu, dan ini saya bawakan perlengkapanmu untuk melahirkan. Apa kamu sudah belanja sebelumnya?" tanya Keyza.
"Belum, Bu. Niatnya minggu sekarang mau belanja sama teman saya, nunggu dia libur dulu. I-ibu gak perlu repot-repot membelikan saya perlengkapan bayi, Bu ... " Ujar Hila.
"Ini, bukan saya yang belikan, kok. Kebetulan aja Bagas disuruh Gara, dan saya mau pergi sama Nagas, jadi sekalian saya pilihkan untuk kamu," ucap Keyza.
Ya Allah, Gara ... ternyata dia sungguh-sungguh membelikan semua itu. Aku kira, dia hanya bergurau. Ta-tapi, kenapa Bu Keyza juga harus mengetahuinya? Bagaimana kalau ketahuan? Aku takut. YaAllah, tolong aku. Aku tak mau mereka tahu, bahwa aku mengandung anak Gara. Batin Hila.
"Ah? Oh, i-iya Bu. Terima kasih banyak," Hila gugup, tangannya gemetaran.
"Kamu mengenal Gara?"
DEG. Hila tak menyangka, kata-kata itu akan keluar dari mulut Keyza.
"Saya tahu, Bu. Karena Pak Gara adalah Direktur baru di Lc Grup." Jawab Hila asal.
"Maksudku, apa kamu mengenal Gara? Bukan sebagai Direktur, tapi sebagai Sagara," tegas Keyza.
Hila terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Hila tak mau, menambah masalah di kehidupan Gara. Hila sudah berjanji, tak akan mengganggu Gara dan tak akan memberi tahu siapapun perihal janin ini.
"Kenapa diam? Apa kamu kenal Gara? Dia minta maaf padamu, karena tak bisa mengantarnya sendiri. Karena dia sedang sibuk," pekik Keyza.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak, saya malu telah merepotkan kalian. Sekali lagi, maafkan saya, Bu."
"Apa kamu tak penasaran Gara sibuk apa?" Keyza sengaja mengatakan ini.
"Ya, saya mengerti, Bu. Seorang Direktur baru pasti sangat sibuk, katanya Pak Gara juga akan melaksanakan peresmian jabatan, bukan begitu?" tanya Hila.
"Bukan hanya itu, Gara juga sibuk akan mempersiapkan acara tunangannya." Keyza sengaja mengatakan hal itu, karena ia ingin melihat reaksi Hila.
"Ah, syukurlah. Pasti keluarga Bu Keyza dan Pak Gara sedang sibuk mempersiapkannya. Maafkan saya ya, Bu. Gara-gara saya, Ibu jadi menyempatkan kesini, padahal gak usah repot-repot Bu. Maaf sekali ya," Hila mencoba menutupi rasa kagetnya.
Sagara ... kamu akan bertunangan, kamu pasti bahagia. Aku sangat kaget ketika Kakakmu berkata seperti itu. Tapi, aku harus bisa menyembunyikan kesedihanku, karena aku tak boleh mencoreng namamu karena perbuatan kita. Biarlah aku yang terluka sendiri disini, karena ini adalah karma untukku. Aku tak akan menghancurkan kebahagiaanmu. Berbahagialah bersama wanita pilihanmu, lupakan saja aku, karena kita tak ada hubungan apa-apa. Semoga bahagia, Sagara. Batin Hila.
"Kamu refleks sekali, Hila. Terlihat dari cara bicaramu, kamu begitu kaget mendengar Gara akan bertunangan, tapi kamu memaksakan dirimu untuk tetap terlihat biasa saja. Padahal, aku bisa melihat kesedihan dari gurat wajahmu." Tegas Keyza.
"Maksud Ibu apa ya? Saya gak ngerti sama sekali," Hila mencoba menutupi semuanya.
"Jujurlah pada saya, Hila. Ada apa sebenarnya antara kamu dan Sagara? Katakan saja, aku bisa memaklumi semuanya." Keyza pun berbicara terus terang.
"Enggak ada apa-apa kok, Bu. Hila sudah jujur," Hila menunduk.
"Ada apa antara kamu dan Gara di ruangannya minggu lalu? Sepertinya terjadi sesuatu," Keyza terus mendesak Hila.
DEG, darimana Bu Keyza tahu semua itu? Batin Hila.
"I-itu, saya, sebenarnya saya teledor, Bu. Saya tak melihat jalan dengan baik, jadi saya jatuh tergelincir, dan nampan yang saya bawa berceceran di lantai." Ucap Hila beralasan.
"Benarkah begitu? Lalu, kenapa kamu dan Gara begitu akrab pada saat itu?"
"Mm, ti-tidak, Bu. Pak Gara hanya khawatir pada saya, karena melihat saya sedang hamil. Jadi, dia mengajak saya duduk di sofa, agar saya rileks, hanya itu, Bu." Ujar Hila.
"Apa benar seperti itu?" Keyza masih tak percaya.
"Iya, Bu." Hila masih amat gugup dan gemetar.
Aku kaget mendengar Gara akan bertunangan. Aku tak boleh menghancurkan hidupnya. Aku tak boleh memberi tahu bu Keyza tentang kehamilan ini. Aku harus menutupnya rapat-rapat. Aku hanya ingin Gara bahagia, dengan wanitanya, dan aku tak ingin dia hancur karena bayi ini. Aku tak mau, menjadi perusak karir Gara, walaupun bayi ini pasti ingin mendapat pengakuan Ayahnya. Biarlah, karena ini kesalahan dan kebodohanku, aku harus menanggung semuanya sendiri. Walau aku terluka, setidaknya Gara tetap bahagia, aku harus ikhlas, atas semua ini. Karena Allah sedang mengujiku, bagaimana aku bersikap. Gara, berbahagialah, karena kebahagiaanmu bersamanya, bukan bersamaku. Batin Hila.
...❤❤❤...
Gara dan Bianca sedang jalan-jalan bersama. Entah mengapa, Gara menjadi tak semangat lagi jika dekat dengan Bianca. Semenjak Hila hadir lagi didalam kehidupannya, hati Gara mulai kembali bertaut pada Hila. Gara jadi tak semangat meneruskan hubungan dengan Bianca.
"Bi?" tanya Gara
"Iya, Gar?"
"Apa kamu yakin dengan hubungan ini?" Gara memberanikan diri.
"Tentu saja, memangnya kenapa? Kamu tak yakin?" Bianca menatap Gara.
"Rasanya, aku tak yakin akan meneruskannya. Ada hal yang mengganjal dalam hatiku, Bi."
"Apa? Jangan bilang ada wanita lain yang mengisi hatimu, Gar!" Bianca terlihat emosi.
"Bukan, bukan itu. Hanya saja, ada hal yang harus aku pertanggung jawabkan, bukan sekedar wanita saja." Tegas Gara.
"Apa yang harus kau pertanggung jawabkan, Gara? Apa maksudmu? Kenapa disaat sebentar lagi kita akan tunangan, hatimu malah goyah begini? Aku kurang apa padamu, Gara?" Bianca berkaca-kaca.
Gara menghela napas, ia berat bertunangan dengan Bianca, karena ada bayi di perut Hila yang memang miliknya. Gara ingin tanggung jawab pada bayi itu. Tapi, ia tak mungkin jujur pada kedua orang tuanya. Gara terlalu takut. Mungkin, jujur pada Bianca, bisa membuat Bianca memutuskan semuanya. Dan Gara ingin, Bianca pergi meninggalkannya, bukan Gara yang memutuskan.
"Maafkan aku, Bi ..."
"Apa, Gar? Kenapa?" Bianca mulai sedih.
"Aku harus bertanggung jawab untuk anakku, ada anak yang harus mendapat pengakuan dariku, sebagai Ayahnya. Tinggalkan saja aku, Bi. Aku tak pantas untukmu," Gara menunduk.
"Astaga, Gara! Apa maksudmu? Kau bercanda, bukan? Tega sekali kau memberiku lelucon seperti itu disaat besok hari pertunangan kita! Apa kau sengaja mengerjaiku, Gara?" Bianca mulai menitikkan air matanya.
"Maafkan aku, Bi. Batalkan saja pertunangan ini, tinggalkan saja aku, aku tak bisa bersamamu. Aku ... sebenarnya, aku ...."
"APA, GAR? KATAKAN!!!!!" Bianca menangis.
"Aku telah menghamili seorang wanita, Bi ...."
*Bersambung*
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA❤
yang baik hati, boleh banget vote dan beri hadiah jika kalian suka cerita ini.