Risha yang akan dijodohkan memilih kabur dari rumahnya, dan akan bertahan dengan bekerja menjadi ART.
Namun siapa sangka ternyata tempat ia bernaung adalah rumah lelaki yg akan dijodohkan olehnya.
Bagaimana Risha mengahadapi perjodohan ini, bagaimana lika liku yang akan dihadapi Risha?
Nantikan ceritanya disini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nie Junie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21 - KE BANDUNG
Rayhan sudah pergi meninggalkan rumah diantarkan oleh Risha sampai ke pintu utama. Esa pun datang karena ia juga akan ikut ke Bandung, sementara perusahaan akan di urus oleh orang kepercayaan Pak Bagas selaku CEO, walau hanya sementara.
Risha mengantarkan Rayhan ke pintu utama dengan perasaan yang campur aduk, ia sudah pernah merasakan ditinggal Rayhan walau belum menjadi kekasihnya, itu saja rasanya rindu sekali. Bagaimana sekarang dengan ia yang sudah memiliki status dengan Rayhan.
Sebelum pergi Rayhan sempat mengatakan kepada Risha agar ia selalu mengabarinya kemanapun akan pergi, dan setiap jam makan siang Risha harus menelepon atau video call. Semua itu Rayhan yang meminta takut-takut saat di sana ia akan lupa waktu dan tidak menghubungi Risha sama sekali.
Sungguh hal yang aneh sebenarnya karena harus Risha yang menghubungi, namun saat Rayhan memberikan alasannya Risha pun mengerti pada akhirnya.
"Aku ga mau sampai lupa hubungi kamu, jadi tolong kamu yang hubungi aku ya Risha"
Risha mengingat lagi bagaimana Rayhan meminta hal itu, dengan wajah dan sorot mata memohon Rayhan mengatakan hal yang membuat hatinya menghangat. Risha pun menyanggupi hal tersebut karena tak ingin Rayhan juga sampai lupa waktu saat bekerja nantinya.
******
Dua hari kemudian
Risha pagi ini cepat-cepat membereskan piring kotornya. Ini hari pertama ia akan masuk kuliah lagi setelah beberapa minggu ia libur kuliah. Ia akan pergi ke kampus di antar oleh supir sesuai dengan kesepakatan awal dengan Rayhan.
Walau Rayhan mungkin memang tidak berada di rumah namun ia ingin tetap memegang janjinya untuk menggunakan supir saat pergi dan pulang dari ataupun ke kampus. Ia tak ingin membuat Rayhan yang sedang bekerja tidak konsentrasi dengan pekerjaannya dan membuatnya khawatir.
Seperti pagi ini, di hari pertamanya ia berada di kampus teman-temannya semua heran dengan kedatangan Risha menggunakan mobil yang belum pernah dilihat oleh teman-temannya. Hal itu pun mengundang kecurigaan mereka semua.
"Eh Ris, lo kenapa tumben pakai diantar segala?" tanya seorang sahabat Risha, Andini.
"Gue ga bisa ceritain sekarang, panjang ceritanya" ucap Risha sambil berjalan menuju kelasnya.
"Terus yang ngendarain tadi supir apa cowok lo?" tanyanya lagi masih penasaran.
"Itu supirnya. Udah dong, lo banyak tanya deh" Risha sedikit kesal karena sedari tadi sahabatnya mengulik terus tentangnya.
"Yee gue kan cuma tanya, jangan ngegas dong" Andini pun berbicara lirih merasa tak enak juga dengan Risha.
Setelah perdebatan mereka datang lagi seorang sahabat Risha, Marko. Mereka bertiga adalah sahabat sejak pertama mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Marko merupakan seorang anak dari pengusaha yang cukup terkenal juga di daerah Jakarta, berbeda dengan Andini, ia adalah anak dari keluarga sederhana, namun karena ayahnya seorang yang pekerja keras ia menjadi orang kepercayaan sang pemilik perusahaan.
Dan karena hal tersebut ekonomi mereka pun layaknya orang-orang high class lainnya. Meskipun mereka bertiga termasuk keluarga berada namun mereka selalu menjadi pribadi yang sederhana, tak memilih teman dan selalu bersosialisasi dengan baik dilingkungan manapun mereka berada.
"Hai Ris, An" sapa Marko saat ia baru saja mendaratkan bokongnya di kursi antara Risha dan Andini.
"Hai"
"Hai juga" jawab mereka berdua bersamaan.
"Eh Mar lo belum tahu kan ada kabar apa hari ini?" tanya Andini pada Marko membuat yang ditanyai menggelengkan kepalanya.
"Tadi ada yang diantar sama supir baru" bisik Andini tepat di telinga Marko namun masih terdengar oleh Risha.
"Aww, sakit non!" Andini mengaduh, Risha mencubit lengan Andini, memperingatinya agar tidak memberitahu apapun.
"Iya Ris?" tanya Marko penasaran, ia pun sudah mengubah posisinya menghadap Risha.
"Hmm... Iya" jawab Risha malas.
"Duh mukanya ga usah gitu Ris" ucap Andini lagi masih mengusap lengannya yang sakit.
"Udah deh ga usah ghibah lo pada. Tuh dosen udah dateng" ucap Risha sambil menunjuk dosen yang tengah berjalan memasuki kelas mereka dengan telunjuknya.
"Ris lo utang cerita sama gue dan Marko. Ga mau tahu!" ucap Andini memperingati Risha.
"Iss berisik lo!" kesal Risha sambil menoyor pipi Andini.
Akhirnya mereka bertiga juga temannya yang lain berkonsentrasi untuk materi kuliah hari ini sampai dengan selesai. Risha dan teman-temannya hanya mendengarkan mengingat kelas ini lebih banyak teorinya.
Hari sudah tengah hari saat Risha selesai dengan semua mata kuliahnya hari ini. Ia kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya, kemudian mengetikkan pesan disana dan langsung dikirim ke nomor tujuan. Kemudian ia kembali mengetikkan pesan dan setelah selesai langsung dikirimnya ke nomor tujuan yang berbeda dari yang pertama.
Risha, Andini dan Marko kemudian berjalan keluar kelas bersama. Mereka pergi ke parkiran karena akan langaung pulang setelah lelah di kampus.
"Ris kapan lo mau cerita?" tanya Andini yang kini berada di sebelah mobil Marko.
"Nanti ya kapan-kapan pas kita senggang. Tenang gue pasti cerita sama lo berdua" ucap Risha, ia meletakkan tangannya di bahu Andini.
"Ya udah kita cabut dulu Ris, lo yakin ga mau bareng kita?" tanya Marko karena biasanya Risha pulang bersama mereka setelah kuliah.
"Ga lah, makasih Mar. Gue di jemput" ucap Risha seraya melambaikan tangannya salam perpisahan dengan sahabatnya.
"Kita duluan ya Ris" Andini merangkul Risha, masih dilanda rasa rindu setelah baru bertemu tapi tak punya banyak waktu karena mereka mulai sibuk dengan tugas-tugas dan skripsinya.
Setelah melepas kepergian dua sahabatnya Risha menunggu Mang Edo datang. Risha menunggu sekitar sepuluh menit dan saat melihat sebuah mobil hitam Audi yang mengantarnya tadi pagi ia langsung tersenyum, jemputannya telah datang.
Tin... Tin...
Klakson dibunyikan oleh Mang Edo, Risha kemudian mengangguk dan langsung membuka pintu mobil sebelum Mang Edo membukakan untuknya.
"Maaf Neng, terlambat sedikit biasa kena macet" Mang Edo melihat Risha dari kaca spion dalam mobil.
"Iya ga apa Mang, Risha juga baru sebentar kok nunggunya" Risha memaklumi karena memang saat ini masih jam makan siang dan menuju kampus Risha memang harus melewati beberapa gedung perkantoran.
Mang Edo mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Mereka sedang tidak terburu-buru. Saat dimobil ponsel Risha berdering, ada panggilan masuk. Dengan cepat Risha merogoh tasnya, mengambil ponsel dan saat dilihatnya layar ponsel senyumnya mengembang.
"Halo assalamu'alaikum" Risha memberi salam.
"Wa'alaikum salam. Maaf ya baru bisa hubungi kamu" terdengar suara Rayhan diseberang telepon.
"Iya ga apa. Gimana kamu disana?" tanya Risha sambil melihat-lihat pemandangan di luar jendela mobil.
"Alhamdulillah baik sayang. Kamu gimana hari pertama kuliah?" Rayhan balik bertanya
"Ya begitulah, tugas dan lainnya langsung pada antri" keluh Risha membuat wajahnya berubah seketika mengingat banyaknya tugas di hari pertama kuliah.
"Jangan ngeluh dong sayang, perjuangan kamu kan tinggal sebentar lagi. Atau ga kamu mau berhenti kuliah? Langsung nikah aja yuk" goda Rayhan ia pun tersenyum.
"Iss kamu tuh apa-apaan sih, malu lah aku dampingin kamu masa S1 aja ga kelar" ucap Risha mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah makanya nikmatin aja prosesnya, sabar." ucap Rayhan lagi di ujung telepon.
"Ya udah aku makan siangnya udah selesai nih. Mau lanjut tinjau proyek, kamu hati-hati ya" lanjut Rayhan dari seberang telepon.
"Iya, kamu juga ya" Risha dan Rayhan kemudian memutuskan panggilan telepon mereka bersamaan.
Tak lama Risha pun sampai di kediaman keluarga Kusuma.
"Makasih Mang Edo maaf ya ngerepotin" ucap Risha seraya tersenyum.
"Ga apa Neng, Mas Ray yang minta. Lagi pula ini perintah, kita kan udah tahu Neng bakal calon keluarga ini" Mang Edo tersenyum ramah menimpali ucapan Risha.
Risha kemudian keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah setengah berlari. Risha langsung menuju dapur, ia bertemu dengan Bi Zah yang sedang menyiapkan bahan makanan untuk makan siang.
"Bi Zah, mau masak apa?" tanya Risha saat sudah berada di belakang Bi Zah.
"Ya ampun Risha, bikin kaget bibi. Mau masak yang gampang aja Sha." ucap Bi Zah kemudian menyalakan kompor dan masih memegang dadanya merasai debaran jantungnya akibat terkejut.
"Dibantuin ga?" tanya Risha sambil mengambilkan sutil untuk Bi Zah pakai.
"Ga usah, kamu ganti baju aja, makan terus istirahat. Ingat pesan Mas Ray, Sha" Bi Zah memperingati.
Sebelum berangkat ke Bandung pada malam harinya Rayhan memang sempat menemui Bi Zah selaku kepala Asisten Rumah Tangga di rumahnya. Ia berpesan agar Risha jangan terlalu banyak tugas dan pekerjaan selama ia kuliah. Bi Zah pun menurut.
"Jangan dengerin Bi, aku kan kuliah juga dibiayain. Ga enak lah" jawab Risha mengingat kini kuliahnya dibiayai oleh keluarga Kusuma, tepatnya oleh Rayhan.
"Ya ga apa Sha, namanya juga calon mantu. Udah sana ganti baju, bibi mau masak" Bi Zah mengingatkan Risha lagi.
"Iya deh. Makasih ya bi" Risha kemudian berlalu pergi dari sana menuju kamarnya.
Walau Risha kini menjadi kekasih Rayhan namun ia tetap tinggal di kamar pelayan seperti semula, karena ia sudah merasa nyaman. Rayhan yang memintanya untuk pindah saja tak dihiraukannya dengan alasan, "Kamarnya udah aku hias kaya yang aku suka, kalau pindah dihias ulang. Capek aku tuh".
*******
Satu minggu sudah berlalu, Rayhan dan Risha pun rajin bertukar kabar setiap harinya. Seharusnya hari ini Rayhan sudah pulang ke Jakarta, namun terkendala dengan pembangunan taman yang akan di renovasi oleh pihak hotel mereka. Kepulangan Rayhan pun diundur beberapa hari, dan juga belum bisa di prediksi karena cuaca sedang tak mendukung untuk memulai pembangunan belum lagi sering terjadi hujan lebat serta angin dan kilat menyambar.
Cuaca ekstrim juga terjadi di Jakarta, sepertinya cuaca buruk cukup rata di sebagian Jawa Barat dan sekitarnya. Hari ini Risha rencananya akan ke rumah Andini selepas jam kuliah selesai. Ia sudah memberitahu Mang Edo agar tak usah menjemputnya, ia akan pulang bersama Marko dan Andini.
"Gimana Ris ceritanya lo bisa jadi ART disana?" tanya Andini antusias setelah mereka sampai di rumah Andini.
Marko pun mengekori kedua sahabatnya, memasuki rumah Andini yang cukup besar. Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Andini memanggil pelayan untuk membuatkan minum.
"Jadi gue kabur dari rumah" ucap Risha sambil mendaratkan bokongnya ke sofa. Ia pun sejenak bersantai.
"What?" Andini dan Marko serempak setengah berteriak, tak percaya.
"Kenapa bisa?" Andini heran karena selama ia mengenal Risha, sahabatnya adalah anak penurut.
"Gue mau dijodohin" lanjut Risha lagi singkat.
"Serius?" Marko melotot saat bertanya, bola matanya hampir saja keluar dari tempatnya, ia tak percaya.
"He-eh" Risha menganggukkan kepalanya.
"Terus kuliah lo?" Andini menaruh tiga gelas jus yang dibawakan oleh pelayan di rumahnya kemudian ia juga menaruh camilan di meja.
"Lo cerita pake slow motion ya Ris? Kesal gue dengernya" Marko mengambil minum kemudian meneguknya sampai habis setengahnya.
"Sabar Ko!" jawab Risha.
Ia kemudian menyuruh temannya untuk mendekat dan setelah itu ia menceritakan semua yang ia alami sampai ia sekarang telah berhubungan dengan Rayhan, anak dari sang majikan. Marko yang mendengarnya cukup terkejut karena pasalnya ia pun menaruh hati kepada Risha, namun belum cukup keberanian untuk mengutarakannya.
"Terus lo bakal nikah sama dia?" tanya Marko mulai putus asa.
"Ya kalau Tuhan mengizinkan Ko. Gue juga belum bilang mereka tentang keluarga gue" jawab Risha lirih, ia ingat ada yang belum ia beritahu kepada Rayhan.
"Lo harus jujur Ris, dia bakal terima lo apa adanya kalau emang cinta sama lo" Andini menepuk bahu Risha memberinya semangat Risha pun mengangguk.
"Tapi gimana kalau keluarga lo yang ga setuju? Dan tetap minta buat perjodohan tetap dilanjutkan?" tanya Marko lagi masih mencari celah siapa tahu masih ada peluang.
"Ga mungkinlah Marko, gue tahu betul keluarga Risha. Mereka ga kolot dan ga monoton kok." Andini menyangsikan pertanyaan Marko karena itu adalah hal yang tak mungkin menurutnya.
"Tenang aja Ris, apapun keputusan lo itu yang terbaik menurut lo, kita akan terus dukung lo" lanjut Andini menunjuk dirinya juga Marko bergantian, menguatkan Risha, ia pun manggut-manggut.
Setelah Andini mengatakan hal itu mereka melihat Marko berdiri, mereka pun heran dan kemudian saling tatap. Tak biasanya Marko seperti ini, ia seperti terburu-buru padahal sebelumnya ia bilang hari ini ia free tak ada jadwal apapun.
"Lo mau kemana Ko?" tanya Risha seraya mendongak menatap Marko yang sudah tegap berdiri.
"Pulang Ris, gue tadi di kirimin pesan adik gue minta antar ke toko buku" ucapnya bohong, sebenarnya ia sedang merasakan kesal, kecewa marah dan lainnya karena belum bisa menerima ternyata sang pujaan hati sekarang sudah ada yang memiliki.
"Terus nanti gue balik gimana?" tanya Risha lagi.
"Naik ojol aja ya Ris, sorry banget nih" ucapnya lagi dengan rahang yang mengeras ia mencoba untuk sesantai mungkin.
"Iya deh, ga apa kok." ucap Risha tersenyum, senyumannya pun dibalas oleh Marko walau kaku.
Marko berpamitan kepada dua sahabatnya, kemudian ia keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Dengan tergesa ia mengendarai mobilnya, saat mobil sudah melaju menjauhi rumah sahabatnya ia pun merutuki kebodohannya, memukul-mukul kemudi dan menjambak rambutnya. Satu kata yang tepat untuknya kini, ia sedang patah hati.
terima kasih semua...
salam sayang...
Semangat thor nie 🤗