Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resti Yang Membaik
Tapi tidur Dhanil tak lama, suaran ngaji dimasjid menandakan waktu shubuh sudah dekat membangunkan Dhanil dari tidurnya, Dhanil kembali merenung panjang, saat adzan shubuh berkumandang Dhanil bangkit dan mengambil air wudhu’. Dhanil sudah kehilangan tiga waktu sholat semalam, Dhanil lupa dengan Ashar, Maghrib dan Isya karena limbung dengan menghilangnya Yani, sehingga Dhanil merasa waktu yang satu ini tidak baik unuk tertinggal lagi. Begitu adzan selesai, Dhanil langsung mengangkat takbir memulai sholat subuh. Sepanjang solat Dhanil terus diliputi rasa haru yang berkepanjangan, masih belum yakin dengan apa yang dialaminya saat ini, diakhir Dhanil dengan penuh kekecutan memanjatkan doa yang lumayan panjang, hal yang paling diharapkan Dhanil tentunya Yani bisa kembali tinggal serumah bersamanya, apalagi Dhanil tahu kalau Yani sedang mengandung buah cinta mereka. Dhanil tersudut, rasa gembira akan hadirnya keturunan mereka hanya berlangsung sekian jam saja, berganti dengan rasa kehilangan yang tiada tara sakitnya.
Jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB saat Dhanil beranjak keluar rumah, sepeda motornya memang masih diluar, tadi malam tak ada terpikir untuk memasukkannya sama sekali. Kehadiran Dhanil yang terlampau pagi tentu saja menghadirkan tanya bagi Satpam sekolah, satpam sebelumnya belum pernah melihat guru IPS itu datang begitu cepatnya.
“Cepat kali Pak ?”. Sapa Satpam.
Dhanil hanya senyum kecut. Satpam melebarkan pintu dan Dhanil langsung menuju parkiran, parkirkan sepeda motornya dan menuju ruang guru yang masih kosong. Dhanil duduk dimejanya dan melanjutkan renungannya yang panjang.
Fadli masuk ruang guru. Tak ada kata kata yang dapat disampaikan Fadli begitu ia duduk disamping Dhanil. Fadli merasa tak punya kalimat yang pantas untuk disampaikan pada sahabatnya ini. Akhirnya Dhanil dan Fadli hanya diam diaman hingga bel masuk terdengar, Fadli yang lebih dulu berdiri, Dhanil akhirnya ikut berdiri walau tampak penuh dengan ketidak siapan. Bisik bisik para guru lain yang kemudian membuat langkah Dhanil bertambah cepat menuju ruang kelas VIIC dimana ia harus menyampaikan materi pembelajaran hari ini.
Kepala sekolah masuk ruang guru dan duduk didekat para guru yang belum kebagian jatah masuk kelas. Mata mereka sama sama menatap Dhanil yang naik tangga menuju lantai II dimana ruang kelas VIIC berada.
“Mental Pak Dhanil cukup kuat. Dengar cerita Pak Fadli tadi malam, saya nggak yakin Pak Dhanil masuk hari ini”. Kata Kepala Sekolah.
“Iya Pak. Pak Dhanil cukup kuat. Padahal istrinya itu sedang hamil”.
“Hamil ?”.
Bu Ros yang menjawab perkatan Fadli,kepala sekolah menganggukkan kepala, kepala sekolah akhirnya hanya bisa geleng geleng kepala, ia tak menyangka kalau guru terbaik yang ia punya itu akan mengalami nasib yang tak wajar seperti itu, sehingga kepala sekolah menaruh rasa kasihan yang dalam pada Dhanil, tapi tak hanya kepala sekolah, guru guru yang lain yang tahu cerita Dhanil memberi cap jempol pada Dhanil yang masih mampu melangkahkan kakinya menuju ruang kelas memberikan pelajaran kepada siswa yang merupakan kewajibannya sebagai seorang guru. Banyak guru yang mengklaim jika ia yang mengalami hal tersebut, maka mungkin ia tak akan mampu menunjukkan sikap layaknya Dhanil.
Fadli lebih kepikir Dhanil ketimbang materi pelajaran yang diembannya pagi ini, akhirnya Fadli hanya memberikan soal agar dijawan oleh siswanya dan beranjak keluar, tujuan Fadli adalah ruang kelas IXB tempat Resti, Fadli ingin mengorek informasi dari Resti, karena Resti memang tinggal dirumah neneknya, pasti ia tahu soal Yani.
Fadli geleng kepala saat melewati kelas Dhanil, Fadli mendapati Dhanil terus menyampaikan materi pelajarannya, Dhanil seperti tak terpengaruh dengan kisah yang berlaku padanya. Ini membuat Fadli salut betul pada Dhanil yang mampu menguasai diri.
Fadli permisi pada Pak Gabe dan menarik tangan Resti keluar kelas, Fadli membawa Resti menuju ruang BP. “Bibimu dimana Res ?”.
“Bibi mana Pak ?”.
“Bibi Yani, istri Pak Dhanil”.
Resti terdiam. Raut wajahnya berubah mendengar pertanyaan Fadli, Resti sebenarnya mau kabur saja, tapi Fadli guru yang cukup disegani Resti sehingga mambuat kaki Resti tak mampu beranjak. Membuang resahnya Resti mengalihkan pandangan keluar ruangan.
“Dimana Res ?”.
Resti tampak gugup. “Resti Pak.. Resti..”.
“Tak usah ragu. Bapak hanya ingin tahu saja Kok”.
“Tapi Resti Pak”.
Fadli senyum lagi. “Tak usah ragu Res, Bapak hanya pengen tahu aja kok nggak lebih dari itu”.
Resti tampak resah dengan membuang nafas yang lumayan berat. Tapi akhirnya Resti menjelaskan apa yang ia tahu sambil terus menundukkan muka memandang lantai. Setelah dibawa neneknya kemarin siang, bibinya Yani dipaksa untuk meninggalkan Sibolga, nenek Resti sudah mengatur semuanya, Hp bibinya diganti, pakaiannya dibeli yang baru, dan semua perlengkapan disediakan. Dan malam harinya Yani langsung berangkat.
“Kemana Yani perginya Res ?”.
“Kalau itu Resti nggak tahu Pak”.
“Kok nggak tahu ?”.
“Resti memang nggak dikasi tahu, Resti juga nggak berani nanya Pak”.
Fadli jadi tercenung sendiri. “Nenekmu tahu kalau bibimu hamil ?”.
Resti sedikit mendelik, ada ras terkejut dalam hati Resti mendengar penjelasan Fadli. “Hamil ?.. Maksud Bapak, Bibi Yani … “.
Fadli anggukkan kepala. “Ya.. Bibi kamu lagi hamil”.
“Berapa Pak ?”. Resti mulai tampak berani bertanya.
Fadli geleng kepala. “ Kalau itu Bapak kurang tahu. Kamu bisa tanya ke Paman Kamu, apa salahnya”.
Resti buang nafas berat. Fadli menangkap keresahan Resti, tapi Fadli juga tak punya alternatif untuk sekedar menguanginya. Resti juga memang kurang sepakat dengan sikap neneknya yang memisahkan bibinya dengan Pak Dhanil gurunya dengan cara seperti itu, tahu bibinya ternyata lagi hamil membuat Resti makin kuat dengan sikapnya yang memang menolak tindakan itu, tapi Resti tak punya nyali yang cukup untuk mengatakannya, sehingga Resti hanya berlakon sebagai penonton sejati.
“Okeylah kembali ke kelas”.
“Terima Kasih Pak”.
“Tapi Res”.
Resti berhenti melangkah. “Saya Pak”.
“Bapak minta tolong coba kamu selidiki kemana Bibimu pergi, nanti kasih tahu Bapak ya”.
Resti mengangguk, Fadli membalas anggukan Resti tanda kalau Resti sudah boleh pergi. Resti setengah berlari menuju ruang kelasnya. Fadli melangkah gontai menuju ruang kelasnya kembali. Sampai dikelas Fadli agak bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Dhanil, diomongan langsung atau bagaimana, tapi Fadli tak sanggup bicara langsung sehingga ia memilih menyampaikan dialognya dengan Resti kepada Dhanil via SMS.
..... BERSAMBUNG ...
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya