NovelToon NovelToon
Montir Ganteng

Montir Ganteng

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:427.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dareen

Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.

Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.

Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 22 (Ajakan Makan Malam)

Selesai sudah konflik antara bokap sama gue.

Kini, gue betah berada di rumah. Bokap terlihat sayang sama gue. Mungkin dari lubuk hati yang paling dalam, bokap terlalu menyayangi gue. Sehingga tanpa sadar, papa selalu membandingkan gue dengan bang Aril.

Mungkin juga lecutan untuk gue, agar bisa meniru jejak bang Aril yang bisa papa andalkan.

Kini, Papa sudah pensiun dari perusahaan. Makanya, posisi papa sekarang digantikan sama bang Aril.

"Bang, Lu ngomong apa aja sih, sama Papa?" tanya gue.

"Semuanya Dek, Abang enggak mau papa salah paham lagi sama Kamu. Sudah waktunya papa tahu, Dek. Agar papa tidak selalu salah menilaimu," jawab bang Aril.

"Ya, apaan?"

"Abang udah tahu kalau Kamu pemilik dari bengkel baru itu."

Mata gue seketika membulat, kaget mendengar perkataan bang Aril.

"Dari mana Abang tahu?"

"Ferdy telah menceritakan semuanya, sebenarnya dari awal Ferdy ingin kasih tahu Abang, tapi Kamu yang minta dirahasiakan. Hingga sekarang, Kamu punya bengkel sendiri. Abang salut sama kamu Dek. Abang kira, kamu susah untuk hidup mandiri ternyata pandangan Abang salah. Kamu malah bisa berdiri di kaki sendiri tanpa ada bantuan dari siapa pun termasuk Papa." Bang Aril memeluk dan menepuk pundak gue.

.

Gue tahu, baik Ferdy ataukah bang Aril semuanya tidak ada yang bermaksud jahat pada gue. Mereka terlalu menyayangi gue, terlebih bang Aril yang telah tahu dari dulu tentang konflik papa sama gue. Mungkin bang Aril ingin memberi tahu papa agar di masa tua papa bisa mengetahui kegigihan anak bungsunya, yang mungkin menurut papa malas, susah diatur, dan hal pandangan jelek tentang gue bisa terbuka dengan memberi tahu kegigihan gue untuk membangun usaha sendiri.

***

Kini usia gue menginjak angka 26 tahun. Si papa udah menanyakan kapan gue nikah, begitupun sama Mama. Namun, selalu gue jawab, 'Akan indah pada waktunya Pa, Ma.'

Kini, gue sedang menunggu Yumna di gerbang kampus.

Kampus?

Yups, Yumna sudah kuliah. Bahkan tinggal 1 tahun lagi menyabet gelar sarjana disalah satu kampus ternama di kota Bandung.

Yumna tampak lebih dewasa. Tapi satu hal yang paling gue kangumi dari Yumna yaitu gayanya yang selalu tidak menonjolkan bahwa ia seorang anak dari orang kaya.

Tidak ada barang branded yang ia pakai ketika di kampus. Bahkan sering sekali dia naik angkot ke tempat kuliahnya, apa bila gue enggak bisa jemput. Dia jauh lebih mandiri, jadi makin sayang sama my *****.

"Udah dari tadi nunggunya, Oppa?" ucap Yumna.

Gue tersenyum.

Walau centilnya sudah jauh berkurang, tapi jangan tanya manjanya ya? Tetep aja kek dulu. Super duper manja.

"Na, nanti malam ada acara enggak?" tanya gue.

"Enggak ada, kenapa?"

"Makan malam di rumah Kakak, yuk? Kakak mau kenalin Kamu ke orang tua." Ajak gue.

Yumna terdiam.

"Na, Mau enggak?" tanya gue.

Yumna mengangguk.

Seperti percaya gak percaya, kalau gue mengajak makan malam di rumah. Serta akan mengenalkan kepada orang tua gue.

Terlihat, matanya berkaca-kaca, mungkin terharu. Karena ini kalik pertama gue akan mengenalkan Yumna pada papa dan mama.

"Kamu mau?" tanya gue seraya menaik turunkan alis.

"Iya." Yumna tertawa kecil sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Ya udah, nanti Kakak jemput ke rumah, ya."

.

Di perjalanan, Yumna memeluk gue erat, sesekali gue melihat dari kaca spion ia cengengesan kek orang kesambet, ketawa-tawa kagak jelas.

Mungkin itu ekspresi dari kegembiraannya.

"Dandan yang cantik, ya?" ucap gue.

Yumna melontarkan senyuman dan melambaikan tangan ketika gue pamit untuk balik ke bengkel.

Namun, papa WA ketika gue sedang di perjalanan, katanya ada berkas penting yang ketinggalan di rumah. Papa minta anterin berkasnya ke bang Aril.

Langsung gue puter arah menuju rumah. Sesampainya di rumah hanya ada kak Manda.

"Kak, Papa mana?" tanya gue.

"Papa lagi ada perlu sama Mama. Ini berkasnya Reen, tadi Papa suruh kasihin berkas ini ke Kamu."

"Ini doang, Kak?"

"Hm'em." Kak Manda mengakhiri.

Semenjak Bang Aril menikahi kak Manda. Kak Manda sudah tidak bekerja di kantor, kak Manda stay di rumah menjadi ibu rumah tangga. Gue bawa motor agak ngebut, karena Ferdy juga keteter di bengkel lagi rame.

Sesampainya di kantor, gue terburu-buru dan langsung masuk ke ruangan bang Aril, karena menurut gue bang Aril sedang menunggu berkas penting ini. Gue nyelonong masuk tanpa ketok pintu terlebih dahulu.

"Bang Aril?" Mata gue terbelalak.

"Dareen?" Terlihat ekspresi kaget di wajah bang Aril.

Gue menyerahkan tanpa ngomong apa-apa. Meletakan berkas itu di atas meja kerja bang Aril. Langsung kaki melangkah ke arah pintu meninggalkan bang Aril. Namun, ada langkah kaki yang mengikuti dari belakang.

"Dek, tunggu!"

Gue berjalan tanpa menoleh ke belakang, karena gue tahu yang memanggil itu suara bang Aril. Suara bang Aril terus memanggil. Hingga sesampainya di parkiran, gue terdiam. Menunggu, sebenarnya dia mau ngomong apa? Bang Aril menghampiri gue, napasnya ngos-ngosan karena sedari tadi mengejar gue.

"Apa?" Gue bertanya.

"Dek, jangan kasih tahu kak Manda ya, tentang masalah ini?"

Mata gue yang sipit, akhirnya terbelalak juga menatap bang Aril.

"Kenapa Abang jadi seperti ini? Di mana Abang gue yang dulu? Abang yang terbaik menurut gue." Gue menatap tajam mata bang Aril.

"Ada alasannya, Dek," ujar bang Aril.

"Apa?"

Hening.

Entah apa yang akan bang Aril ceritakan, gue mencoba menunggu penjelasan darinya.

Namun, lagi-lagi Ferdy menanyakan gue lagi di mana? Bengkel lagi rame. Gue keteter. Isi WA dari Ferdy. Tanpa ngomong apa pun, gue pergi meninggalkan bang Aril. Tapi, lengan gue ditahannya.

"Ingat ya Dek, jangan ngomong masalah tadi sama siapapun. Terlebih kak Manda!" ancamnya.

Gue belalu pergi, tanpa menjawab ancaman yang dilontarkan bang Aril.

Gue buru-buru naik motor, tancap gas melesat ke bengkel. Benar saja, sudah teramat banyak motor dan mobil yang terparkir. Gue ambil alih sesuai antrean yang ada. Biasanya kami memang memberikan nomor antrean agar customer merasa nyaman.

Satu per satu akhirnya selesai juga pekerjaan di bengkel kami. Tiba saatnya adzan ashar, gue menyuruh Ferdy untuk bergegas sholat ashar karena memang kami sholat ashar bergantian.

Gue mencoba memperbaiki mood, agar Ferdy enggak curiga kalau gue memendam kesal karena memang biasanya Ferdy sangat peka kalau gue lagi ada masalah, dia selalu tahu. Mungkin terlihat dari ekspresi gue.

Gue duduk di bangku melepas lelah dan penat gara-gara masalah tadi sama bang Aril. Akhirnya gue memutuskan tutup bengkel, mengemas dan memasukan semua peralatan bengkel yang ada di luar.

"Ngapain diberesin, Jang?" Ferdy heran.

"Tutup aja Fer," ujar gue.

"Kenapa?"

"Lu udah kecapean dari tadi bengkel rame. Lu pulang aja, bengkel juga tinggal ditutup, nanti setelah sholat ashar Gue juga balik."

Semakin jelas kecurigaan Ferdy terhadap gue.

"Sebenarnya ada apa sih, Jang? Jujur sama Gue kalau memang ini menyangkut Gue."

"Pede banget, Lu! Kagak ada masalah kok, apa lagi sama Lu. Udah sana pulang gih, istirahat kan kalau Lu sakit, pundi-pundi uang gue berkurang." Gue terkekeh dengan menyembunyikan masalah yang memang mesti gue jaga.

"Dasar, Lu! Ya udah deh, Gue pulang ya, bye."

"Bye ... Bye ... nyet!" dadah-dadah cowok cool kek gue.

"Vangke, Lu!" Ferdy berlalu mengendarai motornya.

Sengaja gue masukan motor ke dalam bengkel. Gue tutup rolling door bengkel dan bergegas menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi.

Gue pergi mandi dan bergegas sholat ashar karena sehabis sholat magrib nanti, gue mesti jemput Yumna untuk mengajaknya makan malam di rumah.

Sejenak, gue hempaskan badan ini di atas kasur lantai. Menerawang, memandang langi-langit kamar. Namun pikiran gue masih terpaku akan kejadian tadi siang di kantor. Dimana bang Aril sedang bercumbu dengan Nila.

Sebenarnya kenapa bang Aril melakukan itu? Alasannya apa? Kak Manda kurang baik apanya? Gue enggak habis pikir melihat kelakuan bang Aril. Entahlah. Gue gak menemukan jawabanya.

Langit telah berubah menjadi jingga, tanda sholat magrib akan segera tiba. Dengan cepat, gue mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat maghrib. Selepas itu gue langsung bergegas menjemput Yumna.

Gue berhenti di bawah pohon rindang di sisi pintu gerbang. Terlihat Yumna melambaikan tangan di balik tirai kamar yang berwarna putih. Yumna melemparkan senyuman dan mengetik sesuatu dalam gawainya.

Dreett ... Hp gue bergetar.

'Aku gugup, Oppa,' isi WA dari Yumna.

'Santai aja Na, kan mau ketemu Camer bukan ketemu hantu.' Gue send.

'Dasar! Ya udah, tunggu sebentar, ya? Aku turun.'

Gue masih duduk di atas motor yang memang gue standarin.

GREKKKK!

Suara pintu gerbang rumah Yumna terbuka.

Masya Allah, gue terpukau melihat penampilannya yang begitu memukau. Yumna memakai dress selutut warna salem, rambutnya yang telah memanjang sengaja ia urai dengan sedikit sentuhan curlly di bagian bawahnya begitu anggun. Sentuhan make up natural yang semakin membuat Yumna tampil begitu cantik.

Yumna tersenyum simpul pada gue.

"Mau kemana, Neng? Mau kondangan?" Gue menggoda.

"Ich! Oppa malah ngeledekin!" Bibirnya manyun.

"Enggak Na, kalau ke undangan pun pasti Kamu di usir."

"Kenapa?"

"Karena kecantikanmu, melebihi dari pengantin wanitanya."

Eya ... Eya ....

Yumna tersenyum, dan mukanya memerah.

"Tapi maaf ya, Na."

"Kenapa?"

"Kakak cuma bawa motor, belum bisa beli mobil."

Yumna tersenyum.

"Enggak apa-apa Oppa, Aku menerima Kamu apa adanya. Perhatianmu yang membuat Aku jatuh cinta sama Kamu, Oppa Dareen."

Ayey! Gue meleleh Mak digombalin sama my *****.

Berasa terbang.

Akhirnya, kami berdua menaiki R25 menuju rumah yang belum pernah Yumna datangi.

1
Sulaiman Efendy
WADUHHH,, UDH TAMAT RUPANYA...
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
MAMPUS LO RIL.. MKANYA JDI LAKI2, JGN GOBLOK,, MNTANG2 ISTRI BLM HAMIL, LLU SLINGKUH...
Sulaiman Efendy
PARAH TU NILA,,UDH JDI ISTRI BENI, MSH JUGA MAIN BLAKANG SAMA ARIL. DN ARIL MMG LKI2 BODOH..
Sulaiman Efendy
KN KALIAN BSA CEK KSUBURAN.. KNP SOLUSINYA HRS SELINGKUH. UDH ITU SELINGKUH DGN WANITA BKAS PAKAI..
Sulaiman Efendy
PSTI MANDA BLM HAMIL,, MKANYA SI ARIL SELINGKUH,, BSA JDI NI SI ARIL YG MNDUL..
Sulaiman Efendy
KLO BENGKEL UDH RAME PELANGGAN, KNP GK REKRUT PEKERJA BIAR GK KETETERAN..
Sulaiman Efendy
WAHHH SI ARIL SELINGKUH NI KYKNYA
Sulaiman Efendy
DINASEHATKN AWALNYA SJA SADAR, SKRG MLH MKIN PARAH..
Sulaiman Efendy
LBH BAGUS LO SELIDIKI, ATAU LO CHAT SI NILA..
Sulaiman Efendy
SEBESAR APA GAJI BENI DI PRUSAHAAN PAPA DAREEN, HINGGA BSA BLANJAIIN NILA BRG2 BRANDED, JGN2 KORUPSI TU SI BENI
Sulaiman Efendy
DI BLANJAIIN BENI, WAJAR BRANDED..
Sulaiman Efendy
BISA JDI MMG ANAK BENI, DN SI BENI SELINGKUH SAMA NILA..
Sulaiman Efendy
JGN2 YUMNA ANAK SI BENI...
Sulaiman Efendy
YA AMPUN NILA, UDH DI NASEHATI DAREEN. MSH AZA BRHUBUNGN DGN SI BENI..
Sulaiman Efendy
WAAHHH DARI TANTE2, MBAK2, SEBAYA, DN ABG, SUKA MA DAREEN..
Evi
thoor hubungan Aril sama nila bagai mana,. itu si nila hamil ank siapa bpk nya???
jd penasaran aq thoor
abdan syakura
Assalamu'alaikum kak Darren..
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪
Dareen: waalaikum salam, ..
terima kasih udh singgah di novel saya, Kak 🙏
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
dapet brondong nih🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Katanya Nila ini seumuran dgn Ariel iya,berarti tua Nila iya sama Darren..😅😅
Dareen: iya 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!