Mungkinkah jatuh cinta pada pandangan pertama? Itulah yang terjadi pada Violita seorang gadis manis mahasiswi semester akhir sebuah perguruan tinggi. Ia sedang magang bersama sahabatnya di perkebunan milik Om sahabatnya. Om Aldrick adalah seorang pria misterius yang irit bicara dan anti pada perempuan.
Laki-laki itu pernah mengalami hal pahit yang membuatnya menarik diri dari semua hal yang berkaitan dengan perempuan.
Meski menyeramkan nyatanya Violita tidak bisa menahan hatinya untuk tidak terpesona pada Aldrick. Rasa penasarannya membuat Violita berusaha masuk ke dalam kehidupan laki-laki itu.
Mungkinkah Violita mampu memberikan cahaya pada hidup Aldrick yang kelam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh dua
"Tadinya khawatir banget loh ninggalin kamu cuma berdua om Aldrick. Tapi ngeliat wajah cerah kamu kayaknya terjadi sesuatu yang menyenangkan nich"
Amira mengulum senyum melihat rona merah di wajah Violita akibat godaannya.
"Iya harus nya kamu lamaan dikit perginya ra. jadi pas pulang aku uda resmi jadi tante kamu"
Ucap Violita cuek seperti biasa setelah berhasil menguasai diri.
"Emang ada kejadian apa?" Amira merapatkan tubuhnya pada Violita. Jiwa keponya meronta-ronta ingin mengetahui yang terjadi selama dia pergi.
"Rahasia"
Ucap Violita dengan penekanan di setiap hurufnya. Ia tersenyum jahil membuat Amira cemberut.
"Ya uda, padahal aku mau cerita tentang aku dan kak Raka"
"Ha? emang ada kejadian apa?Kak Raka nembak kamu?"
Gantian Violita yang memasang wajah ingin tau.
"Rahasia"
Amira membalas Violita dengan jawaban yang sama.
Violita yang ingin bicara terdiam saat sosok yang seperti ia kenal datang menghampirinya dan Amira yang sedang bersantai di teras rumah.
"Hai Amira,Kamu di sini?"
Sapa wanita itu dengan raut heran di wajahnya
"Iya tante, Magang di perkebunan om Aldrick"
"Oh gitu, makin cantik aja kamu"
Puji wanita itu, membuat Amira tersenyum malu.
"Makasih tante, tante sama siapa ke sini?"
Amira mencium tangan wanita seksi itu.
"Tante sendirian"
"Ta, ini tante Celine mantan istrinya om Aldrick"
Violita yang sebelumnya nampak berfikir akhirnya menghela nafas lega. Sebelumnya ia berusaha mengingat-ingat wajah wanita itu namun tak berhasil.
"Hallo tante" Violita mengulurkan tangannya dan disambut dengan senyuman manis dari Celine.
'Gila ni tante cantik banget, pantesan aja Om Aldrick susah move on dan jadi es batu semenjak cerai' seketika Violita menjadi minder saat membandingkan dirinya dengan Celine.
"Om Aldrick ada?"
Celine melihat ke dalam rumah, berharap menemukan sosok yang ia cari.
"Om ke perkebunan ada urusan mendadak tadi"
Amira mempersilahkan tante nya untuk duduk, sementara Violita masih meneliti tiap inchi tubuh wanita yang menjadi rivalnya
"Tante sering datang, pengen ketemu Om kamu. Tapi om kamu selalu menghindar"
Celine tampak bersedih.
Amira dan Violita saling berpandangan, tak mengerti harus menjawab apa.
"Tante pasti langsung diusir tanpa mau mendengarkan penjelasan tante lebih dulu"
"Kenapa tante masih datang?"
Tanya Violita penasaran.
"Tante nggak mau nyerah buat memenangkan hatinya kembali, walaupun sulit"
Celine tersenyum getir
"Maaf kalau lancang, tapi alasan tante sama om bercerai karena apa? siapa tau Amira bisa bantuin tante buat rujuk"
Violita memelototi Amira, ia merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
Celine menghela nafas berat, beban yang ia tanggung begitu berat selama ini. Tidak ada yang bisa mendengar keluh kesahnya hingga tawaran Amira membuat bibir Celine mulai menggulirkan cerita.
Menceritakan perselingkuhannya, meninggalnya Shita, dan rasa bersalah yang menderanya.
Air mata Celine turun dengan derasnya, Amira memandang dengan iba melihat betapa menderitanya Celine akibat penyesalannya.
Namun tidak bagi Violita, Ia tampak kesal dan marah.
"Maaf tapi aku harus bilang, tante emang nggak tau diri. Dapet Suami sesempurna om Aldrick masih aja selingkuh, emang nggak ada otak. Wajar aja om Aldrick nggak mau nemuin tante lagi, kalau aku ada di posisi om Aldrick pasti udah aku bunuh tante sama selingkuhan tante itu"
Violita mendengus dan berlalu dari hadapan Celine dan Amira yang ternganga mendengar ucapan pedas Violita.
'Sering dengerin mulut pedas om Aldrick jadi ketularan tu cewek'
Gumam Amira dalam hati.
"Maafin teman aku ya tan, dia emang blak-blakan orangnya"
Amira menatap canggung pada Celine.
"Nggak apa-apa ra. Teman kamu benar kok. tante emang nggak tau diri. Tapi tante beneran nyesel uda ngelakuin itu, Tante berharap dapat maaf dari om kamu"
"Aku cuma bisa doain mudah-mudahan hati om Aldrick terbuka untuk maafin tante"
Amira mengusap punggung tangan Celine.
"Tante pulang ke rumah sewa dulu ya Ra, tolong telfon tante kalau om kamu uda pulang."
Amira menyerahkan ponselnya, meminta Celine memasukkan nomor pada ponselnya.
***
"Ta mulut kamu jahat banget sich"
Amira mencubit langan Violita saatmendapati gadis itu sedang duduk termenung di depan jendela kamar mereka
"Yang jahat tu dia, jahatnya ucapan aku belum seberapa sama tindakan nista wanita itu ke om Aldrick ra"
Amira terbelalak mendengar ucapan Violita yang penuh amarah
"Eiit santai dong, kok ngegas nya ke aku"
"Ya abisnya aku sebel sama wanita nggak tau diri macam dia Ra, kamu nggak lihat akibat perbuatannya dia? Om Aldrick jadi batu es bermulut pedas, jadi pria tak berperasaan yang menutup diri dari wanita. Gara-gara wanita itu om Aldrick sinis terus sama aku, Wanita itu mencoreng harkat derajat dan martabat para wanita. Cewek baik seperti kita jadi ikut jelek di mata om Aldrick Ra! Aku jadi ngerti sekarang arti setiap tatapan Om Aldrick, hatinya penuh luka yang harus disembuhin. Aku nggak rela om Aldrick menghabiskan sisah usianya dengan luka yang menganga. aku harus merawat luka om Aldrick biar dia bisa bahagia lagi"
Ucap Violita berapi-api
"Iya dech tante, aku setuju"
Ucap Amira di tengah rasa takjub atas ucapan sahabatnya. Ia tak menyangka Violita benar-benar serius menaruh perhatian mendalam pada om Aldrick.
"Kamu tu yah, masih aja bersikap baik sama orang yang jelas-jelas uda ngancurin hidup om kamu"
"Ya nggak enak aja sich ra, kamu kan tau aku nggak bisa bersikap sefrontal kamu kalo nggak suka. Lagian aku lihat tante Celine nyesel banget"
Violita memelototi Amira.
"Jadi kamu setuju Tante itu balikan sama om kamu?"
"Ya enggaklah, Om aku berhak dapat cewek baik-baik yang nggak akan menyia-nyiakan kesetiaannya. Contohnya kamu tanteeee"
Amira mencolek dagu Violita yang langsung mendengus kesal.
"Muna banget ih, tadi bilangnya mau bantuin tu tante rujuk sama Om Aldrick"
Violita mencebik
"Namanya juga basa-basi. Gara-gara itu kita jadi tau kan akar permasalahan mereka yang mengakibatkan Sikap Om Aldrick jadi kayak gini, Jadi kamu bisa mulai melangkah buat ngerawat lukanya dia sampai sembuh"
"Iya, kali ini kamu cukup bermanfaat. Tante bangga sama kamu"
Violita terbahak melihat Amira yang langsung menatap kesal padanya. Gadis itu berlari saat Amira sudah bersiap ingin mengacak-acak rambutnya, kebiasaan yang sudah sangat Violita hapal saat Amira kesal dengannya.
"Aww Maaf"
Violita sedikit terpental karena menabrak Aldrick yang berdiri dengan tatapan membunuhnya.
"Maaf Om, tu si Amira mau jahatin aku makanya aku lari"
Violita meringis masang wajah menyedihkan.
"Ih fitnah!"
Amira tidak terima dituduh demikian oleh Violita.
"Beneran, kamu mau bunuh aku kan"
Ucap Violita cepat.
"Diam!!! kalian sudah dewasa tapi bertingkah seperti balita"
Tubuh Violita dan Amira seketika mengkerut akibat bentakan Aldrick.
"Terlalu banyak bergaul dengannya membuat kamu jadi ikutan aneh dan bod*h Amira"
Aldrick berlalu meninggalkan Violita dan Amira yang malah terkekeh melihat respon berlebihan dari Aldrick.
pria2nya sama menikah 2x🤭 tpi karakter aldrik ini emank jujur bangetz. siapa yg gak trauma kehilangan anak dgn cara tragis n kejam.💜
oh ya mampir dong kak di karya pertamaku "aku cuma punya hati" beri saran dong kak, aku mohon