NovelToon NovelToon
Initium Saga

Initium Saga

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:87.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: hafitria_571

Lunna itu cuma anak kelas sebelas SMA. Rada julid, lumayan kalem, irit komentar, tapi kadang bisa juga cerewet bin rempong. Tapi walau kadang mukanya keseringan datar, Lunna itu sebenarnya asyik kok.

Lunna punya temen cewe. Namanya Kira, panjangannya Arkiera, guru-guru sering salah manggil, disebut lebih bagusan kalau Aksara.

Lunna juga suka novel fantasi. Tapi apa dia tahu... kalau sihir itu sesungguhnya ada? Bahkan pada dirinya sendiri?

Lunna itu rahasia, misteri dengan sejuta kata.

Lunna itu berbahaya, tapi juga amat memesona.

Kau tahu legenda tentang Razenskalavia? Negeri dongeng yang jauh di dimensi sihir sana? Karena ternyata, Lunna adalah anggotanya....

'Hello, Bangsawan Razenskalavia... masih ingat dengan Mitos Balaur dan Wiz?'~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafitria_571, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 22

"Jadi, begitu...Ini masalah yang cukup serius. Sekarang di mana gadis itu?" Kakek Vrex bertanya, kurcaci yang setengah bungkuk itu mengelus janggut putihnya. Kebiasaan kalau sedang berpikir.

"Saya menyuruhnya tetap menunggu di hutan," pemuda itu berkata tanpa sorot penyesalan sama sekali. Seolah tindakan tadi tak menimbulkan masalah apapun.

Kakek Vrex menghela napas. Kurcaci itu tak menyangka jalan pemikiran anak muda ini sebegitu tak pekanya. Apa bagusnya meninggalkan seorang gadis sendirian di tengah hutan? Apalagi dengan keadaan terluka dan hari sudah gelap.

Kakek Vrex membaca daftar bahan pada gulungan kertas lusuh yang diberikan kepadanya. Mengrenyit, lalu menggeleng prihatin. Sang pemuda yang melihat gelagat itu merasa tak enak.

"Ada apa, Kek?" tanyanya tak tahan.

"Ini bahan paling mustahil yang pernah aku lihat. Selama ratusan tahun aku jadi seorang ahli obat, tak pernah aku menemui bahan ini untuk dijadikan sebagai racikan obat," jelas Kakek Vrex.

"Lihat ini..." Kakek Vrex menunjuk salah satu baris yang tertulis di kertas kayu itu. "Lendir darah ikan wound, ikan ini sudah punah jauh sebelum bangsa ini bersembunyi," tambah kakek Vrex dengan bangsa kurcaci yang ia maksud.

Pemuda itu menautkan alisnya bingung. "Jadi maksud kakek... kemungkinan saya dikerjai?" tanya pemuda itu. Dengan kesimpulan berdasarkan sudut pandangnya sendiri.

Kakek Vrex spontan mendongak. "Tenanglah, kau bilang gadis itu terluka kan? Kalau begitu mana mungkin ia rela masuk ke hutan demi mengerjai orang sepertimu yang kebetulan hanya sendang berbaik hati membantu," kata Kakek Vrex, yang entah mengapa ucapannya menyentil pemuda itu.

"Lalu?"

"Kau tau siapa yang menyuruh gadis itu untuk mencari bahan aneh ini?"

"Dia tak bilang secara spesifik, hanya sempat berujar kalau seorang nenek yang menyuruhnya," kata pemuda itu.

"Seorang nenek..." kakek Vrex terlihat mengawang-awang. Mungkin mencoba menggali ingatannya.

"Oiya, dia juga bilang kalau nenek itu menawan seorang temannya sehingga ia terpaksa menuruti perintah nenek itu," imbuh sang pemuda.

"Seorang nenek, yang mungkin pintar di bidang pengobatan, dan suka mengancam..." kakek Vrex terlihat berpikir keras. Lipatan di dahi tua itu semakin bertambah banyak. "Oh? Pasti itu Azu," yakin kakek Vrex.

Pemuda yang berdiri di hadapannya tercengang. Ia pernah dengar nama itu, jauh sebelum ia tahu tentang keberadaan rumah rahasia bangsa kurcaci generasi terakhir. Yang ia tahu, nama tabib Azu adalah seorang yang sangat disegani. Kemampuannya dalam bidang pengobatan tak bisa dianggap remeh.

Tapi dalam beberapa dekade yang terakhir, keberadaan tabib tergeser oleh ribuan dokter. Para tabib itu pun sebagian memilih untuk pindah profesi menjadi penyembuh dengan cara yang lebih modern. Akan tetapi syaratnya tidaklah mudah. Untuk mendapat sertifikat kerja, mereka harus tes dan melakukan beberapa macam ujian.

Dan bagi sebagian tabib tradisional, di mana mereka tak mengerti benar tentang peralatan super canggih, mereka sudah dipastikan gagal tes. Karena itulah banyak tabib yang berhenti. Hal itu pula yang terjadi kepada Nenek Azu. Konon katanya, wanita renta itu mengasingkan diri dari keramaian kota dan tinggal di pedalaman.

"Kenapa beliau memaksa seorang gadis untuk masuk ke hutan liar?" heran pemuda itu.

"Mungkin gadis itu melakukan suatu hal yang membuat Azu murka."

Pemuda itu mengangguk. "Kalau begitu kami tak perlu mencari bahan ini, kan? Lantas bagaimana dengan teman gadis itu yang disandera?"

Kakek Vrex melepas sebuah kalung di lehernya. Kalung sederhana, dengan tali serabut akar pohon yang sudah kering namun masih lentur dan bandul batu hitam berukiran sebuah pohon. Lambang keseimbangan, kemakmuran, dan kesehatan.

Kakek Vrex memberikan kalung itu kepada pemuda di depannya. "Berikan ini pada Azu, dia akan mengerti."

Pemuda itu menatap kalung di tangannya. Lalu mengangguk. "Terima kasih, kek," ujarnya penuh penghargaan.

Kakek Vrex berdecak. "Cepat kembali sebelum gadis itu kenapa-napa!" perintah Kakek Vrex.

Pemuda itu tersenyum tipis. "Dia sudah selamat dari terkaman macan tutul, hal buruk apalagi yang bisa ia alami?"

Kakek Vrex membelalakkan matanya. "Dasar... Cepat sana!" kata Kakek Vrex setengah mengusir.

Pemuda itu tersenyum, lalu membungkuk hormat dan segera undur diri. Ia berjalan setengah berlari. Kembali ke pintu awal ia masuk, lalu ia pun terkirim kembali ke hutan sebelumnya. Ia segera pergi ke lokasi terakhir ia meninggalkan gadis asing itu, dan matanya pun mendapati gadis itu meringkuk dengan tak elitnya di bawah pohon besar.

Pemuda itu menghela nafas, apa gadis ini tak tahu tempat? Bagaimana kalau tiba-tiba ada ular yang merambat turun? Ini hutan liar, apapun bisa ada di sini. Untung ia segera datang. Ia pun mendekat.

"Hey! Nona! Bangunlah," katanya. Menepuk pipi Lunna.

Lunna mengerjap, lalu menegakkan badan. Tapi ia kembali memejamkan matanya, sambil sesekali menguap. "Saya baru saja menutup mata, biarkan saya istirahat sebentar saja," pintanya lalu kembali menyenderkan punggung di pohon. Rambut panjang yang tidak dikuncir itu menutup hampir setengah wajahnya.

"Bagaimana Nona bisa tidur saat teman Nona meregang nyawa?"

Lunna tidak mendengar dengan jelas apa kata pemuda itu. Jadilah, ia hanya mengantuk-antukan kepala dan bergumam tak jelas yang bahkan ia sendiri tak mengerti.

"Ini bahkan sudah malam, Nona tidak mau bertemu makhluk halus kan?" ia masih bisa sabar.

"Hah? Malam?" mata Lunna langsung melebar.

"Kenapa tidak bilang dari tadi!" Lunna sontak berdiri. Karena pemuda itu membungkuk di dekat wajahnya, jadi tak sengaja kepalanya menyundul dagu sang pemuda dengan cukup keras.

"Awwww!" mereka mengaduh bersamaan.

"Kepalaku... ahh, rasanya mau pecah!" Lunna mengusap puncak kepala yang berdenyut-denyut sambil meringis.

"Aaahh, dagu saya juga sakit! Makanya kalau berdiri itu lihat-lihat, Nona!" pemuda berwajah dingin itu membentak.

"Maaf, maaf... saya tidak sengaja," Lunna segera menunduk, menyesali kecerobohannya.

"Baiklah, ayo cepat pergi. Sebelum teman kesayangan Nona itu mati," sinis pemuda itu.

"Bahannya?"

"Tidak ada, tapi saya punya barang yang lebih bagus."

"Tidak ada? Bagaimana bisa? Tapi Anda sudah berjanji akan membantu saya," protes Lunna.

Pemuda itu mengeluarkan sebuah kalung dari sakunya. Menyodorkan benda itu di depan wajah Lunna, saking dekatnya, sampai Lunna harus mundur sedikit.

"Ada ini, ayo cepat!" yakinnya.

Lunna merogoh saku mantel. Mengeluarkan delapan kumis macan tutul yang susah payah ia ambil. "Berarti benda ini tak sia-sia?" sesal Lunna. Padahal ia sudah membuat kuku cantiknya tak pantas lagi disebut kuku untuk mendapatkannya.

"Bawa saja, siapa tahu berguna," saran pemuda itu. "Ayo cepat," dua kata itu meluncur dengan kesan seolah sedang memerintah anak yang amat bandel. Seolah ia amat direpotkan, yang pada nyatanya ia memang merasa begitu.

Mereka akhirnya mulai berjalan. Meninggalkan lokasi itu dan menelusuri tanah hutan yang basah. Perjalanan itu terasa sangat lambat. Tanpa cahaya, minimnya jarak pandang dan kadang kaki terpeleset atau tersandung menghambat langkah mereka.

Lunna benar-benar lelah. Tak bisa dibayangkan. Baru keluar dari Lembah Iblis penuh luka, cari tabib malah bertemu dengan nenek tak berhati yang berniat mengirimkannya ke perut macan. Lalu sekarang berjalan di hutan yang gelapnya minta ampun dan hanya bisa mengikuti pemuda yang baru saja ia kenal.

Kaki Lunna terasa kebas. Antara nyeri lebam dan nyeri karena dingin. Perpaduan keduanya sungguh tak nyaman. Untuk kesekian kalinya ia tersandung. Tubuhnya limbung, sudah tak mampu menyeimbangkan tubuh. Ia mengeluh tertahan. Saat ia hendak jatuh ia sempat menggapai lengan pemuda yang berjalan dengan diam di depannya

Namun tetap saja Lunna terjatuh. Bisa dilihat pemuda itu juga sedikit goyah. Namun dengan sigap dia menyeimbangkan tubuh supaya tidak ikut terjatuh. Refleks yang bagus.

Lunna menarik napas panjang. Udara dingin ini membuat hidungnya bekerja sangat ekstra untuk menyesuaikan suhu. Setiap tarikan terasa menyakitkan. Perih. Pemuda yang membawa benda yang katanya ampuh untuk menyelamatkan Drole itu berjongkok.

"Nona masih kuat?"

"Tak apa, saya pernah mengalami yang lebih buruk. Bisa bantu?" Lunna menatapnya dan menggantungkan tangan. Minta uluran bantuan. Tanpa menjawab pemuda itu segera membantunya berdiri.

"Terima kasih. Menurut Anda, karena ini sudah malam apa nenek itu benar-benar akan membunuh teman saya?"

"Dia tak akan dapat apa pun dengan membunuh teman Nona, dia malah rugi. Jadi kemungkinan dia masih menunggu," pemuda itu menjawab dengan cukup keras.

Karena hutan ini walau sudah malam masih terdengar bising oleh suara serangga malam dan juga katak. Seperti mendengar paduan suara kanon alamiah. Sungguh menakjubkan dan... seru? Entahlah apa itu cocok dengan keadaan ini atau tidak.

1
Kgs Indra Rajasyah
Lanjutttt
✰‪ ⃟ ⃟ 🐝ε𝖗𝖑𝖎𝖓𝖆ᵉᶬʷ⋆᭄
semangat kakak, maaf baru bisa baca lagii 😊😊😊
🖤༒︎★𝕱𝖚𝖏𝖔𝖘𝖍𝖙★༒︎🖤
Gambar amuba fix kelas gw banget 😂😂😭😭
nazaruddin thamrin
ada lanjutannya thor? Fresh Nazar mendukungmu. Ditunggu LIKE dan KOMEN mu ke novel PEMBALASAN SANG CEO dan HOT MAN ON CAMPUS. kita saling support terus ya.
Bintang Calista Putri
5 like 💞💓
Bintang Calista Putri
Keren ceritanya kak
Bintang Calista Putri
Bagus kak ceritanya
Bintang Calista Putri
Keren kak thor
Bintang Calista Putri
Hmmm
Rachel Ichza Cullen
masih ada kelanjutannya ga kak author cerita ini??
Rachel Ichza Cullen: sambunggin donk thorr..kerennn tauuu
total 2 replies
Rachel Ichza Cullen
asinn..hahahaaa
Rachel Ichza Cullen
bahasanya gaul khas bocah zaman now yaa... semngat thor
🌻Ruby Kejora
5like dulu...nanti q sambung lagi.
like blk karyaku ya
cinta rasa covid -19
the Thunder's love
🌻Ruby Kejora
hai thor...q datang mendukung mu.like setia mendarat
Riana Nazwa
ceritanya bagus kak aku suka

bdw mampir juga ya kak di novel Ku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
Yuli
ayo thor semangt update ny aq 😘tunggu lho😘😘😘baru mampir dah ska ceritanya
Lade eunoia
like 🥰 ditunggu up selanjutnya
Ezrahi
selamat Thor
mampir ya
Dian Anggraeni
mantap tor ! lanjut dong 👏👏👍👍👍
Ls
hadir thor.. like ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!