NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Rumah yang Dijaga Bertahun-tahun

Radhika berdiri di belakang Naila tanpa membantah.

Di sisi jalan batu, satu pohon lemon tumbuh lebih tinggi daripada atap teras. Cabangnya menjulur lebar, dipenuhi buah kuning di antara daun yang basah. Naila mendekat seperti ditarik sesuatu yang tidak terlihat.

"Dulu aku pernah naik bangku di sini," katanya. "Aku mau ambil lemon paling atas."

Ingatan itu kembali dalam potongan jelas. Naila kecil berdiri di atas bangku kayu, sementara Radhika merentangkan kedua tangan di belakangnya agar ia tidak jatuh. Setiap kali ujung jarinya hampir menyentuh buah, Mas Aka menggeser bangku sedikit hanya untuk menggodanya.

"Mas jahat."

"Sekarang juga dituduh lagi?"

"Aku ingat Mas geser bangkunya."

"Tapi Mas juga yang menangkap waktu kamu lompat."

Naila mendengus. Ia memilih buah paling besar dan paling kuning pada cabang rendah. Setelah Radhika mengangguk memberi izin, ia memetiknya.

Pintu depan terbuka dengan satu sentuhan kode. Begitu lampu menyala, Naila berhenti bernapas.

Ruang keluarga masih sama.

Sofa krem berada di tempat lama. Rak buku rendah berjajar di bawah jendela. Di depan kaca lebar, piano putih berdiri dengan permukaan mengilap, tanpa debu sedikit pun. Bahkan vas berbentuk angsa yang pernah ia pecahkan lalu direkatkan kembali masih berada di atas lemari.

"Rumah ini nggak berubah," bisiknya.

"Ada beberapa perbaikan. Bentuknya tetap."

Naila menekan satu tuts piano. Nada yang jernih menggema.

"Masih bisa dimainkan."

"Disetel rutin."

Naila membuka bangku piano. Buku latihan anak-anak masih tersusun di dalamnya. Pada halaman pertama, ada coretan krayon berbentuk dua orang bergandengan tangan. Sosok tinggi diberi huruf R, sosok kecil diberi gambar lemon besar di atas kepala.

"Ini gambarku," katanya.

"Mas tahu. Kamu menggambar lemon lebih besar daripada badan sendiri."

"Karena waktu itu aku belum bisa menulis nama."

Di bawah gambar, catatan tangan Radhika kecil berbunyi `Naila jangan ganggu`. Krayon merah membalas `Mas pelit`. Mereka tertawa melihat pertengkaran yang bertahan lebih lama daripada ingatan pemiliknya.

Ia berjalan lebih jauh dan membuka pintu di samping ruang keluarga. Sebuah ruang bermain yang lebih luas daripada ruang tamu muncul di baliknya. Kastel tiup baru memang sudah tidak mengembang, tetapi disimpan rapi dalam kotak transparan. Seluncuran kecil, ayunan dalam ruangan, tenda kain, rumah boneka, dan rak mainan tetap tersusun sesuai tinggi anak-anak.

Naila menemukan boneka kelinci dengan telinga kiri tertekuk.

"Bunny!"

"Namanya memang cuma Bunny?"

"Aku masih tiga tahun waktu kasih nama. Jangan menuntut kreativitas."

Ia memeluk boneka itu. Aroma kainnya bersih, seolah baru dicuci. Di lantai, ada bekas goresan roda mobil mainan. Naila ingat Radhika mendorongnya berkeliling ruangan sampai menabrak kaki meja dan keduanya dimarahi Larasati.

Mereka naik ke lantai dua. Pintu pertama berwarna putih dengan gambar mahkota kecil. Saat dibuka, kamar berwarna merah muda terbentang di hadapan Naila.

Tempat tidur bertirai tipis, meja rias kecil, dan rak buku bergambar bintang masih utuh. Di dalam ruang pakaian, gaun-gaun anak berwarna merah muda tergantung berdasarkan panjang. Sebagian begitu kecil hingga hanya cukup untuk anak dua tahun.

Naila menyentuh salah satu roknya. "Kenapa semua masih ada?"

Radhika tidak langsung menjawab. Ia membuka pintu kamar di seberang. Berbeda dari kamar Naila, ruangan miliknya didominasi putih dan abu-abu. Meja belajar, ranjang tunggal, dan rak piala sederhana menjadi satu-satunya isi.

"Kamar Mas membosankan dari kecil," kata Naila.

"Karena semua mainan dipindah ke ruanganmu."

"Aku paksa?"

"Kamu menangis kalau Mas bermain sendiri."

Naila hampir tersenyum, tetapi pertanyaan yang lebih besar menahannya.

"Mama bilang rumah lama kita sudah dijual."

Radhika bersandar di kusen. "Memang pernah dijual."

"Terus kita bisa masuk bagaimana? Kenapa barang-barangnya masih ada?"

Ia melihat wajah Radhika, lalu kunci elektronik baru di pintu bawah, lantai yang dipoles, serta semua benda yang dirawat selama belasan tahun.

"Jangan-jangan Mas yang beli lagi?"

Radhika mengangguk.

"Kapan?"

"Waktu pemilik sebelumnya mau menjualnya lagi. Beberapa tahun lalu."

"Mas beli rumah sebesar ini cuma untuk dibiarkan kosong?"

"Nggak kosong. Ada orang yang datang membersihkan dua kali seminggu. Taman juga dirawat."

"Itu bukan jawaban."

Radhika turun satu anak tangga dan berdiri sejajar dengannya. "Waktu keluargamu menjual rumah, Bunda menyimpan sebagian besar barang pribadimu di gudang kami. Piano ikut terjual bersama rumah. Beberapa pemilik setelah itu mengubah dapur dan kamar utama, tapi struktur lain masih sama."

"Terus semua ini?"

"Setelah Mas beli, barang-barangmu dibawa keluar dari gudang. Piano dibeli kembali dari pemilik terakhir. Warna dinding, posisi furnitur, bahkan tirai dibuat sesuai foto lama."

Naila memandang lorong yang selama ini ia kira bertahan tanpa disentuh waktu. Ternyata bukan waktu yang berhenti. Radhika yang mengembalikan setiap benda ke tempatnya, satu per satu.

Radhika menatap kamar merah muda di belakang Naila. "Mas nggak mau satu-satunya tempat yang menyimpan masa kecilmu hilang."

Mata Naila langsung panas.

Mereka kembali ke ruang keluarga. Radhika duduk di depan piano putih dan membuka penutup tuts. Jarinya menekan nada pertama dengan hati-hati.

Melodi Nina Bobo mengalun pelan.

Naila berdiri di samping piano. Dalam ingatannya, ia kembali menjadi anak kecil yang menolak tidur. Radhika kecil memainkan melodi yang sama dengan banyak nada salah, sementara Larasati membantu dari belakang. Naila baru memejamkan mata setelah Mas Aka berjanji tetap duduk di dekat ranjang.

"Mas masih ingat."

"Mas sering memainkannya."

"Untuk siapa?"

Jari Radhika berhenti sesaat. "Biar nggak lupa."

Setelah lagu selesai, mereka duduk di sofa. Radhika mengeluarkan kotak rokok dari saku, memandang Naila, lalu menyimpannya kembali tanpa mengambil sebatang pun.

"Beberapa tahun ini kamu gimana?" tanyanya.

Naila memainkan lemon di pangkuan. "Baik."

"Jawaban jujur."

"Mas sudah dengar dari Mama."

"Mas mau dengar dari kamu."

Naila menunduk. "Papa Mama sering pindah karena bisnis. Mereka nggak percaya penuh sama pengasuh, jadi aku dititipkan ke kerabat atau teman keluarga. Kadang setahun, kadang cuma beberapa bulan."

"Berapa kali pindah sekolah?"

"Aku berhenti menghitung setelah lima."

Ia mencoba tertawa, tetapi suaranya pecah. "Setiap rumah punya aturan berbeda. Ada yang baik. Ada juga yang selalu mengingatkan kalau aku cuma numpang. Jadi aku belajar bangun paling pagi, merapikan tempat tidur, nggak pilih makanan, dan nggak menangis di depan orang. Kalau terlalu merepotkan, mungkin aku dipindahkan lagi."

"Ada yang menyakitimu?"

Naila berpikir sebelum menjawab. "Nggak sampai memukul. Ada yang menyuruhku makan setelah anak mereka selesai, karena aku tamu. Ada yang mengunci ruang keluarga supaya aku nggak menyentuh pajangan. Pernah juga ulang tahunku lupa dirayakan karena mereka sibuk."

Radhika mengepalkan tangan di sisi tubuh. "Kenapa nggak bilang ke Mama Papa?"

"Mereka sedang membangun hidup yang lebih baik buat aku. Setiap menelepon, mereka sudah kelihatan lelah. Aku nggak mau membuat mereka merasa gagal."

"Jadi kamu bilang selalu baik-baik saja."

"Kalau aku tersenyum, mereka bisa kerja dengan tenang."

Radhika menatapnya tanpa berkedip.

"Aku juga jadi pintar membaca suasana," lanjut Naila. "Kalau orang dewasa sedang kesal, aku tahu kapan harus diam. Kalau teman baru nggak suka aku, aku bisa cepat cari kelompok lain. Berguna, kan?"

Air matanya jatuh sebelum senyum selesai terbentuk.

Radhika tidak bertanya lagi. Ia menarik Naila ke pelukannya, menahan kepala gadis itu di bahu.

"Maaf," bisiknya. "Maaf, ya."

"Bukan salah Mas." Naila mencengkeram depan bajunya. "Aku nggak menyalahkan Mas. Aku jadi mandiri, pintar menyesuaikan diri, nggak gampang hancur."

Justru itu yang membuat dada Radhika sakit. Naila baru berusia delapan belas. Ia tidak seharusnya bangga karena terlalu pandai menjadi tamu.

"Kamu nggak perlu menyesuaikan diri di depan Mas," katanya. "Mau marah, nangis, pilih-pilih makanan, semuanya boleh."

Naila mengangguk di bahunya.

Beberapa menit kemudian, Radhika mengeluarkan gantungan kunci dari saku. Sebuah hiasan lemon sebesar buah aprikot menggantung di antara dua kunci logam dan satu kartu akses.

Ia menaruh semuanya di telapak Naila.

"Mas balikin ke yang punya."

Naila menatapnya. "Dua kunci?"

"Satu pintu depan, satu gerbang samping. Kartu untuk sistem keamanan. Sidik jarimu bisa ditambahkan kapan saja."

"Rumah ini... buat aku?"

"Dari awal memang rumahmu."

"Tapi suratnya?"

"Mas urus pengalihan resminya setelah kamu setuju. Malam ini kuncinya dulu. Mas nggak akan memindahkan aset atas namamu tanpa kamu baca dan tanda tangan."

Naila menggenggam gantungan lemon. Sikap itu justru membuat hadiah besar tersebut terasa aman. Bukan rumah yang dijatuhkan ke pangkuannya sebagai utang budi, melainkan pilihan untuk menerima kembali bagian hidupnya dengan sadar.

"Mas beli lagi cuma untuk mengembalikannya kepadaku?"

Radhika mengangguk seolah itu hal kecil.

Air mata Naila kembali penuh. Ia memasukkan lemon yang dipetik tadi ke atas meja, lalu memeluk Radhika sekali lagi.

"Mas baik banget."

"Belum."

Naila mengangkat wajah. "Belum apa?"

"Belum cukup baik."

"Kalau Mas terus begini, nanti aku jadi manja."

"Nggak apa-apa. Coba saja."

"Terus kalau aku minta rumah sebelah?"

"Mas cek dulu sertifikatnya."

Naila tertawa sambil menangis, lalu kembali menyembunyikan wajah di dadanya.

Radhika menutup kedua lengan di sekelilingnya. Di tangannya, satu rumah tidak cukup untuk mengganti tahun-tahun yang hilang. Ia ingin memberi lebih banyak, menjaga lebih lama, dan memastikan Naila tidak pernah lagi merasa menjadi tamu.

Ia tidak perlu menikah. Tidak perlu mencari orang lain. Kalau perasaan yang tumbuh dalam dirinya terlalu rumit untuk dinamai, ia akan menyimpannya.

Cukup menjadi Mas bagi Naila, mencintainya dari tempat itu, dan menghabiskan hidup untuk memastikan gadis dalam pelukannya selalu punya rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!