Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ciiit!
Mobil sport hitam pekat milik Bara berhenti dengan sangat mulus tepat di depan lobi utama gedung apartemen mewah tempatnya tinggal.
Seorang petugas valet berseragam rapi langsung berlari menghampiri dan membukakan pintu mobil dengan sikap yang luar biasa hormat.
Bara keluar dari mobilnya sambil merapikan sedikit kerah jaket kulitnya yang berlubang kecil di bagian perut.
Dia menyerahkan kunci mobil itu pada petugas valet dan melangkah masuk ke dalam lobi apartemen yang sangat luas dan berpendingin ruangan sejuk tersebut.
Baru saja Bara melewati pintu kaca otomatis, pendengaran supernya langsung menangkap suara tangisan dan teriakan seorang wanita dari arah meja resepsionis.
"Tolong lepaskan aku, aku ini adalah pacarnya Tuan Bara yang tinggal di apartemen ini!"
"Kalian para satpam rendahan tidak punya hak untuk melarangku masuk menemuinya!"
Dua orang petugas keamanan berbadan tegap terlihat sedang menghalangi langkah seorang wanita yang memakai gaun merah menyala dan riasan wajah tebal.
Wanita yang sedang meronta-ronta dan berteriak tidak jelas itu tentu saja adalah Dela.
Penampilan Dela sore ini terlihat sangat berantakan, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit kusut karena terus bergerak memberontak.
Manajer apartemen yang berdiri di dekat sana langsung bernapas lega saat melihat Bara sedang berjalan santai ke arah mereka.
"Tuan Bara, syukurlah Anda sudah kembali, wanita ini terus memaksa naik ke kamar Anda sejak tadi," lapor manajer itu dengan sopan.
Mendengar nama Bara disebut, Dela langsung berhenti meronta dan menolehkan kepalanya dengan cepat.
Mata Dela yang sedikit sembab karena menangis langsung berbinar penuh harap saat melihat sosok Bara yang berdiri tegap di depannya.
"Bara! Sayang, akhirnya kamu pulang juga!" teriak Dela dengan suara manja yang dibuat-buat.
Dela langsung berlari menerobos kedua satpam itu dan mencoba menubruk tubuh Bara untuk memeluknya.
Namun dengan refleks yang luar biasa cepat, Bara hanya perlu menggeser posisi tubuhnya sedikit ke samping.
Bruk!
Dela yang kehilangan keseimbangan karena gagal memeluk Bara langsung tersungkur jatuh dan mencium lantai marmer lobi yang dingin.
Beberapa penghuni apartemen lain yang sedang duduk di lobi langsung menoleh dan berbisik-bisik melihat kejadian memalukan itu.
"Jangan sembarangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu, Dela," ucap Bara dengan nada suara yang sedingin es di kutub utara.
"Aku bisa menuntutmu atas tuduhan pelecehan kalau kau berani melakukan itu lagi padaku."
Dela perlahan mengangkat wajahnya dari lantai dengan ekspresi yang sangat memelas dan penuh air mata buaya.
"Bara, kenapa kamu sangat dingin padaku sayang? Aku datang ke sini untuk minta maaf secara langsung padamu," isak Dela sambil berusaha duduk bersimpuh di lantai.
"Maafkan aku soal kejadian kemarin, aku benar-benar diancam dan dipaksa oleh si Aris brengsek itu."
"Aris mengancam akan menyakitiku kalau aku tidak mau menurutinya, jadi aku terpaksa berbohong bilang aku membencimu di depannya."
Mendengar rentetan alasan bodoh yang keluar dari mulut Dela, Bara langsung mendengus dan tertawa dengan sangat merendahkan.
"Diancam dan dipaksa katamu? Kau pikir aku ini kehilangan mataku atau kehilangan kewarasanku?" ejek Bara sambil menunduk menatap Dela yang sedang bersimpuh.
"Saat aku membuka pintu rumahku kemarin, kau sedang duduk dengan sangat nyaman di pangkuan pria itu sambil tersenyum lebar."
"Bahkan kancing kemejamu sudah terbuka dua, apa itu yang kau sebut sebagai paksaan dari Aris?"
Wajah Dela langsung memerah karena kebohongannya berhasil dibongkar dengan sangat telak di depan banyak orang.
"I-itu tidak seperti yang kamu lihat Bara, aku bisa jelaskan semuanya kalau kamu mau mendengarkan," bantah Dela dengan suara gagap dan mulai panik.
"Lagipula aku baru tahu hari ini kalau Aris itu ternyata penipu, perusahaannya sedang hancur dan dia bukan orang kaya yang sebenarnya."
"Kamu lah pria yang paling hebat Bara, tolong berikan aku satu kesempatan lagi untuk membuktikan cintaku padamu."
Dela mencoba meraih ujung celana mahal yang dipakai Bara, tapi Bara langsung menendang tangan wanita itu dengan pelan namun cukup untuk membuatnya menjauh.
"Cintamu itu harganya berapa rupiah per kilonya Dela? Apa lebih murah dari harga botol plastik bekas?" desis Bara tanpa ampun.
"Kau membuangku seperti sampah saat kau mengira aku ini miskin, dan sekarang kau merangkak ke kakiku saat melihat aku mengendarai mobil miliaran."
"Wanita materialistis berhati busuk sepertimu sama sekali tidak pantas mengucapkan kata cinta di depanku."
Bara menghela nafas panjang dan menatap Dela dengan pandangan seolah sedang melihat tumpukan kotoran anjing di pinggir jalan.
"Aku jauh lebih suka memungut barang rongsokan dari tempat sampah daripada harus memungut barang sisa dari si brengsek Aris."
Kata-kata Bara barusan benar-benar seperti belati tajam yang menusuk dan mengoyak habis sisa-sisa harga diri Dela.
Dela hanya bisa menangis histeris sambil memukuli lantai karena sadar bahwa dia sudah kehilangan tambang emas terbesarnya untuk selama-lamanya.
Bara tidak peduli lagi pada tangisan palsu wanita itu dan langsung menoleh ke arah manajer apartemen.
"Masukkan nama dan wajah wanita ini ke dalam daftar hitam keamanan apartemen mulai detik ini," perintah Bara dengan tegas.
"Kalau dia berani menginjakkan kakinya lagi di pelataran gedung ini, langsung panggil polisi dan seret dia ke penjara karena mengganggu ketertiban."
"Baik Tuan Bara, kami akan segera melaksanakannya sekarang juga," jawab manajer itu sambil memberi isyarat pada kedua satpamnya.
Kedua petugas keamanan berbadan tegap itu langsung menarik kedua lengan Dela dan menyeretnya keluar dari lobi tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Bara! Jangan tinggalkan aku Bara! Aku menyesal!"
Teriakan putus asa Dela perlahan menghilang di balik pintu kaca otomatis yang tertutup rapat.
Bara membersihkan ujung celananya yang sempat disentuh oleh Dela seolah sedang membersihkan debu penyakit.
"Menghancurkan mental orang sombong memang selalu menjadi hiburan yang sangat memuaskan," batin Bara sambil tersenyum puas.
Bara kemudian melangkah menuju lift pribadi yang langsung terhubung dengan unit apartemen mewahnya di lantai atas.
Ting!
Pintu lift terbuka dan Bara langsung disambut oleh ruang tamu apartemennya yang sangat luas dengan pemandangan langsung ke arah pusat kota.
Dia berjalan masuk ke dalam kamar tidur dan melepaskan jaket kulit mahalnya yang sudah berlubang terkena tembakan peluru tadi.
"Aku harus membuang jaket ini, rasanya aneh kalau miliarder sepertiku memakai baju berlubang untuk pertemuan bisnis," gumam Bara sambil melempar jaket itu ke tempat sampah.
Bara lalu mengganti pakaiannya dengan kemeja hitam lengan panjang yang lebih santai namun tetap terlihat elegan.
Ding dong!
Suara bel apartemennya berbunyi tepat saat Bara selesai merapikan rambutnya di depan cermin.
Bara berjalan ke arah pintu utama dan melihat wajah cantik Nadhira dari layar monitor interkom.