NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22: Jejak yang Terhubung

Nadira memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah mengirim pesan singkat kepada Adrian. Ia tidak ingin mengambil risiko. Jika benar ada seseorang yang mengawasi mereka, maka pesan apa pun yang menyebut nama Deren, perusahaan, atau masalah Adrian bisa menjadi petunjuk bagi orang itu.

Nadira kembali menatap layar komputer. Nama perusahaan itu masih terpampang jelas. PT Pratama Logistik Nusantara. Perusahaan tempat Adrian baru saja mulai bekerja.

"Kenapa kamu bisa berada di sini, Deren?" gumam Nadira.

Ia kemudian membuka data perubahan administrasi pasien. "Siapa yang mengubah data ini?"

Petugas administrasi menggeleng. "Saya juga tidak tahu, Suster. Sistem menunjukkan perubahan dilakukan menggunakan akun administrator."

"Jam berapa?"

"Sekitar lima belas menit yang lalu."

Nadira mengerutkan kening. "Lima belas menit yang lalu..."

Artinya perubahan itu terjadi setelah dirinya berbicara dengan wanita yang mengaku sebagai ibu Deren, terlalu cepat.

"Apakah ada orang yang masuk ke ruang administrasi?"

Petugas itu berpikir sejenak. "Seingat saya tidak ada."

"Periksa rekaman CCTV."

"Baik."

Petugas itu segera membuka rekaman kamera.

Nadira memperhatikan layar, lorong administrasi tampak sepi. Tidak ada seorang pun yang masuk. Namun beberapa detik kemudian, layar berkedip. Gambar CCTV berubah menjadi hitam selama beberapa detik.

Nadira langsung menegang. "Berhenti."

Petugas menghentikan rekaman. "Kembalikan lima menit sebelumnya."

Rekaman diputar ulang, semuanya masih normal. Kemudian tepat ketika data Deren diperbarui... CCTV mati.

Nadira menatap layar dengan wajah serius. "Ini bukan kebetulan."

Petugas administrasi menelan ludah. "Maksud Suster?"

"Seseorang sengaja mematikan kamera."

***

Di tempat lain...

Adrian baru saja selesai memeriksa laporan keuangan seketika ponselnya bergetar. Pesan dari Nadira masuk.

Kita perlu bicara. Tapi jangan lewat pesan.

Adrian menatap pesan itu. "Apa ada hal yang penting?" gumamnya.

Clara yang berada di depannya memperhatikan perubahan wajah Adrian. "Apa ada masalah, Pak?"

Adrian memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Tidak." Ia kemudian berdiri. "Clara."

"Ya, Pak?"

Adrian keluar dari ruangannya dengan langkah tenang. Ia tidak langsung menuju lobi. Setelah berjalan melewati beberapa koridor, ia memilih tangga darurat yang jarang digunakan karyawan.

Pintu tertutup di belakangnya.

Adrian berhenti di lantai yang cukup sepi. Ia melihat ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada siapa pun. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya.

Nomor Nadira dipilih.

Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung. "Halo?"

Suara Nadira terdengar pelan. "Iya Adrian."

Adrian langsung bertanya, "Ada apa? Kamu mengirim pesan seperti itu."

Nadira tidak langsung menjawab.

Di sisi lain, ia sedang berada di dalam toilet rumah sakit. Setelah meninggalkan ruang administrasi, ia sengaja mencari tempat yang cukup sepi.

Namun Nadira tetap merasa tidak tenang, ia menatap pintu toilet. Kemudian memeriksa sekeliling, tidak ada orang.

Tetapi pikirannya terus teringat pada kejadian di rumah persembunyian, ketika mereka mengetahui bahwa musuh mampu menemukan lokasi yang seharusnya rahasia.

Bagaimana jika ponselnya sedang disadap?

Nadira menurunkan suaranya. "Adrian..."

"Ya?"

"Aku menemukan sesuatu tentang pasien baru."

Adrian langsung serius. "Siapa?"

Nadira terdiam sesaat, ia sebenarnya ingin menceritakan semuanya. Namun semakin dipikirkan, semakin Nadira takut. Jika percakapan ini direkam, mereka justru memberikan informasi kepada orang yang sedang mereka cari.

"Adrian..."

"Hm?"

"Kita jangan bicara sekarang."

Adrian mengerutkan kening. "Kenapa?"

Nadira terdiam sesaat, lalu berkata, "aku takut ponselku disadap."

Adrian langsung terdiam, beberapa detik tidak ada suara. Kemudian Adrian berkata pelan, "seberapa serius sampai kamu berpikir begitu?"

Nadira menghela napas. "Ini cukup serius."

Adrian berdiri semakin tegak. "Apa ada seseorang yang datang?"

"Adrian... nanti saja. Kita bicarakan semuanya di villa," sambung Nadira dengan suara pelan.

Adrian semakin penasaran. "Kenapa tidak sekarang?"

"Karena aku takut ada yang mendengar pembicaraan kita."

Adrian menatap pintu tangga darurat di depannya.

Ia mulai memahami maksud Nadira. "Baik, aku mengerti."

Nadira terdengar sedikit lega. "Aku minta sama kamu, kamu jangan cerita masalah ini kepada siapa pun dulu."

Adrian mengangguk meskipun Nadira tidak bisa melihatnya. "Baik."

Nadira kemudian berkata, "Ya sudah kalau gitu, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu."

"Nadira, kamu pulang jam berapa?"

"Jam empat Sore."

"Ya sudah aku jemput."

Nadira terdiam sebentar. "Oke."

Panggilan berakhir.

Adrian tidak langsung memasukkan ponselnya ke saku. Ia masih berdiri sambil memikirkan percakapan tadi. Ada sesuatu yang disembunyikan Nadira.

Dan dari nada suaranya, itu bukan masalah kecil.

***

Di rumah sakit, Nadira keluar dari toilet. Ia berjalan kembali menuju ruang administrasi dengan wajah tenang. Namun pikirannya masih dipenuhi satu hal.

Deren. Begitu sampai di meja administrasi, petugas tadi menghampirinya.

"Suster."

Nadira menoleh. "Ada apa?"

"Data pasien Deren kembali berubah."

Nadira langsung berhenti. "Berubah lagi?"

Petugas mengangguk. "Saya tidak tahu siapa yang melakukannya."

Nadira segera mendekati komputer. Layar menunjukkan data pasien. Namun kali ini ada satu informasi baru.

Kontak darurat: Tidak tersedia.

Nadira mengerutkan kening. "Padahal tadi ada data keluarga."

Petugas itu mengangguk. "Benar."

"Siapa yang menghapusnya?"

"Sistem hanya mencatat akun administrator."

Nadira terdiam, ia mulai menyadari bahwa seseorang sedang menghapus jejak Deren sedikit demi sedikit.

"Buka riwayat perubahan."

Petugas mengetik beberapa perintah. Beberapa detik kemudian, sebuah daftar muncul. Nadira membaca waktunya.

Semuanya dilakukan menggunakan akun administrator. Namun ada satu hal yang membuat Nadira merinding. Perubahan terakhir dilakukan kurang dari satu menit yang lalu.

Nadira menatap layar. "Seseorang masih mengakses data Deren."

Petugas menelan ludah. "Padahal tidak ada orang di ruangan ini."

Nadira tidak menjawab, ia segera menoleh ke arah koridor. Jangan-jangan orang itu tidak perlu berada di rumah sakit untuk mengakses sistem.

Sementara itu, Adrian kembali ke ruangannya.

Clara masih berada di sana dan sedang memeriksa dokumen.

"Pak Adrian."

Adrian mengangguk. "Bagaimana?"

"Beberapa transaksi mulai saya cocokkan dengan laporan gudang."

"Lalu, bagaimana hasilnya?"

Clara menyerahkan satu berkas. "Ada beberapa transaksi yang tidak memiliki dokumen pendukung."

Adrian mengambilnya. "Ada berapa?"

"Delapan belas transaksi."

Adrian membuka halaman pertama. "Delapan belas?"

"Ya."

Adrian membaca satu per satu. Beberapa perusahaan penerima ternyata berbeda. Namun tanggal transaksi hampir berdekatan. Ia kemudian melihat bagian persetujuan.

Nama yang muncul berulang kali membuatnya berhenti... Anton.

Adrian mengangkat wajah. "Semua ini disetujui Anton?"

Clara mengangguk. "Sebagian besar, iya Pak."

Adrian menatap dokumen itu lama. Sekarang kecurigaannya terhadap Anton semakin kuat. Namun ia belum ingin mengambil tindakan.

Karena jika Anton memang terlibat, orang di belakangnya pasti akan segera mengetahui bahwa audit sudah menemukan jejak itu.

Adrian menutup berkas. "Jangan masukkan ini ke laporan resmi dulu."

Clara tampak terkejut. "Kenapa, Pak?"

"Karena saya ingin tahu siapa yang akan bereaksi ketika mengetahui transaksi ini ditemukan."

Clara mengangguk perlahan. "Saya mengerti."

Adrian kemudian melihat jam tangannya. Ia masih memiliki beberapa jam sebelum menjemput Nadira.

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!