Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 48 JAM DI NERAKA DAN SERANGAN DI RUMAH SAKIT
Jam 21.00 di ruang ICU RSPAD, lampu temaram, suara mesin.
Beep... beep...
Nabila terbaring dengan wajah pucat, perban melilit punggung dan lengan dan selang infus dimana-mana. Wijaya di sebelahnya dan napas dibantu ventilator, Galen duduk di tengah kedua 2 tangan menggenggam tangan Nabila serta Wijaya. Matanya merah, watu sudah menunjukkan pukul 00.00 namun dia belum tertidur. Tak lama danrem masuk.
"Galen, kamu pulang beristirahat. Aku yang akan menggantikan kamu" Ujar Danrem
Kedua orang belum di kasih tahu, takutnya mereka syok aka napa yang menimpa putri mereka.
Galen menggeleng …
"Enggak, aku yang jaga" Jawab Galen
"Dia koma, nggak tau kamu di sini" Ujar Denram
"Dia tau" Bisik Galen.
"Dia yang lindungin Anggita, masa aku nggak bisa lindungin dia" Ujar Galen
Sedangkan di luar, Anggita tidur di pangkuan perawat. Dia bingung harus memberitahu keluarganya, dan keluarga Nabila nagaimana.
*****
Jam 23.00, Markas C-12 tepatnya di daerah Lembang mereka menempati gudang tua yang dingin.
Bram lempar gelas …
Preng …
"GAGAL!! GARUDA HITAM KALIAN APAAN?!" Teriak Bram
10 anak buah ketakutan, Bayu bahunya diperban. Bram langsung menoleh kepada anak buahnya yang baru masuk.
"KAMU!!" Teriak Bram
"Iya tuan ?" Tanya Anak buahnya.
"Kalian tidak becus" Teriak Bram.
Plak …
Bram menampar anak buahnya, membuat sudut bibirnya berdarah.
“Tenangkan dirimu kak, kita susun rencana yang lain” Ucap Bayu
*****
Dirumah sakit, Galen masih setia menunggu Nabila dan sang ayah, dokter masuk untuk melihat perkembangan keduanya.
"Tekanan darah Nabila turun" Ucap Dokter
Galen langsung berdiri karena terkejut
"APA?!" Ucap Galen terkejut
"Tunggu. stabil lagi" Kata dokter
"Tapi 48 jam ini kritis jika 1x salah, bisa..." Dokter nggak nerusin ucapannya
Galen duduk lagi mencium tangan Nabila
"Bila... bertahan ya demi Anggita dan demi aku" Ucap Galen sambil meneteskan air mata
Tiba-tiba Nabila mengernyit dan air mata jatuh.
Galen kaget …
"Bila ? Bila denger aku ?" Tanya Galen namun tidak ada respon hanya air mata yang keluar
*****
Jam 21.00, 48 jam berakhir dokter masuk dengan wajah serius. Galen berdiri, jantungnya ingin copot.
"Gimana ?" Tanya Galen, dokter menarik napas
"Kami berhasil melewati 48 jam kritis, luka bakar tidak infeksi serta antung stabil" Jelas Dokter
Galen terdiam 3 detik, lalu...
Dia jatuh berlutut dan menaangis sejadi-jadinya
"Puji tuhan... Puji tuhan..." Ucap Galen
Anggita ikut nangis.
"Bila selamat kan kak ?" Tanya Anggita
"Selamat, dek" Jawab Galen.
Dokter melanjutkan
"Tapi... dia belum sadar, bisa 1 minggu, bisa 1 bulan. Kita tunggu aja" Ujar Dokter
Galen mengangguk, mengusap rambut Nabila.
"Nggak apa-apa, aku tunggu sampai kapan pun" Jawab Galen
“Kalau gitu saya kelaur dulu dokter Galen, selamat malam” Ucap Dokter
“Terima kasih dokter” Jawab Galen
*****
Jam satu dini hari koridor rumah sakit begitu lengang, hanya suara mesin infus dan langkah suster jaga yang sesekali lewat. Di ruang rawat 204, Galen duduk di kursi plastik. Matanya tak lepas dari Nabila yang masih terbaring, wajahnya pucat tapi napasnya sudah teratur.
"Gak akan kubiarin ada yang nyentuh kamu lagi" Gumam Galen pelan.
Pintu mendadak kebuka, Bram masuk dan di belakangnya 3 orang berbadan besar.
"Lama gak ketemu, Nabila" Ucap Bram sambil senyum
"Katanya sakit, aku aka akan mengeceknya sendiri aku akan tanggung jawab" Lanjut Bram
Galen langsung berdiri.
“Mau apa kamu ke sini ?” Tanya Galen waspada
Bram tertawa kecil…
"Kamu masih aja tajam mulutnya, Galen. Aku Cuma ingin menjenguknya saja" Jawab Bram
Salah satu anak buah Bram maju, Anggita yang dari tadi di ruang server lewat CCTV langsung panik. Dia colok flashdisk, download data C-12 secepatnya. 50%... 60%...
Di dalam ruangan, Galen udah adu jotos. 1 lawan 3.
Nabila terbangun karena teriakan.
"GALEN!!!" Teriak Nabila
Dengan tenaga terakhir, Galen ngelindungin Nabila pake badan dia sendiri. Pisau nyaris kena perut Nabila, tapi nyasar ke lengan Galen.
"SUSTER!!! TOLONG!!!" Teriak Nabila sambil nangis.
Alarm rumah sakit meraung membuat anak buah Bram panik, Bram ngeliat Galen yang udah sempoyongan, terus ngeliat Anggita yang kabur lewat jendela.
"Kita ketemu lagi" Bisik Bram sebelum pergi.
"Lain kali gak ada Galen yang nolongin kamu, Nabila" Lanjut Bram
Pintu kebuka, Suster dan satpam datang. Mereka melihat Galen tergeletak, berlumuran darah. Nabila jerit histeris dan di luar jendela, Anggita lari sambil genggam flashdisk berisi bukti.