Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Benang yang Terurai Indah
Suasana ruang makan di kediaman besar keluarga Baskoro malam itu terasa begitu hangat. Aroma masakan rumah yang menggugah selera berpadu dengan denting sendok dan garpu, menciptakan harmoni akhir pekan yang biasa mereka lalui. Namun, bagi Mita, malam ini memiliki arti yang jauh berbeda. Ini adalah akhir dari sebuah kepura-puraan yang melelahkan, sekaligus awal dari langkah baru yang harus ia tempuh.
Maka, setelah meletakkan sendoknya perlahan di atas piring, Mita menarik napas dalam-dalam. Ia mengedarkan pandangan, menatap wajah Diana yang penuh kasih, wajah Baskoro yang berwibawa, dan terakhir, wajah Sam yang mendadak menegang di seberang meja. Sam tampak menahan napas, tahu betul bahwa bom waktu yang mereka tunggu kini siap meledak.
Mita mengulas senyum paling tulus yang ia miliki. Dengan intonasi suara yang begitu lembut, tenang, dan tertata rapi—seperti kalimat-kalimat doa yang telah ia susun berulang kali di dalam kepalanya—Mita mulai berbicara.
"Ayah, Ibu... Mita ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga karena telah memberikan limpahan kasih sayang yang begitu besar selama ini. Menjadi bagian dari keluarga ini adalah anugerah terbesar dalam hidup Mita," buka Mita, pembawaannya yang anggun dan teduh seketika menyedot perhatian penuh dari kedua mertuanya.
Baskoro dan Diana tersenyum, mengira itu hanyalah ungkapan rindu seorang anak. Namun, kalimat Mita berikutnya mengalir dengan ketegasan yang tak disangka-sangka.
"Beberapa malam yang lalu, aku bermimpi bertemu dengan kedua orang tua kandungku. Di dalam mimpi yang terasa begitu nyata itu, mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun keluhan, melainkan hanya tersenyum teduh sembari mengusap kepalaku dan berbisik, 'Hiduplah sesuai dengan keinginanmu sendiri, Nak.'Pesan itu bagai sebuah lentera yang menerangi sudut hatiku yang paling gelap. Aku tersadar, aku tidak bisa terus-menerus mengorbankan kebahagiaan dan jiwaku dalam pernikahan semu ini, namun aku juga sangat sadar bahwa aku tidak boleh menorehkan luka di hati Papa Baskoro dan Mama Diana—dua orang yang telah menganggapku sebagai darah daging sendiri."
Hening.
Semuanya masih menunggu Mita menyelesaikan ucapannya.
"Selama beberapa bulan ini, Mita dan Mas Sam telah mencoba dengan sungguh-sungguh untuk berjalan beriringan. Kami telah belajar saling mengenal hati masing-masing. Namun, Pah, Mah... kami menyadari bahwa kasih sayang di antara kami berdua tumbuh sebagai sepasang kakak dan adik yang saling menghormati, bukan sebagai suami dan istri."
Diana sempat tertegun, tangannya yang hendak meraih gelas mendadak terhenti. Sam menundukkan kepala, meremas jemarinya di bawah meja.
Mita tidak memberikan celah bagi ketegangan untuk memuncak. Dengan cepat, ia melanjutkan kalimatnya dengan pembawaan yang begitu matang, memosisikan perpisahan ini bukan sebagai sebuah tragedi, melainkan sebuah kedewasaan.
"Mita tahu, fokus terbesar Papa dan Mama adalah melihat kami berdua bahagia. Dan kebahagiaan sejati bagi kami adalah ketika kami bisa jujur pada diri sendiri dan pada Papa dan Mama. Kami ingin mengembalikan hubungan ini ke tempat yang paling tepat, yaitu sebagai kakak dan adik yang akan saling menjaga selamanya. Mita ingin mengejar impian kuliah Mita dengan hati yang lapang, dan Mas Sam juga berhak melangkah menuju kebahagiaan yang sesungguhnya. Tanpa ada rasa terpaksa, tanpa ada yang tersakiti. Kami memutuskan ini bersama, demi kebahagiaan keluarga kita."
Cara Mita menyampaikan keputusan berat itu begitu luar biasa. Tidak ada nada tuntutan, tidak ada ganjalan dendam, dan tidak ada air mata kesedihan. Ia menyampaikannya seolah-olah perceraian ini adalah sebuah gerbang hadiah yang sah dan indah bagi masa depan mereka semua.
Baskoro yang biasanya keras dan kaku, perlahan mengembuskan napas panjang. Keikhlasan yang terpancar dari wajah Mita membuat rasa kecewa mereka sirna seketika, digantikan oleh kelegaan dan kedamaian yang aneh.
Detik itu juga, di tengah ruang makan yang hangat, Baskoro tersenyum tipis dan berbisik, "Jika itu memang jalan menuju kebahagiaan kalian yang sesungguhnya... Papa dan Mama merestuinya, Mita."
Suasana yang semula ditakutkan akan menjadi badai kehancuran, berkat ketulusan dan pembawaan Mita, justru berakhir menjadi momen penuh kebahagiaan dan kelegaan bagi mereka semua.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)