NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Setelah menghabiskan makanan mereka, Amira mengajak putrinya pulang ke rumah.

Di sepanjang perjalanan, perkataan polos Felia tentang Puncak terus berputar di benak Amira, namun ia mencoba menepisnya demi menjaga suasana hati sang putri.

Sesampainya di rumah, ia mengganti pakaian Felia dengan baju rumahan yang lebih santai dan nyaman.

Amira menuntun Felia ke atas ranjangnya, lalu menyelimuti tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang.

"Sekarang Felia tidur siang, ya. Mama mau ke kamar dulu," ucap Amira lembut sembari mengecup kening Felia.

Felia menganggukkan kepalanya patuh, lalu perlahan mulai memejamkan mata karena kelelahan setelah puas bermain mandi bola di mal tadi.

Melihat putrinya sudah terlelap, Amira melangkah keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Ia berjalan menuju kamarnya sendiri untuk mencari ketenangan.

Sambil membawa kantong belanjaan berisi peralatan yang baru dibelinya, Amira naik ke atas tempat tidur sambil menggambar.

Ia membuka lembaran kertas putih baru, membiarkan jemarinya menari menorehkan sketsa untuk mengalihkan riuh di dalam pikirannya.

Namun, di tengah goresan pensilnya, bayangan sang suami tiba-tiba melintas. Pertanyaan yang tadi sempat tertahan kini kembali menyeruak di benaknya.

"Mas Daniel ke Puncak?" batin Amira bertanya-tanya.

Mengapa Daniel bisa berada di sana dan membawanya pulang dalam keadaan mengenaskan seperti itu.

Merasa tidak ingin merusak kebahagiaan dan lembaran baru yang baru saja mereka bangun semalam dengan prasangka, Amira menggelengkan kepalanya dan kembali menggambar.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir segala kecurigaan, lalu fokus menyelesaikan guratan sketsanya di atas kertas.

Jam menunjukkan pukul enam sore dan terdengar suara mobil Daniel yang menderu halus memasuki pelataran rumah mewah mereka.

Felia yang sedang menonton televisi bersama Amira langsung bangkit dari duduknya dengan riang, berlari kecil menuju arah pintu utama untuk menyambut kedatangan sang papa.

Amira membuka pintu dan melihat Daniel membawa bucket bunga mawar merah yang sangat besar dan indah di tangan kanannya, dan boneka beruang berbulu lebat yang menggemaskan di tangan kirinya.

Wajah lelah Daniel setelah seharian bekerja seketika sirna begitu melihat senyum hangat istri dan anaknya.

Daniel berlutut, mengulurkan barang bawaannya dengan mata yang berbinar penuh kasih.

"Sayang, ini untuk kamu, dan ini untuk putri Papa."

"Terima kasih, Mas," ucap Amira dengan pipi yang merona merah saat menerima buket mawar segar yang harum itu.

Felia langsung memeluk boneka barunya dengan suka cita, mengecup pipi Daniel singkat, lalu Felia kembali menonton televisi di ruang tengah dengan membawa boneka beruangnya.

Melihat suaminya yang tampak letih namun tetap berusaha membahagiakan keluarga, Amira tersenyum manis.

Ia menuntun Daniel masuk ke dalam kamar utama mereka.

Sementara Daniel merenggangkan dasinya, Amira masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat di dalam bathtub agar suaminya bisa berendam dengan nyaman.

Setelah selesai menyiapkan semuanya, Amira keluar dari kamar mandi dan menghampiri Daniel yang sedang duduk di tepi ranjang.

"Lekas mandi, Mas. Setelah itu kita makan malam bersama," tutur Amira lembut sembari membantu melepaskan jas kerja Daniel.

"Iya, Sayang. Terima kasih," ucap Daniel sambil memeluk tubuh istrinya dari depan, menyandarkan wajahnya di bahu Amira dan menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu berhasil menenangkan seluruh badai di pikirannya.

Amira menuju ke dapur dan membantu pelayan yang sudah menyiapkan masakan untuk malam ini.

Aroma harum dari hidangan yang tersaji menghangatkan suasana ruang makan.

Tak lama kemudian, Daniel yang selesai mandi turun ke bawah dengan pakaian rumahan yang santai dan segar.

Rambutnya masih sedikit basah, namun gurat lelah di wajahnya telah memudar.

Ia memanggil Felia untuk makan malam bersama, menuntun putri kecilnya itu menuju meja makan.

Mereka duduk bersama, menikmati hidangan dalam suasana yang tenang. Namun, di sela-sela denting sendok dan garpu, pikiran Daniel kembali melayang pada ancaman Anita siang tadi di kantor.

Rasa cemas mendadak menyergap dadanya.

Daniel meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Amira.

"Apa Mama Gayatri dan Anita ke sini?" tanya Daniel, mencoba memastikan bahwa dua wanita yang sering mengusik ketenangan Amira itu tidak datang mencari perkara.

Amira menggelengkan kepala perlahan, tampak bingung dengan pertanyaan suaminya yang tiba-tiba.

"Tidak ada, Mas. Kenapa, Mas?" tanya Amira penasaran.

Daniel memaksakan sebuah senyuman tipis agar istrinya tidak curiga.

"Tidak apa-apa. Aku takut mereka

mengganggumu lagi," jawab Daniel beralasan.

Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Daniel takut jika Anita mengatakan soal malam itu—malam kecelakaan mengerikan di Puncak yang sampai saat ini masih menjadi rahasia terbesar sekaligus bom waktu dalam rumah tangga mereka yang baru saja membaik.

Felia yang menikmati makan malamnya tampak begitu lahap, begitu juga dengan mereka berdua.

Obrolan ringan seputar aktivitas Felia di tempat bermain mandi bola tadi siang sempat mencairkan ketegangan yang sempat menyelimuti benak Daniel.

Setelah makan malam, Felia masuk ke kamar bersama suster karena jam sudah menunjukkan waktu tidur bagi anak seusianya.

Melihat putrinya sudah aman dalam pelukan pengasuhnya, Daniel yang juga mengajak Amira ke kamarnya untuk beristirahat.

Di dalam kamar, atmosfer seketika berubah menjadi begitu intim.

Daniel menutup pintu rapat-rapat, lalu melangkah mendekati Amira dari belakang. Daniel kembali memeluk tubuh istrinya dengan erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Amira yang harum.

"Aku sangat merindukanmu, Sayang," ucap Daniel dengan suara bariton yang serak, lalu mulai mencium leher istrinya dengan lembut, menyalurkan hasrat dan rasa cintanya yang membuncah.

Amira memejamkan mata sesaat menikmati sentuhan suaminya. Namun, rasa penasaran yang dipendamnya sejak siang tadi di food court tidak bisa lagi ditahan.

Ia memegang tangan Daniel yang melingkar di pinggangnya, lalu berbalik badan menghadap sang suami.

"Mas, apakah waktu aku kecelakaan, kamu juga baru dari Puncak?" tanya Amira dengan tatapan mata yang lurus menuntut jawaban jujur.

Deg!

Jantung Daniel berdetak kencang, seolah berhenti berdetak untuk beberapa detik.

Sentuhan mesra yang baru saja ia berikan seketika membeku.

Pertanyaan Amira menghantamnya laksana petir di siang bolong, meruntuhkan ketenangan yang baru saja ia rasakan dan menghidupkan kembali rasa takut terdalamnya.

"M-maksud kamu?" tanya Daniel terbata-bata.

Suaranya yang biasa terdengar tegas kini bergetar hebat.

Ia mencoba melepaskan pelukannya perlahan, melangkah mundur satu jengkal untuk menyembunyikan kepanikan yang mulai menjalar ke seluruh wajahnya.

Keringat dingin mendadak keluar di tengkuknya.

Amira menatap lekat kedua mata Daniel yang tampak gelisah, mencoba mencari tahu alasan di balik perubahan sikap suaminya yang begitu drastis.

"Tadi siang Felia mengatakan kalau kamu pernah ke Puncak dan membawakku ke sini," jelas Amira tenang, mengulang kembali ucapan polos putri kecil mereka saat di food court mall.

Amira melangkah mendekat, memegang lengan Daniel yang terasa menegang.

"Aku cuma bingung, Mas. Felia bilang waktu itu aku dalam keadaan pingsan atau sakit saat kamu bawa pulang dari Puncak. Apa benar kamu ada di sana saat kecelakaan itu terjadi?"

Pertanyaan Amira yang begitu beruntun membuat tenggorokan Daniel terasa kering kerontang.

Bom waktu yang paling ia takuti kini seolah siap meledak di depan matanya sendiri, dan pelatuknya justru ditarik oleh kepolosan putri mereka.

Daniel menelan salivanya dengan susah payah, mencoba menata detak jantungnya yang menggila.

Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu menyusun kebohongan instan demi menyelamatkan dirinya.

"Aku memang dari Puncak dan ada keramaian. Aku turun dari mobil dan melihat kamu tergeletak di sana. Lalu aku membawamu ke rumah sakit. Di sana peralatan kurang lengkap, makanya aku membawamu ke sini," ucap Daniel dengan nada suara yang dibuat sefaktual mungkin.

Bohong, Daniel.

Batin pria itu menjerit, merutuki lisannya sendiri yang baru saja merangkai dusta.

Padahal malam itu hanya ada mobilnya dan mobil Amira yang ia tabrak sampai masuk jurang.

Tidak ada keramaian sama sekali di jalanan yang gelap dan diguyur hujan deras itu.

Peristiwa yang sebenarnya terjadi adalah Amira yang terlempar, dan ia membawanya ke rumah sakit atas pertolongan seseorang yang kebetulan melintas setelah benturan maut tersebut.

Ingatan kelam itu berputar begitu nyata di kepala Daniel, membuatnya terpaku di tempat dengan tatapan mata yang mendadak kosong.

Melihat suaminya yang tiba-tiba terdiam dengan rahang yang mengeras, Amira menyentuh pundak pria itu perlahan.

"Mas, ngelamun apa?"

Suara lembut Amira seketika menarik Daniel kembali dari pusaran masa lalunya yang kelam.

Ia mengerjapkan mata, buru-buru menguasai diri agar kedoknya tidak runtuh malam ini.

Daniel tersenyum dan mengajak istrinya untuk tidur.

"Bukan apa-apa, Sayang. Hanya sedikit lelah karena urusan kantor tadi. Ayo, sebaiknya kita tidur sekarang. Sudah malam," ucap Daniel sembari menuntun Amira menuju ranjang, berusaha mengubur pembicaraan berbahaya itu di bawah selimut mereka.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!