NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Malam makin larut di kediaman utama Adhitama. Meskipun sebagian besar lampu di lorong-lorong mansion mewah itu telah dipadamkan, ketegangan tersembunyi justru merayap di balik bayang-bayang pilar marmernya.

Menggunakan sisa koneksi dari beberapa pelayan lama yang berhasil ia suap, Siska Lorenza berhasil menyelinap masuk melewati sistem keamanan lobi belakang.

Langkah kakinya yang dibungkus sepatu flat tanpa suara bergerak cepat, menyusuri koridor menuju ruang kerja pribadi Devran.

Otak Siska dipenuhi oleh kepanikan yang membakar sejak insiden meledaknya kamera fotografer di taman.

Ia tahu posisinya sudah di ujung tanduk. Namun, desas-desus dari informannya di Adhitama Medical Center tentang Devran yang mendadak mendonorkan darah secara darurat untuk Leo malam tadi memicu alarm bahaya terbesar di kepalanya.

"Pasti ada yang tidak beres," bisik Siska dengan napas memburu saat tangannya berhasil membuka pintu ruang kerja Devran yang tidak terkunci sempurna.

"Transfusi langsung? Rhesus negatif? Tidak mungkin anak haram itu memiliki hubungan darah dengan Devran!"

"Aku harus menemukan dokumen medis atau hasil analisis darah sialan itu di sini!"

Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh pendar cahaya bulan dari jendela besar. Siska segera merangsek ke balik meja kerja kayu jati besar milik Devran.

Dengan tangan gemetar, ia mulai mengacak-acak laci berkas, membuka map satu per satu dengan tergesa-gesa.

"Mana... di mana Devran menyimpannya?!" Siska mengumpat lirih, membalik dokumen-dokumen kontrak proyek Bali dengan frustrasi.

"Sial! Bukan yang ini! Bukan berkas saham ini!"

"Apakah ini yang sedang kamu cari, Nona Lorenza?"

sebuah suara bariton yang dingin, berat, dan sarat akan ancaman mutlak mendadak menggema dari arah pintu masuk.

KLIK.

Lampu gantung kristal di tengah ruangan seketika menyala terang, membuat mata Siska yang terbiasa dengan kegelapan refleks menyipit karena silau.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.

Devran Adhitama. Pria itu berdiri tegak dengan setelan jas hitamnya yang masih rapi, meskipun lengan kemejanya sedikit berkerut bekas balutan perban donor malam tadi.

Di sebelah kakinya, Leo berdiri dengan wajah polos namun tatapan matanya yang cerdas memancarkan ejekan yang jelas.

Di belakang mereka, Reno dan dua petugas keamanan bertubuh kekar menutup jalan keluar.

Siska membeku di tempatnya berdiri, tangannya masih memegang laci meja yang terbuka.

"D-Devran...? Sejak kapan kamu... bukankah kamu harusnya berada di rumah sakit menjaga anak itu?"

"Maksudmu menjaga anak kandungku, Siska?" Devran melangkah masuk dengan santai, namun setiap ketukan sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian bagi Siska.

"Anak kandung?!" Siska tertawa sumbang, mencoba menutupi kegugupannya.

"Jangan bercanda, Devran! Alana pasti sudah memanipulasimu dengan trik murahan! Dia hanya wanita jalang yang ingin menguras hartamu dengan membawa anak haram dari Swiss!"

"Tikus tanah ini berisik sekali, Om seram," celetuk Leo dari samping Devran, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Dia bahkan tidak tahu kalau sistem keamanan laci meja ini terhubung langsung ke tablet militerku. Begitu dia menyentuh laci ketiga, alarm sunyi langsung mengirimkan koordinatnya ke ponsel Papa."

Mendengar kata Papa yang keluar dari mulut Leo secara alami, rahang Devran mengetat karena rasa bangga, namun tatapannya pada Siska makin menajam seperti bilah pisau.

"Kamu mendengar itu, Siska?" Devran berhenti tepat dua langkah di depan meja kerja.

Dari balik jasnya, ia tidak mengeluarkan map biru hasil laboratorium, melainkan selembar dokumen tebal berlogo hukum resmi Adhitama Group.

PLAK!

Devran melemparkan dokumen itu dengan keras tepat di depan wajah Siska, hingga kertas-kertas itu tersebar di atas meja.

"Gunakan matamu dan baca itu dengan baik," perintah Devran dingin.

Siska gemetar, matanya membaca baris judul dokumen tersebut dengan cepat. Wajahnya seketika berubah pucat pasi, kehilangan seluruh warna kulitnya.

"P-Pemutusan Hubungan Kerja Sepihak... dan... Pembatalan Mutlak Rencana Pertunangan?!"

"Ya," sahut Devran tanpa emosi. "Mulai detik ini, Lorenza Corp resmi dikeluarkan dari seluruh konsorsium proyek Adhitama Group di Asia Tenggara."

"Dan hubungan apa pun yang pernah direncanakan oleh keluarga kita sudah berakhir. Hangus. Tidak bersisa."

"Tidak! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Devran!" jerit Siska histeris, mencengkeram pinggiran meja.

"Ayahku sudah menanam modal besar di proyek fasa dua! Dan kakekmu... kakekmu sudah menyetujui pertunangan kita sejak dua tahun yang lalu!"

"Kamu tidak bisa membatalkannya hanya karena wanita jalang itu dan anak pembawa sial ini!"

"Jaga bicaramu, Siska, sebelum aku membuat keluargamu tidak memiliki rumah lagi untuk bermalam besok," desis Devran, suaranya merendah namun getaran kemarahannya membuat atmosfer ruangan terasa mencekam.

"Modal ayahmu sudah kukembalikan ke rekening Lorenza Corp sepuluh menit yang lalu, lengkap dengan denda penalti yang sudah kubayar lunas."

"Aku tidak membutuhkan uang sepeser pun dari keluarga manipulator seperti kalian."

"Devran, aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu!" Siska mulai menangis, mencoba merangkak di atas meja untuk meraih tangan Devran, namun mundur ketakutan saat melihat kilat membunuh di mata pria itu.

"Alana itu masalalu, Devran! Aku yang menemanimu membangun reputasi di Jakarta selama ini! Mengapa kamu begitu buta?!"

"Mencintaiku?" Devran menyunggingkan senyum paling menghina yang pernah Siska lihat.

"Dengan cara menyewa fotografer untuk menjebakku di taman? Dengan cara menyuap pelayan mansionku untuk mencari celah menghancurkan Alana?"

"Ataukah dengan cara menyusup ke ruang kerjaku seperti pencuri murahan malam ini?"

Siska menggelengkan kepalanya, air matanya merusak riasan wajahnya.

"Itu... itu karena aku terdesak! Kamu berubah sejak wanita itu datang! Kamu tidak pernah menatapku seperti kamu menatapnya!"

"Karena kamu memang tidak pernah ada di dalam daftarku, Siska," potong Devran kejam.

"Pertunangan itu hanyalah transaksi bisnis yang diatur oleh tetua keluarga. Dan sekarang, transaksi itu sudah tidak bernilai apa-apa karena kamu telah berani menyentuh apa yang menjadi milikku."

Leo melangkah maju sedikit, menatap Siska dengan pandangan kasihan yang dibuat-buat.

"Bibi Merah, jika aku jadi kamu, aku akan segera menandatangani surat itu sebelum Papa mengeluarkan berkas ketiga."

"Berkas ketiga apa?!" bentak Siska pada Leo dengan penuh kebencian.

Reno melangkah maju dari belakang Devran, menyerahkan satu map hitam lagi kepada Devran.

Devran membukanya dan menjatuhkan lembaran-lembaran foto serta dokumen transaksi perbankan di atas meja.

"Dokumen penyuapan jaksa pengawas untuk jaminan penangguhan penahananmu, serta rekaman percakapanmu dengan Joni si fotografer untuk melakukan tindakan pencemaran nama baik," ujar Devran, suaranya terdengar seperti hakim yang membacakan vonis mati.

"Tanda tangani pembatalan pertunangan ini sekarang, atau dua petugas di belakangku akan langsung menyerahkanmu kembali ke sel tahanan Polda Metro Jaya malam ini juga tanpa hak jaminan lagi."

Siska menatap dokumen-dokumen di atas meja dengan pandangan hancur. Semua kartu as miliknya telah patah.

Segala kelicikan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam satu malam di tangan pria yang teramat sangat ia gilai, dibantu oleh seorang bocah berusia lima tahun.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang terus mengalir, Siska meraih pena emas di atas meja.

Ia menggoreskan tanda tangannya di atas lembar pembatalan tersebut dengan perasaan hancur yang teramat dalam.

SRET. SRET.

"Puas kamu, Devran?!" jerit Siska, melemparkan pena itu ke lantai.

"Kamu telah menghancurkanku! Kamu telah menghancurkan masa depan Lorenza Corp!"

Devran mengambil kembali dokumen yang sudah ditandatangani itu, menyerahkannya pada Reno tanpa sekali pun mengalihkan pandangannya dari Siska.

"Bawa dia keluar dari propertiku, Reno. Dan pastikan namanya masuk ke dalam daftar hitam seluruh area Adhitama Group selamanya," perintah Devran dingin.

"Baik, Tuan Besar. Silakan ikut kami, Nona Siska," ucap Reno tegas, memberi isyarat kepada dua petugas keamanan untuk mencengkeram lengan Siska dan menyeretnya keluar dari ruangan.

"Devran! Kamu akan menyesal! Alana pasti menyembunyikan sesuatu yang lebih besar darimu!"

"Kamu akan menyesal telah memilihnya!" teriak Siska yang suaranya makin mengecil seiring tubuhnya yang diseret paksa menyusuri koridor luar.

Setelah keheningan kembali menguasai ruang kerja, Devran mengembuskan napas panjang. Ia menunduk, menatap Leo yang kini sedang mendongak menatapnya dengan senyum lebar.

"Kerja bagus, Singa Kecil," ucap Devran, mengacak rambut Leo dengan lembut.

"Sama-sama, Papa," sahut Leo dengan nada riang, sengaja menekankan kata panggilan baru itu untuk melihat reaksi ayahnya.

Devran tertegun sejenak, lalu sebuah senyuman tulus, sesuatu yang sangat jarang terjadi, terukir di wajah tegapnya.

Ia mengangkat Leo ke dalam gendongannya. "Ayo kembali ke kamar pemulihan."

"Mommy mu pasti akan mengamuk jika tahu kita menyelinap keluar untuk mengurus tikus tanah di jam seperti ini."

1
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
next kk 💪💪
Rosa Santika: siap kk
total 1 replies
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!