Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. SBR
...~•Happy Reading•~...
Semua orang dalam ruangan tercengang mendengar klarifikasi Janet yang berani, seakan dia tidak berhadapan dengan pejabat perusahaan.
Gevaro jadi meletakan lengan di atas meja, dan membiarkan Janet mengeluarkan rasa kesalnya.
"Saya tidak tahu kalau dia tidak boleh membuat minuman buat karyawan pria bujangan atau sudah menikah. Atau dia tidak boleh berbicara dengan pejabat."
"Jika ada aturan seperti itu, saya akan lebih selektif menerima tugas dari pejabat perusahaan ini." Janet menarik nafas sebelum meneruskan.
"Saya tidak keberatan menjelaskan kepada siapa saja yang bertanya tentang status saya. Tapi selama setahun lebih saya bekerja di sini, tidak ada yang bertanya. Jadi apakah itu bisa disebut saya menyembunyikan status?"
"Saya tidak tahu angin apa yang bertiup, sampai ada yang tiba-tiba menuduh saya menyembunyikan status pernikahan saya dengan maksud jahat."
"Apa salah saya kalau terlihat masih muda walau sudah menikah? Apa salah saya, kalau ada yang mengira saya belum menikah? Usia saya memang masih muda dibandingkan dengan kedua ibu ini." Janet menunjuk Bu Letti dan Valeri dengan jempol.
"Mengapa mencurigai kemudaan saya dengan mengatakan saya mau menarik perhatian pria, bahkan mau menggoda untuk melaksanakan rencana yang tidak masuk akal?"
"Apa masih waras, mencurigai saya yang office girl ini?" Janet menunjuk wajahnya dengan jari. "Bisa mengorek informasi perusahaan dari pimpinan seperti batu karang itu?" Janet membuka tangan ke arah Gevaro yang membuat Jensen hampir tertawa. Tapi hati Valeri seperti ditimpuk batu.
"Kau jangan membual untuk menutupi niatmu sebenarnya. Kau mau membalas perusahaan ini, karna memecat suamimu dengan tidak hormat. Makanya kau diam-diam bertemu dengan orang itu, kan?" Valeri tidak tahan dipojokan oleh klarifikasi Janet. Dia khawatir Gevaro makin diperdaya oleh apa yang dikatakan Janet. Hingga tanpa menunggu dia menjawab Janet.
"Suami saya bekerja di perusahaan ini juga?" Janet bertanya dengan mata terbelalak. Reaksi Janet diperhatikan oleh Gevaro, Jensen dan yang lain.
"Jangan pura-pura tidak tahu." Ucap Valeri sambil mengibaskan tangan untuk mendiamkan Janet yang sedang tertegun.
"Siapa nama suaminya yang dipecat dengan tidak hormat?" Tanya Gevaro kepada Valeri.
"Andri Pratama, Pak." Jawab Valeri merasa menang. "Benar kan, itu nama suamimu?" Tanyanya kepada Janet yang terdiam. Dia tidak menjawab, sebab tidak tahu masa lalu Andri.
"Andri Pratama?" Tiba-tiba Satrio sebagai Kabag personalia bertanya sambil melihat Valeri.
"Iya, Pak. Itu nama suaminya, makanya tidak bisa menjawab.
"Ada apa Pak Satrio?" Tanya Gevaro yang melihat mimik wajah Satrio berubah.
"Pak, kami memang punya karyawan di pabrik bernama Andri Pratama beberapa tahun lalu. Tapi beliau tidak dipecat dengan tidak hormat." Satrio berkata pelan dan mata agak berkabut.
"Jadi apa sebenarnya yang terjadi? Ceritakan." Perintah Gevaro. Dia jadi ingin tahu tentang orang yang telah menarik perhatiannya di rumah sakit.
"Maaf, Pak. Saya agak terbawa perasaan dan emosi masa lalu. Saya minta minum sebentar." Jensen berdiri mengambil air mineral, lalu berikan kepada Satrio yang langsung meneguk perlahan.
"Begini, Pak. Beberapa tahun lalu terjadi kecelakaan kerja di pabrik. Saat itu ada gempa dan sedikit terjadi goncangan di pabrik. Ada balok baja yang belum terpasang sempurna terlepas dan jatuh hampir menimpa karyawan pabrik yang terlambat lari, karena usia."
"Pak Andri yang masih muda berlari cepat mendorong anak buahnya, karena beliau sebagai penanggung jawab di pabrik."
"Yang didorong hanya mengalami benturan pada kaki, tapi Pak Andri mengalami benturan keras pada punggungnya."
Cerita Satrio membuat Janet mengangkat tangan dan menutup mulutnya dengan mata terbelalak.
"Pak Andri alami cedera parah dan dirawat di rumah sakit. Beliau sangat lama dirawat dan jalani fisioterapi. Mamanya tekun dampingi perawatan dan lakukan pengobatan alternatif. Penyembuhannya adalah suatu mujizat."
"Setelah pulih, beliau minta pensiun dini untuk memulihkan mentalnya yang sangat terpukul. Karena pada saat itu, beliau sedang mempersiapkan diri untuk menikah. Tetapi tunangannya membatalkan pernikahan, sebab Pak Andri sakit sangat lama dan parah." Semua orang terdiam. Tidak ada yang berani bertanya, bahkan menahan nafas.
"Anda pasti bukan wanita yang akan menikah dengan beliau waktu itu." Satrio berbalik melihat Janet. "Sudah berapa lama anda menikah?"
"Empat tahun lebih, Pak." Janet menjawab dengan nada suara hampir tidak terdengar. Dia tidak menyangka Andri pernah alami kecelakaan yang hampir merengut nyawanya. Hatinya sudah menangis, hingga hanya menunduk untuk menyembunyikan rasa hatinya.
"Oh, pasti anda tidak tahu. Beliau alami kecelakaan sudah lebih dari enam atau tujuh tahun lalu." Ucap Satrio sambil berdehem beberapa kali untuk melegakan tenggorokan.
"Mengapa waktu interview tidak bilang kalau anda istri Pak Andri Pratama?" Satrio bertanya dengan nada menyesal, menempatkan Janet sebagai office girl.
Janet mengangkat wajah dan melihat Satrio dengan mata berkaca-kaca. "Maaf, Pak. Mas Andri tidak bilang apa pun pada saya, kalau pernah bekerja di sini. Mas Andri cuma bilang kirim lamaran ke perusahan ini. Jadilah saya bekerja di sini." Janet berkata dengan suara pelan dan terpata-pata.
'Pantesan waktu itu, Mas Andri bilang, kalau mau kerja di bagian lain, kasih tahu saja. Ternyata Mas Andri dikenal di sini.' Hati Janet sangat terharu mendapati sesuatu tentang masa lalu Andri yang tidak diduga.
"Sudah dengar ini?" Gevaro bertanya kepada Valeri, Bu Litta dan Mobei. "Dari mana kalian tahu kalau Pak Andri dipecat dengan tidak hormat?" Pertanyaan Gevaro membuat Bu Letti menyenggol Valeri.
"Dari pemberitaan karyawan yang sudah pensiun, Pak. Dibilang kalau Pak Andri dipecat." Valeri terpaksa mengarang, karena tidak bisa mengelak. Dia tidak mau mengatakan dari personalia, sebab ada Kabag personalia bersama mereka.
Gevaro jadi merapatkan gigi sambil menatap Valeri. Dia berusaha menahan emosinya yang sudah naik level. "Lalu apa hubungannya dengan tuduhan Janet sebagai penyusup?"
"Karena dia masuk ke ruangan ini tiga kali sehari. Padahal dia cuma office girl, Pak." Valeri kelabakan mencari jawaban yang tepat. Dia mengatakan yang terlintas di pikirannya.
Buuaaakkk... Tiba-tiba terdengar suara keras akibat pukulan Gevaro pada meja kerjanya. "Kau ini sekretaris CEO?" Gevaro membentak Valeri, yang wajahnya sudah memutih.
"Siapa yang memberikan jabatan ini padanya?" Gevaro bertanya kepada Kabag personalia dengan wajah marah.
"CEO sebelumnya yang angkat dia, Pak." Satrio menjawab cepat, karena melihat amarah Gevaro.
"Kau diberikan jabatan sekertaris CEO, tapi pikiranmu lebih rendah dari seorang pengaduk pasir." Tatapan Gevaro bagaikan godam yang siap memukul.
"Sebagai sekretaris, pikiranmu sangat cetek dalam menganalisa sesuatu. Apa kau lihat Janet masuk ke ruangan ini saat saya tidak ada?"
"Ti dak, Pak." Valeri jadi tergagap.
"Lalu dari mana muncul tuduhan dia sebagai penyusup?" Tanya Gevaro yang sudah geram.
"Apa masuk ke ruangan ini, dia bisa berubah wujud jadi transparan atau kasat mata, jadi saya tidak bisa melihat dia?" Pertanyaan Gevaro membuat Valeri terdiam dan hampir tidak bisa bernafas.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...