NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Kemunculan Arshaka

Kiano seketika membeku. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal hingga udengnya bergoyang, lalu menyengir cengengesan. "Iya juga, ya? Sorry, Bro, gue cuma grogi aja. Maklum, di Jakarta kagak ada hewan peliharaan kayak kadal purba begituan. Paling banter orang sana kalau enggak melihara buaya darat, ya... biawak."

"Sekarang kita masuk ke dalam. Ingat, jangan sampai berbuat aneh-aneh, apalagi mencurigakan di depan mereka," ucap Dharma dengan nada memperingatkan. "Bersikap anggun-lah layaknya pangeran asli."

"Oke, siap komandan, laksanakan!" Kiano memberi hormat ala tentara. Ia berdeham kecil, lalu melangkah mengikuti Dharma dengan gaya yang dibuat seanggun mungkin.

Namun, alih-alih terlihat berwibawa, di mata para pengawal cara berjalan Kiano justru bagaikan model iklan yang sedang pamer produk di catwalk. Badannya berlenggak-lenggok manja dan gayanya terlalu slow motion.

Beruntung, para pengawal keraton tidak menaruh curiga dan mengira sang pangeran hanya sedang kurang sehat. Alhasil, Kiano pun berhasil masuk dengan selamat bersama Dharma.

Mereka berdua langsung diarahkan menuju aula tengah. Di sana, sang ratu tengah bersantai di sebuah kursi empuk sembari menikmati perawatan tubuh dari para dayang istana.

"Kau sudah datang rupanya," ucap Nyi Ratu Asih tanpa menoleh. Ia tetap fokus menatap kuku-kuku jarinya yang lentik dan cantik.

Kiano hanya diam melongo. Ratu di depannya ini memang sangat cantik, bahkan penampilannya hampir menipu mata karena aslinya sang ratu sudah berusia ratusan tahun. Kiano sudah tahu fakta ini dari Dharma sebelum mereka berangkat; umur Prabu Raksa Buana saja sudah mencapai empat ratus tahun, yang pastinya usia sang adik tidak akan terpaut jauh.

"Selamat malam Yang Mulia Nyi Ratu Asih. Saya datang ke sini untuk mengantar Pangeran Wirasada," ucap Dharma formal. Ia lalu berdeham pelan untuk memberi isyarat agar Kiano segera memberi salam pada bibi sang pangeran asli.

Kiano maju selangkah, lalu membungkuk khidmat. "Assalamualaikum, wilujeng wengi Bibi Ratu. Keponakan Anda yang paling tampan ini datang karena rindu ingin berkunjung ke sini."

Nyi Ratu sontak mengernyit heran, namun ia tetap menjawab salam tersebut. "Waalaikumussalam. Wirasada, tumben sekali kau memakai bahasa Sunda seperti itu? Biasanya kau paling tidak suka menggunakan bahasa rakyat."

"Memangnya saya tidak boleh memakainya? Anda tahu sendiri, kan, kerajaan kita ini kerajaan Sunda kuno. Masyarakat di sini pun sebagian besar menggunakan bahasa Sunda. Jadi, sangat wajar jika keponakan Anda yang berbakti ini mulai melestarikan bahasa daerah," kilah Kiano ngeles, langsung memasang senyum polos tanpa dosa.

"Oh, baguslah. Tampaknya kau mulai sadar diri. Sekarang duduklah, aku akan meminta para dayang untuk menyiapkan jamuan khusus untukmu," ujar Nyi Ratu Asih ramah.

"Tidak usah, Bibi. Saya hanya ingin berkeliling dan berjalan-jalan menikmati keindahan istana ini. Boleh, kan?" tawar Kiano ramah.

"Terserah kau saja, kau bebas melakukannya. Mau menginap sekalipun boleh. Toh, kau ini adalah bagian dari keluarga dan pemilik istana ini juga. Bersenang-senanglah sepuasnya."

"Terima kasih banyak atas izinnya, Bibi Ratu. Saya pamit undur diri," ucap Kiano memberi hormat takzim, lalu melangkah pergi bersama Dharma.

Setelah berjalan cukup jauh hingga tiba di sebuah koridor sepi tanpa penjagaan istana, Kiano dan Dharma tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.

"Eh, Dharma," ucap Kiano pelan, nyaris berbisik. Ia celingukan memastikan situasi benar-benar aman, lalu menunjuk sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding koridor. "Itu... bukan yang namanya Ki Pesut?"

Dharma ikut menoleh, lalu mengangguk. "Iya, benar sekali. Dia orangnya."

'Ki Saron, dia bukan teman yang lo maksud sekaligus orang yang nyerang kita tadi?' tanya Kiano melalui suara batinnya kepada sang khodam pelindung.

Sempat ada jeda beberapa detik sebelum suara berat Ki Saron menyahut di dalam kepalanya, 'Hmm, iya. Benar, Tuan. Dialah orangnya, saya tidak salah lihat.'

Kiano mangut-mangut sembari terus memperhatikan detail lukisan pria paruh baya yang tengah menggenggam sebilah keris itu dengan saksama.

Mereka kembali melanjutkan langkah. Namun, baru berjalan beberapa meter, langkah kaki Kiano mendadak mengerem seketika tepat di depan sebuah lukisan pemuda tampan. Sepasang mata Kiano langsung melotot kaget.

"Eit, tunggu dulu! Dharma, sini lo!" panggil Kiano heboh. Ia melambaikan tangannya tanpa mengalihkan pandangan dari lukisan tersebut.

Dharma menghela napas, lalu berbalik mendekat. "Kenapa lagi?"

"Itu siapa? Kenapa kok mukanya mirip banget sama om gue, sih?!" tanya Kiano syok. Wajah pemuda di dalam lukisan itu benar-benar jiplakan dari adik kandung papinya. Omnya itu memang masih sangat muda dan seumuran dengannya, hanya saja sang om sudah kuliah sementara Kiano baru kelas tiga SMA.

Dharma mengerutkan kening heran. "Apa maksudmu? Beliau itu Pangeran Arshaka. Mana mungkin wajahnya mirip dengan pamanmu yang ada di dunia manusia?"

"Tapi gue enggak bohong, Dharma! Beneran, wajahnya mirip banget sama om gue, William Galaksi!" seru Kiano ngotot dengan jantung yang mulai berdegup kencang.

"Tumben sekali kau datang ke sini?"

Rasa panik Kiano terhenti seketika saat sebuah suara bariton yang terdengar tegas dan dingin menyambar dari arah samping. Suara itu sukses mengalihkan perhatian Dharma dan Kiano.

Mereka berdua kompak menoleh. Di sana, telah berdiri seorang pemuda tampan dengan tatapan mata yang tajam. Wajahnya benar-benar sebelas dua belas dengan lukisan yang barusan mereka lihat.

"Om? Kok lo ada di sini?!" seru Kiano spontan dengan mata melotot. Saking syoknya, ia sampai lupa kalau dirinya sedang menyamar.

Pemuda itu mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap Kiano dengan pandangan aneh sekaligus tersinggung. "Om? Apa maksudmu, Wirasada? Aku ini sepupumu, bukan pamanmu. Kau sudah gila, ya?"

Sementara itu, Dharma tampak panik. Dengan gerakan yang seolah-olah dibuat tidak sengaja, ia menginjak kaki Kiano pelan.

Kiano sontak menoleh pada Dharma dengan alis bertaut bingung. 'Kenapa?' tanyanya tanpa suara, hanya melalui gerakan bibir yang langsung dimengerti oleh Dharma.

'Ingat peranmu!' balas Dharma, juga tanpa suara sembari melotot memberi kode.

Seketika Kiano langsung tersadar dari syoknya. Ia menepuk jidatnya keras-keras hingga menimbulkan suara plak yang nyaring. Cowok itu segera berdeham, mencoba memungut kembali rasa hormat dan wibawanya sebagai putra mahkota yang sempat tercecer di lantai.

"Ehem! Ah, aku hanya sedang bosan saja di istana ayahku. Untuk itulah aku datang kemari. Apa kau ada masalah dengan itu?" tanya Kiano, mencoba terdengar angkuh.

Arshaka bersedekap dada sembari menatap Kiano dengan pandangan sinis. "Bosan, kau bilang?" Ia terkekeh hambar. "Bukannya dulu kau sendiri yang bilang tidak sudi menginjakkan kaki di sini, apalagi bertemu denganku? Kita lihat saja sampai mana kau bisa membohongiku, Wirasada. Aku sangat penasaran ke mana saja kau selama seminggu menghilang kemarin. Apa kau sengaja kabur karena takut dijodohkan? Atau kau takut jika takhtamu itu akan jatuh ke tanganku jika kau menolak perjodohan itu? Lagian tidak masalah jika kau menolak, biar aku yang maju. Sebab, akulah yang akan mendapatkan hati salah satu putri dari Kerajaan Gunung Kidul!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!