NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Keluarga

"Abang mau cerita atau mau Arinta benci sama abang selamanya?" tanya Arinta, mencoba menetralkan suaranya.

"Abang nggak mau kamu benci sama abang, tapi abang juga masih belum siap kalau kamu tahu seberapa egoisnya abang."

"Jadi Bang Miza maunya apa? Mau Arinta nyusul Maha aja? Nyusul Mama Papa? Iya?"

"Taa... Udah cukup. Selama ini abang selalu ngerasa bersalah. Dan cuma kamu satu-satunya yang nggak benci sama abang, yang masih mau nerima abang di hidup kamu."

"Arinta cuma mau tahu kenapa keluarga kita jadi berantakan begini! Emangnya penyebab Bang Rio sama Teh Ria pergi itu abang? Kenapa pula Arinta harus benci abang cuma karena tahu alasannya?" urat-urat di leher Arinta menonjol saking kerasnya dia bicara.

"Arinta Syafira," panggil Miza dengan nada datar.

"Apa?!" bentak Arinta dengan emosi yang sama.

Miza menatap Arinta dengan tatapan tajam penuh intimidasi.

"Sebenarnya kamu siapa? Kamu bukan Arinta Syafira. Bentakan barusan itu hal yang mustahil Arinta Syafira lakuin," ucapnya lagi, tetap datar.

Arinta menghela napas kasar. Matanya bergerak kesana-kemari dengan ekspresi tidak percaya.

"Emang adikmu itu siapa sampai aku harus pura-pura jadi dia? Presiden? Lagian semustahil apa Arinta jadi pemberontak kalo Arinta udah tau tentang semuanya?!"

"Saya udah berusaha mikir positif soal perubahan kamu selama ini, tapi apa? Saya malah ngerasa semakin asing sama kamu! Buat apa sekarang saya kasih tahu rahasia keluarga saya?" Miza sedikit meninggikan suaranya. Perubahan dari "abang" menjadi "saya" membuat emosinya terasa lebih nyata.

Arinta terpaku. Memangnya seberapa jauh perbedaan dirinya dengan Arinta Syafira? Hampir semua orang di rumah ini menganggap dia berbeda. Tapi, seberapa besar bedanya?

"Arinta, adik saya itu nggak seemosional kamu. Arinta, adik saya nggak sepemberani kamu. Arinta, adik saya itu bukan pemberontak. Arinta, adik saya itu—"

"Cukup!! Arinta nggak mau dengar apa-apa lagi! Cukup!"

Miza menatapnya tajam, seakan siap menerkam, "KEMBALI SANA KE TUHANMU!!!"

Napas Arinta terengah-engah. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Ia terbangun dari mimpi buruk yang terasa sangat nyata.

Arinta masih bisa merasakan getaran ketakutan dari tubuhnya.

"Kali ini ingatannya datang dari mimpi?" gumamnya pelan.

"Arinta nggak emosional, Arinta nggak pemberani, Arinta bukan pemberontak," Arinta mencoba mengingat apa yang Miza ucapkan dalam mimpinya.

"Jadi Arinta Syafira itu cewek lemah lembut yang gampang dibully? Lah, pantas aja orang-orang langsung ngerasa beda. Mana ada Arinta Prameswari menye-menye begitu. Yang ada malah dibully Aguil nanti."

Setelah selesai dengan monolognya, tenggorokannya terasa kering. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil air minum ke dapur.

Hah. Tadi memang hanya mimpi. Buktinya, tidak ada Miza di dapur.

Arinta melirik jam sekilas sebelum kembali ke kamarnya. Jam sebelas, sudah hampir tengah malam ternyata.

"Belum tidur?"

Arinta terkejut saat pintu depan tiba-tiba terbuka, menampakkan sosok Miza yang terlihat berantakan dengan tas tersampir di pundaknya.

"Kebangun tadi," jawab Arinta akhirnya.

Miza menghela napas lelah, lalu duduk di sofa.

"Abang habis dari mana? Tadi pas Arinta pergi, abang pergi juga ya? Pas pulang kok Arinta nggak lihat abang?" tanya Arinta.

"Iya. Ria sakit dari seminggu lalu. Perusahaan Papa nggak ada yang handle, Om Bani juga lagi tugas luar kota. Ngabarinnya dadakan banget lagi, pas perusahaan lagi kacau."

Arinta termenung mendengarnya. Ternyata informasi yang ia dapat dalam mimpi itu valid.

"Abang habis jenguk Teh Ria?"

"Iya, dia udah sama temen-temennya di sana. Jadi abang mending pulang aja, kasihan kamu sendirian di rumah."

Arinta terdiam sejenak. "Besok Arinta mau ke makam Maha, ya? Besok kan libur," pintanya dengan nada hati-hati, berharap respon Miza baik.

Miza hanya mengangguk sebagai respon.

"Emangnya kamu ingat tempatnya di mana?"

Arinta menggeleng. Bagaimana bisa ingat, kalau tahu saja tidak.

"Ya udah, nanti bareng aja. Abang juga mau sekalian ziarah ke Mama Papa. Udah lama banget nggak ke sana," ucap Miza, pandangannya menerawang lurus ke depan.

"Tiba-tiba tadi Arinta mimpiin Maha. Arinta kangen." Arinta tidak bohong. Entah muncul dari mana perasaan itu.

"Iya, kan habis ketemu kembaran beda generasi, pasti jadi kangen juga sama yang segenerasi," balas Miza sambil tersenyum tipis.

Arinta terkekeh pelan. Betul juga.

"Gimana tadi ngobrolnya sama Rio? Dia ada bahas sesuatu?" tanya Miza.

"Nggak banyak ngobrol sih, soalnya Bang Rio juga buru-buru."

"Dia tuh dulu yang paling manjain kamu, loh. Sekarang pasti lebih-lebih lagi karena udah lama nggak ketemu. Atau malah jadi sungkan? Haha…"

"Iya ya? Bang Rio emang jiwa kakaknya kuat banget sih, jadi anak-anak bakal betah," sahut Arinta.

"Tapi Ria… Kamu sering ngadu ke Rio kalau digalakin sama Ria, tapi Rio-nya nggak percaya gara-gara Ria itu kembarannya yang nggak mungkin kayak gitu. Itu sering banget loh. Tapi ya… sayangnya lingkaran persaudaraan kita kayak ada dua kubu. Jadi pas kalian bertiga ribut, abang malah main dongeng-dongengan sama Maha. Mungkin faktor beda umur yang jauh juga kali ya? Jadi abang nggak selevel kalau harus ngadepin anak yang suka tantrum kayak kamu," Miza berkata tenang, seakan menghidupkan kembali kenangan itu di pikirannya.

Arinta terdiam. Satu jawaban kini jelas: alasan mengapa Ria membencinya. Mungkin karena iri dengan perhatian yang saudara kembarnya berikan.

"Dih, padahal umur mah nggak ngaruh lah. Asik mah asik aja. Kita kan saudara."

"Iya sih."

"Eh, udah jam setengah dua belas. Tidur sana! Abang juga udah mau istirahat."

Arinta mengangguk, meregangkan tubuh sebelum bangkit dan kembali ke kamarnya.

"Sweet dreams, Abang."

"Sweet dreams and good night, Arinta."

Ternyata Miza tidak semenyeramkan itu. Mungkin benar, mimpi tadi hanya bunga tidur. Kadang bunga melati, kadang bunga bangkai.

Arinta membuang napas pelan saat berhasil merebahkan diri di atas kasur. Oh, dia baru teringat masalah album.

Berarti Miza belum tahu kalau album itu masih ada dan tidak dibakar? Ah, memangnya berpengaruh apa kalau Miza tahu?

Pikirannya justru kini melayang pada si kembar Tama dan Tami. Duh, kenapa pula kehidupan barunya ini tak jauh-jauh dari orang kembar?

Perasaannya tidak enak. Mungkin sesuatu telah terjadi, atau akan terjadi. Hatinya tidak karuan. Ia hanya bisa berharap ini bukan pertanda buruk.

"Abang punya nomor panti?" Arinta kembali menemui Miza di kamarnya untuk menuntaskan kegelisahan.

"Ada sih. Buat apa?" tanya Miza yang terlihat sudah sangat lelah.

"Buat ngehubungin temen Arinta yang di sana."

"Sebentar." Miza masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya.

"Ini." Dia memberikan ponselnya kepada Arinta.

"Mau ngehubungin tengah malam gini? Mungkin mereka udah tidur."

"Iya. Harus sekarang."

"Ya udah. Pakai dulu aja, abang mau istirahat."

Arinta langsung kembali ke kamarnya dengan tergesa. Semoga firasatnya hanya angin lalu. Iya, semoga.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!