Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 34
Hening yang mencekam kembali menguasai area tengah depo pasir Bogor Utara. Tujuh tentara bayaran yang tersisa berdiri mematung di bawah guyuran cahaya lampu sorot yang menyilaukan.
Tangan mereka yang memegang senapan MP5 gemetar hebat. Di sekeliling mereka, delapan jasad rekan satu tim mereka terkapar tak bernyawa di atas tanah berpasir, mengalirkan darah segar yang mulai mendingin ditiup angin malam.
Sang komandan tim, seorang pria kekar dengan codet panjang di pelipis kirinya yang tertutup balaklava, menelan ludah dengan susah payah.
Sebagai mantan tentara bayaran internasional yang pernah mencicipi kejamnya medan perang di Timur Tengah, ia belum pernah merasakan tekanan mental seberat ini.
Aura haus darah yang dipancarkan oleh Farrel begitu pekat, seolah ada sepasang tangan tak kasat mata yang sedang mencekik leher mereka semua hingga sulit bernapas.
"K-Kamu... bagaimana bisa seorang warga sipil biasa punya kekuatan seperti ini?!"
suara sang komandan bergetar, meruntuhkan seluruh wibawa kepemimpinannya di depan anak buahnya.
Farrel tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju satu demi satu dengan ritme yang konstan. Setiap ketukan sepatu botnya di atas tanah berpasir terdengar seperti lonceng kematian bagi ketujuh pria di hadapannya.
【 Ting! Pengaktifan Keterampilan Khusus: 'Mata Sang Penguasa' Tingkat Maksimal! 】
【 Menekan mental musuh yang tersisa secara mutlak... 】
【 Tingkat Ketakutan Musuh: 99% (Lumpuh Secara Mental)! 】
"Komandan! S-Saya tidak tahan lagi! Dia iblis!"
Salah satu tentara bayaran di barisan belakang tiba-tiba berteriak histeris.
Nyalinya pecah total. Pria itu menjatuhkan senjatanya, berbalik arah, dan mencoba berlari kencang menuju mobil van hitam mereka.
Wuss!
Farrel tidak bergerak dari posisinya, namun dengan stat kecepatan 25 miliknya, ia membungkuk sedikit, mengambil sebutir batu kerikil sebesar ibu jari dari atas tanah, lalu menyentilnya maju dengan kekuatan stat monster.
Brakk!
Batu kerikil itu melesat secepat peluru penembak jitu, menembus bagian belakang kepala tentara bayaran yang kabur itu hingga bolong dan tewas seketika sebelum tubuhnya ambruk ke dalam lumpur pasir.
Melihat pemandangan mengerikan itu, sisa enam orang lainnya langsung menjatuhkan lutut mereka ke atas tanah.
Mereka membuang senjata mereka jauh-jauh, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi di udara sambil menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
Mereka menyerah total. Di hadapan dewa kematian, peluru dan latihan militer bertahun-tahun tidak ada gunanya sama sekali.
Maya Arisanti yang berdiri di samping Farrel hanya bisa melongo kaku. Tangannya yang memegang belati titanium sedikit mengendur. Sebagai pembunuh kelas S, ia selalu bangga dengan efisiensi membunuhnya.
Namun melihat Farrel yang bisa membunuh orang hanya dengan sentilan batu kerikil, ia sadar bahwa jarak kekuatan mereka bagaikan bumi dan langit.
【 Ting! Target Maya Arisanti mengalami guncangan psikologis yang mendalam atas dominasi mutlak Pengguna! 】
【 Tingkat Kesukaan Maya Arisanti melonjak tajam: 30% -> 55% (Ketergantungan Mental / Pengakuan Mutlak atas Diri Anda)! 】
Farrel berjalan hingga berhenti tepat di depan sang komandan yang kini berlutut dengan tubuh gemetar hebat. Farrel menjambak rambut pria itu kasar, memaksa wajahnya mendongak menatap matanya yang berkilat kejam.
"Siapa nama lu?" tanya Farrel sedingin es.
"B-Baron... Nama saya Baron, Tuan..." jawab sang komandan dengan suara tersedat di tenggorokan.
"Baron. Lu mau hidup, atau mau menyusul teman-teman lu ke neraka malam ini?"
"S-Saya mau hidup, Tuan! Tolong ampuni saya! Saya hanya menjalankan perintah dari Aliansi Jakarta!"
Baron memohon dengan sangat iba, air matanya menetes membasahi masker kain hitamnya.
Farrel menyeringai puas.
"Bagus. Kalau lu mau hidup, mulai malam ini... lu dan sisa anak buah lu resmi jadi anjing peliharaan Garuda Hitam."
"Lu bakal balik ke Jakarta, tetap berpura-pura jadi tim pemukul Aliansi, tapi setiap pergerakan dan rencana mereka... lu harus lapor ke gua. Paham?!"
"Paham, Tuan! Paham! Kami setia pada Anda mulai detik ini!"
Baron dan lima anak buahnya langsung bersujud, mencium tanah berpasir di depan sepatu Farrel sebagai bentuk penyerahan kesetiaan yang mutlak.
【 Ting! Tugas Mandiri Selesai: Mengubah Tim Pemukul Jakarta Menjadi Agen Ganda Dunia Bawah! 】
【 Selamat! Pengguna mendapatkan Hadiah Utama: 】
1. Tambahan Saldo Tunai Pribadi: Rp 2.000.000.000 (Dua Miliar Rupiah) langsung masuk ke rekening pribadi.
2. Poin Atribut Bebas: +10 Poin.
3. Keterampilan Pasif Baru: 'Karisma Hipnotis' (Memudahkan Pengguna mendikte pikiran orang yang mentalnya sudah runtuh).
Farrel mengabaikan panel virtual di otaknya, lalu menatap Maya yang masih berdiri diam menatapnya.
"Maya, urus administrasi kontrak darah mereka di bawah jaringan bayangan lu. Pastikan kalau mereka berani khianat, keluarga mereka di Jakarta yang bakal habis duluan."
"Siap, Bos," jawab Maya, kini nadanya tidak lagi sinis, melainkan penuh dengan nada patuh dan sedikit manja yang tertahan.
Farrel membalikkan tubuhnya, berjalan kembali menuju mobil sport hitamnya dengan langkah yang anggun namun penuh wibawa.
Konflik fisik malam ini telah selesai, dan ia telah berhasil menanamkan pasak mata-mata tepat di jantung Aliansi Pengusaha Jakarta tanpa mereka sadari sama sekali.
Kini saatnya ia kembali ke menara Mandala Group untuk menemani sang Ratu Properti, Clarissa, yang mungkin sebentar lagi akan terbangun dari tidur lelapnya.