NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. First Kiss

Dengan langkah pelan, Rafael mengikuti Kanaya yang sudah berjalan lebih dulu. Tatapan matanya menyusuri setiap sudut tempat itu, merekam suasana yang terasa begitu asing baginya. Jalan setapak yang mereka lewati tampak lengang, hanya ditemani desir dedaunan yang bergesekan pelan diterpa angin malam serta temaram lampu-lampu jalan yang memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal.

Udara malam yang sejuk menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah dan pepohonan yang menenangkan. Sesekali Rafael mengalihkan pandangan ke arah punggung Kanaya yang berjalan beberapa langkah di depannya, seolah memastikan gadis itu tetap berada dalam jangkauan. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat tersebut, dan tanpa disadari rasa penasaran perlahan mengusik pikirannya, bertanya-tanya mengapa Kanaya membawanya ke lokasi yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Merasakan langkah Rafael yang mulai tertinggal di belakangnya, Kanaya menghentikan langkah sejenak. Ia menoleh, mengembuskan napas pelan saat mendapati lelaki itu masih sibuk memperhatikan keadaan sekitar.

Tanpa banyak bicara, Kanaya melangkah kembali menghampirinya. Jemarinya terulur, lalu menggenggam tangan Rafael dengan lembut sebelum menariknya pelan agar berjalan di sampingnya.

"Ayo, Kak. Lemot banget sih jalannya." ucapnya singkat.

Rafael sedikit tertegun, menatap tangan mereka yang kini saling bertaut. Namun, ia tidak berusaha melepaskannya.

"Kamu ngapain ngajak saya ke tenpat sepi kayak gini, hm ?" tanya Rafael, dengan langkah pasrah karena Kanaya yang sedikit mengeratkan tangannya.

"Atau jangan-jangan kamu.." Kanaya menoleh, sedikit menajamkan matanya. Membuat Rafael tak jadi melanjutkan ucapannya.

"Yang jelas, tidak seperti yang ada di pikiranmu." sanggah Kanaya.

Sudut bibir Rafael terangkat samar, dan tanpa berkata apa pun lagi, ia mengikuti langkah Kanaya yang kini berjalan lebih pelan, membiarkan kehangatan genggaman itu menemani mereka di tengah sunyinya malam.

Rafael melebarkan matanya saat langkah mereka akhirnya berhenti di tepi sebuah danau. Di hadapannya terbentang pemandangan yang begitu menenangkan; sebuah taman yang tertata rapi dengan hamparan rumput hijau, pepohonan rindang, dan bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan setapak.

Permukaan danau yang tenang memantulkan cahaya bulan purnama, menciptakan kilauan keperakan yang menari lembut mengikuti riak air yang digerakkan angin malam. Lampu-lampu taman yang menyala temaram berpadu dengan sinar rembulan, membuat suasana terasa hangat sekaligus romantis.

Rafael terdiam beberapa saat, membiarkan pandangannya menikmati setiap sudut tempat itu. Embusan angin membawa aroma segar pepohonan dan suara gemerisik daun yang berpadu dengan riak air, menghadirkan ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Tara.. Kita sudah sampai." Seru Kanaya, menatap Rafael dengan senyum tipis di wajahnya.

"Ayo.. Kita naik ke atas. Dari sana pemandangan jauh lebih indah." ajak Kanaya, menunjuk sebuah rumah pohon di atas pohon besar di sekitar danau.

Tanpa protes, Rafael mengikuti arah telunjuk Kanaya. Di bawah temaram cahaya bulan, sebuah rumah pohon berdiri kokoh di atas pohon besar yang menjulang di tepi danau. Lampu-lampu kecil berwarna hangat melilit batang dan pagar kayunya, membuat bangunan sederhana itu tampak begitu nyaman di tengah sunyinya malam.

Untuk beberapa saat, Rafael hanya terdiam. Sorot matanya bergantian memandang rumah pohon itu dan Kanaya yang masih menggenggam tangannya.

"Kamu sering ke sini?" tanyanya pelan.

Kanaya mengangguk kecil. "Kalau lagi ingin mencari tempat yang tenang, aku biasanya datang ke sini. Tempat ini selalu berhasil bikin pikiranku lebih ringan."

Rafael tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap rumah pohon itu, lalu menghela napas pelan. Entah mengapa, suasana di tempat itu membuat beban yang sejak tadi memenuhi pikirannya perlahan mereda.

Kanaya mulai melangkah menuju tangga kayu yang melingkari batang pohon. Setiap pijakannya terdengar pelan, berpadu dengan desir angin yang menggerakkan dedaunan di atas kepala mereka.

Rafael mengikutinya dari belakang, sesekali mengangkat pandangan ke langit malam yang dipenuhi bintang. Tangga itu tidak terlalu tinggi, tetapi cukup untuk membuat pemandangan di sekitar danau semakin luas.

Sesampainya di atas, Rafael kembali tertegun.

Dari rumah pohon itu, seluruh danau terlihat jelas membentang di bawah mereka. Cahaya bulan memantul di permukaan air seperti ribuan serpihan kristal, sementara lampu-lampu taman di kejauhan membentuk garis-garis cahaya yang mempercantik suasana malam.

Angin berembus lebih sejuk di ketinggian, membuat tirai tipis yang menggantung di sudut rumah pohon bergerak perlahan.

Kanaya berjalan ke pagar kayu, menyandarkan kedua tangannya di sana sambil menikmati pemandangan di hadapannya.

"Aku selalu percaya," ucapnya lirih tanpa mengalihkan pandangan dari danau, "seberat apa pun masalah yang kita bawa, dunia tetap menyimpan tempat yang bisa membuat kita berhenti sejenak dan mengingat kalau semuanya nggak selalu buruk."

Rafael berdiri di sampingnya. Untuk pertama kalinya malam itu, bahunya yang sejak tadi terasa tegang perlahan mengendur.

Tatapannya beralih kepada Kanaya yang tersenyum kecil diterpa cahaya bulan. Tanpa sadar, sudut bibir Rafael ikut terangkat.

"Terima kasih," katanya pelan.

Kanaya menoleh dengan ekspresi bingung.

"Karena sudah membawaku ke tempat seindah ini."

Kanaya tersenyum, "Sama-sama." lirihnya.

Kanaya berjalan hingga ke tepi rumah pohon, lalu duduk di lantai kayu yang kokoh. Kedua kakinya dibiarkan menjuntai ke bawah, mengayun perlahan mengikuti hembusan angin malam.

Rambut panjangnya sesekali tersapu angin, sementara tatapannya lurus mengarah ke hamparan danau yang berkilauan diterpa cahaya bulan. Senyum tipis terukir di wajahnya, menikmati suasana yang selalu berhasil membuat hatinya tenang.

Rafael yang sejak tadi berdiri hanya memperhatikan gadis itu dalam diam. Ada sesuatu pada ekspresi Kanaya yang membuatnya ikut merasakan ketenangan yang sama.

Dengan langkah pelan, ia menghampiri dan ikut duduk di samping Kanaya. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat bahu mereka sesekali bersentuhan ketika angin bertiup lebih kencang.

Keduanya membiarkan kaki mereka menggantung di udara, mengayun pelan tanpa tujuan. Tidak ada percakapan, hanya suara jangkrik, desir dedaunan, dan riak air danau yang saling berpadu mengisi keheningan. Rafael memejamkan matanya sejenak, menikmati udara malam dan membiarkan angin menerpa wajahnya.

"Sebenarnya ini salah satu tempat rahasia ku kalau lagi kesal, atau bete. Apalagi pas Daddy marahin aku kalau baru buat kesalahan," lirih Kanaya memecah keheningan.

Membuat Rafael membuka matanya, lalu melirik ke arah gadis di sampingnya. "Kalau ini rahasia ? Ngapain juga kamu membawa saya ketempat ini ?" tanyanya datar.

Kanaya terkekeh, lalu mengedikkan bahu. "Nggak tahu," lirihnya. "Aku lihat tadi kamu kacau banget, kamu terlihat sedih. Terus kebetulan Pak Santo lewat jalan ini. Jadi, kaya refleks aja gitu suruh Pak Santo berhenti." lanjutnya. Menoleh kearah Rafael dengan memamerkan rentetan giginya yang putih.

"Ck.. Apa katamu tadi ? Kacau ? Siapa juga yang kacau. Saya cuma.."

Rafael menghentikan ucapannya, saat merasakan tangan Kanaya terulur dan menggenggam punggung tangannya pelan dan lembut. Seakan dirinya sedang memberikan kekuatan untuknya.

"Kak.. Aku tahu kamu lagi sedih." ucap Kanaya pelan, "Kata-kata Om Darius tadi sudah membuat kamu terluka lagi bukan ?"

"Walaupun kamu tidak mengatakan, tapi aku tahu dari sorot matamu terpancar kesedihan dan rasa bersalah yang besar."

"Aku memang tidak tahu pasti tentang kecelakaan yang menimpa Om Darren dan Tante Sintya. Tapi, aku tahu kamu nggak salah."

"Benar apa kata Opa tadi, semua itu sudah kehendak yang maha kuasa. Jadi, mau bagaimana pun juga kalau sudah takdirnya kembali, pasti juga akan kembali kepada sang pencipta."

Rafael terdiam.

Tatapannya perlahan beralih pada jemari Kanaya yang masih menggenggam punggung tangannya dengan hangat. Genggaman itu ringan, tetapi entah mengapa mampu menahan sesak yang sejak tadi memenuhi dadanya.

Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan.

Sudut bibir Rafael bergerak, seolah ingin tersenyum, tetapi yang muncul justru raut getir.

"Saya sudah berusaha meyakinkan diri seperti itu, Kanaya," ucapnya lirih dengan suara yang sedikit serak. "Tapi setiap kali mengingat malam itu, yang terlintas di pikiranku cuma satu."

Rafael menundukkan kepala.

"Kalau saja saya tidak merengek agar Papa dan Mama datang saat itu... mungkin semuanya akan berbeda."

Kalimat terakhirnya hampir tak terdengar.

Untuk pertama kalinya, Rafael membiarkan benteng yang selama ini ia bangun runtuh di depan seseorang. Kedua tangannya mengepal, sementara matanya mulai memerah menahan emosi yang selama bertahun-tahun ia pendam.

Kanaya tidak menyela.

Ia hanya menggeser duduknya sedikit lebih dekat, tetap menggenggam tangan Rafael tanpa melepaskannya.

Rafael menatap permukaan danau yang berkilauan diterpa cahaya matahari.

"Saya sudah hidup bertahun-tahun dengan perasaan bersalah itu," lanjutnya pelan. "Makanya setiap Om Darius mengungkitnya, rasanya seperti ada seseorang yang membuka luka yang belum pernah benar-benar sembuh."

Beberapa saat suasana kembali hening.

Hanya terdengar desir angin yang membuat dedaunan di sekitar rumah pohon bergoyang pelan.

Lalu Rafael merasakan sebuah sentuhan hangat di pundaknya.

Kanaya tersenyum tipis, tatapannya penuh keyakinan.

Tanpa sadar, Rafael membalas tatapan itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Ia menghela napas panjang, lalu membalas genggaman Kanaya dengan pelan.

"Terima kasih..." bisiknya tulus.

Kanaya mengangguk pelan. Ia kembali tersadar, lalu melepas genggaman tangannya, yang tiba-tiba saja dengan keberanian yang entah dari mana malah menggenggam erat tangan lelaki di sampingnya yang kini sudah berstatus menjadi suaminya itu. Pandangannya menengah ke atas melihat bintang di langit, mencoba untuk mengalihkan kecanggungannya.

Rafael menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis, saat melihat Kanaya yang tadinya bersikap dengan berani serta mengucapkan kata-kata untuk menguatkan dirinya mendadak menjadi canggung dan salah tingkah sendiri.

Merasa hawa dingin mulai terasa di malam itu, Rafael melirik ke arah Kanaya yang tanpa sadar mengusap kedua lengannya pelan. Embusan angin dari permukaan danau membuat beberapa helai rambut gadis itu berayun lembut.

Tanpa banyak bicara, Rafael menghela napas pelan lalu melepaskan jaket yang sejak tadi dikenakannya. Ia berdiri, melangkah mendekati Kanaya, kemudian menyampirkan jaket itu perlahan di bahu gadis tersebut.

Kanaya sedikit terkejut. Ia mendongak, menatap Rafael yang kini sedang merapikan kerah jaket agar menutupi bahunya dengan baik.

"Eh ? Ini.."

"Sudah malam, ayo kita pulang," kata Rafael singkat sambil berdiri. Ia mengulurkan tangan ke arah Kanaya.

Kanaya mengangguk pelan. Jemarinya baru saja menyentuh telapak tangan Rafael ketika ia mencoba bangkit. Namun, lantai kayu rumah pohon yang sedikit licin membuat pijakannya bergeser.

"A-akh...!"

Tubuh Kanaya kehilangan keseimbangan.

Dengan refleks, Rafael menarik pergelangan tangannya agar gadis itu tidak terjatuh ke depan. Sayangnya, tarikan yang terlalu cepat membuat keseimbangan Rafael ikut goyah.

Bruk.

Keduanya terjatuh di atas lantai kayu rumah pohon.

Rafael mendarat lebih dulu, menahan benturan dengan punggungnya, sementara Kanaya jatuh tepat di atas tubuhnya. Satu tangannya masih melingkar di pinggang Kanaya sebagai refleks untuk melindunginya.

Suasana mendadak hening.

Hanya terdengar desir angin malam dan suara riak air danau di bawah mereka.

Kanaya perlahan membuka mata yang sempat terpejam karena kaget. Begitu menyadari posisi mereka, matanya langsung membulat. Wajah Rafael berada sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti.

Tatapan mereka bertemu.

Kanaya bisa melihat sorot mata Rafael yang biasanya tenang kini tampak sedikit terkejut. Begitu pula Rafael, yang untuk sesaat terpaku melihat mata bening Kanaya memantulkan cahaya bulan.

Degup jantung keduanya seolah terdengar semakin jelas di tengah sunyi malam.

Namun, bukannya menjauhkan tubuh Kanaya. Entah dorongan dari mana, wajah Rafael malah semakin mendekat hingga Kanaya dapat merasakan hembusan napas segarnya. Lalu...

Cup !

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!