Inilah Awal kisah sebenarnya. Kisah seorang perempuan yang terpaksa menjalani janji suci yang diikrarkan dalam satu rangkaian "pernikahan."
Namun, nyatanya pernikahan ini bukan hanya kedok dari perjodohan belaka, tetapi semua ini terselimuti oleh harta, tahta kuasa dan kedengkian pria-pria tua itu saja.
Lagi, kepahitan pun harus Crystal telan mentah-mentah. Saat pria yang belum genap 24 jam menjadi seuaminya itu membawa wanita lain dikamar pengantin mereka.
Lalu apa yang akan Crystal lakukan ketika mengetahui suaminya selingkuh tepat di hari pernikahan mereka?
Sebuah awal dari kehidupan baru yang tak pernah terbayangkan olehnya. Di Mana
takdir yang tak kau harapkan malah membawamu ke dalam jeratnya, tidak ada yang bisa menghindar. Semua orang seakan menatapnya dan berkata "Menyerahlah!" Tapi, sanggupkah dia melepas takdir yang kian membelenggu nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Nufus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBAHAGIAAN ITU MUSTAHIL
Cahaya matahari yang menyelinap dari balik tirai, perlahan membuat kelopak mata Crystal terbuka menampilkan bola mata beriris madu itu menampakkan cahayanya. Crystal melirik sekelilingnya. Ia terdiam, terpaku pada posisinya. Sejujurnya ia sedikit terkejut dengan Sean yang berada disampingnya yang masih tertidur. Padahal ia telah menyuruh Sean untuk pergi dari kamarnya.
Crystal menatap sosok pria yang tepat berada disampingnya. Jantungnya kembali bergemuruh. Ia kembali menatap wajah suaminya yang masih tertidur pulas, wajahnya tampak kelelahan, dia tak ingat sebenarnya apa yang terjadi semalam.
Sean. Suaminya yang selalu membuatnya kesal, jengkel, benci, dan semua kekerasan yang dia lakukan. kini untuk pertama kalinya Crystal tidur di samping suaminya dengan nyenyak.
Perlahan Crystal bergeser mendekati tubuh Sean, ia memiringkan tubuhnya. Ia mengulurkan jemarinya kearah Sean, dapat ia rasakan rambut lembut suaminya yang memulai panjang saat terakhir kali ia melihatnya. Kemudian jemarinya turun mengusap mata yang terpejam erat, hidung yang mancung, lalu turun ke arah bibir yang kini sedikit terbuka.
Ia menarik nafas pelan. Perlahan, setetes air mata jatuh menelusuri pipi porselen miliknya. Terus jatuh, jatuh dan jatuh lagi. "Sean. Maaf telah menyeret mu dalam pernikahan ini." Ujar Crystal lirih menatap lekat wajah Sean. Mungkin, sangat wajar jika Sean sangat membencinya karena dirinya lah yang merenggut semua kebahagiaan nya dengan Sulli.
Crystal segera menyeka air matanya, Ia tak ingin menangis lagi. Rasanya kelopak matanya semakin membengkak karena menangis terus. Crystal pikir, meski pernikahan ini karena keterpaksaan dari kedua orang tua mereka ia sama sekali tak menyesal ataupun kecewa. Setidaknya ia bisa merasakan bagaimana kehidupan berumah tangga dan merasakan kehangatan yang di berikan Eomma mertuanya.
Mengenyahkan pikiran-pikiran buruk, Crystal segera bangun dari ranjang berjalan menuju jendela, membukanya dan menyampirkan tirai panjang kamarnya. Membiarkan cahaya matahari menerpa hangat kulitnya, begitu saja. Melirik sekilas Sean lagi yang masih berbaring nyaman di tempat tidurnya, lalu ia sedikit menutup kembali tirai. Khawatir tidur suaminya terganggu karena cahaya matahari.
...*******...
Beberapa menit kemudian, setelah selesai dari aktivitas mandinya Crystal bersyukur suaminya sudah tidak ada di tempat tidur. Karena entah apa yang akan terjadi nanti, jika Sean masih berada di sini mungkin mereka akan merasa canggung satu sama lain.
Memandangi wajahnya di cermin, mengoleskan sedikit lip bam ke bibirnya Ia tidak ingin terlihat pucat dan tak lupa memakai kontak lensa nya sedikit menutupi matanya yang sayu.
Setelah semuanya rapi, ia segera menenteng tas dan tak lupa hp-nya, berjaga-jaga takut Lay sudah menunggunya. Crystal turun ke bawah, menuruni anak tangga dengan bibirnya yang terus bersenandung ria.
"Crystal-ssi." Panggilnya.
Langkahnya terhenti, saat seseorang memanggilnya. Suara itu. Dengan gerakan pelan, Crystal mendongakkan kepalanya ke sumber suara yang memanggil namanya. Ia melupakan bahwa wanita itu kini berada satu atap dengannya. Melihat pemandangan di depannya sedikit membuat hatinya terluka, tapi ia mencoba mengenyahkannya dan mencoba tersenyum senatural mungkin.
"Crystal-ssi, mari bergabung. Sean memasakkan ini untukku, tapi ku pikir ini sangatlah banyak jika hanya untukku dan anakku saja. Jadi tidak ada salahnya jika aku berbagi denganmu, benar begitu 'kan Sayang." Ujar Sulli memandang Sean dengan senyumnya.
"Akhh, tapi aku rasa Crystal akan segera pergi." Sela Sean dengan cepat. Sean menatap balik wajah Crystal yang tengah menatapnya, mungkin ini terdengar jahat tapi lebih baik seperti ini. Dia tak ingin melukai perasaan Crystal lebih dari ini dan Ia pun tak yakin Crystal akan menyetujui nya. Sarapan dengan mereka.
"Oh, sayang sekali. Padahal aku ingin sarapan dengan artis favoritku." rengek Sulli bergelayut manja di lengan Sean.
Crystal melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga, tapi kedua matanya masih menatap kedua pasangan di depannya. Dapat Crystal lihat, di meja makan itu sudah tersaji nasi goreng, telor mata sapi, dan susu. Crystal yakin itu adalah susu ibu hamil, karena wanita itu tengah hamil- anak Sean suaminya.
"Tidak masalah, lagipula aku juga tengah lapar." Ujar Crystal tersenyum, membuat Sean menatapnya sendu. Crystal menaruh tasnya di kursi yang kosong dan mendudukkan tubuhnya di sebelah kursi lainnya.
"Oh iah sayang, apa semalam kau sudah mengatakannya pada Crystal?" Tanya Sulli tiba-tiba, membuat kedua orang itu menatap Sulli.
Crystal menaikkan sedikit alisnya bingung, ia memandangi keduanya mencari maksud dari omongan dari gadis menyebalkan itu.Terlihat sangat jelas bahwa ia sengaja menampilkan ini semua agar ia terluka.
"I-ya." ujar Sean gugup dengan senyum kakunya.
"Benarkah, akhh senangnya. Akhirnya aku bisa tinggal bersamamu, Sayang." ucap Sulli sambil menekankan kata sayang, seakan ia menegaskan bahwa Sean miliknya.
Bohong. Sean tak pernah mengatakan soal ini semalam. Tapi, yah biarlah mereka berbuat sesuka mereka. Dia tak ingin peduli lagi dengan urusan mereka.
"Aku khawatir, jika ia sendirian berada di Apartemennya. Jadi aku memutuskan untuk mengajaknya tinggal bersama kita, ini demi kebaikan anakku." Jelas Sean, ia tak ingin Crystal salah paham dengan situasi sekarang. Ditambah sejujurnya dia belum membicarakan hal ini dengan Crystal semalam.
Crystal menarik nafasnya jengah, jadi selama ini apa ia tidak khawatir denganku, setiap malam aku selalu sendiri di rumah besar ini. Dan ia sama sekali tidak khawatir padaku? Ia mengepalkan jemarinya, tersenyum miris dengan kisah hidupnya.
Crystal memandang hampa nasi goreng yang belum sempat ia makan sedikitpun. Crystal melirik kearah pria didepannya yang ternyata tengah memandanginya juga. Crystal tersenyum kecut, mengingat bahwa makanan ini Sean masakkan khusus untuk kekasihnya bukanlah dirinya. Seharusnya ia menuruti kata Hatinya yang terus memberontak agar ia segera pergi, tapi tubuhnya sulit sekali untuk digerakkan bahkan bibirnya begitu kaku untuk membuka sedikit saja suara.
Ia benci pada dirinya sendiri yang terlihat begitu menyedihkan. Crystal berharap ia segera bangun dari mimpi buruknya yang panjang. "Waktuku sudah begitu dekat" Gumamnya lirih pada diri sendiri. 'Impianku bener-benar hancur berkeping-keping, mungkin aku tidak akan pernah merasakan menjadi seorang Ibu.' batinnya lirih.
Crystal mencoba menahan rasa sakit di hatinya, ia segera bangkit dari duduknya. Menatap wajah Suaminya yang menatap diam kearahnya. "Terimakasih untuk sarapannya- meski ini bukan kau buatkan untukku, tapi aku suka - Dan soal kepindahan nanti dan ia ikut atau tidak Itu adalah urusanmu. Aku tidak pernah peduli ia akan tinggal dimana dan dengan siapa. Lagipula - Crystal mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.- di sini ataupun di Gangnam adalah rumahmu, bukan rumahku. Jadi kau bebas untuk membawa siapa saja yang kau suka, pada malam pernikahan kita juga. Kau sudah membawa dia, jadi apa hak ku untuk itu?" Ujar Crystal menyeruakan isi hatinya, dia sengaja mengatakan hal ini agar dia berharap Sean mengerti bahwa dia juga korban di sini. Bukan hanya dia atau kekasihnya yang terluka, dirinya juga terluka.
Aku harus pergi, hatiku sakit. Aku tak bisa menahan air mata ini lagi. Crystal melirik arlojinya, sudah pukul 7 pagi. "Maafkan aku, jadwalku sibuk. Aku harus pergi, mungkin aku juga tidak bisa pulang cepat." Ujar Crystal dingin. Lalu ia pergi meninggalkan dua sejoli yang tengah menatapnya tercengang.
Sean memandang sendu punggung istrinya yang berjalan pergi, entah kenapa ia kecewa dengan respon Crystal tentang Sulli yang akan tinggal disini. Ia benar-benar tidak suka dengan kondisi hatinya saat ini. Kenapa hatinya sakit melihat wajah Crystal yang terlihat tidak baik-baik saja. Apa ia harus menjelaskan semuanya pada Crystal. Tapi apa yang harus ia jelaskan? Karena ini sudah begitu jelas.
"Sul, kau habiaskanlah makananmu. Aku harus segera ke kantor, kau baik-baiklah disini. Jika perlu sesuatu telepon aku, oke." Perintahnya tersenyum. Kemudian Sean berdiri dari duduknya, niat hati ingin menyusul Crystal.
"T-api, Sean aku masih ingin bersamamu." Ujar Sulli mengercutkan bibirnya kesal.
"Aku harus pergi." Sean mengecup kening Sulli cepat, lalu segera berlari pergi menyusul Crystal.
Tapi usahanya sia-sia, secepat apapun lari nya. Di sana dapat Sean lihat, istrinya sudah menaiki mobil yang ia tahu mobil itu adalah mobil manager Crystal.
"Ckkk, sial." Desis Sean menendang kosong udara.
...********...
Alex memandang khawatir Wajah gadis di sampingnya. Sejak ia menjemputnya, gadis itu tetap diam.
Hatinya terus bertanya-tanya, apa telah terjadi sesuatu pada gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. "Crys-" Panggilnya
"Bisakah jadwal hari ini di cancel saja." Ujarnya memotong perkataan managernya. "Aku merasa tidak enak badan." Sambungnya.
"Aku akan mengatakan ini pada Taeyeon." Ujarnya melirik kearah Crystal yang masih pada posisinya. "Perlu ke Dokter?" Tanya Alex masih menatap cemas wajah Crystal.
Crystal menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Oea, aku kemaren melihat Oppa yang sering kau temui itu di Club malam. Sudah dua malam aku bertemu dengannya, sepertinya ia ada masalah- Alex terus berbicara tanpa tau bahwa raut wajah gadis disampingnya itu berubah seketika saat mendengar tentang Kai.
Crystal menahan nafasnya sesaat, ia bingung harus bereaksi seperti apa mendengar kabar tentang Kai. Jujur saja perasaan nya menjadi rumit, mendengar kenyataan bahwa akh sudahlah. jika dipikirkan lagi, kepalanya bisa-bisa pecah.
"Jangan membahas dia." perintah Crystal lirih.
"Eh?" Alex menatap bingung Crystal.
"Oppa, jangan bicarakan apapun tentang mereka." Ujarnya lirih. Crystal menolehkan wajahnya, menatap pria yang tengah menatapnya khawatir. Lalu ia tersenyum mencoba menyingkirkan kekhawatiran Alex.
"B..baiklah. aku tidak akan membicarakan nya lagi." Ujar Alex mengerti. Meski dia bingung, biasanya Crystal bersemangat jika membahas pria yang bernama Kai. Kenapa saat ini di berbeda? apa ada sesuatu hal yang terjadi.
kita bongkar
*pelakor, novel hadir 1000 pelakor tidak jadi masalah karena pelakor pasti dilaknat, dibuat hina, dan akhirnya dibinasakan (ADIL)
*pemeran utama pria (suami) melakukan kesalahan juga tidak jadi masalah karena suami dibuat dapat balasan, menderita, menyesal, mengemis maaf, berjuang dapat kesempatan dan akhir dia membahagia istri (ADIL) dan posisi tidak karena di kebanyakan novel posisinya digantikan pebinor
yang jadi masalah
*pebinor jadi masalah karena kalian begitu memuja dan spesial kan sosok ini, dan semua kesalahan kalian benarkan, bahkan pebinor lebih spesial dari sang suami sah, dia bisa bebas peluk istri orang, bisa bebas menghina dan memprovokasi suami orang, semua kelakuan bejatnya dibenarkan dan akhirnya dia diberi wanita lain dan bahagia dan pebinor berpeluang besar menggantikan posisi pemeran utama pria (EGOIS)
*pemeran utama wanita (istri) jadi masalah karena semua kelakuannya kalian benarkan, apapun kesalahannya kalian tutup mata dan membenarkannya dan malah balik menyalahkan suami posisi aman 100% (EGOIS)