"Apa lagi ini?"
"Kenapa aku selalu di permainkan takdir?"
"Kenapa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa melihat kelebihanku bukan kekuranganku?"
"Lihat dan nantikan saja semua yang kalian lakukan padaku akan berbalik dan menelan kalian hingga terjerumus ke dalam neraka keputus asaan tanpa ujung sampai kalian berharap tak pernah dilahirkan."
Bercerita tentang anak yang selalu di buly semua orang tanpa terkecuali, yang akan berubah ke bentuk sempurnanya, menyamar dan berdiri di puncak dunia menentang semua jalan yang diberikan takdir padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Nightmare, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap
Setelah kejadian di mana seorang wanita yang mengenakan gaun pengantin menerobos dan mengalahkan Lidia yang notebenenya di tingkat yang sama dengan Reacher dengan mudah, pihak sekolah langsung memulangkan semua siswa.
"Aku harus beristirahat sementara waktu setelah semua aksi yang ku lakukan." Celetuk Chila yang sedang berjalan bersama empat orang lainnya di depan jajaran pertokoan.
"Aku setuju denganmu landasan pacu, kita butuh istirahat." Timpal Kayla.
"Siapa yang kau sebut pandasan pacu, dasar penyihir tua."
"Itu karena itu belum tumbuh meski sudah besar." Kata Kayla sembari meliriki suatu daratan di tubuh Chila.
"Jadi itu maksud dari lapang dada." Sahut Reiki sambil mengelus dagu.
"Mungkin iya." Timpal Daigo dengan pose sama seperti Reiki.
"Kalian.....dasar." Teriak Chila kesal dengan semua ejekan yang sangat menusuk itu.
"Sudah - sudah, dari dulu memang sudah begitu, jadi mau bagaimana lagi." Sahut Listy.
Chila semakin kesal saat Listy ikut - ikutan mengejek, sedangkan empat orang lainnya malah tertawa melihat ekspresi Chila yang sedang kesal.
Mereka memang di pulangkan lebih cepat, tapi tidak disuruh untuk segera pulang jadi mereka berempat berjalan - jalan dulu di kota.
"Hey...Bagaimana kalau kita merayakan pencapaian yang baru kita raih?!" Listy membuka suara untuk mereka merayakan apa yang sudah terjadi.
"Ide bagus tapi aku terserah dengan kapten." Jawab Kayla.
"Itu terserah kalian, aku ikut saja."
"Sudah diputuskan."
"Tapi kita mau melakukan apa?" Tanya Chila yang tidak tau apa yang akan mereka lakukan.
"Hehehe, ikuti saja aku."
Untuk pertama kalinya Reiki melihat sisi Listy yang terang - terangan seperti ini dan tersenyum sedikit menakutkan hingga dia merasakan firasat buruk.
↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑↓↑
"Kenapa aku merasa seperti sedang numpang tinggal ya di sini."
"Kita rayakan saja di rumahmu. Lagian tidak ada orangkan di sini dan aku juga suka masakanmu yang enak meski hanya nasi goreng." Jawab Listy sambil bermain dengan Ciki.
Kini mereka sedang berada di rumah Reiki entah apa alasannya tapi ini berbeda dengan ekspektasi berpesta di restoran atau karaoke.
"Terserahlah, pokoknya jangan sentuh barang pribadiku."
Reiki pergi meninggalkan keempat orang itu bermain - main di ruang tamu untuk pergi membersihkan diri setelah hari yang panjang dan melelahkan.
'Aku punya firasat jika setelah ini aku akan lebih kerepotan akibat gadis itu. Dan lagi pula aku punya tujuan lain.' Pikir Reiki sembari menikmati guyuran air shower.
Selang beberapa saat setelah dia mandi dan berganti pakaian menjadi celana pendek dan kaos oblong, betapa terkejutnya saat melihat dapur sudah berpindah menjadi medan perang.
"Sebenarnya apa yang kalian coba lakukan di rumah orang, apa kalian berniat membakar rumahku?!" Tegur Reiki yang melihat berbagai noda hingga masakan gosong di sana -sini.
"Emm....kami hanya mencoba memasak untuk kalian para laki - laki." Chila menjawab Reiki dengan memegang sebuah loyang yang di atasnya ada semacam makanan tapi gosong.
"Terus untuk apa semua ini?" Reiki memandang satu persatu makanan yang sudah berada di atas piring, entah itu bisa disebut makanan atau tidak.
"Itu karena kami ingin menginap. Bolehkan?" Kini giliran Kayla yang bicara dengan wajah memelas.
"Boleh saja- Tunggu apa?!"
"Menginap."
Ini pertama kalinya dia mendengar tiga orang wanita ingin menginap di dirumah yang berisikan dua laki - laki. Ingin menjawab tidak tapi mereka adalah rekan satu tim. Tetapi di sisi lain jika ia bilang tidak, masalah akan makin rumit.
"Ini hanya semalam." Sahut Daigo dari sofa depan tv.
Bingung harus menjawab apa, Reiki hanya menghela napas panjang, "Terserah kalian saja. Pokoknya jangan sentuh apa - apa lagi atau akan ku usir."
"Yeay." Mereka berteriak dan melompat bersamaan sesaat setelah mendapat persetujuan Reiki.
Kini dipikirkan Reiki hanyalah ada satu hal, 'Ini akan menjadi malam yang sangat sangat panjang.' sembari menghela nafas panjang dan mendorong tiga wanita itu untuk keluar dari dapur.
"Aku yang buat makanan, kalian duduk - duduk saja."
Mereka hanya patuh saja karena tau betul seberapa enaknya makanan buatan Reiki. Beberapa saat setelah itu, wangi makanan matang tersebar ke seluruh rumah.
Mereka berempat yang sedang asyik bermain video game di ruang tamu, segera melompat ke dapur menyadari yang ditunggu - tunggu telah selesai.
"karena bahan yang kupunya terbatas jadi hanya itu yang bisa ku buat."
"Ini kurang lho." Celetuk Listy karena yang ada hanya sup ayam yang cuma setengah mangkuk.
"Kau pikir ini salah siapa." Ketus Reiki yang sedang menuangkan makanan dan susu di tempat makan Ciki.
Reiki kembali ke dapur untuk merapikan semua yang ada. Dari mengelap setiap sudut, mencuci piring dan membuang produk gagal yang dibuat. Tetapi saat melihat keluar melalui jendela kecil di dapur, dia melihat ranting di dekatnya seperti bergoyang.
"Kalian makan saja. Aku akan ke mini market membeli camilan." Seru Reiki sambil mengelap tangannya yang basah.
"Jawngan lupwa beli cwola." Sahut Daigo dengan mulut penuh makanan.
Reiki pergi meninggalkan rumah untuk membeli camilan seperti apa yang dia katakan tadi.
Setelah dia membeli semua yang ingin di beli, ia segera pulang melewati jalanan sepi dengan penerangan remang - remang lampu jalan yang berjauhan.
"Bukankah tidak sopan jika kau menguntit seseorang terus menerus. Aku bisa melaporkanmu ke polisi jika mau." Ancam Reki pada udara kosong di sekitar. Dia berbalik menatap suasana sepi di belakang.
"Jangan bercanda, para ikan teri itu bukan tandingan orang yang kau didik secara langsung."
Sungguh tak dapat dipercaya, muncul seseorang dari belakang Reiki meski dalam keadaan sepi seperti itu.
"Apa maumu?"
Orang itu berjalan mendekat dan memperlihatkan sosok wanita dengan mata kuning keemasan dengan rambut hitam dan pakaian yang sangat mencolok dari atas hingga bawah.
"Aku hanya ingin menjenguk teman lama."
"Kalau begitu kau bisa segera pergi Laura." Kata Reiki dengan nada malas.
"Kau jahat sekali. Aku susah payah mencarimu setelah menghilang beberapa waktu dari Dark World. Tapi kau malah mengusir ku." Laura tiba - tiba menghilang dan muncul kembali sambil mengalungkan tangan di leher Reiki.
"Aku senang, tapi ada apa dengan gaun itu. Apa kau ingin menikah?"
Laura berpindah lagi dan kini memperlihatkan diri di depan Reiki tanpa jarak sambil mengelus pipinya, "Aku hanya ingin memperlihatkan padamu jika saja tujuan pencarian selama ini sia - sia dan kau tidak bisa menemukan orang itu."
"Itu mustahil terjadi. Dia adalah orang yang kuat." Bantah Reiki sambil melepaskan tangan Laura dari pipinya.
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam pada Dullahan ku yang hebat." Laura berjalan mundur dan menghilang di kegelapan malam bak tidak pernah ada di sana.
"Dasar Laura. Mungkin dia tidak akan berubah sampai kapan pun." Gumam Reiki sembari berbalik dan melanjutkan perjalanan pulang.
gw mo nagih
kalo nggak ya nggak masalah..
jangan banyak bacot lah thor..
lanjutkan